"Bunda !!" teriakku histeris saat melihat tubuh lemah Bunda di brankar rumah sakit dengan berbagai peralatan medis melekat di tubuhnya. Ingin kupeluk Bunda, tapi Bunda masih ditangani oleh dokter sehingga aku hanya bisa mengintip dari jendela kecil. Aku tidak henti menangis, ketakutan melihat seberapa banyak jarum dan alat medis yang dipasang di tubuh Bunda, berarti keadaan Bunda lebih parah dari yang sebelumnya. "Dinda, kamu yang sabar ya, nak," tenang seorang wanita, ehm Tante Bella. Aku tidak melihatnya karena begitu kalut. "Hiks ... Bunda, tan ... hiks...," tangisku memeluk Tante Bella. Ayah duduk menunduk di kursi tunggu dan meremas-remas rambutnya. "Sht ... Bunda gak kenapa-napa, kok. Dinda gak perlu khawatir, oke?" ucapnya mengusap punggungku. "Ta-tapi ke-kenapa Bunda ma-suk ru

