Rea masih berdiri di ambang pintu ruang makan. Tatapannya tajam menusuk langsung ke arah Nayla yang sedang duduk manis di kursi yang seharusnya miliknya. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara sendok beradu pelan di cangkir teh milik Nyonya Nara yang saat itu sedang di aduk oleh seorang pelayan. Tatapan Rea begitu menusuk hingga membuat Nayla menelan ludah. Ia mencoba bersikap tenang, meski dadanya berdegup kencang. “Apa?” ucapnya lirih, suaranya terdengar gugup, namun wajahnya berusaha dipertegas dengan ekspresi menantang, seolah-olah ingin menantang Rea. Rea hanya menghela napas panjang, seolah menahan emosi yang telah lama terpendam. Tanpa sepatah kata, ia melangkah mendekat dengan gerakan anggun namun penuh ancaman. Dan dalam hitungan detik, tangan Rea menjulur cepat menjambak

