Andrea melempar berkas di tangannya dengan begitu kasar. Berkas itu sudah jatuh ke tangan orang lain yang jelas berkas itu sudah bocor.
"Aku masih bingung bagaimana caramu bekerja, jika hal ini saja kamu tidak bisa meluruskan nya. " Sinis Andrea. "Kau juga tau berkas ini sangat penting untukku dan kau begitu ceroboh sampai berkas ini bocor!?"
Andrea menatap sinis pria di depannya, tangannya terulur mengambil pisau dan juga memainkannya. "Pergi atau aku akan membunuhmu."
Pria itu langsung saja berlari sekencang mungkin dengan kaki yang beredar. Siapapun akan takut jika hanya ada satu pilihan saja. Lagian dia harus masih menghidupi istri dan juga anaknya, kalau sampai dia mati yang ada anak dan istrinya akan dalam bahaya.
Berbeda dengan Andrea dia pun langsung membakar berkas itu hingga hangus. Lagian berkas sialan ini kenapa bisa bocor? Yang jelas ada orang dalam yang tengah berkhianat.
Melirik jam dinding yang ternyata jam sepuluh pagi, Andrea memilih pergi ke kampus. Dia ada jadwal masuk siang hari ini, dan jangan sampai terlambat.
Keluar dari ruangan jahanamnya Andrea menggunakan masker hitamnya. Sebelum dia pergi ke kampus, ada pekerjaan yang seharusnya dia lakukan. Walaupun ketua mafia, terkadang Andrea masih disewa untuk membunuh seseorang.
Dan inilah Andrea, duduk tenang di dalam mobil sambil menatap incarannya yang tengah duduk di pinggiran trotoar. Pria kaya raya yang katanya suka menggagalkan kliennya saat meeting.
"Aku ingin sekali mencongkel bagian tubuhnya untuk kenangan. Tapi sayangnya, aku tidak memiliki rumah." Gumamnya.
Andrea mengambil senapan yang disimpan di sampingnya. Lalu memfokuskan pistol itu ke arah korban, hingga suara ledakan pun terdengar begitu memekakkan telinga, dan membuat orang itu tergeletak dengan bersimbah darah.
"Baiklah, tugasku selesai. Semoga banyak orang yang melihatmu mati dengan perlahan."
Andrea segera meninggalkan tempat kejadian, sebelum banyak orang yang melihatnya. Walaupun Andrea tahu jika hal itu tidak akan terjadi. Karena dia termasuk orang yang lain bersih. Banyak orang yang dia bunuh, tapi tak ada satu polisi atau orang pun yang bisa menangkap Andrea. Kecuali anak buah Andrea yang bermain kasar dan buru-buru
Sekitar dua puluh menit, Andrea telah sampai di kampus dia pun langsung bertemu dengan kedua temannya Audy dan juga Aubrey yang ternyata menunggunya di parkiran kampus.
"Andrea…." Pekik Audy dan langsung memeluk Andrea. Sedangkan yang dipeluk hanya tersenyum miring. Senyum khas Andrea sejak dia berusia tujuh tahun.
Audy dan Aubrey yang tahu pun hanya diam saja sambil mengacak rambut Andrea hingga berantakan. Mereka pun berjalan bertiga dengan Audy yang paling cerewet. Wanita itu menceritakan kencan buta buat dengan seorang pria asing. Pria yang pertama kali dia lihat di Ibukota, bahkan Audy juga yakin kalau pria itu adalah pindahan bukan asli Ibukota.
"Hati-hati penculikan Dy, tau kan Ibukota kita sedang tidak aman. Banyak anak dan juga orang dewasa hilang, nanti balik-balik dalam keadaan mati, atau bagian perut penuh dengan jahitan. Karena organ tubuh mereka hilang dan dijual oknum jahat." Ucap Aubrey
Mendengar hal itu Andrea pun berdehem, berharap Aubrey sadar dengan apa yang di ucapnya. Jika salah satu temannya ini paling suka mengoleksi organ tubuh mangsanya. Dia sudah seperti psikopat yang suka sekali menyiksa orang.
Menyadari akan hal itu Aubrey pun mengangkat dua jari ke udara dan meringis. "Bukan kamu ya Ea. Aku tahu kalau kamu yang ambil, pasti untuk kebaikan." Ujarnya dengan perasaan takut.
Andrea mengangguk, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi sebisa mungkin Andrea akan cari tahu, kenapa banyak anak yang hilang dan kembali dalam keadaan mati.
Hingga tiba-tiba Andrea merasakan seseorang mendorong tubuhnya dari belakang. Dan membuat wanita itu hampir saja terjungkal jika kedua temannya tidak menangkap tangannya.
Mata Andrea menajamkan, dia pun langsung menepis kedua tangan temannya dengan kasar. Membenarkan almamaternya dan memutar tubuhnya. Menatap siapa yang berani mendorong dirinya hingga terjungkal ini.
Saat tau siapa yang mendorongnya, Andrea pun tersenyum kecil sehingga membuat wanita itu langsung melayangkan pukulannya pada Andrea.
Dan terjadilah pertengkaran diantara mereka. Audy dan juga Aubrey hanya bisa melihatnya tanpa mau memisahkan. Jangankan memisahkan di antara mereka saja hidup Audy dan juga Aubrey sudah seperti hidup di neraka.
Andrea melesat saat wanita itu terus memukulnya. Tidak ada satu pukulan pun yang mengenai wajar Andrea. Kecuali Andrea yang memukul wanita itu dan membuat sudut bibir wanita itu berdarah.
"Sialan!!" Umpat wanita itu dan membuat Andrea tersenyum.
"Simpan umpatanmu itu. Bahkan jurus silat mu saja tidak bisa mengalahkanku." Sinis Andrea
"Jangan terlalu percaya diri bung, kau belum tahu saja siapa aku."
"Dan aku tidak akan mau tahu akan hal ini!!"
Dan lagi Andrea dan juga wanita itu pun kembali berkelahi. Wanita itu terlalu banyak menerima pukulan dari Andrea dan membiarkan wajah babak belur nya kali ini.
“Sialan.” umpat Andrea.
Sampai akhirnya kaki Andrea pun melayang dan hampir saja menendang wajah wanita itu. Dan begitu sebaliknya, jika wanita itu juga hampir saja menendang wajah Andrea.
“Long time no see Andrea.” ucapnya lirih sambil tersenyum miring dan membuat Andrea menatapnya tidak suka.
****
Cinta Aurora adalah salah satu teman Andrea sejak kecil, tapi sayangnya wanita itu memilih tinggal berjauhan dengan Andrea, karena Andrea tidak mau menuruti apa mau dia saat masih menjadi tetangga. Tentu saja Andrea tidak mau, waktu itu Cinta memintanya untuk membunuh seekor tikus liar yang berani mengambil makan Cinta. Karena masa itu hati Andrea masih lembut, dan tidak tega untuk membunuh hewan. Dan sekarang jangankan hewan, manusia saja kadang menjadi mainannya sebelum mati.
“Jantungku hampir saja pindah ke ginjal melihat kalian berkelahi.” komentar Aubrey sambil mengusap dadanya, seakan apa yang dia bilang akan menjadi nyata.
“Benar, aku bahkan tidak berani melerai kalain. Astaga…” peki Audy menggelengkan kepalanya.
Cinta hanya tersenyum sinis melihat hal itu. Tapi matanya tertuju pada Andrea yang diam saja sejak kedatangannya. Wanita itu tidak berubah setelah kejadian itu, kejadian dimana dia harus kehilangan orang yang sangat berarti bagi dia.
“Kau tidak suka aku kembali? Harusnya kau menyambutku Ea.” ucap Cinta menatap Andrea nanar.
Andrea hanya mengedikkan bahunya. lalu menatap Joshepine yang datang dan membisikkan sesuatu. “Atur saja, jangan sampai ada yang tau. Ini tugasmu, dan jangan kecewakan aku.”
“Baik Bos.” Josephine langsung pergi saat Andrea memintanya pergi. Pekerjaan ini mungkin membutuhkan waktu yang lama, dan Andrea cukup malas jika harus berhadapan dengan orang yang tak semestinya.
Melihat hal itu Cinta pun tertawa kecil, dia pun meminta Audy dan juga Aubrey untuk menjelaskan apa saja yang terjadi setelah dia pergi. Dan yang paling penting adalah sikap Andrea yang semakin dingin dan tak tersentuh.
Dengan sigap Audy maupun Aubrey saling sahut satu sama lain untuk bercerita. Memang ya mulut teman itu sangat pandai untuk bercerita, asal cerita baik sih Andrea tidak masalah, jangan sampai mereka berdua bercerita yang buruk. Seperti Andrea yang mendadak mau dekat dengan Keano.
Tapi sayangnya hal itu sudah bocor lebih dulu oleh Audy yang memberitahu Cinta siapa pria yang berani mendekati Andrea walaupun Andrea menolaknya.
“Waw, jadi sekarang kau seperti ini? Sudah bisa move on dari Gracio eh." Kekeh Cinta tanpa sadar. "Aku jadi penasaran pria mana yang berani mendekatimu, walaupun kau sudah menolaknya." Ujarnya.
Bukannya menjawab Andrea malah pergi meninggalkan Cinta dan juga yang lain. Satu hal yang membuat Andrea kesal adalah saat nama sialan itu terlontar begitu gampang dari bibir seseorang. Bukannya dia tidak suka Cinta kembali, dia sangat suka. Tapi inilah yang dia benci, dia selalu saja mengungkit masa lalu.
Karena tidak terlalu memperhatikan jalan, tidak sengaja Andrea menabrak seseorang yang berhenti mendadak di depannya. Tentu saja hal itu langsung membuat Andrea mundur sambil mengusap keningnya.
Orang itu menoleh dengan perasaan bersalah, mungkin kalau tangannya tidak dicekal, dia tidak akan berhenti mendadak seperti ini.
"Andrea… Kau tidak apa-apa?" Ucapnya khawatir
Andrea mendongak, lalu mendengus kepalanya menggelengkan kepalanya tanda jika dia baik-baik saja.
"Maaf aku tidak tau kalau kau berjalan di belakangku." Ucap Keano lagi.
"Ya tidak masalah. Aku juga salah karena tidak memperhatikan jalannya."
"Kamu mau kemana? Kok buru-buru?"
"Aku hanya ingin kamu kantin, membeli sesuatu." Ucap Andrea cepat dia bahkan sampai menoleh ke belakang berharap nika tiga wanita gila itu tidak mengikutinya. "Aku pergi dulu."
Andrea segera pergi, tapi baru juga beberapa langkah Keano langsung menarik tangan Andrea dan membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Langsung saja Andrea melepaskan diri dan berjalan pergi. Tapi lagi Keano menarik tangannya dan membuat Andrea hampir saja menghilangkan nyawa pria itu.
"Ada apa?" Tanya Andrea gemas. Lebih tepatnya marah, karena Andrea paling benci menjadi pusat perhatian. "Aku harus pergi Keano." Ucapnya lagi.
"Iya, kita pergi sama-sama."
Keano langsung menarik tangan Andrea untuk pergi ke kantin. Tapi sebelum hal itu terjadi, Andrea lebih dulu menarik tangan Keano ke arah lain. Apalagi saat melihat Cinta dan juga yang lain sedang berjalan ke arah kantin, jangan sampai tiga wanita itu tahu jika Andrea jampi saka berpelukan dengan Keano.
"Ada apa? Katanya mau ke kantin?" Tanya Keano bingung.
"Aku berubah pikiran, aku ingin pergi dari kampus ini."
"Haa kemana?"
"Kemana aja, yang penting tidak disini. Kau disini saja, next time mungkin kita bisa ke kantin bersama."
Keano menggeleng dia pun kembali menghentikan langkah kaki Andrea. Lagian walaupun Andrea pergi di harus pergi. Ingat Keano sedang dalam masa pendekatan dengan wanita itu. Jangan sampai dia ketinggalan dan tidak tahu apa yang dia suka dan tidak sukai.
Keano pun memutuskan untuk pergi dari kampus bersama dengan Andrea. Dan meminta Aloysius untuk mengabsen jika dia tengah sakit dan memilih pulang. Setelah dirasa beres mereka berdua pun langsung meninggalkan kampus ini dengan mengendarai mobil Andrea.
****
Turun dari mobil hal pertama yang dilihat Andrea adalah sebuah danau yang begitu indah dengan air yang jernih. Danau ini sepi dan tidak ada satu orangpun yang ada disini.
"Kita dimana?" Tanya Andrea bingung
"Ini adalah salah satu tempat favorit aku. Kalau aku sedang ada dalam masalah, aku akan datang kesini dan menyendiri." Jelas Keano dan membuat Andrea mengangguk. "Dan kau adalah orang pertama yang aku ajak kesini. Kakak ku dan adikku sama sekali tidak tahu tempat ini." Ujarnya
"Wah, istimewa sekali ucapanmu." Kekeh Andrea
Keano tertawa kecil dan mengajak Andrea untuk naik perahu. Dan entah kenapa Andrea malah berpikir jika dia bisa menenggelamkan musuhnya di danau ini, hingga tewas. Mungkin akan lebih menyenangkan jika hal itu benar-benar terjadi.
Melihat Andrea yang melamun, Keano pun mencipratkan air ke arah wanita itu dan membuat wanita itu gelagapan kaget. Dia bahkan sampai mengusap wajahnya yang basah terkena air danau yang cukup dingin.
"Basah Keano." Dengus Andrea.
"Salah sendiri ngapain kamu melamun. Lagi mikirin apa sih? Sini cerita, siapa tau aku bisa bantu masalah kamu."
Bantu? Kan mungkin Keano mampu membantu masalahnya yang berat seperti ini. Dan juga identitas Andrea yang masih belum terbongkar sama sekali.
Wanita itu memilih membisu dan menggelengkan kepalanya, tanda jika dia tidak mau bercerita apapun ada Keano. Dan membuat pria itu kembali mengayuh perahunya sampai di tengah danau.
"Apa motivasi mu mengajakku ke danau ini?" Tanya Andrea menatap Keano datar.
"Tidak ada. Aku hanya mau menghiburmu. Dan aku pikir kau sedang dalam masalah."
Masalah? Tentu saja setiap saat hidup Andrea selalu saja diliputi masalah. Entah masalah kecil atau mungkin masalah besar yang bisa membahayakan hidupnya.
Andrea meminta Keano untuk menepikan perahunya. Mendadak dia takut sendiri jika lama-la di tengah danau seperti ini. Bisa saja ada hewan buas yang siap menerkam Andrea dari bawah.
"Jadi kamu paling takut sama hewan? Aku baru tahu jika wanita dingin sepertimu, takut dengan banyak hewan." Kekeh Keano
Bukan takut, lebih ke jijik, karena setiap melihat hewan besar. Andrea selalu diajak flashback ke masa lalu, saat Leo meminta Andrea untuk membunuh hewan besar tanpa rasa kasihan. Dan sekarang jangankan hewan, manusia saja Andrea tidak memiliki rasa kasihan untuk membunuhnya.
Perahu yang ditumpangi Andrea pun menepi. Wanita itu langsung turun dari perahu, dengan bantuan Keano. Tapi yang ada ponsel Andrea bergetar hebat dan Josephine telah menelponnya.
Andrea menolak telepon itu dan meminta Josephine untuk mengirim pesan saja. Yang isinya hanya barang yang seharusnya dikirim tertangkap polisi kembali. Dan juga ada beberapa anak buah mafia lainnya mengambil barang Andrea.
Sialan!! Umpat Andrea dalam hati. Dia pun langsung meremas ponselnya dengan amarah yang memuncak. Siapa yang beraninya mengacaukan pengiriman Andrea saat ini.
"Ea, kita pulang atau masih mau disini? Udah mau gelap."
Andrea gelagapan dia pun langsung menyembunyikan ponselnya dari Keano. Melihat hal itu Keano tersenyum kecil, dan mengira nika kekasih Andrea telah menelponnya dan mencari Andrea.
"Kekasihmu menelponnya dan mencarimu?"
Andrea menggeleng, "Bukan, aku tidak memiliki kekasih. Dia hanya temanku, dan dia perempuan. Aku masih normal jika harus memiliki kekasih perempuan."
"Ah serius? Aku pikir dia---"
"Kita pulang temanku menungguku di rumah."
Tbc.