Rencana Orang Tua

1042 Words
Dony Persada siang ini mendapat undangan dari ayah Vita, makan siang disalah satu restoran mewah ibu kota. “Jadi, bagaimana kabar Gathan?” itu pertanyaan dari ayah Vita, yang merupakan penyandang dana terbesar dalam kampanye Dony. “Andai saja Gathan dan Vita menikah, saya ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan yang paling mewah. Tentu saja, setelah Anda naik menjadi presiden.” Dony menatap ayah Vita, lalu tersenyum manis. “Gathan masih ingin mencapai karir tertinggi. Saya juga berpikir, kalau Gathan berhasil, ini akan baik untuk Vita.” “Apalagi, si, yang ditunggu, kalau sukses, mama papa mereka juga sudah sukses, tinggal meneruskan usaha yang sudah kita bangun, ya, nggak?” tanya Susmito. Dony Persada manggut-manggut, apa yang dikatakan Susmito benar juga. “Apa kata orang nanti Vita sudah hampir kepala tiga belum menikah.” “Lho, anakmu bukannya lebih muda dari Gathan?” tanya Dony ragu. “Ya, baru dua puluh lima,” jawab lelaki botak itu, tersenyum penuh arti kepada Dony. “Kau ini, hampir saja aku keliru, aku pikir, Vita yang lain, hahaha!” Susmito ikutan tertawa. Beberapa saat, mereka melanjutkan makan siang diselingi ngobrol santai. Tanpa embel-embel politik dan juga bisnis. Soal masa muda mereka dan juga apa yang akan dilakukan setelah terpilih. Hingga mereka selesai, dan berpamitan. “Ingat, Don, jangan lupa kamu tanyakan rencana pernikahan ini. Aku tunggu jawabanmu secepatnya. Kalau perlu kita makan siang keluarga, bagaimana?” Mata Dony melebar. “Boleh saja, bagaimana kalau minggu ini saja, aku sedang kosong,” usulnya. “Ah, lebih cepat lebih baik. Nanti aku akan tentukan tempatnya,” ujar Sasmito semringah. “Baik kalau begitu, terima kasih atas makan siang yang lezat ini.” “Ah, biasa saja,” jawab Sasmito merendah. “Aku berpikir kalau pernikahan anak kita, adalah akhir dari perjanjian kita. Dan awal dari kerja sama jangka panjang. Saya mungkin tidak tahu dengan jalan apalagi kalau mereka tidak cepat-cepat menikah, ke mana saya mewariskan perusahaan saya yang banyak? Anak saya hanya satu dan perempuan.” Lagi-lagi, Dony tersenyum, dia tidak bisa kehilangan Susmmito saat ini. Kampanyenya masih berlangsung. Dan namanya di elu-elukan di mana-mana. Jadi, Dony berpikir taktis dan praktis, Gathan harus bertemu dan bicara soal pernikahan dengan Vita dan keluarga besarnya. “Pak, ada beberapa wawancara nanti malam. Dan jangan lupa soal debat capres. Karena bapak pemegang suara terbanyak, jadi ini keunggulan tapi kita jangan lengah,” penasihat pemilunya mengatakan kepada Dony. Selanjutnya mereka saling bicara untuk materi debat nanti malam. “Tolong telepon istri saya,” kata Dony sebelum berangkat ke tempat untuk debat. Asisten Dony langsung mengangkat telepon. “Noni, kita harus mempertemukan Gathan dan Vita, atau Susmito menghentikan pendanaan kampanye saya.” “Ah, kamu ini, telepon atau bicara kalau ada maunya saja,” rajuk Noni. “Aku, kan bukan pesuruh kamu!” “Memang bukan pesuruh tapi kamu, kan jubirku,” rayu Dony. “Kamu juga public relationsku, dan cantik, luwes dan juga tekun dan kompeten.” “Halah, kalau sudah ada maunya, baru kau merajuk-rajuk dan merayu aku.” Dony tersenyum, istrinya ini memang luar biasa. Pandai dalam segala hal, termasuk di ranjang. “Kamu selalu jadi kesayanganku. Kesukaanku, kamu tidak mau jatuh miskin, kan?” Noni menghela napas, bisanya mengancam, merayu dan juga ber omong kosong, maki Noni dalam hati. Andai saja bisa disingkirkan, tua bangka ini! “Aku akab bicara dengan Gathan nanti. Baiknya kau siapkan anakmu yang ada di Singapura, bawa dia pulang dulu, agar Gathan mau datang.” “Beres!” jawab Dony, demi uang, apa pun akan dia lakukan. Hanya menjemput Pandawa saja, harusnya itu hal yang mudah. *** Sabtu siang, Gathan datang memenuhi undangan ibunya. Tanpa dia tahu kalau ada keluarga Vita yang akan duduk makan siang bersama. Lelaki itu datang seperti orang tidak punya energi. Melewati penjaga pintu dengan kedua tangannya dimasukkan di saku celana. Satu-satunya alasan Gathan mau datang karena ada Pandawa adik lelakinya. Pandawa baru berusia sembilan tahun, dan tinggal di Singapura bersama nenek dan kakeknya, yang merupakan orang tua Noni. Gathan tersenyum dan membuka kedua tangannya ketika melihat Pandawa. “Hai, Bro, how are you?” sapa Gathan memeluk Pandawa begitu bertemu dengan adiknya itu. “Fine. I miss you,” balas Pandawa menggemaskan. Wajahnya putih, sama seperti Gathan. Gathan terenyum, Noni ada di belakang Pandawa tersenyum melihat Gathan, membuka kedua tangannya. “Anak Ibu,” katanya dengan manja. “Yuk, kita masuk, ada keluarga Vita. Ayah yang undang mereka.” Gathan yang menggandeng Pandawa berhenti di depan pintu penghubung ruangan. Dia menatap Noni, ternyata ini yang dituju ayahnya. Gathan lantas membungkuk di depan Pandawa, “Apa kamu mau ke tempat lain?” Mata Noni membesar, tidak mungkin, Gathan seantipatif ini. Pandawa yang masih rindu dengan kakaknya, mengangguk. “Kita main?” Gathan tersenyum, “Iya, ayo!” ajaknya sambil mengulurkan tangan untuk Pandawa gandeng. “Gathan!” panggil Noni. “Gathan, kamu tidak bisa pergi begitu saja, Gathan!” Gathan dan Pandawa berhenti begitu Noni memanggilnya untuk yang kedua kali. “Paling tidak, kamu temui dulu keluarga Vita,” ujar Noni geram. Gathan dari dulu sulit sekali dikendalikan. “Baik, sebatas bertemu saja,” ucap Gathan tegas, masih menggandeng Pandawa, Gathan masuk ke ruang VIP yang Noni tunjukkan. “Senang sekali akhirnya kita bisa berkumpul,” ujar Susmito, Vita pun tak kalah rindunya dengan Gathan. Perempuan itu menyambut Gathan dengan memeluk, dan menciumnya. “Maaf, saya harus pergi,” ucap Gathan tegas, dia kembali menggandeng Pandawa. “Maafkan sekali lagi. Yuk, Dawa.” Vita dan keluarganya melongo melihat kepergian Gathan. Dony dan Noni hanya bisa menghela napas, saling menatap tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh anaknya itu. “Maafkan saya, Vita, Pak Susmito dan ibu,” ucap Dony sambil menundukkan kepala. Tangannya meremat serbet yang ada di pangkuannya. Awas saja, Gathan! geramnya dalam hati. Vita tidak bisa terima perlakuan Gathan. “Saya susul Gathan,” katanya dengan tegas. Mami dan papinya ingin menghentikan langkah Vita. Tapi kemudian, mereka mengurungkan keinginannya itu. Saling menatap lalu menggeleng. Vita dengan cepat menyusul Gathan, berlari dan menerabas kerumunan orang yang ada di depan restoran. “Gathan! Pandawa!” pekiknya, tidak menyerah, mengejar mereka. “Aku tidak akan tinggal diam!” desisnya. Gathan yang menggandeng Pandawa tampaknya tidak mendengar. “Gathan!” pekik Vita sekali lagi, lebih keras. Sebelum Gathan dan Pandawa masuk ke dalam mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD