Status Janda

1038 Words
Ada rasselip dalam hati Dito ketika melihat Gaby sebegini penuh cintanya. Atau dia hanya khawatir saja? “I’m sorry,” sesal Pandawa dengan suara yang menggemaskan. Begitu Gaby memeluknya. Merasa bersalah, karena Gaby sangat perhatian. Meski masih sembilan tahun, Pandawa tahu kalau Gaby gemetar ketakutan. “Oke, tidak perlu minta maaf,” balas Gaby. “Tadi kamu terlalu lama di kamar mandi.” “Iya, perutku sakit. Tapi sekarang, aku baik-baik saja.” Gaby mengangguk, sambil mengusap kepala Pandawa. Anak lelaki itu merasakan kehangatan, dan nyaman yang tidak pernah dia dapatkan dari orang tuanya sendiri. “Kita pulang saja, bagaimana?” tanya Dito memecah kekhawatiran Gaby dan Pandawa. “Aku telepon Gathan dulu, dia ada di mana,” kata Gaby sambil menekan nomor Gathan. Dito menggandeng Pandawa sepanjang perjalanan menuju tempat bertemu dengan Gathan. Dito memang pintar mengajak ngobrol siapa saja, bahkan Pandawa. Gaby berjalan di sampingnya. “Maaf, ya, hari ini jadi merepotkan kamu,” kata Gaby. “Tidak masalah, memang kenapa? Yang penting, hari ini bisa kenal dengan kamu, kan?” perkataan Dito membuat Gaby tidak bernapas untuk sekian detik. Sekian tahun sendiri, Gaby tidak pernah merasakan debar seperti ini. Gathan menyapa Pandawa dan Dito. “Hai!” “Wah, itu kakakmu,” ujar Dito. Pertemuan antara Gaby, Dito, Gathan dan Pandawa diakhir dengan pelukan Pandawa ke Gaby. Seperti tidak ingin berpisah. Sementara, Gathan setengah mati mengubah pikiran Gaby. Agar Dito pulang duluan. “Mau makan dulu? Bagaimana kalau aku traktir, ini rasa terima kasihku,” usul Gathan. Gaby dan Dito saling berpandangan. “Lain kali saja, Pak.” “Kalau di luar kampus panggil Gathan saja, tidak perlu pakai ‘pak’.” Dito melirik jam tangannya. “Ini sudah hampir malam. Kita pulang saja?” tanya Dito menatap Gaby. Wanita itu mengangguk, “Aku saja yang antar Gaby,” ujar Gathan menatap Dito dengan serius. “Oh, nggak perlu, Pak Gathan,” sahut Gaby masih terkejut. “Iya, tidak perlu, dia, kan hanya asistenmu,” timbrung Vita tetiba, tidak suka kalau Gathan perhatian dengan wanita lain. Gathan hanya boleh perhatian kepadanya saja. “Lagi pula, dia, kan, sudah ada temannya.” Gathan menoleh ke arah Vita. “Tapi dia juga manusia. Dan saya punya tanggung jawab terhadapnya. Ayok, Pandawa,” ajak Gathan, mereka bergandengan, lalu keluar dari restoran itu, meninggalkan Vita yang melongo. Gaby dan Dito, pamit. Pelan-pelan meninggalkan restoran itu dan Vita yang tampaknya kesal. Mereka saling diam tidak ingin menyinggung perasaan Vita. *** Perkenalan hari ini sangat berkesan untuk Gaby. Dia tidak ingin membuat Dito kecewa. Atau berpikiran macam-macam karena pertemuan dengan Gathan. Sepanjang perjalanan, Gaby menunggu saat Dito bicara duluan, tidak mau memulai obrolan. Namun, pada akhirnya, Dito juga ingin tahu hal lain dari Gaby. “Jadi, kamu dan Gathan kerja di kampus yang sama?” “Iya, dia rektor baru di kampus,” jawab Gaby, nada suaranya naik turun. Dito hanya manggut-manggut, sambil menyetir. Gaby melirik ke arahnya. Serba salahm sudah lama sekali, Gaby tidak berkenalan dengan lelaki. Atau punya hubungan khusus. “Jadi .... apa mamamu bilang sebelumnya apa statusku?” tanya Dito hati-hati. Gaby menggeleng, mungkin mamanya bilang, tapi dia tidak perhatikan. “Aku .... nggak perhatiin, Dit,” jawab Gaby pada akhirnya, tidak enak sendiri. “Nggak apa-apa. Yang aku tahu kamu janda dan punya satu anak.” “Iya,” jawab Gaby sambil mengangguk. “Kapan aku boleh kenalan dengan anakmu? Siapa namanya?” Gaby membeku sejenak, baiklah, dia berpikir kalau Dito hanya basa basi saja, tidak serius. “Kita bisa bicarakan ini lain kali, kan?” Dito mengangguk, benar. “Apa aku yang terlalu terburu-buru?” Sekali lagi, Gaby seperti kehilangan napas. “Aku ingin mempersiapkan anakku dulu,” jawabnya. Dito mengangguk, tanda setuju. Gaby menunjukkan jalan ke arah rumahnya. “Oke. So, this is it,” kata Dito dengan sopan. “Kalau aku telepon atau kirim pesan, gimana?” Gaby tersenyum, rasanya konyol sekali, masa begitu saja Dito minta izin. “Boleh. Kapan saja aku akan balas.” Dahi Dito mengerut. “Aku pikir hanya lelaki yang bisa gombal, ternyata kamu juga bisa gombal.” Gaby tertawa kecil, “Oke, aku turun dulu, ya,” pamitnya. “Oke, jangan mimpikan aku,” ucap Dito sebelum Gaby benar-benar turun dari mobilnya. Rasanya sulit sekali kalau Dito melewatkan Gaby, atau tidak mencoba berhubungan dengan wanita itu. Namun, pikiran Dito terbelah, antara Gaby dan juga mantan-mantannya yang masih sering menempel dengannya. Contohnya saja yang satu ini; Bia, perempuan cantik, seorang karyawan salah satu perusahaan multi nasional. “Dit .... bisa jemput aku, kan?” tanyanya manja. Dia tidak peduli ada di mana Dito dan sedang apa. Dito memang duren, tegas, tapi, soal yang satu ini, Dito selalu tekuk lutut. “Di mana?” tanyanya. “Grand Indonesia,” jawabnya. Dito baru saja menempuh perjalanan dari Grand Indonesia ke kawasan Jakarta Pusat. Dan sekarang Dito rela putar balik kembali ke mal itu demi Bia. Entah apa yang membuat Dito sedemikian rupa. Mungkin karena mereka adalah teman dari kecil. Sempat memberi kesempatan untuk berpacaran, tapi, putus. Karena tidak cocok. *** Melanjutkan pembicaraan tadi siang karena anak-anak mereka kabur. Dony dan Susmita sepakat untuk menentukan kapan rencana pernikahan Vita dan Gathan. Gathan yang baru pulang, hampir kena serangan jantung mendengar itu. “Ayah dan ibu, apa-apaan?” tatapannya tajam ke arah Ibu. “Ayah Vita terus mendesak kami, Gathan,” ujar Noni, wajahnya sedih dan juga memelas. “Jadi, kami harus segera memtuskan, kapan kalian akan menikah.” “Tapi, bukan begitu caranya,” sanggah Gathan. “Kalau Gathan tidak mau, bagaimana?” “Kamu harus mau,” sambar Ayah. “Salah kamu sendiri. Diminta tinggal untuk makan siang, malah pergi dengan adikmu.” Gathan menghela napas, lelah sekali rasanya punya ayah dan ibu seperti ini. Wajahnya marah, tidak suka. “Lagian, kamu sama Vita bukannya saling suka? Jadi, apa salahnya kalau kami memutuskan menentukan kapan tanggal pernikahan ini?” papar Ibu. “Ayah sudah ingin melihat kamu menikah, Gathan.” Dony manggut-manggut, “Tidak ada lagi yang Ayah tunggu di Dunia ini selain ingin melihat kamu menikah.” Gathan terlalu marah mendengar keputusan ayahnya. Dadanya naik turun, udara di sekitarnya serasa tipis. “Pernikahan itu akan dilaksanakan dua bulan lagi.” Perkataan terakhir Dony terang saja membuat Gathan syok berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD