Sebuah cahaya blizt kamera menembus bola mata Andrea. Wanita itu langsung menutup kedua bola matanya, sambil mengepalkan tangannya.
Satu, dua kali foto barulah cahaya itu hilang. Wanita itu langsung membuka matanya, menatap siapa yang berani mengambil foto nya tanpa izin.
Sampai akhirnya pandangan Andrea jatuh pada sosok lelaki yang berdiri di ujung kafetaria, dengan kamera di tangannya. Dia tampak senang dengan hasil fotonya, yang diyakini Andrea itu adalah foto dirinya.
Pandangan mereka sempat berpadu, hingga lelaki itu tersenyum canggung dan menghampiri Andrea.
"Hai…" sapa nya, dan meletakkan kameranya di atas meja.
Benda sialan yang selalu membuat Andrea takut. Dia jadi teringat dengan Mamanya yang sudah meninggal. Waktu itu Andrea dibawa oleh salah satu petugas kepolisian atas meninggalkannya sang Mama. Semua orang sudah memberi kesaksian dan giliran Andrealah yang memberi kesaksian.
Waktu di dalam mobil Andrea nampak baik saja. Saat dia turun dari mobil, dengan semua kamera yang mengarah padanya, membuat pandangan Andrea gelap. Belum lagi pertanyaan yang seakan mengarah pada Andrea, jika dialah yang membunuhnya. Andrea bukan pembunuh, dialah yang menyaksikan Mamanya di bunuh. Ya… pembunuh itu kejam, dia memisahkan antara anak dan Ibu. Dan sekarang itulah yang dilakukan Andrea pada banyak orang. Dia akan membunuh orang-orang yang mengkhianatinya, orang-orang yang berani dengan dia. Dan keluarganya harus merasakan apa yang namanya kehilangan.
"Kenapa kau mengambil fotoku?" tanya Andrea datar dan menatap lelaki di depannya dengan tajam.
"Jadi kau tau?" ucapnya tanpa merasa bersalah. "Aku hanya ingin menyimpan fotomu di kameraku." ujarnya.
Andrea menghela nafasnya panjang, dia pun tak menanggapi ucapan lelaki di depannya. Dan lebih memilih menghabiskan segelas jus alpukat coklat di depannya.
Sedangkan lelaki itu tak lain adalah Kiano memilih diam. Dari banyaknya berita tentang dia, Kiano cukup paham jika wanita di depannya ini memiliki sikap yang dingin. Tapi anehnya, kenapa banyak lelaki yang menyukainya?
"Hmm, apa aku boleh mengenalmu?" tanya Kiano takut-takut.
Andrea melirik sejenak lalu mengangguk, "Bukannya kita satu kelas? Seharusnya kau sudah mengenalku bukan?"
"Ya aku tau, tapi bukan mengenal seperti itu."
"Seperti apa?" Andrea langsung menatap Kiano dengan bingung, kepalanya sampai miring dengan ekspresi yang menurut Kiano sangat lucu.
"Seperti mereka." Kiano menunjuk salah satu mahasiswa yang sedang bergandengan tangan, dan membuat Andrea langsung menatapnya.
"Untuk apa kau ingin mengenalmu seperti mereka? Kuharap kamu tahu, seperti apa aku."
Kiano tahu seperti apa Andrea, tapi Kiano yakin jika dia mampu meluluhkan hati es Andrea.
"Iya ak—"
"Andrea!!" panggilan itu membuat ucapan Kiano berhenti. Lelaki itu langsung menatap tiga wanita yang datang dan duduk di samping Andrea.
Kiano meringis dan mencoba menyapa mereka bertiga.
"Hai…"
"Ehh hai Kiano. Aku Audi temannya Andrea." ucap Audi dengan percaya dirinya. Padahal Kiano belum juga bertanya siapa dia.
"Dia tidak bertanya namamu, Audi." dengus Aubrey
"Ya tidak masalah, aku hanya menyambut namaku saja, agar Kiano tidak bertanya siapa aku."
Semua orang langsung diam, hingga Audi pun mengenalkan Aubrey dan juga Josephine. Tiga wanita yang memiliki kepribadian berbeda, dan hal itu malah tak membuat Andrea juga ikut nimbrung dengan cerita mereka.
Audi yang sejak tadi memperhatikan Kiano pun berdehem, dia pun menggeser duduknya hingga dekat dengan Kiano. Lalu menyenggol lengan lelaki itu, dan membuat sang empu menoleh.
"Katakan padaku, kau menyukainya?" tanya Audi berbisik
Tidak tahu harus menjawab apa Kiano hanya tersenyum malu, dan menggaruk kepalanya yang diyakini Audi sama sekali tidak gatal.
Melihat Kiano salah tingkah, Audi tertawa kecil dan menatap tiga wanita di depannya, tapi lebih fokus pada Andrea.
"Jangan menyerah untuk mendapatkan dia. Walaupun dia dingin, sejujurnya dia memiliki hati yang peduli. Dia seperti ini hanya terpaksa, dan bukan keinginan dia." kelas Audi yang membuat Kiano bingung.
Terpaksa?
Bukan keinginan dia?
Apa maksudnya?
****
Sejak pulang dari kampus Kiano masih memikirkan banyak hal. Ucapan Audi tadi membuat Kiano berpikir keras tentang Andrea. Apa yang membuat sikap Andrea sedingin Es? Apa mungkin dulu dia ditinggalkan oleh kekasih yang dia cintai makanya dia seperti ini? Atau mungkin dia ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?
Sambil menggigit jari jempolnya, Kiano mengaitkan semua itu. Wanita akan berubah jika dia merasa sakit hati. Bukan wanita saja, tapi laki-laki juga, dia akan berubah saat orang yang dia sayang pergi. Termasuk Kiano.
Sebelum dia pindah ke Ibukota, dulunya Kiano tinggal di korea bersama dengan kakak-kakaknya. Sampai akhirnya dia mengenal gadis yang bernama Naomi. Kiano jatuh cinta dengan Naomi, saat pandangan pertama. Tapi kisah cinta Kiano dan Naomi tidak kunjung lama. Saat Kendick mengetahui hubungan Kiano, pria paruh baya itu langsung memberi Kiano pilihan, antara misi atau wanita yang dia cintai. Nyatanya Kiano malah memilih Naomi, dan membuat Kendick langsung membunuhnya tanpa perasaan.
Tentu saja Kiano marah, dia bahkan hampir saja nekat membunuh Kendick, untuk membalas dendam atas kematian Naomi. Sayangnya Marcelino waktu itu langsung mengajak Kiano pergi dan mengasingkan Kiano.
Dan hal ini terjadi pada Andrea. Kiano tidak tahu apa dia mencintai Andrea atau tidak. Tapi dia cukup penasaran dengan wanita itu. Wanita yang entah kenapa menarik perhatian Kiano.
"Kak Kiano!!"
Kiano terkejut saat mendengar teriakan di ujung ruangan. Dia pun menoleh dan menatap Aaron yang berdiri di depan pintu. Adik bontotnya itu suka sekali berteriak.
"Jangan berteriak Aaron, aku tidak tuli." dengus Kiano.
"Ya kau tidak tuli, sejak tadi aku memanggilmu kak dan kau tidak menoleh sama sekali."
"Oh iya, ada apa?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu wanita mana yang membuatmu jatuh cinta. Apa kau serius dengan dia kak?"
Kiano menghela nafasnya panjang. Dia tidak tahu apa dia cinta atau bukan. Kiano hanya tahu jika saling mencintai, maka apapun yang disukai Kiano akan disukai oleh wanita itu.
"Aku tidak tau, tapi sungguh tertarik dengan dia. Bagaimana denganmu, apa kampusmu bagus?"
Aaron mengangguk, "Bagus, aku dan Kenny betah disana. Dan—"
"Dan?"
"Aku juga sepertimu kak. Lalu aku menawarkan pertemanan untuk dia. Dia mau berteman denganku, dengan begini aku bisa dekat dengan dia. Tapi kak…"
"Tapi apa?"
Aaron menatap Kiano serius, dan menatap pintu kamar Kiano yang masih terbuka. "Apa caraku benar kak? Aku ingin mengikat dia dan membuat dia tidak jauh dariku. Katakan padaku, apa caraku benar?"
Kiano menimang kalau dipikir dan wanita itu tidak masalah, rasanya tidak ada masalah sama sekali. Aaron hanya mengingat agar wanita itu tidak jauh darinya, dengan cara pertemanan. Aaron juga tidak menjelaskan seperti apa pertemanan yang sebenarnya dan wanita itu juga tidak bertanya, wanita itu langsung setuju dengan apa yang diucapkan Aaron.
Kenapa tidak berpikir sampai sana?
"Caramu bagus, dan aku akan mengikuti caramu untuk mengingat dia." guman Kiano dan membuat Aaron tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya.
"Benarkah? Kau akan menggunakan caraku untuk wanita mu?"
Kiano mengangguk, "Mungkin iya. Ini rahasia kita, jangan sampai yang lain tahu jika kita melakukan hal ini pada wanita kita."
"Tapi kak bukannya ini tugasmu? Papa memintamu untuk mencari wanita itu, membuatnya jatuh cinta dan menyerahkan pada Papa? Lalu bagaimana dengan wanita mu jika kau menjalankan tugas?"
Ini adalah tugas Kiano, dialah yang harus memancing wanita itu untuk keluar dari sarangnya. Wanita yang entah siapa dan bagaimana wajahnya Kiano juga tidak tahu. Yang jelas wanita itu keturunan Davinci.
"Hmm, aku tahu tapi aku alam membuat Andrea mengerti dengan tugasku. Ini cukup berat, jika harus membuat gadis tidak tau nama dan wajahnya itu mencintaiku. Harusnya ini tugas Kak Marcell, tapi kenapa Papa malah menyuruhku."
"Mungkin wanitanya cantik makanya Papa memintamu untuk membuat dia jatuh cinta denganmu."
Kiano tertawa lebar bersama dengan Aaron. Mana mungkin wanita yang menjadi incaran Papanya ini cantik. Kiano juga pernah berpikir seperti itu, tidur dengan dia barulah dia membunuhnya. Nyatanya wanita itu sama sekali bukan selera Kiano.
Sedikit tentang Kiano Kendick, salah satu mafia di bawah pimpinan Kendick. Tidak hanya Kiano tapi ketujuh anak Kendick sama halnya dengan Kiano. Tidak ada ketua, karena mereka bertujuh menganggap jika mereka adalah ketua.
****
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah Andrea. Malam ini rumah mewah ini cukup sepi, banyak pengawal dan juga satpam yang diliburkan oleh Andrea. Dan mengundang Audi dan juga Aubrey untuk menginap dirumah Andrea.
Sedangkan pemilik rumah, dia malah pergi dengan alasan jika dia tidak memiliki banyak cemilan. Dan terpaksa jika dia harus membeli makanan kecil di minimarket.
Hampir dua puluh menit pemilik rumah tidak kunjung pulang, dan membuat pemilik mobil hitam ini tersenyum manis. Sampai akhirnya pemilik mobil hitam ini turun dari mobil mewahnya. Dan tak lupa juga membawa senjaga, walaupun di dalam sama dia yakin banyak senjata yang bisa digunakan saat menyerang.
Perlahan tapi pasti lelaki itu masuk kerumah Andrea, menatap sekeliling rumah ini yang nampak tak ada kehidupan apapun. Setidaknya dia harus berhasil masuk, mengambil chip milik Leo dan menahan Andrea. Dia dibayar untuk menjalankan tugas, tidak untuk merampok atau mungkin menikmati rumah mewah ini.
Seperti yang diharapkan dia harus mengambil chip, jadilah dia mencari keberadaan Andrea. Tugas ini cukup mudah, bahkan sekali tepuk dua lalat yang akan terjatuh di depannya.
"Oh sialan dimana dia menyimpan chip itu." umpat lelaki itu.
Audi yang mendengar benda jatuh pun langsung keluar dari kamar Andrea. Menatap siapa yang datang dan mengumpat sekeras itu. Mana mungkin jika Leo yang mengumpat, sejak dulu Audi belum pernah mendengar Leo mengumpat.
Mengintip dari celah ruang kerja Leo, mata Audi pun melebar sempurna. Bergegas dia pun kembali ke kamar Andrea dan menutup kamarnya.
"Kamu kenapa?" tanya Audrey panik.
"Itu.. Ada rampok, aku harus menelpon Andrea."
Aubrey ikut panik saat menatap Audi yang nampak panik. Bahkan dengan sengaja Aubrey pun juga ikut mengintip di balik pintu kamar Andrea, apa benar ada rampok atau tidak. Rumah ini dijaga ketat, mana mungkin rampok bisa masuk ke rumah ini.
"Ea, cepat pulang!! Di rumahmu ada ram—
"Hei apa yang kalian lakukan?" teriakan itu buat Audi maupun Aubrey menoleh, menatap lelaki bertopi yang yang berdiri di depan pintu. Bahkan sangking kagetnya, Audi sampai melepaskan ponselnya dari tangannya.
Lelaki itu menghampiri Audi dan juga Aubrey, dengan seutas tali di tangannya.
"Mau apa kan? Jangan berani menyentuhku!! Atau.."
"Atau?
Lelaki itu langsung mendudukan Audi dan juga Aubrey, lalu mengingat mereka berdua dengan tali yang dia bawa tadi.
"Atau kau akan mati." timbah Aubrey meronta.
"Cih, siapa yang bisa membunuhku? Tidak ada!!" lelaki itu cukup bangga dengan ucapannya. Hingga dia pun langsung mengobrak-abrik kamar Andrea.
Dan disini pun dia tidak menemukan chip yang dia cari. Leo dan juga anaknya cukup cerdik menyembunyikan chipnya.
"Sialan, aku tidak dapat menemukan apapun." gerutunya lagi.
"Tentu saja kau tidak akan menemukannya. Chip itu sudah aman denganku." ucap seseorang dan membuat lelaki itu menoleh termasuk Audi dan juga Aubrey.
"Ea…" pekik Audi dan Aubrey bersama.
Lelaki itu tersenyum, "Oh, ternyata kau sudah datang bung."
"Ya aku datang sedikit terlambat," Andrea menaruh belanjaannya di meja kamar dan menatap lelaki di depannya dengan alis terangkat satu. "Mari kita selesaikan di luar, aku tidak mau kamarku berantakan."
Andrea berjalan lebih dulu meninggalkan kamarnya. Dia berjalan menuju belakang rumah ini yang cukup luas. Dulunya tempat latihan Andrea, sekarang tempat ini berubah menjadi taman, dan setengahnya menjadi kolam renang, plus tempat latihan menembak. Karena disana ada sebuah rumah kecil, yang berisikan banyak senjata.
Belum apa-apa lelaki itu mulai menyerang Andrea lebih dulu, dengan menendang punggung Andrea.
Andrea yang belum siap pun tersungkur, tapi dengan cepat dia kembali bangkit menatap lelaki itu. Andrea pikir lelaki itu akan tangan kosong, ternyata dia membawa sebuah pisau yang baru saja dia keluarkan dari saku jaket ya.
"Tangan kosong kalau berani!!" teriak Andrea.
Seakan menulikan telinganya, lelaki itu kembali menyerang dengan pisau itu. Seakan dia ingin sekali wanita di depannya ini mati.
Rumah kecil ini juga jauh dari tempat Andrea, dia memanfaatkan pisau potong rumput baru, yang masih terbungkus koran untuk menyerang lelaki itu.
Perut, lengan, dan juga kaki pria itu sudah robek dengan sabitan pisau rumput. Tapi nyatanya dia tak menyerah dan terus melawan Andrea.
Karena merasa gelas, Andrea pun memelintir kelapa lelaki itu dan tangannya sendiri. Membuat lelaki itu tak berdaya tapi masih dalam keadaan tak berdaya. Langsung saja Andrea mengingat lelaki bertopi dan menyeretnya ke rumah kecil.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu?" ucap Andrea.
"Kenapa aku harus memberitahumu? Bukannya jika aku memberitahumu, kau dan aku akan mati bersama." jawabnya tersenyum remeh.
Andrea bangkit, dia pun mengambil pisau kecil, mungkin jika orang lain pisau sekecil ini untuk mengupas buah. Tapi pisau Andrea ini khusus untuk memotong jari kelingking korbannya.
"Ya aku tahu. Suatu saat nanti aku akan mati." ketus Andrea.
"Kau tidak bisa lari dari dia."
"Kalau begitu, biarkan aku membunuh dia. Aku tidak akan lari, dan aku akan tetap berada di tempat!!"
Andrea tersenyum sinis, dia pun mengarahkan pisau kecilnya di dagu lelaki itu. "Kau memiliki waktu untuk menjawab!! Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu datang kerumahku?"
"Tidak ada!!"
"Masih belum mau jujur eh."
Andrea tersenyum kecil, dia pun memainkan pisau itu di leher lelaki itu dengan pelan. Bahkan sekali gores saja mungkin leher itu akan sobek dan mengeluarkan darah.
"Aku membayangkan bagaimana kalau pisau ini menancap di jakunmu? Apa mungkin sakit atau tidak."
"Aku akan katakan sejujurnya, tapi tolong jangan bunuh aku." mohon nya dan membuat Andrea tersenyum. Dia paling suka jika menatap ada orang yang memohon di bawah kakinya.
"Katakan!!" titahnya.
"Wilson. Wilson yang menyuruhku, dia menginginkan chip Leo makanya aku datang kemari untuk mengambil chip itu." terangnya dan membuat Andrea matanya memerah marah.
TBC.
Jangan lupa tab lop ya Hyung