Jadi begitu Gaby keluar dari antrian, Gathan meraih tangan wanita itu. Menghentikan langkah Gaby dan Nandito.
“Gaby?!” serunya, ragu tidak percaya dengan matanya sendiri.
“Eh,” ujar Gaby kaget. Matanya membesar begitu melihat Gathan. “Pak Gathan?” tidak percaya bisa bertemu di sini.
“Sama siapa?” tanya Gathan dengan tegas, sambil melirik si pria yang ada di samping Gaby.
Bukan hanya Gathan yang melirik ke arah Nandito, tapi juga sebaliknya.
“Ini kenalkan, Nandito, kita ...”
“Kita baru bertemu dan kenalan,” jelas Nandito dengan cepat.
“Jadi—,” Gathan menunjuk wajah Nandito. “Kamu temannya?”
“Ya, teman.” Nandito lalu merangkul pundak Gaby. “Saya harap teman seumur hidup.”
Wajah Gaby merona tersenyum malu-malu.
Gathan ikutan tersenyum, melihat perubahan wajah Gaby yang lucu. Namun begitu ingat ada pria di samping Gaby, senyuman Gathan menghilang.
Gaby merasa perlu berbasa-basi sekadar menunjukkan kesopanan. Secara, Gathan adalah atasannya di kampus.
“Bapak di sini sama siapa?” tanya Gaby, gaya bicaranya jadi formal. Dia ingat kalau Gathan adalah atasannya.
“Sama aku!” Pandawa menceletuk sambil mengangkat tangan.
Gaby tersenyum ke arah Pandawa, “Hai. Siapa kamu?” tanya Gaby dengan sopan sambil mengulurkan tangan.
“Aku Pandawa, adik Kak Gathan,” jawabnya.
Nandito melihat Gaby ramah begitu, seperti menemukan seseorang yang tepat.
“Aku Gaby,” kata Gaby sambil tersenyum.
Dan Nandito pun ikutan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Pandawa. “Aku Dito.”
Gathan cemburu melihat Gaby yang kompak dengan Dito. Dari mana lelaki ini? Apa memang sudah lama mengenal Gaby?
Dan, Vita yang sedang duduk, mencari di mana Gathan? Kepalanya pusing sekali, mual, semua jadi satu. Jadi dia memutuskan untuk mencari Gathan di kasir.
“Gathan!” panggil Vita, ketika melihat Gathan.
Gathan, Pandawa, Gaby dan Dito menoleh ke arah suara.
“Dapat tiketnya?” tanya Vita dengan ramah, dia melihat ada beberapa wajah yang tidak dia kenal. “Siapa mereka, Than?”
“Kak Gaby dan Kakak Dito!” sahut Pandawa dengan riang.
Gathan gelagapan, seperti orang yang ketahuan selingkuh. “Ya, ini Gaby, asisten aku di kampus, dan temannya, Dito.”
Vita membesarkan mata, Gathan tidak pernah cerita apa-apa soal asistennya di kampus.
“Ini adalah ....”
“Vita, tunangan Gathan,” potong Vita sambil mengulurkan tangan. Dia berkata cukup lantang.
Gaby tergeragap beberapa detik, lain dengan Dito yang langsung mengulurkan tangan untuk berjabat.
Tiba gilirannya Gaby gugup setengah mati, tapi dia sambut juga uluran tangan Vita.
“Than, dapat tiketnya? Aku masih kelaparan. Gimana kalo Pandawa kita titip Gaby aja, kita pergi makan,” usul Vita dengan suara yang memelas.
“Aku .... tidak mau merepotkan Gaby, lagian, mereka pasti punya acara sendiri,” tolak Gathan dengan halus, sementara, Dito sedang berbicara ringan dan akrab dengan Pandawa.
“Dia, kan asisten kamu, Than! Dimintain tolong begit saja, masa tidak mau! Lagian, Pandawa juga lengket sama Dito. Aku kelaparan .... kalau sampai pingsan bagaimana?”
Sebenarnya Gathan tidak peduli dengan rasa lapar yang diderita Vita. Dia lebih peduli mengawasi Gaby, mau apa saja mereka.
Gathan melirik Pandawa yang tampaknya mulai dekat dengan Dito.
“Oke,” sahut Gathan, lalu menghampiri Gaby.
Dalam hati Vita bersorak gembira, tanpa tahu maksud Gathan yang sebenarnya. Gathan ingin Pandawa jadi mata-matanya. Mencegah Gaby dan Dito berbuat hal yang tidak diinginkan. Bersentuhan misalnya.
Pandawa manggut-manggut begitu Gathan memnberi tahu apa tugasnya antara Gaby dan Dito.
“Oke, give me five!” ujar Gathan kepada Pandawa.
Anak itu menurut.
“Don’t forget, you owe me,” kata anak itu.
“Deal!” kata Gathan berseru sebelum pergi. Dia membelikan tiket untuk anak itu. Berterima kasih kepada Gaby dan Dito.
Vita lega sendiri ketika berhasil meninggalkan gedung bioskop dengan Gathan bersamanya.
“Kita makan apa, Than? Sepertinya aku mau makan soto yang ringan-ringan aja, deh,” rengek Vita. “Asam lambung aku sudah tinggi banget. Apa aku minum obat dulu, ya?”
Gathan menatap ponselnya, sudah siap menerima pesan dari Pandawa yang ada di gedung bioskop.
“Gathan!” sentak Vita. “Kamu ngapain, sih?”
“Oh, ini aku tanya ke Pandawa, apa dia haus atau lapar.”
Vita mencibir-cibir dalam hati, mengaoa yang Gathan pikirkan hanya Pandawa?
Gathan lantas melihat ke arah Vita. “Pilih saja mau makan apa,” katanya.
Vita kesal, dia menghentak kakinya, “Hih!”
Kepalanya sakit sangat, dan mual hebat. Matanya berkunang-kunang, “Than ....” desisnya. Tubuhnya terlalu lemah.
Gathan sigap menangkap tubuh Vita agar tidak terjatuh. Dia lantas memapah tubuhnya, masuk ke sebuah restoran.
Dalam hati Vita tersenyum. Apa iya, harus kudu pingsan dulu barui Gathan sangat perhatian begini.
“Tolong bawakan air hangat dulu,” katanya. Lalu memesan makanan yang hangat pula. Agar stamina Vita kembali.
***
Beberapa lama duduk di bioskop, Pandawa gelisah sendiri, dia memegangi perutnya.
Gaby yang melihat keadaan anak itu khawatir sendiri, “Kenapa?” tanyanya.
“Stomach ache,” jawabnya sambil melirik ke atah Dito.
“Ada yang bisa saya bantu?” tawar Dito, tulus.
“Aku rasa, aku perlu ke WC,” jawab Dawa manja dan mendesis-desis.
“Aku aja, Gab,” ujar Dito, lalu menggandeng tangan anak itu, keluar dari teater.
Beberapa saat Dito menunggui anak itu, tapi belum selesai juga.
“Pandawa, are you okay, there?” tanya Dito sambil mengetuk pintu bilik kamar mandi.
“Yes, thanks!” jawabnya, sementara dia sedang menunggu instruksi dari Gathan.
Tidak lama, Pandawa keluar dari bilik kamar mandi.
Gaby merasa bertanggung jawab, menyusul Dito dan Pandawa yang ada di kamar mandi.
“Dia baik-baik aja?” tanya Gaby kepada Dito yang ada di depan toilet pria.
Dito mengedikkan bahu, “Dia di dalam lama sekali,” katanya, sambil menyilangkan tangan dan bersandar ke tembok.
“Ya ampun,” Gaby menerabas masuk ke dalam toilet. “Pandawa! Pandawa!” panggilnya sambil memeriksa setiap bilik.
“Ya, aku di sini,” jawab anak itu jail.
Sementara, Gaby panik, dadanya mau meledak. Dia rela naik ke atas WC, demi memeriksa keadaaan Pandawa. Untung saja toilet itu sedang sepi.
“Are you okay?” tanyanya.
Pandawa mendongak, lalu tersenyum seperti habis ketahuan berbohong.
“I am okay,” katanya. “Selesai!” katanya lagi sambil membuka pintu bilik kamar mandi.
Gaby ada di depan pintu, menyambut Pandawa dengan pelukan. “Aku khawatir tadi.”
Pandawa menatap Gaby, tidak menyangka kalau reaksi wanita ini seperti ini.