Pertemuan tidak Disengaja

1019 Words
“Gathan tunggu!” pekik Vita sekali lagi, lebih keras. Sebelum Gathan dan Pandawa masuk ke dalam mobilnya. Gathan menoleh, tersenyum, sekadar menyambut Vita. Tapi, Gathan tidak menyangka kalau Vita akan ikut dengannya. “Aku ikut,” katanya tidak mau ditolak. “Aku pergi dengan Pandawa,” tolak Gathan halus. Dia melirik ke arah adiknya yang sedang memperhatikan kakaknya sedang berdebat. “Dawa, kamu masuk dulu ke dalam,” suruh Gathan pelan sambil membukakan pintu mobil. Vita menunggu sampai Gathan selesai membukakan pintu untuk Pandawa sampai anak itu duduk. “Aku ikut,” Vita menekan setiap kata-katanya. “Kamu yakin?” tanya Gathan ragu, waktunya dengan Pandawa tidak mau terganggu sama sekali. “Gathan, kalau kamu bisa mengajak adik kamu, kenapa aku tidak bisa? Aku juga calon kakak iparnya, kan? Lagi pula, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Kamu bisa main dengan adikmu. Tapi bertemu denganku? Apa kamu ingin melupakan aku?” Gathan menggumam—O, Tidak membela diri dan menanggapi perkataan Vita soal melupakan. “Oke. Tapi, aku akan main seharian dengan adikku. Gimana?” “Tidak masalah.” Vita menjawab dengan yakin. Tanpa dia tahu kalau Gathan dan Pandawa sudah bermain, tidak ada yang bisa mengaklihkan perhatian mereka. Kecuali .... “Gathan, aku tidak mau makan ini. Penuh dengan lemak tak jenuh,” keluh manja Vita, tapi dia tidak mau kalau Pandawa mendengarnya. Jadi wanita itu membisik di telinga Gathan. “Silakan cari makan sendiri,” kata Gathan datar, dia lalu memesan makanan untuk dirinya dan Pandawa. Vita uring-uringan sepanjang jalan. Entah karena Gathan dan Pandawa jalan di depan Vita, atau Pandawa yang kadang sekonyong-konyong minta Vita belikan ini dan itu, wanita itu jadi merasa seperti pengawal pribadinya. Sial sekali, umpat Vita dalam hati. Gathan sama sekali enggan menoleh barang sedikit ke arah Vita. Perutnya kelaparan pula, belum makan siang. Dan sekarang, Vita makin seperti pengawal karena menunggui Gathan dan Pandawa bermain di arena bermain. Di tangan kanan, Vita membawakan minuman untuk Gathan, di tangan kirinya minum untuk Pandawa. “Sial sekali hari ini,” rutuk Vita sendirian. Di tengah keributan arena itu. Pekikkan anak-anak yang sedang bermain, menyakitkan telinga. Vita ingin pulang saja sendiri. Meninggalkan Gathan, jadi lelaki itu tahu kalau Vita marah kepadanya. Tapi .... dia berpikir kalau Vita meninggalkan Gathan begitu saja, bukannya lelaki itu malah senang? Vita mendengkus, dia membeli makanan di sekitar arena. “Kopi dingin!” mintanya kepada pelayan yang ada di kafe itu. Vita menyedot kopi yang dipesannya sampai habis. “Supaya dingin otak gue. Gathan, Pandawa! Gue siap menaklukkan kalian! Semangat!” Dalam waktu singkat, Vita menelusuri internet bagaimana cara memperlakukan anak umur sembilan tahun. “Awas saja, kamu biang kerok!” kata Vita sambil tersenyum dengan sinis ke arah Pandawa yang berlari ke arahnya. Anak itu menubruk Vita begitu saja, sambil memeluknya. Awalnya Vita kebingungan, tapi dilain detik, Vita tersenyum lalu balas memeluknya. “Pasti kamu haus, kan?” Pandawa mengurai pelukannya, lalu mengangguk. Vita dengan lembut memberikan air mineral yang sudah dia pegang sejak tadi. “Minum dulu, ya, pelan-pelan ...” ucap Vita, lalu tersenyum penuh ke arah Gathan. “Do you wanna play?” tanya Pandawa sambil menatap Vita. Vita menjawab dengan cepat, untuk selanjutnya, Vita mungkin menyesal mengiakan ajakan Pandawa. Tapi, ada rasa bahagia dalam dirinya. Dia bisa tertawa bersama Gathan, kekasih pujaannya. Pandawa tenggelam bersama euforia yang ada, ditambah kakaknya dan juga Vita, rasanya hari ini adalah hari terbaik sepanjang satu tahun ini. Anak lelaki itu tidak mau berhenti bermain, dari permainan satu ke permainan yang lain. Kadang Gathan dan Vita jauh tertinggal di belakang. “Hei, pelan-pelan!” pekik Vita, tapi tangan Gathan menahan Vita. “Biar saja dia bisa main sendiri,” ucap Gathan, mereka lalu bergandengan berjalan mendekat ke arah Pandawa bermain. Vita merasa ini adalah harinya, entah mimpi apa tadi malam. Dia memanfaatkan waktu bersama Gathan, ber-swa-foto entah berapa banyak. Pandawa memang lama kelamaan bisa bermain sendiri, dia memanggil Gathan kalau memerlukan sesuatu. “Pandawa lucu,” puji Vita ketika melihat Pandawa yang melompat-lompat. Gathan tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Vita yang terlihat tulus. “Kakak!” pekikkan Pandawa membat Gathan dan Vita tersentak, mereka terlarut dalam suasana. Hingga hampir bibir mereka saling bersentuhan. Gathan berdiri dari kursi tunggu menyambut Pandawa yang masih antusias. “Kita go to the movie?” “Movie?” ulang Gathan. Sementara, Vita hanya tersenyum ke arah Pandawa, perutnya sejak tadi berbunyi, kelaparan. Seperti pengungsi yang tidak makan berhari-hari. Badannya mulai lemah. Hah, Vita lupa tadi minum kopi. Dan asam lambungnya sekarang tinggi. Gawat! “Gathan, aku perlu makan,” ujar Vita disela perjalanan menuju bioskop. “Beli di bioskop atau kamu mau dibelikan di sini?” “Kita harus mampir beli makanan di mana saja, aku sudah tidak kuat,” katanya lagi. Gathan mengalah, “Baiklah.” Itu artinya dia juga harus memberitahu Pandawa kalau akan mampir makan dulu. Pandawa tidak sesenang itu ketika akan mampir dan makan lagi. “Vit, gimana kalau aku dan Pandawa ke bioskop duluan, kamu bisa susul aku nanti.” Vita menggeleng, “Kalo gitu aku beli makanan di bioskop saja,” ucapnya sambil merutuk-rutuk. Ini dia tingkah anak-anak yang kadang belum stabil. Dia membacanya tadi di internet. Sesampainya di gedung bioskop, Gathan membelikan Vita makanan dulu. Roti atau apa pun yang bisa mengganjal perut. “Ini, Vit, duduk dulu dan makan rotinya,” suruh Gathan. Di antrian karcis, Gathan melihat ada Gaby di sana. Matanya membesar, dengan seorang pria? Katanya dalam hati. Dadanya berdebar seperti mau meledak. Tidak mungkin, Gaby selalu canggung kalau berdekatan seperti itu dengan pria. Pandawa yang ada di sampingnya tidak mau diam, terus berceloteh ini dan itu. Dia menunjuk-nunjuk film yang akan dia tonton bersama Gathan. Beberapa menit Gathan meyakinkan diri kalau yang dilihat itu adalah Gaby. Dia terus menatap punggung wanita itu dari belakang, bertahun-tahun kenal dengan wanita itu, Gathan mengusir keraguannya. Itu adalah Gaby. Siapa pria itu? tanya Gathan dalam hati. Apa itu suaminya? Wajar, kan kalau Gaby bersuami? Setahu Gathan, Gaby lebih tua dari dia lima tahun. “Kakak, kakak! Are we done yet?” “No. Not yet,” jawab Gathan tak acuh. Dia menunggu Gaby mendekat ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD