Cold-05

2325 Words
Pagi-pagi buta Kiano telah sampai di kampus. Dia pun langsung menaruh semua barangnya di loker kampus. Lalu mengambil bunga mawar yang dibeli tadi di pinggiran jalan. Bunga ini berjumlah delapan tangkai. Kiano sengaja membeli bunga dengan jumlah genap. Karena bagi Kiano angka delapan adalah angka sempurna dan tak berujung, sama halnya dengan angka nol. Menatap kampus ini yang sepi, dan hanya ada beberapa karyawan kampus yang membersihkan koridor kampus. Kiano segera menaruh bunga itu di atas meja Andrea. Dalam hati Kiano berdoa jika Andrea akan menyukai bunga yang dia beri. Tak hanya itu, selain bunga Kiano juga menaruh satu kotak coklat di sampingnya. "Ah sudah waktunya semua mahasiswa akan datang." guman Kiano dan pergi. Lebih tepatnya pergi ke parkiran kampus. Pria itu kembali masuk ke mobil, dan pura-pura memejamkan matanya. Tapi kaca mobil diketuk dari samping dan membuat Kiano membuka matanya. "Hai kak." sapa Kiano nyengir tanpa dosa. Aloysius memutar bola matanya malas, "Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini di kampus? Kau menggantikan karyawan kampus eh?" "Hmm anu kak, tadi aku mampir dulu ke makam Mama, aku merindukan dia." Aloysius menganghum percaya, Mamanya telah meninggal saat mereka usia 10 tahun. Papa bilang Mama sakit keras, tapi tidak hanya itu sahabat Mama juga tega mempercepat kematian Mama saat itu. Dan membuat Aloysius dan yang lain tak memiliki Mama. Tak pernah merasakan bagaimana hangatnya rumah saat ada Mama. Dan juga kasih sayang seorang Mama. Sejak dulu Marcellino kakak tertua selalu menjaga adiknya dengan baik. Mengarahkan mereka dengan hal-hal positif. Sampai akhirnya Papa bilang jika mereka harus mencari satu perempuan keturunan Davinci untuk membunuhnya. Kedudukan terbesar yang diinginkan Papanya di duduki oleh wanita itu. Dan Ibu wanita itulah yang membunuh Mama Aloysius dan yang lain. "Selama aku pulang kesini, aku juga belum pernah datang ke makam Mama." ucap Aloysius bersedih. Kiano keluar dari mobilnya, dia pun berdiri di samping Aloysius dan menepuk bahunya. "Aku juga baru kali ini, nanti sore aku bisa mengantarmu kak. Aloysius mengangguk, mungkin dia harus menyempatkan diri untuk meminta restu Mamanya. Agar misi ini selesai dan mereka bisa kembali ke korea. "Apa ada kabar dari kak Marcel?" tanya Aloysius pada Kiano. "Belum, kak Marcel belum menemukan apapun. Ini sangat sulit kak, kita mencari seseorang tanpa tau siapa dia, bagaimana wajahnya, dan dimana dia tinggal. Mungkin kalau ada satu petunjuk dari Papa kita akan gampang menemukan dia kak." jelas Kiano. Tentu saja gampang jika ada foto, alamat rumah dan ciri-ciri wanita itu. Sayangnya Papanya tidak memberitahu semua ini. Katanya ini cukup sulit, wanita itu berpindah-pindah dan tidak ingin menetap. Dan Papa juga bilang, jika wanita itu selalu menggunakan nama samaran yang berbeda. Jadi tidak banyak orang yang tahu tentang dia. Ditambah wanita itu pintar sekali merias diri menjadi jelek dan tidak menyakinkan. Atau mungkin dia akan berpenampilan p*****r di club malam dengan banyak pria. "Aku akan bilang pada Papa soal ini, kita kesulitan mencari wanita itu." Harusnya seperti ini tidak perlu Aloysius dan juga Kiano menyamar menjadi mahasiswa. Umur mereka cukup tua, tapi nyatanya wajah mereka masih baby face. Kalau dilihat umur Kiano dan Aloysius sama, hanya saja beda bulan dan lebih tua Aloysius beberapa bulan saja, tahunnya juga sama. Yang umur dibawah dua puluh lima tahun itu ada Kenny, Aaron dan juga Marvel. Paling bontot si Aaron yang masih dua puluh dua tahun. "Hmm, sekarang ayo kita masuk sebentar lagi kelas akan dimulai." Aloysius menatap Kiano aneh, tapi pandangannya tak lama tertuju pada Andrea. Katanya wanita yang mampu membuat Adiknya ini jatuh cinta. Aloysius tertawa kecil, "Ya, aku tau maksudmu. Kita masuk ke kelas kan?" kekeh Aloysius. "Kita memang harus masuk ke kelas kak." tapi sayangnya mata Kiano tak mampu berbohong, jika dia terus saja melirik Andrea hang turun dari mobil bersama dengan ketiga temannya. "Baiklah, kita masuk ke kelas." ucap Aloysius dengan nada menggoda, membuat Kiano tersenyum malu dan salah tingkah. **** Andrea masuk ke dalam kelas dan terkejut. Di atas mejanya ada sebouquet bunga mawar merah dan juga satu kotak coklat. Bunga dan coklat ini tanpa note, dan tidak tahu siapa yang mengirim bunga ini. Dengan rasa curiga Andrea mengecek semua bunga delapan tangkai. Tapi nyatanya dia tak menemukan apapun, itu tandanya bunga ini aman. Andrea pikir ini adalah kerjanya Wilson yang semalam kabur karena ketahuan. Ternyata tidak sama sekali, dia pun mencium bunga ini dan baunya bukan bau bunga. Melainkan bau parfum. Alisnya mengernyit dalam siapa yang menaruh bunga mawar di atas meja. Mata Andrea menatap setiap pria dan wanita yang masuk ke kelas satu persatu, sambil mengendus parfum apa yang mereka pakai. "Siapa yang menaruh bunga ini, Ea?" tanya Audi penasaran. "Tidak ada note." sahut Josephine memiringkan kepalanya menatap bunga dan juga coklat. Andrea masih diam saja sambil mengendus banyak wanita dan pria yang melewatinya. Entah sengaja atau tidak, Kiano mendadak melewati Andrea. Seakan mengenal bau parfum Kiano, dia pun langsung menarik tangan Kiano. "Tunggu." Andrea langsung menarik tangan Kiano, dengan sengaja dia pun mengendus baju Kiano dan bunga mawar, baunya sama tapi mana mungkin Kiano yang menaruh bunga ini? "Kenapa?" tanya Kiano dan membuat Andrea mendongak. Andrea ingin bertanya, tapi suaranya tercekat saat mendengar derap kaki yang masuk ke kelas. Langsung saja Andrea melepas tangannya yang sempat menarik tangan Kiano. Padahal kalau dilihat meja Kiano itu jauh dari meja Andrea, selisih dua deretan panjang dengan meja Andrea. "Andrea apa ada masalah?" tanya Miss Merry. Andrea menggeleng, "Tidak Miss." Miss Merry pun mengangguk, dia pun langsung menjelaskan pelajaran hari ini. Tapi sayangnya otak Andrea tidak bisa berpikir. Walaupun dia terkenal sangat pintar, nyatanya hal seperti ini saja dapat mengganggu pikirannya. Andrea yakin jika bau parfum ini sama dengan bau parfum Kiano. Dan entah kenapa Andrea juga yakin, jika bunga ini pasti Kiano yang menaruhnya. Coba saja tadi Miss Merry belum masuk, mungkin Andrea akan mendapat jawaban. Getaran ponselnya membuat Andrea menunduk. Dia pun menatap pesan masuk dari salah satu anak buahnya, yang memberitahu jika Wilson sudah ditemukan. Andrea melirik Josephine yang duduk di sampingnya, "Ini tugasmu, bunuh dia tanpa jejak." perintah Andrea. Josephine mengangguk ragu, dia ingin sekali protes. Apalagi selama ini Josephine hanya bagian mengirim barang ilegal, bukan untuk membunuh orang. Dan sekarang Andrea meminta Josephine membunuh seseorang? Sejujurnya Josephine juga masih bingung siapa Andrea sebenarnya. Berperan apa dia, sampai banyak sekali orang yang takut dengan dia. Tapi kalau dilihat dari kerjanya menyelundupkan barang ilegal, apa mungkin Andrea ini mafia? Bukannya mafia hanya ada di novel saja? Dan tidak ada di dunia nyata? Setelah mendapatkan kabar keberadaan Wilson. Andrea mendapat kabar tentang barang yang dikirim dan ditahan oleh polisi. Polisi itu selalu saja menggagalkan rencana Andrea. Tapi tidak masalah itu bukan masalah berat, sangat gampang sekali tepuk pun, polisi itu akan mati di tangan Andrea. "Oke pelajaran sampai disini, jika tidak ada yang ditanyakan. Selamat siang." ucap Miss Merry dan keluar kelas. Menatap hal itu Andrea langsung keluar kelas bersama dengan mahasiswa lainnya. Wanita itu menuju kafetaria untuk menikmati satu cup salad buah dan juga jus alpukat. Sambil menikmati dua makanan itu, Andrea sesekali fokus pada ponselnya. Menatap pesan masuk dari Leo, yang menginginkan Andrea pergi ke kantornya. Hingga akhirnya Kiano duduk di depan Andrea, dan membuat wanita itu mendongak menatap Kiano heran. "Hai, aku tidak apa-apa kan duduk disini?" tanya Kiano Alis Andrea terangkat satu, dia pun menatap kafetaria ini yang masih kosong, sedangkan Kiano malah memilih duduk di meja Andrea. Tidak mau ambil pusing Andrea hanya mengangguk, tanda jika Andrea tidak keberatan kalau Kiano duduk di depannya. Mereka pun makan dalam diam, Andrea menikmati salad buahnya. Sedangkan Kiano menikmati makan siangnya. Ah bau parfum itu kembali tercium, Andrea menghentikan makannya dan menatap Kiano serius. Kiano yang merasa di tatap pun langsung mendongak, dia pun menatap Andrea aneh. Apalagi Andrea entah sejak kapan menatap Kiano dengan tatapan seriusannya. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kiano heran. "Apa ada yang salah denganku?" ucapnya lagi, sambil menatap dirinya sendiri. "Tidak. Tapi bau parfum mu membuatku teringat akan bunga mawar di atas mejaku." Kiano tersenyum, "Maaf, tapi memang aku yang menaruh bunga itu di atas mejamu." "Untuk apa?" Andrea menaikkan satu alisnya, dia menatap Kiano bingung. Untuk apa pria ini menaruh bunga delapan tangkai di atas meja? Kiano menggaruk tengkuk lehernya, yang diyakini Andrea tidak gatal sama sekali. Dia juga tidak tahu kenapa melakukan hal ini, tapi untuk menuruti kemauan hatinya Kiano melakukan hal itu. "Tidak ada, aku hanya memberimu hadiah perkenalan kita." jelas Kiano sedikit berbohong. Kiano memang ingin mengenal Andrea, tapi bunga itu sejujurnya bukan hadiah yang pas untuk Andres. Kesannya terlihat Kiano sedang memberikan bunga pada kekasihnya. "Hmm, terima kasih." Kiano mengangguk dia langsung mengeluarkan gelang dari saku jaketnya, "Andrea aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Tapi jujur, aku ingin berteman denganmu. Apa kau mau berteman denganku? Jika iya, tolong ambil gelang ini." **** "Lakukan sesuai perintahku." ucap Andrea tiba-tiba dengan mata tertutup. Josephine ragu, tangannya bergetar hebat saat menerima pistol yang baru saja di ulurkan Andrea padanya. Matanya terus menatap seseorang yang memakai baju maroon di pinggiran jalan. Sore ini setelah pulang sekolah, Andrea dengan sengaja mengajak Josephine untuk memenuhi tugas pertamanya. Dan kali ini dia mendapat tugas untuk membunuh Wilson. Gangster sebelah yang sangat iri dengan kedudukan Leo dan juga Andrea. "Pasang perendamnya." perintah Andrea. Wanita itu menutup matanya rapat-rapat, tapi dia seakan tahu dimana letak Wilson. Josephine langsung mengambil peredam di sampingnya dan memasangnya dengan benar. Nafasnya memburu dia hanya takut jika ada orang yang tahu akan hal ini dan dia akan masuk penjara. Bagaimana nasib Ibu dan Bapaknya jika Josephine masuk penjara. Siapa yang akan mencari uang untuk mereka. Kakaknya? Jangan harap pria itu mau mencarikan uang untuk kedua orang tuanya. "Bos tapi—" "Tembak." potong Andrea cepat. Josephine diam menatap pistol di tangannya, lalu menatap Wilson yang berdiri di pinggiran jalan. Tidak mungkin dia membunuh orang tak berdosa. Ini bukan masalah dosa atau apapun, tapi ini masalah masa depan Josephine yang masih panjang. Wanita itu baru saja memulai hidup enaknya, masa iya dia langsung menyelesaikan semuanya. "Tembak Josephine." titah Andrea lagi. Wanita itu membuka matanya dan menatap Josephine tajam. Dengan rasa takut yang luar biasa, Josephine mengarahkan pistol itu pada Wilson. Dalam hati dia berdoa jika tidak akan ada yang tahu, jika semua ini ulah Josephine. Jangan sampai Josephine masuk penjara akibat hal ini. Kalaupun masuk penjara mungkin dia akan menyeret nama Andrea. Dor… Dengan memejamkan mata Josephine pun menembak Wilson. Entah tepat sasaran atau tidak, Josephine tidak tahu. Tapi Josephine berharap jika semua ini tepat sasaran. "Pergi Jo." perintah Andrea. Dengan tangan gemetar Josephine meninggalkan pinggiran jalan ini. Matanya sesekali melirik ke arah Wilson yang ambruk di pinggiran jalan, dan banyak orang yang langsung mengerumuni Wilson. Josephine juga melempar pistol itu di bawah kakinya, menyembunyikan barang bukti agar dia tidak dipenjara. Andrea yang tahu pun tersenyum sinis. Lalu menekan tombol merah di depannya, dan meminta Josephine memelankan laju mobilnya. "Bos bagaimana kalau mereka tahu, aku yang menembak." ucap Josephine takut. "Ya itu urusanmu!!" Josephine menoleh bingung, bahkan dia sengaja menginjak pedal rem dan menatap Andrea tidak percaya. "Bos tapi—" "Belajarlah cara membunuh yang benar," potong Andrea menatap Josephine tajam. "Kalau kau terlalu banyak memikirkan ketakutan mu, maka hal itu akan terjadi." Josephine semakin takut dengan ucapan Andrea. Walaupun dia menghentikan mobilnya jauh dari korban, tapi tetap saja rasa takut itu masih menyelimuti Josephine. Wanita itu hanya takut jika ada orang atau mungkin cctv yang akan memperjelas wajahnya. Dan menangkap Josephine dan membuat dia mendekam di penjara. "Bos aku—" "Kita ke kantor Papa." potong Andrea cepat.b "Tapi Bos, Wil—" "Kita ke kantor Papa, Josephine. Jangan sampai aku juga akan membunuh disini." ucap Andrea datar dan menatap Josephine tajam. Seakan tatapan Andrea mampu membuat Josephine mati tanpa dibunuh. Dengan tangan gemetar dan rasa takut yang luar biasa, Josephine kembali menjalankan mobilnya menuju kantor Leo. Tidak bisa dipungkiri jika dia merasa takut, dan juga berkeringat dingin dengan hal ini. Sedangkan Andrea, dia hanya tersenyum miring. Ini pertama kalinya untuk Josephine, dia akan merasa takut. Tapi setelah itu, Andrea yakin jika setelah ini kegiatan itu akan menjadi kesukaan Josephine. Andrea turun dari mobil saat mobilnya berhenti, wanita itu menatap sekeliling kantor yang tampak sepi. Kantor yang hanya sebagai tutup identitas Leo dan juga Andrea. Kalau saja mereka tahu siapa Andrea dan juga Leo, mungkin semua orang yang ada disini akan menyelamatkan diri masing-masing dari Andrea dan juga Leo. "Selamat sore Nona, ada yang bisa Saya bantu?" Namanya Kim, dia asli korea dia bekerja di kantor ini sejak kantor ini dibuka. Anggap saja Kim adalah tangan kanan Leo. Dan Kim juga tahu siapa Leo dan juga Andrea. "Papa ada?" tanya Andrea datar. "Ada Nona, mari saya antar." Andrea mengangguk dia pun berjalan di belakang Kim bersama dengan Josephine. Memasuki lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh keluarga Leo. Sedangkan karyawan lainnya menggunakan lift biasa dan juga tangga. Sesampainya di depan ruangan Leo, Kim segera membukakan pintu dan membiarkan Andrea masuk. Untung saja Leo tidak sibuk, dan tidak menerima tamu khusus. "Papa…" Leo mendongak dan menatap Andrea serius. Tak lupa juga dia mengunci pintu ruangan ini, agar tidak ada satu orang pun yang akan mendengar ucapan mereka. Tapi pandangan Leo jatuh pada wanita di samping Andrea. "Dia siapa?" tunjuk Leo dengan dagunya. Terlihat angkuh bukan, walau sebenarnya tidak. "Dia Josephine anak buah baruku," terang Andrea mengusap hidungnya. "Papa kenapa minta Ea datang kesini?" Leo mengambil berkas merah dan dia berikan pada Andrea, "Anak William sudah berada di Ibukota. Tapi Papa tidak tahu bagaimana wajah mereka." jelas Leo dan membuat Andrea semakin bingung. "Pah bukannya William tidak memiliki anak?" "Papa juga berpikir seperti itu, tapi nyatanya sebelum hal itu terjadi, William sudah mengirim anaknya ke luar negeri. Agar kita tidak bisa mencarinya, dan membunuhnya." jelas Leo "Lalu?" "Lalu dia mencarimu, dan menginginkan dirimu, Ea." Andrea mengepalkan tangannya. Semua sudah direncanakan lebih dulu oleh William. Agar Andrea dan Leo tidak dapat menemukan William dan juga anaknya. Sampai ke ujung dunia pun Andrea tidak akan membuat mereka hidup tenang dan bahagia. "Josephine cari tahu tentang mereka!! Apapun itu, dan beritahu aku secepatnya!" geram Andrea dan membuat Josephine mengangguk takut di belakangnya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD