Asisten

1065 Words
Masa Sekarang. “Mana asisten saya!” pekik Gathan di ruangannya. Setelah rapat dan pengangkatan Gathan kerepotan sendiri ketika tidak ada asisten yang membantunya mencatat apa yang disampaikan dalam meeting itu. Widi yang ketakutan datang ke ruangan Gathan, yang tadinya ruangan Pak Soen. “I—iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?” tawar Widi. “Untuk sementara, pengangkatan Bu Gaby sebagai asisten Anda ditangguhkan dulu. Karena satu dan lain hal.” Gathan memicingkan mata menatap Widi yang ada di depan pintu. “Kenapa ditangguhkan? Apa alasannya?” “Karena—karena pengangkatan dan pemindahan karyawan memerlukan waktu. Jadi, tidak bisa mendadak begini,” jelas Widi dengan tegas. Menatap wajah Gathan seperti itu, Widi jadi tidak takut. “Paling cepat satu minggu.” “Kenapa kamu tadi tidak ikut saya rapat? Semua direktur ada asistennya!” sentak Gathan, “Apa saja pekerjaan kamu dari jam sembilan tadi?” “Saya—biasanya Pak Soen juga tidak perlu asisten ketika rapat.” “Widi ....” Gathan bertolak pinggang, menatap Widi dengan galak dan mendekatinya. “Kamu lihat yang ada di depan kamu siapa? Apa saya Pak Soen?” “Bukan, Pak.” “Lalu kenapa kamu berdalih? Saya punya aturan sendiri, tahu kamu?!” “Iya, Pak, maaf, saya salah.” “Sekarang, kamu siapkan rapat dengan para dosen dan juga dekan. Sore ini juga! Paham?” “Paham, Pak,” jawab Widi, langsung pergi ke mejanya, lalu sibuk menyiapkan rapat. Sementara, Gathan masih memperlajari mengenai kampus yang sekarang dia pimpin. Notifikasi email terdengar dari laptopnya. Gathan menghela napas, belum selesai membaca semua dokumen, apakah harus semuanya diberondong jadi satu? Itu email dari ayahnya yang mengingatkan Gathan soal sumbangan yang harus mengalir ke yayasan pribadi Donny Foundation. Yayasan itu memberikan bantuan untuk anak yang tidak mampu disalah satu sekolah milik Dony. Gathan tidak setuju dengan ide ini. Mahasiswa yang mengajukan beasiswa makin lama makin meningkat, walau ada donatur tetap. Namun, sasaran beasiswanya tidak tepat. Gathan membaca profil pertukaran mahasiswa dan dosen setiap tahun, anggarannya mencapai milyaran. Mahasiswa yang dapat beasiswa rerata orang yang mampu, bahkan ada yang anak pejabat. Untuk apa? Gathan mengusap dagunya, berpikir. Apakah memang beasiswa itu penting untuk mereka. Dia memanggil Widi sekali lagi lewat saluran telepon internal. “Widi, tolong bawakan laporan keuangan satu tahun ke belakang.” “Baik, Pak.” “Segera!” “Iya, Pak.” Banyak tugas menanti Gathan, ada beberapa email intranet yang masuk. Ada yang darurat, ada laporan dari dekan, dosen dan lain-lain. Mata Gathan rasanya pedih melihat layar laptop terus. Apakah memang harus sebanyak ini tugas-tugasnya? Gathan mendengus, “Apa-apaan ini?” omelnya dalam hati. Tiba saatnya rapat dengan para dekan, dosen dan komponen kampus yang lain. Dalam rapat itu hadir Gabriella, Gathan banyak membahas yang sudah dia baca. Salah satunya soal beasiswa. “Tahun ini bisa diperkecil penerima beasiswanya. Ada data calon penerimanya?” Gathan menatap satu per satu peserta rapat. “Biasanya dari administrasi datanya,” celetuk salah satu dekan. Mereka tidak banyak bicara semata ingin melihat kemampuan Gathan. “Maaf, Pak Gathan, rasanya kita tidak bisa mengurangi jumlah mahasiswa yang mendapat beasiswa.” Gathan menatap dekan yang sedang bicara. “Kenapa?” nada suara Gathan datar. “Karena itu satu-satunya hal yang menjual dari universitas ini. Dengan ini juga, tingkat prestasi akademis mahasiswa terus meningkat.” “Oke. Tapi, saya mau mahasiswa yang dapat adalah mahasiswa yang tidak mampu.” Gathan lalu bangkit menulis di papan. Paparan yang dia temukan tadi soal beasiswa, persentase dan juga profil penerimanya. Gathan menjelaskan lagi pandangannya. Namun, hal itu tetap tidak disetujui. Gabriella menunjuk tangan. “Silakan, Ibu Gabriella!” tunjuk Gathan. “Saya pikir, pemberian beasiswa tidak akan tepat kalau menyasar mahasiswa di universitas ini. Walau pendapatan kampus mengalami peningkatan setiap tahun karena jumlah mahasiswa meningkat setiap tahun. Walau hanya lima persen.” Gaby berhenti sejenak. Dia mengambil materi yang memang sudah dia kumpulkan. Menyodorkannya untuk Gathan. “Rata-rata, mahasiswa di sini orang tuanya mempunyai pendapatan minimal dua puluh juta setiap bulan. Anda bisa lihat, jabatan orang tua mereka.” “Tapi, Bu Gabriella, beasiswa itu kan sebagai penyemangat untuk mereka. Tujuan intinya bukan sebagai karena prestasi,” celetuk dekan lain. “Lebih untuk promosi marketing universitas ini.” Gaby tersenyum tipis, sementara, Gathan membaca dokumen yang diberikan. “Untuk sarana promosi, kita bisa memikirkan cara lain,” sanggah Gaby. “Contohnya dengan beasiswa full foundation. Saya percaya dari sekolah menengah atas milik Pak Dony mampu memprovide anak-anak yang lebih membutuhkan. Karena apa? Pendapatan kampus ini pun sudah milyaran setiap tahun. Kalau menerapkan subsidi silang, pasti bisa.” Pemaparan dari Gaby membuat Gathan melongo, terus terang saja, dia belum dapat laporan keuangan. “Itu, kan belum untuk operasional kampus, Bu Gaby jangan sok pintar!” Dekan itu menunjuk wajah Gaby. Gaby tersenyum pahit. Lalu duduk kembali ke kursinya. “Berapa pendapatan dan pengeluaran operasional?” tanya Gathan kepada dekan yang baru saja bersuara. “Terus terang, saya belum dapat laporan keuangan. Padahal tadi sudah minta.” Gathan mendelik ke arah Widi yang ada di sampingnya. “Siapa keuangan di sini? Saya pikir, kampus ini punya perangkat keuangan paling lengkap, karena merangkap sekolah menengah atas, dan menengah.” Tidak ada yang menjawab satu pun. “Widi?” tanya Gathan. “Ada, Pak. Orang keuangannya tadi pagi rapat bersama bapak.” Gathan terus terang saja jengkel. Dia menghela napas. Anehnya kampus ini kenapa juga bisa susunannya acak-acakan begini. “Saya minta laporan keuangan, Widi!” sentak Gathan. “Rapat ini selesai. Kalian boleh bubar! Terkait program, kita akan bicarakan nanti.” “Bu Gabriella ke ruangan saya, sekarang!” titah Gathan. “Panggil HRD ke ruangan saya, Widi!” suaranya tegas dan berwibawa, tidak bisa dibantah siapa pun. Widi waspada, lebih baik menjalankan perintah Gathan sekarang, dari pada nanti dibentak lagi. Sebelum Gaby dan HRD datang ke ruangan Gathan, laporan keuangan sudah Widi antar ke ruangan rektor baru itu. Gaby datang ke ruangan Gathan was-was. Gathan sedang melhat kearah pintu masuk ketika Gaby masuk. Seperti sedang menunggu kedatangan wanita itu. “Ada apa, bapak panggil saya?” tanya Gaby dengan sopan. “Kamu bisa lihat ini.” Gathan menyodorkan dokumen yang isinya laporan keuangan. “Saya melihat ada keanehan di laporan itu. Kamu bisa mengulas lagi.” Dahi Gaby mengerut, tidak paham dengan laporan keuangan. “Masa, si, Pak?” tanyanya basa basi. Sebenarnya dia juga tidak paham ada yang aneh, yang mana yang aneh?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD