II. a. Hal Mengejutkan

1352 Words
Keberadaan yang tak semestinya... Bahkan hingga memasuki manssion mewah itu, tangan Lea bahkan terus di tarik Altair memasuki sebuah ruangan mewah yang benar-benar menakjubkan. Seperti tidak ada orang lain, hanya ada mereka berdua. Bagaimana Lea menolak dan berusaha melepaskan, Altair malah melakukan rengkuhan yang semakin membunuh tangannya. "Aku tidak punya waktu untuk bermain-main lagi!" tutur Lea pertama. Berusaha mengabaikan pemandangan indah dengan benda-benda menawan di setiap sisi ruangan. Ia menatap Altair lekat. Bohong jika Lea tidak merindukan sosok itu karena ternyata, ia tetap menerima dan juga pasrah disaat Altair memaksanya untuk ikut. "Aku menginginkanmu, Lea." ucapnya kemudian. Dia menyentuh pinggang Lea, membiarkan tangan satunya menyapu wajah wanita itu dengan penuh kerinduan. Tapi sekali lagi Lea menepisnya kasar. Ia terkekeh, menatap lelaki itu tidak percaya. "Kenapa? Kau tidak menemukan jalang baru yang sesabar aku?" singgungnya sarkas. Altair menggeleng. Melihat mata Lea yang kini menatapnya penuh kebencian, membuat Altair hancur hanya karena mengingat semua yang dilakukannya dulu. "Karena itu semua bohong. Aku mencintaimu Lea..." "Jika kau mengatakan itu sekali lagi, aku bersumpah akan pergi dari sini!" ancam Lea. Bahkan, hanya untuk menyebut nama lelaki itu, lidah Lea terasa kelu. Masih tidak percaya pada apa yang sedang terjadi. Mereka berhadapan, membiarkan pikiran mereka saling berteriak. Lalu diam seakan semua terjawab tanpa perlu diutarakan. Bagaimana tidak ada yang berubah dari sosok itu--dia hanya terlihat semakin dewasa. Mungkin juga karena usia mereka yang tidak lagi muda. "Aku mencintaimu Lea. Aku mencintai wanita gila di hadapanku ini!" pekiknya putus asa. Membuat Lea berbalik badan dan melangkah pergi. Jangan berpikir Lea akan mengemis seperti dulu, karena kini tidak lagi. Ia sudah muak untuk bermain-main. Lalu ketika tangannya baru saja akan meraih gagang pintu, tubuhnya sudah ditarik paksa. Altair menghempas tubuh Lea pada dinding pintu, membiarkan wanita itu meringis karena Altair hanya perlu mengunci Lea diatas kuasanya. Altair tidak peduli meskipun harus dengan cara sekeras ini, karena wanita itu nyata--berdiri dihadapannya, lalu Altair menatapnya lekat. Tatapan kerinduan yang bertahun-tahun di tahannya. Altair menangkup wajah Lea sekali lagi. Menyapu wajah itu lembut, lalu turun ke bibir wanita itu. Bagaimana sentuhan tangannya pada bibir itu merusak semua pikiran Altair. Lalu kembali menyatukan tubuh mereka, tidak ada yang Altair pikirkan selain meraih bibir itu dalam semua keinginannya. Altair menahan tubuh meronta Lea dengan semua kekuatannya. Dia menarik bibir Lea, menghisapnya dan melumatnya tanpa izin. Menikmatinya lebih dalam dan menyeluruh, kali ini Altair bahkan melakukannya lebih gila. Dia bahkan menyapu habis semua keindahan ditubuh wanita itu. Menyapu leher jenjang Lea dengan semua cumbuannya, lalu berpindah pada d**a wanita itu, menambah bekas merah pada semua yang dia lakukan, lalu menikmati itu seolah-olah hal tersebut adalah sesuatu yang tidak pernah berkesudah. Lea sempat mengerang. Terbuai lalu--lumpuh. Ia menyadarinya, lalu berusaha kembali menyadarkan diri dan mengumpulkan kekuatannya, Lea menghentikan itu pertama. Mendorong tubuh Altair kasar, kemudian melayangkan satu tamparan keras di wajah lelaki itu. "Aku bukan jalangmu lagi! Jadi--jangan bertingkah seolah-olah kau memilikiku!" gusarnya, sebelum memilih untuk melangkah pergi dari manssion mewah itu. Lea melangkah dengan cepat dan penuh emosi, karena Altair datang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seperti sesuatu yang dia tinggalkan lima tahun lalu hanya kisah sederhana yang akan terlupakan begitu saja. Lea merutuki dirinya, menyesali perbuatannya karena dia terbuai pada ciuman b******n itu. Entahlah--atau karena disudut hatinya yang terdalam, ia masih menginginkan si songong itu. Tapi Lea menggeleng. Menepis pikiran gila itu karena kini, tidak akan pernah ada lagi Kennedy dihidupnya. Karena sejak kepergian Altair, Lea meyakini, mereka sudah selesai sejak hari itu. Altair langsung memanggil Zach--asisten yang merangkap menjadi tangan kanannya. Tidak perlu menunggu lama hingga lelaki yang usianya terpaut tidak jauh darinya sudah berdiri hormat di hadapannya. "Apa wanita itu sudah pulang?" tanyanya kemudian. Dia sudah meneguk sebotol wine berwarna merah di hadapannya. Membayangkan bagaimana sentuhan bibir Lea seperti melumpuhkannya. Membuatnya mengerang--karena dia masih menginginkannya. "Sudah tuan, saya sudah mengirim orang untuk memastikan wanita itu pulang dengan aman." ujar Zach sopan. Tidak berani terlalu lama menatap bosnya itu, karena suasana hatinya terlihat sangat buruk. Ya, Zach hapal semua situasi yang tengah terjadi. Lalu Altair mengangguk, meminta Zach untuk segera pergi. Bahkan hanya dengan satu gerakan tangan, asistennya itu sudah mengerti. Altair kembali memutar gelas kaca di tangannya. Mengamati itu sebagai sesuatu yang kini terasa memuakkan, lalu dia melemparnya asal. Altair tahu ini gila, tapi bagaimana menemukan Lea kembali, hidupnya seolah-olah tertantang lagi. Seperti hidup lagi dan membangkitkan semua kepedihan itu. Karena hingga hari ini, setelah bertahun-tahun lamanya, nama Lea tidak pernah hilang dari hatinya. Meskipun sekeras apa dia mencobanya, itu sesuatu yang membodohi karena selalu berakhir sia-sia. Karena Altair memang masih mencintai Lea--tanpa wanita itu tahu. Tapi Altair bersumpah. Dia tidak akan menyerah lagi, tidak akan kalah lagi, tidak setelah hal keji yang dia lakukan terakhir kali. Karena Altair akan melawan dunia ini, meski pada rentang waktu semesta masih tidak mengizini. Lea merebahkan tubuhnya ketika ia sudah sampai di rumah bergaya minimalis yang sudah hampir tiga tahun belakangan ini ia tinggali. Untuk semua yang sudah terjadi, Lea mencoba bangkit dan bertahan hidup pada masa lalu kelam yang berusaha ia lupakan. Lantas, menemukan Altair lagi disini, di Los Angeles---bahkan di Negara yang tidak pernah Lea pikirkan akan melihat lelaki itu lagi, benar-benar menjadi sesuatu yang mengejutkan, yang membuatnya terdiam tanpa mampu berkata-kata. Ketika suara sahabatnya, memecahkan seluruh lamunan Lea. "Kenapa wajahmu seperti itu?" tegur Alice ketika dia baru saja memasuki kamar mereka. Menemukan wajah masam sahabatnya itu, membuat Alice mengerutkan dahi bingung. Lalu dia memilih untuk ikut merebahkan diri disebelah Lea. "Ada apa?" sambungnya kemudian. Lea menghela napas sebelum bangkit dari tidurnya. Ia duduk untuk menceritakan semua kekesalannya. "Lelaki itu menemuiku..." Alice mengerutkan dahi bingung. "Siapa? Jackob si anak yang punya bar? Atau Benjamin pelanggan setia yang datang ke bar setiap hari?" Lea mengerucutkan bibirnya. Menekuk wajahnya masam, lelu menatap sahabatnya itu garang. "Oh c'mon! Siapa? Aku tidak tahu?!" rutuk Alice kesal. Membalas tatapan sahabatnya itu sama garangnya. "Lupakanlah." sahut Lea malas. Ia menghela napas panjang. Alice berpikir sejenak. Menentukan siapa yang dimaksud Lea, lalu dia membulatkan mata. "Ellard? Si tampan itu datang ke bar lagi?" pekik Alice tidak percaya. Lea tidak hanya menatap Alice garang, namun juga bercampur masam karena Alice masih tidak bisa menebaknya. Memukul sahabatnya dengan bantal, Lea berujar, kesal. "Kau bodoh sekali!" "Aku tidak tahu! Kau menyuruhku menebaknya, disaat ada banyak laki-laki yang ingin menemuimu!" decak Alice tidak kalah kesalnya. Dia kemudian mengambil kotak rokoknya, menghidupkan benda candu itu, sebelum menghisapnya disana. Lea terkekeh, mengambil rokok itu secara paksa dari Alice, lalu mengedikkan sebelah mata. Mengambil beberapa hisapan dengan benda nikmat itu, ia berujar. "Altair..." Alice tersedak asap rokoknya sendiri. Membulatkan mata tidak percaya, dia menggeleng. "s**t! b******n itu?! When? Where? Bagaimana bisa??!!" Lea mengedikkan bahu dan mulai menceritakan semua itu. Dari pertama Altair menemuinya di Bar dan semua yang b******n itu lakukan hari ini. "Ini gila, Lea! Setelah sekian lama? Dia kembali seolah-olah tanpa salah? Di Negara ini??" "Apa yang harus aku lakukan, Alice?" "Kau masih bertanya? Lupakan dia! Anggap saja sebagai pengunjung bar yang datang lalu pergi! Tunjukan bahwa kau sudah melupakannya!" pekik Alice geram. "Atau kau kencan saja dengan Benjamin, Jackob mereka pasti bersedia!" Alice menambahkan ide. Lea menggeleng detik itu juga. "Aku tidak mau!" "Ellard saja! Si tampan itu, bukankah kau juga menyukainya??" tuduh Alice kemudian. Dia tahu bagaimana pandangan Lea setiap kali melihat lelaki itu. Bohong jika sahabatnya itu mengatakan tidak suka, karena semuanya terlalu kentara sekali. "No Alice, aku tidak ingin berurusan dengan orang kaya lagi..." "Lea! Kau tahu Ellard sangat dewasa. Dia dambaan semua wanita," puji Alice pertama. "Dia bahkan sangat sopan." "Apa kau juga termasuk?" ledek Lea kemudian. Ia menyembur asap rokoknya di wajah sahabatnya itu. Membiarkan Alice merutuknya sebal. "Yeah, jika saja dia melirikku. Dia bahkan terus memusatkan perhatiannya padamu!" sahut Alice ketus. "Entahlah, Alice. Kepalaku sakit memikirkannya..." erang Lea kemudian. "Memikirkan apa? Ciumanmu dengan lelaki b******n itu? Atau kedatanganmu dengan Ellard pada pesta putri Laurels??" tuduh Alice lagi, dia terkekeh. Membuat Lea kembali memukul sahabatnya itu. "Awas kau!" ancam Lea. Lalu keduanya menghabiskan malam itu dengan merokok dan terkekeh sepanjang malam. Seperti yang setiap hari mereka lakukan setelah pulang kerja. Mungkin, Lea juga harus mengatakannya sekarang. Ia bukan lagi Lea yang dulu. Maka, semua orang harus menggaris bawahi itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD