“Siapa yang menelepon? Pasti pria itu,” pikir Gathan sambil memicing. Untung saja, Gaby tidak bisa melihat balik Gathan, karena kacanya. Mengapa pria itu seperti punya ketertarikan tersendiri? “Apa, si, hebatnya dia?” tanya Gathan sambil menganalisa pria yang dia temui kemarin. “Mengapa Gaby sangat berharap kepadanya?” Tapi, Gathan masih sangat bersyukur, kalau Gaby tidak mungkin menemuinya. Paling tidak dalam waktu dekat ini. Gaby lantas menerima telepon dari telepon antar ruangan. Itu pasti Cairo dengan timnya yang memang akan datang ke kantor Gathan. Tidak lama, Gaby mengetuk pintu ruangan Gathan, datang bersama Cairo dan satu orang temannya. “Gab, nanti dulu. Kenalkan dulu, ini Cairo dan tim. Mereka yang akan mengaudit kampus ini,” papar Gathan. Gaby tersenyum dan berjaba

