"Berkasnya mana?" Tanya Andrea dingin.
Raka yang saat ini di sampingnya langsung memberikan berkas itu pada Andrea. Menatap setiap kata dengan baik dan benar, lalu menutup berkas itu dan menatap empat peti di depannya.
"Perhatian!! Walaupun polisi itu sudah tewas,bukan berarti kita aman. Kirim dua peti lewat jalur Barat, dan dua peti lagi jalur Timur. Pakai jalan yang berbeda, alur yang kita buat cukup gampang di temukan. Jadi cari jalan lain, asal peti ini sampai di pesawat kita. Dan kirim barang dengan selamat." Jelas Andrea.
"Bos setelah sampai disana bagaimana? Peti ini akan mengeluarkan bau." Ujar Raka.
"Kau tenang saja, walaupun peti kecil ini mengeluarkan bau. Tapi bukan bau darah yang kalian cium, tapi bau wangi. Karena aku sudah menggantinya. Dan disana nanti akan ada orang yang menyambut kalian." Andrea meraih kain ungu dan dia berikan pada Raka, tanda pria itu harus ikut dalam pengiriman barang. "Kamu cukup pakai kain ungu ini di ujung jari, setelah itu selesai." Ujarnya.
Raka mengambil kain ungu dan dia simpan. Mungkin akan dikenakan saat dia sampai di tujuan. Raka meminta banyak orang untuk mengangkat peti ini ke dalam mobil.
Sedangkan Andrea dia diam saja dan menatap ponselnya yang terus bergetar sejak tadi entah berapa kali nomor yang sama terus saja menelponnya. Dengan rasa malas, Andrea pun menerima panggilan itu.
"Iya Kiano ada apa?"
Ya pria yang menelpon Andrea entah berapa kali itu adalah Kiano. Pria yang entah sejak kapan dengan berani masuk ke hidup Andrea. Pria asing yang menawarkan diri untuk berteman, dan juga memberi gelang pertemanan pada Andrea.
"Apa!!" Teriak Andrea terkejut.
Bagaimana tidak terkejut saat Kiano bilang jika sepuluh menit lagi dia akan sampai di rumah Andrea. Sedangkan dia masih berada di markas dan mengurus barang ilegal dan juga berkas. Dan pria itu akan menjemput Andrea sepuluh menit lagi.
Bergegas Andrea bangkit dari duduknya, bahkan dia mengabaikan kakinya yang sakit, akibat terbentur brangkasan di sampingnya
"Sialan, atur semua. Aku harus ada pergi, ada urusan yang penting dari ini!!" Umpat Andrea.
Andrea segera berlari ke arah mobilnya waktunya tidak banyak. Sebelum sepuluh menit dia harus sampai di rumah dan bersiap. Kenapa pria itu mendadak sekali memberitahu Andrea soal ini.
"So, let's have some fun, Man." Guman Andrea lirih dan menancap gas mobilnya dengan segera. Dia tidak ingin membuang banyak waktu.
Di dalam mobil Andrea tersenyum, dia tidak peduli dengan pengendara mobil atau motor lainnya. Yang terpenting dia sampai di rumah dengan selamat dan tepat waktu, walaupun dia harus mengebut dengan kecelakaan di atas rata-rata.
Hanya membutuhkan waktu lima menit Andrea sampai di rumah. Dia pun segera naik ke kamarnya dan bersiap. Jika dia menyiapkan baju dan kawan-kawan nya mungkin waktunya tidur akan cukup, akhirnya Andrea pun memanggilnya Angel.
"Aunty Angel.. Please come here." Teriak Andrea ketiga kalinya. Dan barulah Angel sampai di kamar Andrea dengan nafas yang memburu
"Ea, panggil Aunty?" Tanya Angel memastikan. Siapa tau saja dia salah dengar.
"Ya, aku memanggilmu. Tolong siapkan bajuku, aku harus pergi dan waktunya tidak akan cukup. Aku harus segera mandi." Ucap Andrea panik.
Angel mengangguk dia pun langsung masuk ke kamar Andrea untuk menyiapkan baju Andrea. Sedangkan Andrea dia langsung mengambil sepatu berwarna putih ke ungu-unguan, dan melemparkannya di samping tempat tidurnya, lalu dia pun segera mandi.
Selesai mandi bebek Andrea segera mengambil bajunya. Sayangnya kursi di depan lemari sepatunya membuat dia terjatuh.
"Oh sialan!! Siapa yang menaruh kursi ini disini." Umpat Andrea dan bangkit dari jatuhnya.
"Kau sendiri yang menaruhnya." Jawaban Angel membantu Andrea bangkit.
Angel menatap Andrea yang langsung mengenakan bajunya, tapi sayangnya baju itu terbalik dengan gambar yang di taruh di belakang oleh Andrea.
"Ea bajumu terbalik." Ucap Angel lirih.
Seketika itu juga Andrea langsung menatap dirinya di depan cermin. Dia pun menepuk jidatnya saat tahu baju yang dia ke akan terbalik, dengan gambar yang ditaruh di belakang. Tanpa malu Andrea melepas bajunya dan menggantikan ya. Lalu mencari jam tangan yang entah sejak kapan sudah melingkar di tangannya.
Helaan nafas keluar dari bibir Andrea, saat dirinya menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih pucat, dan dia belum dandan sama sekali.
Melihat Angel yang hampir saja pergi, Andrea langsung meminta Angel untuk meriasnya. Make-up natural yang pas untuk Angel.
"Ea di bawah ada teman mu." Ucap Andrew tiba-tiba dan menatap membuat Andrea maupun Angel menoleh.
Andrea mengangguk dia pun segera memoles lipstik dengan asal yang penting rapi dan pas dengan wajahnya. Lalu meraih tas kecil dan segera turun. Disana sudah ada Leo dan juga Kiano yang duduk berdua di ruang tamu sedang mengobrol.
"Dia memang keras kepala, jadi tolong dimaklumi." Ucap Leo tertawa kecil.
Andrea berdehem membuat mereka berdua menoleh. Tapi pandangannya terlalu fokus pada pria dengan kaos putih jaket bomber hijau army dan juga celana aja hitam, yang mungkin menjadi ciri khas dia warna hitam.
"Pergilah, jangan pulang malam-malam, anak gadisku harus di rumah sebelum jam sepuluh malam." Ucap Leo.
"Iya Om, kita akan pulang sebelum jam sepuluh malam." Leo mengangguk dia pun segera pergi. Sedangkan Kiano dia langsung menyeret Andrea untuk pergi bersamanya.
-ColdBloodedOfMafia-
Karena tidak tahu harus membawa Andrea kemana, Kiano memutuskan membawa Andrea di pinggiran pantai. Lebih tepatnya di dermaga pantau, disini banyak sekali orang pemuda pemudi yang memadu kasih. Duduk berdua sama saling bercanda tawa. Tapi beda lagi dengan Andrea dan juga Kiano yang memilih diam dan menikmati cemilannya. Bibir mereka seakan terkunci dengan makanan dan minuman yang mereka bawa, dibanding harus berbicara satu sama lain.
"Aku belum tahu apa tujuanmu membawaku kesini. Banyak pertanyaan yang bersarang di otakku tentang kamu. Apa tujuan kamu mendekatiku, dan untuk apa kau mendekatiku." Ucap Andrea tiba-tina dan membuat Kiano menoleh.
"Memangnya aku tidak boleh mendekatiku?"
Andrea diam, dia pun menatap nanar pantai di depannya. Bukannya tidak boleh, hanya hanya Andrea takut jika suatu saat nanti dunianya berubah hanya karena Kiano.
"Itu hak kamu."
"Tapi kenapa kamu berpikir jika aku mendekatimu sebuah tujuan? Padahal aku sudah bilang kalau aku sungguh-sungguh." Jelas Kiano.
"Sepertinya aku ingin ice coklat. Bisa aku membelinya."
Kiano hanya tersenyum miring saat Andrea mengalihkan pembicaraan. Wanita itu selalu seperti itu, tidak mau membahas apapun tentang mereka. Padahal Kiano sudah berharap jika Andrea mau membuka hati, atau mungkin menerima Kiano dengan lapang d**a. Tapi wanita itu seakan belum siap dengan adanya Kiano.
Kiano menatap sekeliling dan menatap dosa yoan penjual ice coklat. Dia pun memesan dua cup besar ice coklat dengan tolong oreo. Setelah sudah dia pun kembali pada Andrea masih duduk setiap di pinggiran dermaga.
"Wah terima kasih."
"Sama-sama. Kamu suka coklat?" Andrea mengangguk sejak kecil dia menang suka sekali dengan coklat. Tapi setiap pagi dia lebih suka s**u vanilla yang diberi madu sedikit. "Sebenarnya aku tidak terlalu suka coklat, tapi kalau ini berhubungan dengan kamu… Masih bisa dibicarakan baik-baik." Ujarnya dan membuat Andrea tertawa.
Disini Kiano banyak sekali bercerita, lebih tepatnya menceritakan ketujuh anggota keluarganya yang ditinggal Mami-nya sejak usia Marcelino lima belas tahun. Kalau dipikir-pikir, lima belas untuk Marcell ini, Tujuh tahun untuk Andrea? Belum lagi keusilan Aaron yang paling bontot suka sekali mengganggu dia.
"Kadang aku berpikir jika aku ingin menukarkan adikku dengan ice cream, mungkin itu akan lebih bermanfaat dibanding dia ada di rumah menghabisi nasi." Celetuk Kiano dan membuat Andrea tersenyum.
"Kau akan merasa kehilangan, jika hal itu terjadi."
"Ya aku merasa begitu, saat kita pisah dan jika satu rumah. Aku merasa jika aku adalah kakak yang jahat, membuatkan dia pergi dengan teman-temannya dan aku tidak ikut."
Andrea geleng kepala mungkin kalau hal itu terjadi pada hidup Andrea, dia akan menjadi adik yang paling bahagia di dunia. Tapi sayang, semua itu hanya mimpi dan tidak akan menjadi nyata di hidup Andrea.
Tak mau berlama-lama di tempat ramai, Andrea mengajak Kiano pergi. Dia paling pusing jika banyak orang di sekelilingnya. Cukup dorm tempat dia kerja dan banyak sekali anak buah yang berteriak satu sama lain. Disini jangan, Andrea ingin mencari tempat tenang yang bahkan tidak ada orang sama sekali.
Tapi baru juga beberapa langkah, ponsel Andrea bergetar. Dia pun menatap siapa yang menelponnya disaat seperti ini, ternyata Brush. Langsung saja Andrea mematikan panggilan itu dan menyimpan ponselnya di tas kecilnya. Tapi lagi-lagi ponsel itu bergetar, dan membuat Kiano menoleh, getaran itu cukup ketara.
"Kenapa nggak di angkat? Angkat saja aku tidak masalah. Asal bukan kekasihmu." Ucapnya dengan nada bercanda.
Andrea tersenyum kecil mengambil ponsel itu dan menjauh dari Kiano.
"Ada apa?"
"Markas kedua di gerebek polisi Bos. Apa yang harus kita lakukan? Mereka menemukan banyak bola mata koleksi mu."
Ucapan brimiah membuat Andrea murka, tapi untuk saat ini Andrea tidak bisa berbuat apapun. Apalagi disini ada Kiano, jangan sampai Kiano tahu siapa Andrea.
Tanpa mengucapkan apapun Andrea mematikan sambungan teleponnya. Tak lupa juga dia langsung mengirim pesan pada Brush, untuk membiarkan hal itu terjadi. Apalagi rumah itu memang sudah lama menjadi jadi incaran polisi, tempatnya yang strategis dan dapat ditemukan.
Andrea kembali ke Kiano yang menunggunya sambil memainkan ponselnya. Andrea baru tahu jika Kiano ini suka sekali bermain game, katanya game apapun dia bisa bermain dan mengajak Andrea untuk bermain. Sayangnya, Andrea tidak suka bermain game jadi dia menolaknya.
"Sudah? Apa Papamu menelpon?" Tanya Kiano menatap Andrea penuh harap.
"Kenapa? Kau takut kalau Papa ku yang telepon?"
"Tidak. Aku hanya takut jika Papamu khawatir saat kau pergi bersamaku. Katanya, aku orang pertama yang mengajakmu pergi."
"Semua orang tua pasti khawatir jika putrinya pergi bersamaku dengan laki-laki lain. Mereka menginginkan kan anaknya hidup berdampingan dengan orang yang tepat, dan mampu menggantikan perasaan mereka. Mampu menjaga puterinya dengan baik, dan melindunginya dengan apapun keadaanya. Itulah mimpi semua orang tua." Jelas Andrea dengan mata yang hampir saja menangis.
Kiano mengangguk dia tahu betul bagaimana perasaannya Andrea. Dia rasanya tangannya dan berkata, "Aku akan menjagamu sebisa mungkin, membuatmu bahagia setiap berada di sampingmu. Menghapus kekhawatiran Papamu, dan membuat Papamu percaya jika anak gadisnya aman bersamaku."
"Kiano…"
"Semakin kamu menolakku, semakin besar rasaku untuk mendapatkan mu, Andrea." Potong Kiano cepat dan membuat Andrea bungkam.
****
Dari kejauhan Andrea bisa melihat jika rumah itu sudah terbakar hangus. Banyak orang berkerumun disana dan menatap banyak toples yang di taruh di atas tanah. Toples yang isinya adalah semua koleksi Andrea selama ini. Apalagi kalau bukan organ manusia yang bisa dijual dengan harga mahal. Tapi jika orang tak mampu yang meminta, Andrea bahkan bisa memberikannya dengan suka rela. Dan menyiapkan ruang operasi tanpa biaya untuk orang itu.
Tapi saat ini rumah itu sudah di bakar habis oleh polisi, dan yang jelas Andrea tidak akan pernah kembali lagi ke rumah tuanya. Andrea memilih pergi, ada banyak hal yang ingin dibahas bersama dengan anak buahnya. Hingga akhirnya mereka pun sampai di markas kedua, dimana semua orang berkumpul di rumah ini dan bekerja di bawah tangan Andrea.
"Bos ini laporannya." Ucap Dika.
Andrea menerima laporan itu dan membaca dengan teliti, lalu melemparkannya di atas meja dan membuat Dika terkejut setengah mati.
"Laporan apa yang kau berikan padamu!! Itu salah semua!! Perbaiki dan aku mau malam ini juga!!" Sinis Andrea.
Dika yang menang sudah takut dengan aura Andrea pun, segera mengambil laporan itu dan menjadi perbaiki nya. Walaupun dia tidak pernah macam-macam dengan keluarga, tapi bukan berarti dia tidak bisa melakukan apapun pada keluarga Dika dan juga yang lain.
"Josephine ambilkan laptopku di atas." Josephine mengangguk dan mengambil laptop milik Andrea dan memberikannya. Sedangkan Andrea dia langsung membuka laptopnya dan menunaikan sebuah berlian merah yang menjadi incaran orang banyak. "Aku ingin kalian mencari berlian ini, dia hanya ada dua di dunia. Satu dimiliki oleh Ratu Elizabeth dan satunya lagi ada di tangan Mr. Braga." Jelasnya dan membuat semua orang mengangguk.
"Aku menginginkan berlian ini karaka harganya yang mahal dan juga langka. Jadi aku harap kalian segera menemukan Braga dan ambil berlian itu." Ucap Andrea dengan santainya.
Semua orang menghela nafasnya, mungkin bagi Andrea menangkap Braga cukup mudah. Tapi bagi mereka semua ini cukup sulit. Secara silat mereka tidak sebagus dan sepandai Andrea. Bermain senjata apalagi, tidak sekali Andrea. Mana mungkin mereka semua dapat menangkap Braga dengan mudah.
"Tapi—"
"Aku tidak menerima penolakan." Potong Andrea cepat dan mengangkat tangannya. "Josephine urus mereka semua, kasus ini kamu yang tangani. Dan jangan membuatku kecewa atau…kamu tanggung akibatnya." ujarnya
"Iya Bos, saya akan berusaha sebisa mungkin mendapatkan berlian itu."
"Bagus, waktumu cuma satu minggu!!" Andrea bangkit dan pergi begitu saja. Membuat semua orang langsung menatap Andrea bingung. Satu minggu bukanlah waktu yang lama, hitungan jam saja waktu itu akan cepat berlalu.
Semua orang langsung panik dan melihat pelipisnya. Sedangkan hanya orang juga yang langsung menatap laptop dah mencari keberadaan Braga.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Josephine bingung.
"Aku tidak tahu harus apa. Tapi jika kita tidak membawa berlian itu, maka kita semua akan mati." Jawab Elbarac.
"Oh ya Tuhan semoga kita masih hidup satu minggu kedepan." Ujarnya dan menatap langit-langit rumah ini. "Sekarang kita harus berjalan dengan kelompok, agar kasus ini selesai dan nyawa kita selamat." Ujarnya dan mendapat anggukan dari banyak orang.
TBC.