Gaby makin bingung dengan istilah keuangan yang ada di tabel itu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Memang laporan ini ada masalah, Pak?” tanya Gaby dengan lugunya.
Gathan tersenyum, lalu bangkit dari kursinya. Sementara, Gaby masih memegang laporan keuangan itu.
Gathan lantas menghampiri Gaby, dia berdiri di belakang wanita itu. Lalu membungkuk, kepalanya ada di pundak Gaby.
“Um, kayaknya saya udah paham di sini,” Gaby risi sendiri, di ujung mata, dia melihat Gathan, jarak wajahnya dengan wajah Gaby mungkin hanya dua senti.
“Apa yang kamu pahami?”
Gaby menelan ludahnya. Dia menunjuk salah satu tabel, “Ini ada pengeluaran, terus pemasukan, terus ada lagi pengeluaran lagi. Bukannya itu udah jelas, Pak?”
“Apa kamu tahu pengeluaran itu untuk apa? Hm?”
Ah, setan! Umpat Gaby dalam hati, kenapa Gathan jadi begini? Tiap kali dekat Gathan, detak jantungny menggila!
Gaby menyerah, menggeleng mana paham dia istilah keuangan begini. Memang dia cerdas, tapi kalau masalah keuangan, Gaby menyerah.
Punya usaha les, laporan keuangannya dia tulis manual dan sesederhana mungkin.
Gathan menunjuk salah satu tabel. “Ini memang pengeluaran, dan ada pemasukan di sini. Tapi, pengeluaran ini sangat besar. Ini yang aku ingin tahu, Aggelos,” bisik Gathan.
Gaby memejam beberapa saat, menahan ludahnya agar tidak tertelan. Suara syahdu Gathan masih sama seperti sepuluh tahun lalu.
“Aku tidak tahu ini untuk apa,” jawab Gaby acuh tak acuh, Dia memberikan dokumen itu kepada Gathan tanpa melihat ke arahnya. “Kamu bisa lihat sendiri,” katanya.
Tidak lama terdengar pintu ruangan terbuka, Gathan tersentak. Begitu juga Gaby. Mereka menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
Si HRD itu, Ibu Rida, memelotot melihat Gathan dan Gaby.
“Pak Gathan panggil saya?” tanya Rida dengan suara tegas.
“Kenapa nggak ketuk pintu?” tanya Gathan sinis. “Apakah culture di sini seperti ini? Nggak sopan!” sindirnya lagi.
Bu Rida adalah perempuan usia tiga puluhan, dan belum menikah. Bukannya minta maaf, dia malah mendelik ke arah Gaby.
“Kamu bisa mempercepat pengangkatan Gaby? Saya tidak tahan dengan asisten macam Widi.”
Mata Gaby membesar ke arah Gathan. Seperti protes, tapi Gathan tidak peduli dengan reaksi itu.
Rida menghela napas, “Kenapa harus Bu Gaby?”
Gathan kembali duduk di kursi kerjanya. “Karena dia kompeten,” jawabnya. “Saya sudah lama bekerja dengan dia. Ada pertanyaan lain? Saya harap Anda bisa bekerja dengan maksimal.”
Rida mengerutkan dahinya, “Di sini ada beberapa staf yang bisa mengerjakan pekerjaan selain akademis. Widi contohnya.”
“Kamu jadikan saja dia bawahan kamu. Atau tetap bekerja dengan saya, ada di bawah Gaby. Saya perlu orang yang bisa mewakili saya, juru bicara dan juga nantinya dia yang akan memikirkan cara marketing yang paling efektif.”
Gaby mengerutkan dahi, “Bagaimana dengan murid bimbingan saya?”
“Sudah saya bilang, alihkan ke dosen lain. Kamu akan jadi staf ahli saya. Tidak ada kompromi,” suara Gathan yang tegas memang tidak bisa ditolak.
“Apa?” Gaby tidak bisa percaya ini. Selama ini dia susah payah hanya ingin mengajar. “Aku tidak setuju, aku ingin terus mengajar.”
Gathan tersenyum polos. “Oke, tidak ada masalah. Kamu bisa tetap bisa mengajar dan tetap menjadi dosen di sini. Anggap aja, ini bayaran karena aku akan meloloskan ijazah S2-mu.”
Gaby memicingkan mata ke arah Gathan, “Kenapa kamu selalu minta dibayar?”
“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”
“I keep that in mind,” sahut Gaby.
Rida mencatat semua yang diperlukan Gathan. “Ada lagi, Pak Gathan?”
“Tidak ada, Terima kasih, kamu boleh pergi dari ruangan ini. Tapi ... jangan sekali-kali kamu berpikir yang buruk tentang saya dan Gaby. Paham?”
“Paham,” jawab Rida tak kalah berwibawanya. Dia langsung meninggalkan ruangan Gathan.
“Kalau sudah, saya juga pamit,” ujar Gaby. “Ada bimbingan.”
“Bimbingan?” ulang Gathan, banyak pertanyaan dalam kepalanya. “Siapa mahasiswanya?”
“Anak sastra Inggris, kenapa?”
Tapi, Gathan juga gengsi kalau harus menunjukkan sikapnya yang sedang cmburu.
“Aku ingin lihat cara bimbingan kamu,” katanya, sambil melipat laptopnya untuk dibawa.
“Bukannya bapak harus bekerja?”
“Saya bisa bekerja di ruangan kamu, kan, atau sambil kamu bimbingan, saya bawa laptop saya.”
Gaby ingin menolak, dia membuka mulutnya ingin bicara.
Tapi, sepertinya Gathan tahu apa yang akan diucapkan Gaby. “Tidak ada penolakan,” katanya tegas, sambil membawa laptopnya. Dia bangkit dari kursinya. “Ayo!”
Gaby masih melamun, matanya mengerjap. “Oke,” katanya ikutan bangkit dari kursinya.
***
Gaby menerima mahasiswa bimbingannya di kelas dia mengajar.
“Tadi saya cariin ke ruang dosen, tapi ibu nggak ada,” rajuk seorang mahasiswa lelaki.
Gathan duduk disalah satu kursi, samping Gaby.
“Iya, tadinya mau di sana. Tapi, saya sedang dinilai oleh dewan kampus. Jadi pindah di sini.” Gaby tersenyum sambil menjelaskan.
Gathan berdeham, apa-apaan mahasiswa ini? Udah dekil, centil, rutuk Gathan dalam hati.
Gaby membaca dengan seksama skripsi yang sudah dibuat, bab satunya sudah diperiksa kemarin.
“Ini revisi bab satu?” tanya Gaby.
“Iya, Bu. Kemarin, ada revisi sedikit. Oh, iya, karena Bu Gaby, jadi skripsi saya lancar.”
“Itu kan karena kamu jua yang mau kerja keras,” puji Gaby.
“Iya, Bu,” sahutnya. “Kayak anak sebelah, Bu, belum ada kemajuan skripsinya. Bisa lambat lagi. Padahal udah ketinggalan setengah tahun.”
Gaby tersenyum, sambil menutup skripsi yang sudah dia coret-coret untuk direvisi.
“Bab satunya sudah selesai. Tinggal bab dua. Kamu sudah kerjakan?”
“Belum, Bu,” jawab mahasiswa itu.
Gathan mendengkus. “Tampang doang keren, tetap kamu lelet!”
Gaby memelotot ke arah Gathan. “Ini,” dia menyodorkan skripsi yang sudah diperiksanya.
Satu lagi mahasiswa datang untuk bimbingan. “Bu Gaby! Aw! Astoge, udah lambret banget, ya, nggak bimbingan, akika bingung, bo. Pusing, zuzurly, cowok yang disebelah ibu ganteng! Yawlaa... siapopa namanya?” Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Maaf, Ciyn, bukan muhrim,” tolak Gathan sambil menangkup tangan di depan d**a.
“Emang bukan muhrim, tapi akika mau, lho, langsung dinafkahin, ta’aruf,” ujar mahasiswa itu dengan centil.
Gaby ingin tertawa tebahak-bahak. Tapi dia tahan sebisa mungkin.
“Jadi, gimana bab satunya?” pertanyaan Gaby menyelamatkan Gathan. “Kemarin saya sudah kasih petunjuk.”
Mahasiswa itu malu-malu mengeluarkan bagian dari skripsi yang sudah dia kerjakan. “Ini, Bu,” katanya, tapi matanya masih melirik ke arah Gathan.
Lelaki itu menghela napas, sambil mengelus d**a. Astaga, kalau bimbingan seperti ini setiap hari, hidup Gaby lebih-lebih dari uji nyali.
Mahasiswanya ajaib semua! Gathan berseru dalam hati. Sambil mendecak-decak dan geleng-geleng kepala.