II. Hal Mengejutkan

1126 Words
Mungkin kehilangan merupakan pelajaran. Sebuah kegilaan yang patut dikenang. Lalu terdiam, Membayangkan bahwa kita masih tergenang pada kebodohan yang sama. Setelah itu memimpikan, seandainya kita masih bersama? Bisakah luka itu terhapus seadanya? Atau segalanya memang tidak akan pernah ada habisnya? *** Bangunan mewah dan megah bertuliskan ATAYA, menjadi tempat persinggahan Altair. Salah satu perusahaan ternama dalam bidang produksi Alat Berat itu, menjadi perusahaan paling terkenal di Los Angeles. Menyandang sebagai CEO Muda, Altair sudah memenangkan banyak penghargaan. Salah satu orang Indonesia yang berhasil meningkatkan perusahaan di Luar Negeri dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Altair menoleh pada kaca bening di sana, bahkan langit yang sudah berubah warna tidak dia hiraukan. Menyaksikan gedung-gedung pencakar langit yang sejajar dengan perusahaannya. Altair menghela napas panjang. Berkutat dengan semua berkas-berkas di atas mejanya, lalu melempar pulpennya asal. Dia benar-benar muak karena ini semakin membosankan. Lalu ketika pintu kantornya di ketuk, Altair mempersilahkan untuk masuk. Zach--asistennya datang dengan membawa sebuah amplop coklat berukuran besar. "Ini tuan, maaf sedikit terlambat. Sangat sulit mencari informasi tentang wanita itu." ucapnya sopan. Dia menunduk pada Altair. Lalu Altair mengangguk. Tidak mempermasalahkan itu karena sejak tadi pagi juga dia sibuk dengan semua pekerjaannya. "Kalau begitu saya permisi, Tuan." kata Zach lagi. Altair pun hanya berdeham untuk mempersilahkan. Merenggangkan dasi kemejanya, karena seharian ini terasa mencekik. Altair mulai membuka amplop itu. Membaca semua berkasnya satu persatu dan dengan hati-hati, ketika sebuah foto yang terlampir disana mengejutkannya. 'Tuhan. Kebetulan macam apa ini? Kenapa Lea bisa ada di sini?' cecar Altair dalam hati. Dia menggeleng tidak percaya. Itu Lea--wanita yang dulu pernah di sakitinya. Altair tidak mungkin salah orang, dia masih mengingat jelas setiap pahatan wajah Lea. Montana Bar? Lea bekerja di bar itu? Astaga. Ini tidak hanya mengejutkan, tapi juga membuatnya tidak percaya. Apa yang wanita itu lakukan di Negara ini? Lalu tidak lagi memikirkan apapun. Altair mengambil kunci mobilnya, dia mulai menaiki Pininfarina Sergio Ferrari--mobil mewah berwarna putih yang menjadi favorit nya itu. Menderu laju mobil tersebut pada jalanan lenggang di Los Angeles. Tidak ada yang Altair pikirkan selain dia harus melihat Lea--hanya itu. Memastikan bahwa Zach memberinya informasi yang benar. Hingga mobilnya berhenti di parkiran sebuah bar dengan Plang Besar di depannya bertuliskan--Montana Bar. Altair turun dan segera berlari memasuki bar tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika beberapa orang terlihat menahannya. "Maaf. Silahkan beri kartu nama anda terlebih dahulu." ucap salah satu penjaga berbadan tegap di sana. Altair menatapnya tajam. "Tidak bisakah langsung masuk saja? Aku sedang mencari seseorang!" sahut Altair ketus. Benar-benar sedang tidak ingin banyak basa-basi. Penjaga itu menggeleng tegas. "Ini sudah kewajiban, setiap pengunjung harus memperlihatkan kartu nama." Lantas, malas memperpanjang urusan, Altair mulai membuka dompetnya. Menarik kartu nama disana, kemudian menunjukkan kartu nama tersebut pada para penjaga di pintu masuk itu, ketika detik selanjutnya mereka sudah menunduk hormat. Tidak percaya pada siapa yang datang ke-bar tersebut. "Maafkan saya sir. Saya bodoh tidak mengenal anda." ucap petugas itu penuh salah. Lalu Altair langsung di perbolehkan masuk, tanpa perlu melakukan pemeriksaan seperti orang-orang lainnya. Altair memilih duduk pada pojok bar. Memesan segelas wine keluaran 1951, dan meneguk itu pelan-pelan. Matanya menelusuri sekeliling, ketika tatapannya terarah pada seorang wanita yang tampak bergurau dengan beberapa lelaki di sana. Kali ini keterkejutan Altair berlipat ganda, seakan tidak percaya pada apa yang di lihatnya. Itu Lea--tapi tidak mungkin wanita itu seperti ini. Lea tidak mudah bergaul, dia bahkan membatasi setiap orang yang dekat dengannya. Tapi apa yang Altair lihat benar-benar diluar dugaan. Bagaimana Lea terkekeh dan tertawa dalam lingkaran itu, membuat Altair meremas gelas winenya kasar. Bagaimana wanita gila yang berada di tengah itu menjadi perhatian hangat para pengunjung yang berdatangan. Altair memperhatikan semua yang wanita itu lakukan. Caranya menyilangkan kaki, hingga dress yang dikenakannya. Bagaimana d**a dan paha wanita itu terekspos sempurna. Bajunya benar-benar menggoda, membuat semua lelaki disana menatapnya seperti sesuatu yang menggiurkan. Lalu--ketika wanita itu terlihat berdiri dan meninggalkan para lelaki di sana, Altair segera meninggalkan mejanya. Altair pikir dia mampu menahannya. Tapi sialan, itu hanya omong kosong. Karena kini kakinya sudah melangkah mendekat, mengikuti derap langkah wanita itu. Karena Altair tidak mampu terus memperhatikan bagaimana sorot menginginkan dari seluruh b******n-b******n di sana. "Lea!" Lea menoleh--ia berlonjak detik itu juga. Membulatkan mata tidak percaya lantas mematung di tempatnya. Ia memundurkan satu langkah kakinya ketika kesadarannya mulai menghantui isi kepala. Menghela napas panjang dan berat--Lea memberanikan diri untuk membalas tatapan lelaki dihadapannya tanpa takut dan tanpa keinginan. Bagaimana tatapan lelaki itu seakan menampar Lea pada kejadian bertahun-tahun yang lalu. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Walaupun dalam pekatnya malam, mata hazel itu tidak pernah berubah sedikitpun. Seperti menginginkannya--juga menghempasnya dalam satu waktu. Lalu laki-laki itu mendekat, menghentikan langkahnya ketika jarak mereka benar-benar sangat dekat. Membiarkan napas mereka beradu dalam keinginan yang tidak mampu terjabarkan. Tidak mampu terobati, namun terdiam pada gamang yang sama-sama membutakan. "A-apa yang kau lakukan di sini!" ucap Lea gelagapan. Setelah bertahun-tahun lamanya, bagaimana wajah itu tidak berubah sedikitpun. Hanya beberapa tambahan bulu-bulu halus di kedua sisi rahangnya. Benar-benar membuat Lea terguncang. "Seharusnya aku yang mengajukan pertanyaan itu..." sahutnya cepat. Altair menatap lekat wanita di hadapannya. Mengunci tatapan mereka dalam semua keterkejutan dan tanya yang sama besarnya. "Pergilah. Aku tidak punya urusan denganmu!" decak Lea kemudian. Memutar bola matanya jengah, karena situasi ini seperti mencekiknya lagi. "Kemana? Kau rumahku! Aku datang untuk menemuimu!" sahutnya cepat. Menekankan kata-kata itu, mempertegasnya sekuat mungkin, bahwa hingga kini peraturan itu masih terus terngiang di kepalanya. "Setelah yang kau lakukan?" sindir Lea. Ia terkekeh. "Tidak. Pergilah, kau membuatku muak!" "Please...biarkan aku membicarakan ini, menjelaskan semuanya..." mohon Altair lagi. Benar-benar putus asa. Lea menggeleng cepat. "Tidak lagi. Kita sudah tidak ada hubungan sejak malam itu. Kau dan aku, sekarang dua orang yang tidak saling kenal!" teriak Lea memperjelas. Tapi--bukan Kennedy namanya jika dia hanya diam saja. Altair semakin mempererat jarak mereka, menarik tangan wanita itu dan merengkuh pinggangnya kuat. Membiarkan wanita itu meronta dan menepis semua yang dia lakukan. "Jangan membuatku melakukannya di sini." ancam Altair. "Kau ingin aku membeli tempat ini?!" sambungnya menegaskan. Membuat Lea terdiam dalam rengkuhan lelaki itu. Bukan. Bukan karena ia takut, hanya saja Lea seakan terbuai pada semua sentuhannya. Setelah semua ini, bertahun-tahun lamanya, bagaimana helaan napas lelaki itu seperti membekukan tubuh Lea. Membuatnya meneguk ludah berkali-kali karena detak jantung itu--juga deru napas yang berlomba, membuat keduanya bungkam dalam tatapan yang saling beradu. "Jangan mengancamku dengan semua omong kosong sialan itu!" sindir Lea kemudian. "Aku serius bisa melakukan apa saja, jangan membuatku membuktikannya disini!" jawab Altair tajam. Membiarkan Lea terdiam dengan helaan napas yang tak berhenti. Menjadikan sorot itu dengan dua tatapan gila--satu menginginkan dan satu berjuang untuk mengabaikan. Akhirnya setelah semua perdebatan panjang itu, Lea mengalah. Dan berakhir berada di sebuah manssion mewah yang ia tidak tahu milik siapa. Malas banyak bertanya, karena kini Lea hanya ingin mengikuti kemauan lelaki itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD