Gaby di rumahnya bersiap untuk kencan buta. Kencan yang diatur oleh mamanya.
Entahlah, kali ini teman apanya mama.
Teman arisan, teman ngaji, teman SMA dan juga teman yang dulu di grup cheerleader. Atau juga kumpulan teman yang seumuran. Kalau dipikir-pikir, lingkar pertemanan mama luas juga. Gaby juga heran sendiri.
“Gaby, kamu pakai baju ini saja, ya?” mamanya menunjuk dress mini bunga-bunga kalem. “Ini pas banget. Nanti kamu tinggal pakai cardigan jeans aja.”
Gaby menoleh ke arah mamanya, ini kebiasaan mamanya kalau Gaby mau pergi kencan buta. Mamanya mengatur Gabriella.
“Gaby udah pilih baju, kok. Pake celana aja, kalau pake rok pendek gitu, nanti gampang diraba-raba.”
Mata mamanya mendelik “Maksud kamu apa?”
“Gaby, kan nggak tahu kalau dia m***m gimana? Gaby pake celana aja,” katanya lagi.
Mamanya hampir mengumpat, Gaby sulit sekali diatur, sebenarnya apa, yang membuat Gaby enggan menjalin cinta lagi?
Keburu tua dan jelek, maki mamanya dalam hati. “Ini make up nya agak ditegesin, dong,” kata mama lagi setelah Gaby ganti pakaian.
Mata Gaby membesar, mamanya masih ada di dalam kamarnya.
Mama mendudukkan Gaby di kursi meja riasnya lagi. Mengambil bedak yang ada di meja. Lalu membuburi wajah Gaby dengan bedak itu.
“Aduh, Ma, kayaknya nggak usah dandan ribet-ribet begini, deh,” ucap Gaby, sambil menghapus riasan yang mamanya sudah poles di wajahnya. “Ini, kan Gaby udah dandan juga tipis-tipis aja.”
“Gaby, ini, kan buat kamu juga, masa gak dandan, si?” mamanya mengusap lagi bedak yang sudah tebal di wajah Gaby. “Kamu harus tampilkan yang terbaik pokoknya. Mana tahu dia akan jadi suamimu nanti. Kesan pertama harus bisa menggoda dia.”
“Apa? Gaby nggak mau, ah!” Gaby tahu kalau terus ada di tempat itu mamanya akan terus memaksa Gaby. “Udah, Ma, atau Gaby nggak mau pergi.”
Mama akhirnya membeku. Dia menaruh alat riasnya. “Kalau begitu, kamu pergi saja sekarang jangan bikin kecewa Mama.”
***
Gaby menghela napas, akhirnya sampai di mall, tempat janjian, pria itu bernama Nandito.
Gaby berencana seperti biasa, seperti kemarin-kemarin ketika mamanya menjodohkannya dengan pria.
Bertemu, kenalan setelah itu, jangan menanggapi segala pesan atau juga telepon darinya.
Bukannya apa-apa, Gaby sepertinya tidak selera dengan pria-pria yang mamanya kenalkan kepadanya. Ada yang tujuan hidupnya tidak jelas. Ada yang tidak suka dengan anak-anak. Atau juga ada lelaki yang baru pertama kali kenalan sudah sombong duluan, memamerkan apa yang dia punya, dan merendahkan status Gaby yang janda.
Satu pesan muncul di ponsel Gaby. Pengirimnya Nandito.
Gaby menghela napas, “Ini saatnya,” cicitnya sendirian, menatap sekeliling mal yang ramai orang berlalu lalang.
Sepanjang perjalanan ke kafe yang Nandito katakan, pikiran Gaby melayang, apakah dia mirip bapak-bapak kelimis? Atau bapak-bapak yang parfumnya bau minyak si nyong-nyong?
Gaby menggeleng, tidak, tidak, menghilangkan pikiran jelek. Yang penting dia bertemu dulu, pikirnya.
Pelayan di depan meja servis menyapa Gaby. “Ada yang bisa saya bantu? Sudah pesan meja?”
“Saya dengan Pak Nandito,” kata Gaby.
“Kalau begitu silakan,” si pelayan itu mengulurkan tangan, menunjukkan Gaby meja Nandito.
“Pak, tamunya sudah datang,” kata si pelayan itu.
“Iya, terima kasih,” katanya dengan sopan dan ramah.
Gaby hanya bisa mendengar suara itu, lembut. Beda dengan suara Gathan.
Lagi-lagi, Gaby mengibas kepala, Gathan lagi.
Nandito mengulurkan tangan, “Bu Gabriella? Saya Nandito. Apa kabar?” tanyanya. “Rasanya klise tanya kabar. Silakan duduk.”
Gaby terpaku sejenak, melongo, kali ini mamanya benar. Pria yang dikenalkan tidak mengecewakan.
Nandito, tinggi dan putih. Rambutya cokelat gelap, Gaby tidak mampu bergerak, hanya pupilnya yang mengikuti gerakan Nandito. Suaranya yang lembut dan berwibawa, apa lagi, si? Gaby mencari kekurangannya. Potongan rambutnya rapi, pakaiannya juga, santai tapi sopan.
“Ini tempat favorit saya, apa pun olahan ayam di sini enak sekali.”
Gaby lalu ingat memakai celana di atas lutut. Ah, tidak sopan! pikir Gaby. Dia menggigit telunjuknya, gelisah, apakah Nandito terganggu?
Dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Nandito panjang lebar.
“Haruskah kita pindah tempat saja?” Nandito mengibas tangan di depan wajah Gaby yang masih diam. “Hallo~”
“Ya?” Gaby tersentak.
“Harus kita pindah tempat atau bagaimana? Kamu mau makan yang lain, Gabriella?” tanya Nandito lagi. Dahinya mengerut, tidak paham dengan bahasa tubuh Gaby.
“Tidak. Tidak. Saya tadi ...” Gaby mencari alasan. “Tadi lupa sudah matikan AC atau belum,” katanya serba salah.
Nandito tertawa kecil. “Begitu rupanya. Jadi mau pesan apa?”
“Apa saja. Eh,” Gaby baru lihat ada buku menu di depannya.
Nandito tersenyum sekali lagi. Dia memanggil pramu saji untuk memesan makanan.
“Minta minum dulu, ya, kasian wanita yang ada di depan ini kehausan,” kata Nandito.
“Segera diantar, Pak,” kata pramu saji itu.
Gaby melongo sendiri, tampaknya Nandito membaca bahasa tubuhnya atau bagaimana? Bagaimana bisa tahu kalau Gaby kehausan.
“Denger-denger, kamu dosen?” tanya Nandito.
“Iya, kamu sendiri?”
“Kepala sekolah,” jawab Nandito, lalu meminum sodanya.
“Kepala sekolah?” ulang Gaby seperti tidak percaya, apakah mamanya benar-benar mendengar doa-doanya selama ini? Gaby memang ingn jodoh yang satu bidang dengannya di bidang pendidikan,
“Ya, disalah satu sekolah swasta terbesar di Jakarta,” jawab Nandito lagi.
Gaby hanya manggut-manggut, ini yang menarik.
Hari ini, Gaby sangat antusias berkenalan dengan Nandito.
Sepanjang siang perkenalan mereka, diwarnai dengan obrolan santai, gurauan ringan yang membuat mereka tertawa kecil.
Dan, Gabriella sangat terarik kepada Nandito. Usianya yang lebih tua, status yang sama seperti Gaby, membuat nyaman kalau bicara.
Dan Nandito seperti mesin yang tahu segalanya. Dari mulai buku, film dan musik.
“Aku tidak percaya kalau kamu kepala sekolah. Dari A sampai Z kamu tahu segalanya,” canda Gaby.
“Kepala sekolah itu adalah kewajiban.”
“Kewajiban?” ulang Gaby. “Mana ada orang bekerja untuk kewajiban.”
“Orang tuaku guru. Dan aku merasa wajib menjadi guru juga. Dan ketika melamar di sekolah swasta, empat tahun aku menjadi wakil kepala sekolah. Lalu dua tahun kemudian, banyak wali murid ingin aku menjadi kepala sekolah. Jadi ... inilah, aku.”
Gaby tersenyum lebar, mana pernah selama ini dia tersenyum begitu lebarnya kepada seorang lelaki.
“Begitu rupanya,” ujar Gaby. Dia menopang dagu dengan tangan, siap mendengarkan cerita yang lain.