Cold-07

2058 Words
"Jadi apa yang kau dapat?" Josephine mendongak, "Aku mendapat informasi tentang keberadaan William. Dia berada di pulau terpencil, dan anaknya kuliah di kampus kita, mereka mengambil jurusan elektro." Andrea mengangguk, pagi ini dia sengaja minta Josephine untuk datang ke rumah nya. Dia hanya ingin sampai mana kasus ini berlanjut. Dan ternyata dalang nya masih saja bersembunyi di balik ketiak anaknya. Belum lagi Josephine bilang jika anak William satu kampus dengan Andrea. Ah, tentu saja itu akan semakin sulit. Kampus Andrea cukup luas dan banyak jurusan. Jurusan elektro bukanlah gampang, gedung pun beda jauh dengan gedung fakultas Andrea. Tidak mau mengambil resiko Andrea memilih sarapan, dia meminta maid untuk mengambilkan malam untuknya. Tapi yang ada Angel menahannya, dan mengambilkan makanan untuk Andrea. Dia juga meminta maid untuk memanggil teman Andrea, untuk ikut sarapan bersama. "Aku sudah membuatkanmu s**u vanilla, Ea." Ucap Angel lembut. Andrea hanya mengangguk, dia pun menikmati s**u itu dengan pelan. Rasanya sama saja dengan s**u vanilla kebanyakan. Tapi ada yang beda dengan s**u ini. "Ea sayang, Mama menambahkan es dan juga sedikit madu, kamu pasti suka dengan susunya." ucap Mama Andrea—Lina. "Aku selalu suka apapun yang Mama berikan." Bayangan masa lalu membuat Andrea geleng kepala. Dia pun menatap s**u di depannya dengan tajam. Andrea masih ingat s**u yang dia minum rasanya mirip sekali dengan s**u buatan Mama Andrea. Positif thinking saja, mungkin Leo memberitahu semua kebiasaan Mama Andrea dulu seperti apa, dan bagaimana cara mempersiapkan makanan untuk Andrea. "Ea, kamu tidak mau memberi izin Papa untuk menikah dengan Tante Angel?" tanya Leo hati-hati. Anak perempuannya ini cukup keras hati, dan dia akan menolak apapun yang menurut dia tidak sebanding dengan apa yang dia inginkan. Termasuk mengizinkan Leo untuk menikah. Sedangkan Andrew anak laki-lakinya ini tipe pria yang santai, dan dia akan menyetujui apapun yang Leo inginkan. Asal itu baik untuk Leo dan semua orang. Andrea tak menanggapi dia lebih baik makan dibanding harus membahas hal yang tidak penting menurutnya. Apalagi disini juga ada Josephine yang jelas dia akan tahu masalah keluarga ini. "Ea, kalau kamu tidak ingin Tante menikah dengan Papa kamu, Tante tidak keberatan. Asal kamu mau berkata dan memberi alasan." ucap Angel selembut mungkin. Berharap jika Andrea akan paham dengan ucapannya. Andrea masih diam, dia masih menikmati sarapannya dengan diam. Bukannya Mamanya dulu berkata kalau makan dilarang berbicara, nanti nasinya bisa lari. Itulah yang selalu dipikirkan Andrea saat dia makan. Dia masih percaya dengan mitos yang tidak tahu kebenarannya. Selesai makan Andrea langsung pergi begitu saja tanpa menjawab ucapan Angel maupun Leo. Sedangkan Josephine yang tahu Andrea pergi pun langsung pamit dan mengejar Andrea. Sesampainya di luar rumah Andrea malah dikejutkan oleh Kiano yang berdiri di depan gerbang. Untuk apa pria itu datang pagi-pagi seperti ini? "Kiano…" panggil Andrea dan membuat Kiano tersenyum. "Hai selamat pagi." sapanya. "Kamu ngapain kesini? Kampus lagi libur kan?" "Ya, aku kesini ingin mengajakmu jogging." Alis Andrea mengernyit dalam dia tidak salah mengajak Andrea untuk jogging? sejujurnya Andrea paling benci dengan olahraga, tapi untuk menghindari pertanyaan Leo dan juga Angel, Andrea memilih mengiyakan ajakan Kiano. "Aku ganti baju dulu, sama ambil sepatu. Tunggulah disini." Andrea berlari masuk ke rumah, bahkan dia sampai menabrak Josephine yang langsung terhuyung ke belakang. Untung saja Andrew langsung menangkap tubuh mungil itu, hingga tidak sampai membuat Josephine ambruk dan mencium ubin. Mengambil sepatu dan juga handuk kecil, plus topi Andrea pun segera turun. Tapi lagi, kali ini Leo yang menghadang Andrea. "Pah bisa minggir? Aku harus pergi." ucap Andrea sehalus mungkin. Tidak mungkin jika dia harus membentak Leo. Bagaimanapun dia Papa Andrea, walau kadang suka bikin kesal. "Papa butuh jawabanmu Nak." Andrea menghela nafasnya dan pergi begitu saja. Bukannya tidak suka, hanya saja Andrea belum siap. "Kita mau jogging dimana?" tanya Andrea saat dia baru saja sampai di hadapan Kiano. "Taman kota." **** "Jangan terlalu banyak bermain, dan jangan lupakan tugas kita, Kiano." ucap Diego memperingati. Kiano mendengus, "Aku lupa, dan aku tidak mau mengingat." Kiano pergi begitu saja dari hadapan Diego. Bukannya dia lupa, dia ingat tapi saat seperti ini jangan sampai Andrea tahu siapa Kiano. Pagi ini dengan sengaja Kiano mengajak Andrea untuk jogging. Tapi bukan hanya berdua, melainkan dengan saudara-saudara Kiano yang ikut semua. Hanya dengan alasan jika mereka juga sedang mencari wanita, yang di maksud oleh Kendick. Nyatanya sampai siang bolong pun mereka tidak menemukan apapun. Sesampainya di tempat semula Kiano meninggalkan Andrea. Wanita itu malah tidak ada di tempatnya. Kiano mengedarkan pandangannya ke penjuru taman dan terus meneriaki nama Andrea. "Ada apa kak?" tanya Kenny yang baru saja datang. "Andrea hilang." jawab Kiano panik. "Oh Andrea, dia pergi bersama dengan Aaron." Jawaban Kenny membuat Kiano menoleh dengan dahi berkerut. Apa maksud dari ucapan Kenny tadi? Kenny yang tahu jika kakaknya ini bingung, langsung menjelaskan jika Aaron dan Andrea pergi bersama. Mereka hanya mengambil skateboard di mobil. Katanya Andrea sangat jago, dan Aaron minta di ajari mau papan beroda itu. "Ck!! Selalu saja." dengus Kiano. Kiano tahu adiknya ini mana mungkin sungguh-sungguh. Pasti dia memiliki banyak cara untuk, menjauhkan Andrea dari Kiano. Bukan maksud menyukai, melainkan mengganggu agar tidak memiliki waktu bersama. Adik bontotnya memang unik. Kiano hanya geleng kepala, hingga dia menatap Andrea yang menggenggam tangan Aaron dan menuntunnya pelan. Sedangkan Aaron dia hanya berdiri di papan sambil menatap ujung lakinya. Kiano berani bertaruh karena dia hanya pura-pura, atau tidak hanya ingin menggoda Kiano saja agar dia marah. "Bagaimana rasanya tanganmu digenggam oleh dia kak?" tanya Kenny menoleh pada Andrea. "Hangat!! Nyaman!!" ketus Kiano. Kenny tertawa, dia pun langsung menepik babu Kiano dua kali. "Ayolah kak, Andrea hanya mengajari Aaron. Bukan berarti mereka saling menyukai kan?" Dengan gerakan pelan Kiano pun menolehkan kepalanya menatap Kenny tajam. Apa dia lupa jika Kiano memiliki sikap yang posesif dan cemburu yang berlebihan. Apa yang menjadi miliknya, tidak boleh disentuh oleh orang lain termasuk adik ataupun kakaknya. Tidak mau menatap pemandangan itu, Kiano bangkit dan menghampiri mereka berdua. Dengan kasar Kiano menepis tangan Aaron dan membuat Aaron jatuh dari papan rota "Kak apaan sih, kakak pikir ini tidak sakit." omel Aaron bangkit dari jatuhnya. "Tidak, aku tidak merasa sakit sedikitpun." "Ck!! Mau apa sih? Bisa tidak jangan mengangguku? Aku sedang berlatih!!" Kiano menghela nafasnya berat, dia pun menatap Andrea yang diam saja. "Tidak!! Andrea harus pulang, ini sudah siang Papanya pasti mencarinya." Diraihnya tangan Andrea dan langsung di bawa nya pergi. Sedikit mendorong Andrea masuk ke mobil dengan kasar, untung saja kepalanya tidak terbentur pintu mobil. "Aku pulang kak." ucap Kiano pada Marcellino. "Ya hati-hati." Kiano mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Marcellino. Lalu masuk ke mobil dan meninggalkan taman kota. Di dalam mobil pun Andrea dan Kiano hanya berdiam diri. Kiano fokus dengan jalanan, sedangkan Andrea dia hanya menatap luar jendela dengan lelah. Tak lama Kiano menghentikan mobilnya, di jalan yang sepi. Ganti saja hal itu langsung membuat Andrea menoleh bingung. "Kenapa berhenti?" tanya Andrea bingung dan menatap jalanan ini bukanlah jalanan menuju rumahnya. "Ini… bukan jalanan rumahku Ki." ujarnya. "Memang.." jawab Kiano. Dia pun mengambil tisu basah, dan mengusapnya di punggung maupun telapak tangan Andrea. Andrea menatapnya aneh, dia pun menarik tangannya. Tapi Kiano kembali menarik tangan Andrea dan mengusapnya dengan tisu basah. "Kamu kenapa?" tanya Andrea bingung. "Membersihkan tanganmu." "Ya aku tahu tapi untuk apa? Aku tidak memegang barang kotor." dengus Andrea. "Kau memegangnya Andrea." Andrea semakin bingung dan mengingat apa yang dia pegang selama di taman. "Kamu habis memegang tangan Aaron. Itu menurutku sangat kotor!!" ucap Kiano saat tahu jika Andrea bingung. **** Setelah menatap Kiano pergi, Andrea segera masuk ke mobilnya dan kembali pergi. Siang ini dia ingin ke makam Luna—Mamanya. Entah kenapa Andrea sangat merindukan Mamanya. Tak lupa juga dia pun membeli bunga tulip berwarna putih. Bunga kesukaan Mama Andrea. Sesampainya di pemakaman umum, Andrea segera masuk dan mencari makam Mamanya. Kata Papa makam Mama dekat dengan makam sahabatnya. Sesampainya di depan makam Mama-nya. Andrea segera berjongkok dan menaruh bunga tulip yang dia beli tadi. Matanya menatap lurus ke arah nisan yang bertuliskan Magdalena Carolina nama yang indah bukan jika disebut? Tapi sayangnya wanita itu sudah tertimbun tanah. Andrea mengusap air matanya kasar, lalu dia pun tersenyum kecil. Bibirnya terus melafalkan doa untuk Ibunya. Dia berharap dia tidak salah mengambil keputusan setelah pulang dari sini. Setelah berdoa sekali lagi Andrea menatap nisan sang Ibu dan kembali tersenyum. "Aku rindu Mah." ucapnya lirih. "Mah.. Papa ingin menikah kembali, apa yang harus aku lakukan? Merestuinya? Atau menolaknya?" ucap Andrea, dia sudah seperti orang gila berbicara sendiri. "Ea bingung harus apa!! Mama tau ada satu lelaki yang suka sekali mengganggu Ea." Andrea menceritakan siapa pria yang dia maksud. Pria yang mendadak membuat hidup Andrea terganggu, dia sejujurnya tidak suka tapi nyatanya Andrea juga tidak mampu menolak pria itu di hidupnya. "Mah bilang sama dia, kalau Ea tidak suka." Andrea tersenyum kecil, sekali lagi dia tersenyum dan berdoa. Sudah berapa tahun dia tidak pernah datang kesini. Selesai berdoa Andrea memilih pergi. Tapi saat membalik badannya ingin pergi, pergerakan Andrea terhenti saat menatap seseorang berbaju putih berdiri tak jauh darinya. Pria itu tersenyum lalu mendekat, menatap nisan yang berada di belakang tubuh wanita di depannya. "Jadi ini makam Mamamu?" tanyanya dengan senyum miringnya. "Iya, kenapa kamu ada disini?" "Aku habis dari makam Mami ku." Andrea mengangguk, dia pun menatap pria itu yang berjalan mendekati makam Mamanya, dan berjongkok di samping makam mama Andrea. "Aunty, aku Kiano, pria yang di maksud oleh anak perempuanmu." ucap Kiano menatap Andrea yang masih diam. "Aunty jangan melarangku untuk dekat dengan anakmu. Karena aku menyukainya." ujarnya memelankan ucapannya di akhir. Andrea yang melihat hal itu hanya menatapnya bengong. Tidak mau ikut campur dengan hal itu Andrea hanya diam saja sambil menatap Kiano yang terus berbicara dengan Mama Andrea. "Aunty restui kami, aku berjanji padamu jika aku akan menjaga anakmu sebaik mungkin." Tubuh Andrea menegang mendengar ucapan Kiano. Apa maksud dari ucapan Kiano saat ini dan kenapa dia berkata seperti itu. Bukannya berjanji pada seseorang yang sudah meninggal itu tidak baik? Tidak mau menanggapi, Andrea memilih pergi dari makam mamanya. Sedangkan Kiano dia yang tahu pun langsung mengejar Andrea yang meninggalkan makam. "Andrea…" panggil Kiano Andrea menoleh dengan alis yang terangkat satu, dia pun menatap Kiano yang ngos-ngosan di depannya. "Ada apa?" "Aku serius dengan ucapan ku?" Kiano menatap Andrea serius. "Kiano—" "Tolong jangan katakan apapun, aku sungguh-sungguh dengan hal ini." Kiano meraih tangan Andrea dan menggenggamnya. Langsung saja Andrea menepis tangan Kiano. "Maaf tapi aku harus pergi." Andrea langsung masuk ke mobilnya dan meninggalkan Kiano yang masih ada di parkiran makan. Bukannya Andrea tidak mau, hanya saja Andrea belum siap menerima Kiano sepenuhnya. Sesampainya di rumah Andrea langsung masuk kerumah. Dia menatap Leo, Angel dan juga Andrew yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Andrea duduk di samping Leo dan menatap banyak orang yang menatapnya heran. Apalagi saat Andrew bertanya tentang Kiano yang tiba-tiba saja datang pagi tadi. "Jangan bawel!! Dia hanya teman kampusku." jelas Andrea dan membuat Andrew tertawa. "Ah ya, aku belum sempat mengenalkan diri padanya, Ea." "Dan aku tidak peduli." sahut Andrea cepat dan membuat Andrew mendengus sebal. Pemandangan itu tak luput dari Leo dan juga Angel. Kalau saja Andrea bisa menerima Angel dengan lapang d**a, mungkin keluarga ini akan lengkap dan harmonis. Namun, anak perempuannya ini cukup sulit menerima orang baru. Satu persatu raut wajah seseorang di pandangi Andrea dengan seksama. Terumata Leo, pria paruh baya yang pertama kalinya menampilkan wajah sedihnya di depan Andrea. Jujur saja hal itulah yang dia benci, dia berjanji pada Mamanya untuk membuat Leo bahagia selalu. Tapi hal ini… "Aku akan memberimu waktu tujuh hari, untuk menyakinkan aku jika kamu terbaik untuk Papa!! Tapi kalau selamat tujuh hari ini kau tidak menunjukkan perubahan, kamu boleh tinggalkan rumah ini dan… Kubur semua impianmu untuk hidup bahagia bersama dengan Papaku." Celetuk Andrea tiba-tiba. Semua orang menoleh termasuk Leo. Apalagi Angel yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Ea…" Lirih Angel menatap Andrea tidak percaya. "Ya… Bukannya ini maumu? Aku memberimu waktu, dan gunakan dengan baik!!" Andrea bangkit dari duduknya dan memilih pergi ke kamarnya. Sedangkan Leo hanya diam saja dalam hati dia juga cukup bahagia, saat mendengar ucapan anaknya. Selangkah lagi, semuanya akan kembali seperti dulu walaupun bukan dengan Carolina. "Aku bilang apa dia pasti setuju dengan pernikahan kita nanti." Ucap Leo mengusap bahu Angel. "Ya, aku berpikir seperti itu. Aku akan merubah dia dengan sebaik mungkin. Membuat dia percaya denganku, dan memanggilku Mama." Jawab Angel dan membeli Leo. TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD