Dor….
Suara tembakan menggema di sebuah gedung tua tak berpenghuni. Wanita dengan baju hitam dan celana jeans putih, baru saja melempar pistol yang digunakan pada anak buahnya.
"Lempar jasadnya ke sungai, atau kemanapun asal tidak ada yang tahu." perintahnya dengan suara dingin.
"Baik Bos."
Setelah melakukan tugasnya wanita itu segera pergi, bukan karena takut hanya saja dia terlalu malas jika bau darah. Dia ada jadwal masuk pagi, maan mungkin dia pergi ke kampus dengan keadaan bau.
Polisi itu sudah ketiga kalinya selalu saja menggagalkan rencana andrea. Dia juga menyandera empat anak buah Andrea saat transaksi. Dan kali ini jangan harap Andrea akan berdiam diri.
Nyatanya polisi itu sudah tewas, dan setelah itu tidak ada lagi penghalang untuk Andrea.
Sesampainya di kampus hal pertama yang dilihat Andrea adalah Kiano. Pria itu berdiri di dekat mobilnya dengan senyum lebarnya. Seakan dia tengah menunjukkan gigi rapinya.
"Se.la.mat pagi Andrea." sapa Kiano dengan canggung.
Andrea tersenyum tipis, "Pagi."
"Mau ke kelas bersama?" tawan Kiano tahu, siapa tahu saja Andrea menolaknya.
"Ah maaf Ki, tapi aku ingin ke kafetaria lebih dulu."
"Mau aku temenin?"
Alis Andrea tersangka satu dia pun menatap Kiano yang menurutnya sangat aneh. Pria di depannya ini mendadak mendekatinya, dia tergolong anak baru yang nekat.
"Terserah."
Entah setan apa yang merasuki dia kali ini, mendadak Andrea berbicara seperti itu. Tapi wanita itu juga tidak berharap jika Kiano mau mengikutinya. Sesampainya di kafetaria, Andrea dikejutkan oleh Kiano yang langsung duduk di depannya.
"Kau…" pekik Andrea dan membuat Kiano tersenyum.
"Kenapa? Kau kan bilang terserah, jadi aku ikut."
Andrea hanya mengangguk, lebih baik dia memesan makanan. Apalagi tadi pagi dia belum sempat sarapan. Calon Ibu Tirinya tadi memang menyiapkan sarapannya, tapi Andrea saja yang tidak mau sarapan dan lebih memilih membunuh.
Bukannya Andrea tidak ingin Leo menikah. Bahkan Andrea juga terikat janji dengan Mamanya dulu, jika dia akan melakukan apapun untuk membuat Leo bahagia. Tapi apa iya dengan cara mengizinkan Leo menikah? Padahal Andrea tidak ingin Leo menikah. Walaupun sikapnya tidak pernah peduli dengan Andrea, mengizinkan Leo menikah kembali tidak pernah terlintas di otaknya.
"Andrea!!"
Andrea terjingkat kaget, dia pun menatap Kiano dengan ekspresi lucunya. "Kenapa?" tanya Andrea bingung.
"Makananmu sudah datang, dan kau malah sibuk melamun. Nanti keburu dingin dan tidak enak." jelas Kiano.
Andrea menunduk, dia pun menatap spaghetti di depannya dan tersenyum kecil. Hal seperti itu masih bisa dibicarakan nanti, kenapa juga Andrea harus memikirkan hal itu.
Sambil menikmati sarapannya, Andrea menatap Kiano yang hanya makan roti selai dan juga se cup s**u coklat. Hampir sama dengan kesukaan Andrea. Pagi hati Andrea ingin minum s**u vanilla, tapi malam hari dia ingin minum s**u coklat. Katanya mampu membuat gemuk, apalagi ditambah Ice blast.
Selesai makan Andrea segera bangkit, dia harus masuk kelas. Bukannya apa, Andrea paling risih jika ditatap banyak orang. Belum lagi yang menatap lebih banyak wanita dan langsung berbisik. Sudah dipastikan kalau Andrea akan booming setelah dekat dengan Kiano.
Dekat? Astaga Andrea tidak berpikir sampai disana.
"Andrea tunggu!!" seru Kiano dan mengejar Andrea.
Bukannya berhenti Andrea malah berlari kecil, dia menjauh dan membuat Kiano langsing mengejarnya. Melihat hal ini Kiano jadi ingat film Hollywood dengan adegan lari-lari dengan soundtrack lagu romantis. Astaga..
"Andrea." seru Kiano lagi dan menarik tangan Andrea.
Mendorong tubuh Andrea hingga punggungnya terbentur dengan dinding. Jangan harap jika Kiano akan mengurung tubuh Andrea dengan kedua tangannya. Disini banyak orang dan Kiano tidak mungkin melakukan hal itu.
"Jangan lari." ucap Kiano seperti berbisik.
"Aku lari karena aku tidak suka ditatap. Para fans mu seakan ingin menggulitiku Kiano."
Kiano terkekeh, "Aku mana peduli dengan hal itu. Jika mereka berani menyentuhmu maka mereka akan berurusan denganku."
Ucapan posesif itu membuat Andrea tersenyum kecil. Dia juga merasakan hangat di telapak tangannya. Saat menunduk dia baru sadar jika Kiano tengah menggenggam tangannya.
Andrea ingin melepas genggaman itu, tapi Kiano mengeratkan genggamannya.
"Jangan di lepas, aku ingin seperti ini sebentar saja. Dan memberitahu mereka jika kau adalah milikku."
****
"Pagi tadi aku dengar kamu sarapan bersama dengan Kiano." ucap Audi tiba-tiba.
"Dan pagi tadi aku juga dengar, jika kau dan Kiano saling bergandengan tangan." sahut Aundey.
Andrea hanya geleng kepala dengan ucapan kedua temannya. Secepat itukah berita menyebar di kampus? Secepat Andrea membunuh orang, dan dengan hitungan detik.
"Andrea jawab!!" tengah Audi.
"Dan lagi, sejak kapan kamu pakai gelang begini." timbal Audrey, mengangkat tangan kiri Andrea menatap gelang merah melingkar di sana.
Andrea menarik tangannya bukannya tidak ingin jujur. Tapi dia butuh privasi dan tidak semua apa yang dia lakukan kedua temannya harus tahu.
"Dimana Josephine, dia sudah dua hari tidak masuk." ucap Aubrey lagi dan membuat Andrea mengedikkan bahunya.
"Andrea kita serius, kita membutuhkan klarifikasi mu!!" seru Aubrey.
"Untuk apa?" Andrea sudah mulai jenuh, walaupun mereka dengar ya sudah jangan di ungkit lagi. Yang ada mereka malah mempertanyakan.
"Untuk apa?" ulang Audi menatap Andrea tidak percaya. "Kalau saja aku tidak takut dengan, aku sudah mencekikmu Andrea Key."
Untuk pertama kalinya Andrea tertawa lebar. Tentu saja hal itu langsung membuat Audi maupun Andrea melonggo, detik berikutnya meneteskan air matanya.
Entah sudah berapa tahun Andrea tidak tertawa selepas ini. Mengetahui mimik wajah Audi dan juga Aubrey, Andrea hanya berdehem dan bangkit dari duduknya lalu dia pun pergi begitu saja.
"Aku bahagia jika dia tertawa seperti itu. Tapi aku sedih, jika dia mengingatnya." ucap Audi mengusap air matanya.
"Dan aku… khawatir jika dia masih memiliki dendam dengan orang itu." sahut Aubrey.
"Josephine tidak masuk, pasti dia sedang misi."
"Mungkin, kau kan tahu seperti apa Andrea."
Disisi lain Andrea pergi meninggalkan kafetaria. Ia berjalan dari lorong kampus ke lorong kampus lainnya. Pikirannya melayang rentang kejadian beberapa jam lalu. Dimana Andrea mampu tertawa lepas tanpa beban, dan itu semua hanya mendengar kabar kedekatannya dengan Kiano.
Ada apa dengannya? Dan apa yang terjadi dengan dirinya? Kenapa dia seperti itu? Seharusnya bukan seperti ini reaksi yang ditampilkan oleh Andrea.
Andrea menggelengkan kepalanya saat satu kata terlintas di pikirannya. Sampai akhirnya dia pun menatap gelang merang di pergelangan tangannya. Gelang yang diberikan oleh Kiano, katanya ini gelang persahabatan. Pria itu menawarkan pertemanan pada Andrea, dan entah kenapa malah menerima hal itu dengan mudah.
Padahal Andrea tahu, jika dia tidak pernah percaya dengan apa yang dinamakan sahabat. Dulu, Andrea memiliki banyak sahabat termasuk Audi dan juga Aubrey. Tapi mereka semua meninggalkan Andrea, saat Andrea mengatakan dirinya bangkut. Hanya Audi dan juga Aubrey yang bertahan di sisi Andrea. Apa itu yang dinamakan sahabat? Nyatanya Andrea masih belum percaya.
"Andrea…"
Panggilan itu membuat Andrea mendongak, dia menatap Kiano yang berlari dari kelas musik. Sedikit menyunggingkan senyum tipis, dan berjalan pelan menjauh dari Kiano.
Tapi yang ada Kiano malah menahan tangan Andrea, dan membuatmu mendengus. "Selalu saja pergi."
"Yah harus bagaimana? Aku tidak suka ditatap banyak orang."
"Kalau begitu ikut aku, kita ke tempat dimana tidak ada orang yang akan menatapmu."
Kiano menarik tangan Andrea dengan lembut. Mereka pun meninggalkan lorong kampus ini, dan pergi dari kampus ini.
"Kiano, kita mau kemana? Aku ada kelas akhir." ucap Andrea menarik tangannya.
"Jangan lupakan kalau aku juga ada kelas akhir Andrea."
"Ya tapi—"
"Diamlah!! Kau sendiri yang bilang tidak ingin ditatap. Sekarang kau harus ikut denganku. Jangan banyak bicara oke."
Andrea mendengus dia memilih mengalah. Saat ingin memasuki mobil Kiano, pandangan Andrea tertuju pada seseorang berbaju hitam yang sejak tadi mengawasi mereka. Entah Andrea atau Kiano, tapi Andrea merasa jika pria itu sedang mengintai Andrea.
Andrea masuk saat Kiano memintanya untuk masuk. Sekali lagi Andrea menatap pria itu juga masuk ke dalam mobilnya.
Jangan harap kamu bisa lolos bung. Andrea menatap Kiano yang memutari mobil dan duduk di kemudi. Hingga mobil yang di kendari Kiano dan juga Andrea pun meninggalkan parkiran kampus ini.
Dalam mobil mereka hanya diam saja. Andrea yang sibuk dengan pemikirannya, sedangkan Kiano yang fokus pada setir mobilnya.
Hingga tak lama mereka pun sampai di sebuah tempat dimana tidak ada orang sama sekali. Hanya ada satu mobil milik Kiano, dan tidak ada orang sama sekali.
"Ini dimana?" tanya Andrea heran.
"Ditempat dimana tidak ada orang sama sekali. Hanya ada aku dan kamu, tidak ada orang yang menatapmu dan tidak ada orang yang ingin mengulitimu." jelas Kiano dan membuat Andrea terdenu tipis.
Lagi, Kiano meraih tangan Andrea dan membawanya ke sebuah rumah. Rumah ini hanya ada satu, tidak ada rumah lainnya. Tapi tempatnya cukup luas, ditambah ada juga rumah pohon, lapangan basket dan juga…
"Ada danau juga, ini siapa yang buat." ucap Andrea bingung.
"Aku. Aku yang buat semua ini sudah lama. Jadi kalau aku sedang ada masalah, atau apapun itu aku suka kesini."
Andrea mengangguk dia oum di tuntunasuk le rumah dengan pintu kaca. Rumah ini hanya ditutupi dengan gorden, sebuah nya dilapisi dengan kaca. Dan jika ada orang yang menatap dari luar, tentu saja mereka tahu apa yang kita lakukan.
Pertama kalinya Andrea menatap rumah ini dengan memuja. Interior simple khas pria dan kita bau-baunya juga kah sekali dengan Kiano. Ini parfum atau bau ruangan yang hampir sama.
"Mau lihat semua?"
Andrea menggeleng dia lebih memilih duduk di sofa, sambil menatap satu foto wanita di lemari kecil. Tidak perlu berdiri, andrea hanya menggeser duduknya dan meraih foto itu
"Aku hanya punya minuman kaleng, maaf." ucap Kiano dan meletakkan minuman soda.
Andrea menoleh dan kembali meletakkan fotonya di tempat semula. Lalu menggeser kembali duduknya dan mengambil minuman soda.
"Kekasihku?" tanya Andrea menatap Kiano.
"Iya, tapi dulu. Sekarang sudah putus."
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa putus maksudku. Dia selingkuh? Atau kamu punya lain?"
Kiano tersenyum pedih lalu menggeleng, "Di putus sama Tuhan."
Andrea menatap Kiano heran, apa maksudnya di putus dengan Tuhan? Saat Andrea ingin bertanya lebih banyak lagi, Kiano langsung menggelengkan kepalanya, tanda jika dia tidak ingin membahas hal ini.
Mungkin dia butuh privasi dan Andrea tahu itu. Dia lebih baik mengalah dan tidak mau mengungkit masa lalu Kiano.
****
"Terimakasih, jangan lupa mengembalikan mobilku."
Andrea turun dari mobil Kiano. Tepat jam tujuh malam dia baru saja sampai di rumah. Seharian dia berada di rumah pohon lebih tepatnya menemani Kiano bermain basket. Katanya dia paling suka dengan basket sejak dulu. Makanya badannya tinggi, beda lagi dengan Andrea yang lebih terkesan mungil.
Kiano terkekeh, "Kalau aku tidak lupa."
"Baiklah, terserah kau saja."
Kiano mendesah dia paling tidak suka jika ada wanita mengatakan terserah, apapun alasannya Kiano tidak suka.
Diraihnya tangan Andrea yang ingin masuk kerumah. Kiano hanya ingin menatap kedua bola mata Andrea sebelum dia pergi. Entah tatapan sayu itu membuat Kiano suka.
"Teruslah tersenyum Ea, aku lebih suka melihatmu tersenyum." Kiano mendekat, dengan sengaja sis mengecup kening Andrea. "Jangan pernah bersedih, bebanmu adalah bebanmu. Jadi apa pun yang kau rasakan, aku juga akan merasakan masalahmu." ujarnya membuat Andrea diam.
"Sekarang masuk, mandi dan istirahat. Nanti malam aku telpon."
Andrea hanya mengangguk dia pun dengan patuh masuk ke rumah, tanpa mengatakan apapun pada Kiano. Saat membuka pintu, sekali lagi Andrea menoleh dan membuat Kiano melambaikan tangannya.
Apa yang terjadi dengan ya, kenapa dia merasa sesak di d**a dan ada rasa bahagia di diri Andrea. Tidak mau ambil pusing, Andrea segera masuk kamar sebelum Leo dan yang lain tahu, jika dia berperilaku aneh.
Setelah hampir setengah jam Andrea baru saja selesai mandi. Ia pun langsung turun dan mendapat Leo, Angel dan juga Andrea sedang berada di ruang keluarga.
Tapi sayangnya karena ada orang baru, Andrea lebih memilih pergi ke taman. Tak lupa juga meminta pada maid rumah ini untuk membuatkan coklat panas.
Sambil menunggu Andrea masih memikirkan ucapan Kiano sejak tadi. Maksudnya diputus Tuhan itu apa? Masa iya Tuhan sejahat itu sehingga memutuskan orang yang mereka sayang?
"Diputus Tuhan?" guman Andrea pelan.
"Siapa yang diputus Tuhan dek?" suara itu membuat Andrea terjingkat kaget, dia pun langsung menoleh dan mendapati Angel yang sudah duduk di samping Andrea.
"Sejak kapak disitu?" tanya Andrea heran.
"Sejak kami manggut-manggut, sambil geleng kepala." jelas Angel.
"Terus!!"
"Tante nganterin coklat panas kamu."
Andrea melirik coklat panas yang masih mengepul. Tanda jika Angel baru saja datang dan langsung duduk di samping Andrea. Tangan Andrea terulur mengambil coklat panas itu dan meneguknya pelan.
"Kamu belum jawab pertanyaan Tante lho. Siapa yang diputusin Tuhan?"
"Temen." jawab Andrea datar.
"Audi? Aubrey? Josephine?"
"Kiano!!" jawab Andrea tanpa sadar.
"Dia di putusin Tuhan?" tanya Angel memastikan walau sejak tadi dia tersenyum malu menatap anak Leo yang tumbuh dewasa.
"Dia punya pacar, tapi Tuhan mutusin mereka berdua." cerita Andrea tanpa sadar pula.
Angel tersenyum, "Sama halnya kayak kamu di putusin Tuhan dengan Mama kamu. Tandanya pacaran Kiano sudah meninggal."
Andrea menatap cepat menatap Angel dengan tatapan bingungnya.
"Meninggal?" Angel mengangguk dan tersenyum membuat Andrea semakin bingung. "Seperti Mama?" ujarnya dan membuat Angel mengangguk.
"Siapa yang meninggal, Ea?"
Suara berat itu membuat Andrea menoleh. Dia pun menatap Leo yang berdiri di dekat Angel, ditambah ada Andrea juga. Dengan rasa canggung Andrea memilih pergi ke kamar dengan alasan jika dia mengantuk
TBC.