bc

My Ride or Die

book_age16+
1.2K
FOLLOW
7.1K
READ
others
second chance
sweet
like
intro-logo
Blurb

SEQUEL RIDE OR DIE COUPLE | BISA DI BACA TERPISAH🦋

Menjadi CEO muda yang berpengaruh di Los Angeles, menjadi sesuatu yang jauh dari mimpi Altair.

Jika semua orang pikir dia bahagia mendapatkan itu semua, maka itu kesalahan.

Selama bertahun-tahun dia mengubur luka lamanya. Berusaha melupakan semua hal gila yang di lakukannya di masa lalu--dan berakhir sia-sia.

Lalu menemukan fakta bahwa wanita itu berada di Negara yang sama dengannya, membuat Altair tidak lagi tinggal diam.

Lea--satu nama yang hingga hari ini tidak pernah hilang. Altair berjuang, berusaha menemukan--lalu tertampar pada kenyataan bahwa wanita itu sudah berbeda.

Tapi Altair tidak menyerah, jika memang menemukan wanita itu adalah kesalahan, maka dia akan berjuang untuk membenarkan.

Karena kenyataan itu memang sedang menghukumnya. Lalu pertemuan mereka seolah terjadi hanya untuk menambah luka.

Lantas, sudikah Lea menerimanya kembali? Atau segalanya memang sudah berakhir sejak lima tahun lalu?

chap-preview
Free preview
I. Pesta
Ada luka yang tak sepenuhnya selesai menemukan obatnya. Berkisar pada semua keinginan yang tak pernah selesai, menolak menerima, mungkin fakta yang harus segera diterima. Jika memang melupa adalah kesalahan, maka semua orang tergenang pada kesalahan yang sama. *** "Alice? Apa penampilanku sudah oke?" tanya Lea--pada seorang wanita berambut pendek sebahu, yang tengah merokok didekatnya. Wanita yang dimaksud tersenyum, dia menyimpan rokoknya pada ujung nakas--sebelum berdiri untuk meneliti penampilan sahabatnya. Dress panjang dengan belahan yang menampilkan sebagian pahanya, lalu bagian atas yang menunjukkan betapa indah lekukan dadanya, serta rambut blonde yang semakin membuatnya terlihat menakjubkan. "Kau benar-benar pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan, Lea." decak Alice kagum. Dia merapikan anak rambut sahabatnya itu, lalu menepuk tangan bangga. "Done! Ellard pasti jatuh cinta padamu..." Lea menggeleng. "Stop it! Aku hanya menemaninya datang ke pesta. Setelah itu pulang." Alice terkekeh. Menarik sebelah alisnya songong, lalu mendengus. "Sudahlah, aku tahu kau juga menyukai Mr.Hadley itu." "Kau memang tidak ahli menebak Alice!" gerutu Lea. Ia sudah menatap pantulan dirinya di kaca besar yang terdapat di kamar mereka. Memberi sensasi tersendiri pada bibirnya dengan warna merah kalem. Lalu tersenyum puas. "Kau bahkan selalu menolak ketika Jackob dan Benjamin mengajakmu pergi! Tapi kenapa dengan Ellard? Kau bahkan langsung menyetujuinya! Apa dia pengecualian?" ledek Alice lagi. Dia terus mendesak Lea untuk jujur pada apa yang dirasakan sahabatnya itu. Tapi Lea mengedikkan bahu. Mengambil sebuah tas Louis Vuitton miliknya, sebelum berbisik pelan pada sahabatnya itu. "Karena dia kaya raya!" kekeh Lea dan mulai melangkah pergi. Meninggalkan Alice yang sudah memekiknya geram. "f**k u, b***h!" Dengan Lea yang sudah terkekeh di sana. Sudah hal yang biasa mereka saling mengumpat. Yeah, selamat datang di kehidupan baru dan Lea yang baru. Lea sudah mengenakan hells hitam miliknya yang senada dengan dressnya. Masih dengan rokok ditangannya, Lea menunggu Ellard yang belum juga tiba. Sengaja diam di luar karena Lea malas terus berdebat dengan Alice. Lea mematung cukup lama, membiarkan tarikan dan hisapan rokok di bibirnya terus ia nikmati. Menjadikan itu sesuatu yang candu, dan bagaimana itu menjadi sesuatu yang tiga tahun belakangan ini mulai Lea sukai. Lalu sebuah mobil mewah berwarna hitam metalic berhenti di halaman sederhana rumah Lea. Bagaimana mobil Bugatti Divo itu sangat tidak cocok berada di sana. Kemudian seorang laki-laki dengan jass hitam yang berpakaian rapi turun dari bangku kemudi. Membiarkan Lea terpana pada sosok menakjubkan yang mulai melangkah mendekatinya. "Sorry, i'm late Preety." Lea mengangguk. Tersenyum geli sebelum menyambut uluran tangan lelaki itu. "Ku pikir kau melupakannya." "Tidak mungkin, ini pesta yang wajib ku hadiri." sahutnya bangga. "See! Ellard, kau sangat tampan!" teriak Alice senang. Lea membulatkan mata tidak percaya. Bagaimana sahabatnya itu tiba-tiba sudah berlari menghampiri mereka. Ellard terkekeh, tapi tangannya terus menyatu dengan jemari Lea. "Alice, ku pikir siapa. Kau mengejutkanku..." "Kau sangat lama, aku memperhatikan bagaimana Lea terus khawatir ketika mobilmu belum juga tiba!" imbuh Alice kemudian. Membalas tatapan sahabatnya itu sebelum mengedikkan sebelah mata. "Jangan mengarang Alice! Kau sejak tadi berada di kamar!" rutuk Lea kesal. Menatap semakin tajam sahabatnya yang sudah terkekeh di sana. "Oh c'mon lihat Ellard--dia bahkan berdandan untuk menemuimu!" sambung Alice lagi. Membuat Lea mendekat untuk memukul sahabatnya itu. Namun usahanya di tahan Ellard. "Sudahlah...jangan malu mengakuinya. Aku bisa melihat bagaimana rona merah itu di wajahmu..." ledek Ellard. Membuat Lea langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Alice, terimakasih sudah memiliki sahabat secantik ini." timpalnya. "Aku sudah harus pergi, izinkan aku membawa sahabatmu ini." Alice mengangguk cepat. Sangat cepat hingga membuat Ellard terkekeh. Membiarkan Lea yang menatapnya tajam, lalu dia kembali masuk. "Ellard..." "Oke. Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Tapi aku serius, kau sangat cantik." kekehnya sebelum membukakan pintu penumpang untuk Lea. Membirkan Lea terbuai pada apa yang lelaki itu lakukan padanya. Menjadikan Lea seperti sesuatu yang berharga. Lalu Ellard mulai menderu Bugatti Divo itu dalam pekatnya malam. ??? MANSION LAUERELS Lea membulatkan mata ketika mobil Ellard membawanya memasuki halaman mewah keluarga Laurels. Lea tahu, bagaimana keluarga itu selalu menjadi topik hangat setiap berita di pagi hari, atas semua pencapaian dan juga kekayaan yang di miliki keluarga itu. Lea menoleh menatap Ellard--gamang, yang langsung di balas dengan kekehan geli oleh lelaki itu. "Pesta ulang tahun Clara Beatrix Laurels." jelas Ellard pertama. Dia sudah menghentikan mobilnya asal. Membuat Lea menghela napas panjang, masih dengan menatap lelaki itu. "Apa tidak masalah aku ikut? Kau tahu aku hanya seorang wanita yang kerja di Bar..." Ellard menggeleng, melepaskan seatbeltnya, lalu dia turun. Membuka pintu penumpang untuk wanita itu sebelum membawa Lea dalam rengkuhannya. "Aku yang mengajakmu. Tidak ada masalah untuk itu." Lea mengedikkan bahu, mencoba untuk tidak peduli pada itu lalu membalas rengkuhan lelaki di sebelahnya. "Kau tidak bilang kita akan ke Pesta semewah ini. Lihat bajuku, benar-benar sangat norak." rutuk Lea sebal. Ellard hanya terkekeh sebelum kembali mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Lea. "Kau yang paling cantik. Percayalah..." "You lie!" sahut Lea cepat. Membuat Ellard semakin tertawa geli, lalu dia mulai membawa Lea memasuki manssion mewah itu. Selalu saja, semua yang Lea lakukan berhasil membuatnya menyukai wanita itu--lebih dari siapa ia sebenarnya. Lea meneguk ludahnya pada semua kemewahan dan kemeriahan yang menyambutnya. Bagaimana halaman mannsion itu di desain dengan begitu menakjubkan namun tetap terlihat elegan. Lea tahu, berada di sini menjadi sesuatu yang gila--karena ini bukan tempatnya. Tempat Lea jauh dari ini semua. Namun bagaimana Ellard terus merengkuhnya kuat, membuat Lea menjadi satu-satunya yang dapat membuatnya tenang. "Hei, jangan setegang itu. Aku di sini, tidak ada yang perlu kau pikirkan." yakin Ellard lagi. Membuat Lea mengangguk dan terus mengikuti setiap langkah Ellard. "Ellard!" Teriakan itu membuat Lea dan Ellard menoleh. Seorang wanita dengan dress di atas lutut berhari menghampiri mereka. Wanita itu menatap Lea sesaat, sebelum melayangkan ciumannya pada kedua pipi Ellard. Membuat Lea terus memperhatikan itu--karena di sini sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Ellard juga tidak berbuat banyak. Dia hanya terus memperhatikan semua yang wanita seksi itu lakukan di hadapannya. "Jalang mana lagi yang kau bawa? Berhentilah bermain-main, usiamu sudah sepantasnya untuk menikah, Ellard." Lea menoleh, menatap wanita itu tajam. Tapi juga tidak dapat berbuat banyak, karena itulah semua yang orang pikirkan. "Diamlah Debora. Kau tidak berhak mengatur apa yang harus kulakukan." sahut Ellard tajam. Membiarkan wanita itu meringis melihatnya. "Why? Kau Hadley! Semua orang tahu, jangan terus bermain-main. Jalangmu terus berganti!" rutuknya kesal. Tapi dia terus bergelanyut manja di lengan Ellard. "Clara jauh lebih sempurna dari jalang ini!" singgungnya lagi. Ellard mendorongnya pelan. Menggelengkan kepala sebelum kembali menarik tangan Lea. Meninggalkan wanita bernama Debora itu--yang terus menatapnya kesal. "Lupakan perkataannya. Dia memang seperti itu." ucap Ellard menenangkan. Lea terkekeh. Mengangguk samar sebelum berujar. "Itu kebenaran, aku tidak masalah." Kali ini Ellard berganti, dia bukan hanya merengkuh Lea--tapi setengah memeluk wanita itu. Membiarkan Lea terus bertubrukan dengan tubuhnya dan membawa wanita itu bergabung dengan teman-temannya. *** Altair tengah meneguk sampanye langka yang kini malah berjejer rapi di atas mejanya. Merasakan setiap sensasi menggiurkan pada sampanye di hadapannya. Memang bukan sesuatu yang patut di banggakan karena ini Pesta besar yang sedang dia hadiri. Menghiraukan rayuan-rayuan wanita yang berjuang mendekatinya, Altair mengabaikan itu karena dia butuh untuk tetap tenang agar bertahan di Pesta membosankan ini. "Kau tidak ingin berdansa dengan semua wanita-wanita itu??" seorang laki-laki dengan Jass yang kancingnya hampir terbuka semua, bertanya pertama. Altair menggeleng tidak peduli. "Tidak ingin." "Kau tidak gay kan?" Lelaki dengan kemeja panjang berwarna putih ikut menodong semua pertanyaan. Meneliti Altair dengan semua tanya yang tersimpan di kepalanya. "Pikirkanlan apa yang kalian ingin." kekeh Altair geli. Membuat kedua lelaki di hadapannya menggeleng tidak percaya. Selalu saja tidak pernah berhasil menebak apa yang Altair inginkan. "Lihatlah, ada banyak wanita yang bertekuk ingin berdansa denganmu. Tapi kau selalu menolaknya." singgung Arion lagi. "Right. Kau sangat gila menolak semua wanita itu. Temuilah, lakukan one night penuh gairah lalu buang jika kau bosan." Axel menimpali. "Kau bahkan tidak pernah mencoba untuk berkencan. Bahkan Clara--manusia secantik dewi yunani itu kau abaikan! Sinting!" gerutu Arion lagi. Benar-benar bingung pada kelakuan lelaki di hadapannya. "Aku tidak mengabaikan Clara! Dia menyukai lelaki lain." potong Altair cepat. Tidak ingin kedua sahabatnya itu terus menyalahkannya. "Benarkah? Itu makin terlihat jelas. Gosip itu benar, Clara masih mencintai Hadley!" sambung Axel geli. Menggeleng sama tidak percayanya, karena tiga keluarga berpengaruh di Los Angeles itu seperti memiliki semua hal yang saling terikat. Hadley, Laurels dan Kennedy. Altair berteman baik dengan Clara. Clara menyukai laki-laki lain. Setidaknya itu yang Altair tahu. Dia tidak peduli siapapun lelaki itu, karena Altair memang tidak pernah ingin tahu. Altair terkekeh karena rutukan kedua lelaki di hadapannya. Tidak mempedulikan itu, dia terus meneguk sampanye miliknya. Mengedarkan semua pandangan pada seluruh orang yang hadir di acara tersebut, lalu tertampar pada kenyataan bahwa Los Angeles akan selalu semembosankan ini. "s**t! Lihatlah jalang yang di bawa Ellard!" pekik Axel heboh. Memusatkan pandangannya pada wanita berambut blonde dengan dress yang menampilkan pahatan indah tubuh wanita itu. Arion ikut menoleh. Bersorak sama hebohnya karena ini Ellard, temannya semasa sekolah dulu. "Hadley memang memiliki selera yang bagus." Altair hanya menggelengkan kepala. Dia terus meneguk sampanye di hadapannya, tanpa peduli sudah berapa botol dia menghabiskan minuman itu. "Kalian sangat antusias membahas lelaki itu." "Of course yash! Dia teman kami di sekolah. Semua orang mengaguminya--pintar, sopan--kaya raya." kekeh Axel kemudian. "Semua orang mendukung Hadley dan Laurels sebagai sepasang kekasih. Apa Ellard ingin mendrama di pesta ini??" tuduh Arion lagi. Benar-benar tertawa pada apa yang di lihatnya. "Jika memang Clara menyukai orang lain, orang itu adalah Ellard!" tebak Axel puas. Tersenyum geli pada pemandangan yang sedang di lihatnya. Hell, semua orang tahu bagaimana dua keluarga itu memiliki kekayaan yang berlimpah di negara ini. "A-ah, aku melupakan Kennedy juga berpengaruh di Negara ini!" sahut Axel geli. Sengaja menekankan kalimatnya pada pewaris Kennedy di hadapannya. Altair hanya mendengus. Penasaran pada apa yang dibahas kedua lelaki di hadapannya, dia ikut menoleh. Tapi perhatiannya bukan pada lelaki bernama Ellard itu. Melainkan pada seorang wanita yang tengah di rengkuhnya. Bagaimana rambutnya yang mencolok juga lekukan tubuh wanita itu yang mengingtakan Altair pada sosok yang di kenalnya. Altair terkekeh, mengacak rambutnya frustasi karena dia pikir sudah semabuk ini. Lalu ketika wanita itu menoleh--Altair menajamkan pandangannya. Menggosok mata tidak percaya, karena dia sudah benar-benar hampir hilang kesadaran. Wanita itu...bagaimana wajahnya mengingatkan Altair pada masa lalu yang kelam itu. Setelah bertahun-tahun lamanya--tidak mungkin. Altair terkekeh. Tidak percaya pada apa yang dia pikirkan. Apakah wanita itu Lea? Tidak. Tidak mungkin. Altair benar-benar gila karena memikirkan wanita itu lagi. Tapi bagaimana lekukan tubuh itu seolah menampar Altair pada ingatan masa lalunya. "Siapa wanita itu??" tanya Altair cepat. Matanya tidak berpindah kearah lain. Bagaimana wanita dalam rengkuhan lelaki bernama Ellard itu berhasil menghancurkan pikirannya. "Wanita yang mana? Ada banyak wanita di Pesta ini!" rutuk Arion kesal. "Itu! Di sebelah laki-laki yang kalian bicarakan!" sahut Altair lagi. Dia sudah berdiri di tempatnya, menunggu Axel atau Arion menjawabnya. Tapi sorot kedua lelaki itu membuat Altair geram. "Tidak tahu. Mungkin jalang, Ellard tidak pernah serius." jelas Axel kemudian. "s**t! Kau naksir pada jalang yang dibawa Ellard?" tanya Arion tidak percaya. "Dari banyaknya wanita di sini??" sambung Axel juga. Membuat Altair mendengus, menghiraukan kedua lelaki itu dia melangkah pergi. Altair harus memastikan sendiri, dengan mata kepalanya, bahwa apa yang dia lihat benar. Itu Lea--wanita yang sudah di buangnya tanpa permisi. Altair menoleh ke kanan dan ke kiri. Memusatkan perhatiannya pada semua orang yang datang di pesta ini. Mengabaikan beberapa wanita yang terang-terangan mendekatinya, Altair melangkah pergi. Terus mencari sosok yang berhasil membuatnya bungkam malam ini. Namun hasilnya nihil--tidak ada, wanita itu seakan menghilang ketika Altair bahkan belum meraihnya. Dia melangkah cepat--sangat cepat atau bahkan setengah berlari. Merasa apa yang di lihatnya benar, Altair menarik tubuh itu--membuat seorang wanita di sana menoleh sebelum menatapnya heran. "I'm sorry. Aku kira kau orang yang sedang kucari..." ujarnya meminta maaf. Lantas kembali melanjutkan langkahnya. Tidak menghiraukan detak jantungnya yang berdetak karena kelelahan, Altair mengabaikan itu semua karena ini lebih penting dari apapun. Tapi kembali memikirkan itu, apakah ini karena sampanye yang diteguknya? Dia bahkan sudah minum berbotol-botol. Meyakinkan bahwa mungkin dia benar-benar sudah mabuk. Tidak mungkin, wanita itu ada di Indonesia. Ini Negara yang bahkan tidak mungkin wanita itu datangi, but why? Kenapa Altair setolol ini hanya karena rasa penasaran yang membelenggu itu? Dia salah orang. Dia sudah pasti salah. Bodoh! Lalu Altair merogoh saku celananya, mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang disana. "Zach--cari tahu wanita yang bersama Ellard Hadley. Temukan informasi wanita itu sampai dapat." titah Altair dan langsung memutuskan sambungan. Bahkan ketika asistennya tersebut belum sempat menjawab. Altair mengacak rambutnya frustasi, lalu memutuskan untuk pulang karena semakin lama berada di Pesta itu, Altair yakin kepalanya akan meledak. Shit! Karena wanita itu, semuanya mendadak kacau total. Apakah segila ini karena bertahun-tahun Altair belajar melupakan dan berakhir gagal? ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook