Mungkin, perubahan akan menjadikan kita mengerti.
Ada luka yang tidak semudah itu menemukan obatnya.
Ada goresan yang tak sehebat itu untuk dihapus dalam sekali sentuhan.
Tapi perubahan--mengajarkanmu sesuatu yang jauh lebih berarti.
Kehilangan.
***
Menghentikan mobilnya di halaman rumah minimalis di hadapannya. Altair keluar dari mobil dengan kemeja dan jas yang sudah acak-acakan. Meminta sekretarisnya untuk menyelesaikan semua pekerjaan di kantor, karena kini Altair segergesa itu untuk melihat Lea, untuk menemui wanita itu.
Persetan mesekipun Lea tidak menginginkannya, karena Altair akan membuktikan bahwa dia akan mendapatkan wanita itu lagi.
Altair mulai melangkah dan mengetuk pintu kayu dihadapannya. Menghentakkan kaki dengan sabar, sementara kedua tangannya masih tersimpan rapi disaku celananya.
Tidak lama seorang wanita berambut sebahu keluar dari pintu utama. Meliriknya dengan tatapan tidak suka. Yang berhasil membuat Altair melonggarkan dasi kemejanya. Jengah.
Altair mengerutkan dahi. Menatap wanita itu bingung, dan berujar pertama. "Apa wanita bernama Lea tinggal di rumah ini?"
Wanita itu menggeleng cepat. "Tidak ada wanita bernama Lea di sini!" sahutnya ketus.
Altair memicingkan mata. Menggeleng kepala pelan, lalu terkekeh pada detik selanjutnya. "Jangan membohongiku. Aku tahu siapa yang tinggal di rumah ini."
"Kau salah orang! Pergilah ke tempat lain!" usir wanita itu ketus. Tidak peduli pada siapa yang tengah berdiri dihadapannya kini.
Tapi Altair tetap berdiri. Dia mengedikkan bahu tidak peduli, meskipun wanita itu terus mendesaknya untuk segera pergi.
"Jangan sampai aku berteriak, jika orang gila datang kerumahku!" rutuknya kesal. Merasakan tantangan serta adrenalinnya sedang diuji.
"Lakukanlah. Tidak akan ada yang percaya." sahut Altair cepat. Tidak pernah terintimidasi pada apa yang dihadapainya.
Membuat wanita dihadapannya menatap Altair dengan kilatan tajam.
"Alice? Ada apa?" tanya Lea, ketika ia sudah sampai di ambang pintu. Masih dengan rokok yang terpaut di bibirnya--Lea menoleh. Menemukan pemandangan yang menohoknya, detik itu juga ia memundurkan langkahnya.
"See? Jangan mencoba untuk membohongiku! Aku bisa membeli rumah ini jika ku mau." singgung Altair ketus. Menatap wanita berambut sebahu itu dengan pandangan mengejek.
"Sialan kau!" pekik Alice. Menggeram.
Membuat Lea menarik tangan sahabatnya itu. "Alice...sudahlah. Biar aku yang mengurus ini." pinta Lea.
Alice menatap Lea garang, menghela napas sebelum mengangguk dan memutuskan untuk berlalu dari sana. Menatap Altair ketus dengan tatapan penuh permusuhan.
Meninggalkan Altair yang sudah menggeleng ditempatnya. Dia bahkan baru mengenal wanita itu, tapi wanita berambut sebahu itu seperti akan membunuhnya. Sialan, bukankah itu artinya Lea sudah menceritakan tentang mereka pada wanita itu?
"Lea? Sejak kapan kau menjadi perokok?" tanya Altair pertama. Dia masih meneliti semua yang wanita di hadapanya lakukan. Dari caranya menghisap rokok, membuang asapnya dan sebentuk kegilaan lain yang Lea lakukan, benar-benar mengejutkannya. Membuat Altair menggeleng tidak percaya, karena Lea terlihat sudah terbiasa dengan itu semua.
"Bukan urusanmu! Apa yang kau lakukan di rumahku?!" sahutnya ketus. Menatap muak lelaki dihadapannya, karena moodnya sedang tidak baik.
"Aku ingin mengajakmu pergi." katanya pertama. Dia mendekat, menarik rokok yang di hisap Lea, lalu membuangnya asal.
"APA YANG KAU LAKUKAN b******n!!" teriak Lea gusar. Bagaimana perlakuan Altair membuatnya sangat-sangat muak. Membuatnya gusar, membuatnya geram pada fakta siapa mereka kali ini.
"Lea? Kenapa kau seperti ini?" erang Altair kemudian. Menggeleng tidak percaya pada semua kegilaan yang ditemuinya.
"Kau membuatku jijik. Pergilah sialan! Aku tidak punya urusan denganmu!" pekik Lea lagi. Bagaimana kesabarannya sudah diujung tanduk.
Lalu Altair menggeleng. Dia menarik kedua tangan Lea, merengkuh wanita itu dengan semua kekuatannya, dengan sisa harapannya, memaksa Lea untuk melihat semua kehancurannya.
Tapi Lea tidak diam lagi, ia meronta sekuat yang ia bisa. Menolak tubuh kekar itu, bahkan menghiraukan bagaimana kemeja dan jas lelaki itu sudah berantakan karena semua cakarannya. Karena semua amukannya.
"Aku tidak peduli apapun yang kau inginkan! Berhenti menggangguku! Lanjutkan hidupmu seperti biasa! Aku sudah punya kehidupan sendiri!" singgung Lea lagi. Menatap lelaki itu dengan penuh bara api, lalu ia melangkah masuk. Menutup pintu kayu itu dengan kasar dan menyenderkan diri pada dinding pintu tersebut. Merasakan jantungnya yang sudah berpacu gila.
Altair terdiam ditempatnya. Semua yang dilihatnya dalam diri Lea, benar-benar berbeda. Wanita itu--seperti bukan Lea yang dikenalnya.
Tapi Altair tahu, ini salahnya. Memang tidak ada yang memungkiri bahwa lima tahun, bukan waktu yang singkat. Menemukan Lea dalam semua perubahan yang sangat besar, juga sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Tapi ini benar-benar jauh dari dugaannya.
Altair tahu kemarahan yang Lea tunjukkan, kegusaran yang gadis itu perlihatkan, Altair memang salah, tapi tidak ada yang tahu bahwa segala yang dia lakukan hanya untuk gadis itu...
Altair menghela napas, jika hari ini kalah maka akan dia lakukan untuk hari-hari kedepannya. Dia melangkah pergi, memasuki mobil mewahnya kembali dan meninggalkan halaman rumah wanita itu dengan kegilaan yang semakin menjadi-jadi.
Dengan Lea yang kini sudah terdiam dari balik jendela. Menatap kepergian Altair, bahkan hingga mobil itu berbelok dan hilang dari pandangan. Ia menyapu dadanya, karena sesak itu mulai kembali menyerangnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alice ketika mereka berdua sudah berada di ruang tamu. Menghiraukan semua barang-barang yang berantakan disana, mereka merebahkan diri diatas sofa.
Lea menggeleng pelan. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." erang Lea frustasi. Ia memejamkan mata untuk semua pikiran yang sedang berkecamuk dikepalanya. Sekelabat perasaan itu, potongan memori mengenai mereka.
"b******n itu! Bagaimana dia tahu rumah kita?" rutuk Alice kesal. Masih terbayang semua percakapan menyebalkan dengan laki-laki yang Lea ceritakan itu.
"Begitulah. Dia selalu punya cara untuk mendapatkan semua yang dia inginkan." decak Lea lagi. Paham betul dengan segala keinginan yang selalu Altair prioritaskan.
"Tidak mengherankan jika dia tahu bar tempatmu bekerja." jelas Alice akhirnya. Dia mulai mengerti bagaimana pengaruh lelaki itu terhadap sahabatnya. "Maka dekati Ellard lebih keras lagi, lupakan b******n itu!"
"Alice, Ellard tidak mungkin menyukai wanita sepertiku." ucap Lea putus asa.
"Seperti apa?!" potong Alice cepat.
"Ish sudahlah! Aku harus bersiap-siap untuk kerja." jelas Lea dan mulai beranjak dari sana. Meninggalkan Alice yang sudah menatapnya masam.
"Ini masih terlalu awal untuk pergi kerja!" pekik Alice kemudian. Memaksa sahabatnya untuk tetap bertahan disana.
Lea terkekeh. "Aku ingin berjalan-jalan lebih dulu." singgungnya, merasakan bahwa ia sendiri butuh udara untuk berpikir jernih.
"Kemana? Kenapa tidak mengajakku?" protes Alice kesal.
"Kau terlalu banyak bicara." ledek Lea dan mulai menyiapkan diri. Menghiraukan semua protes dan rutukan keras dari sahabatnya itu.
Karena Alice tidak akan pernah behenti mengusiknya dengan semua ocehan konyol wanita itu.
"Lucu melihat pipimu memerah karena lelaki itu, Lea. Bukan kah kau membencinya?" ledek Alice kembali, tidak berhenti menggoda sahabatnya tersebut.
"s**t, ini karena cuaca sedang panas b***h. Tidak ada urusan dengan b******n itu!" geram Lea, membantah perkataan Alice, karena ia tidak akan pernah sudi mengakui itu.
Mengedipkan sebelah mata menggoda, Alice terkekeh geli sebelum berujar. "A-ah, karena cuaca ya? Aku tidak tahu kalau sekarang sedang musim panas. Bukankah bulan ini sudah memasuki musim dingin?!"
Menghela napas berat, Lea memutar bola matanya jengah sebelum memberi jari tengahnya, sebagai wujud protes untuk sahabatnya itu. "Pikirkanlah semua yang kau inginkan Alice. Aku tidak peduli dengan b******n itu lagi."
Alice membulatkan mata sebelum terkekeh didetik selanjutnya. Membuat Lea menggeram, hingga mereka berakhir dengan bergulat dan saling meledek tanpa berhenti.
***
Altair sudah berada disebuah bar kelas atas ditengah kota. Bukan bar biasa seperti tempat Lea bekerja. Ini lebih besar dan mewah dari Montana Bar. Hanya orang-orang terdaftar dan memiliki akses vvip yang berhak untuk masuk.
Altair duduk seorang diri pada pojok bar-- seperti biasa karena bagian ini sudah jadi hak milik atas namanya. Menghiraukan beberapa orang yang menyapanya, Altair terus meneguk red winenya dengan pikiran yang sangat kacau.
Sejak tadi, setelah meninggalkan rumah Lea. Seluruh pertanyaan masih menggantung di kepalanya. Sudah berapa lama wanita itu berada di Negara ini? Kenapa wanita itu menjadi sosok yang jauh dan berbeda? Lepas dan bebas, tidak tersentuh dan sulit untuk tergapai? Apa yang Altair lakukan hingga membuat wanita itu sehancur ini?
Seakan semua pertanyaan terus mengalun di kepalanya. Masih dengan jas yang terbalut di tubuhnya, Altair bahkan tidak datang kekantornya hari ini.
Lalu, lamunan Altair terhenti saat suara yang tidak asing itu kembali memecah keheningannya.
"Apa yang membuat seorang Kennedy berpikir keras seperti ini?"
Menengadahkan kepalanya, Altair menatap sahabatnya itu--gamang. "Aku harus bagaimana? Lea ada di sini?" erang Altair frustasi. Dia sudah meminta Sean untuk bertemu disini, mengingat lelaki itu memiliki urusan bisnis diNegara ini.
"Aku meninggalkan rapat lebih cepat karena panggilan darimu. Sekarang? Kau ingin mengajakku bergurau?" decak Sean malas. Dia sudah meneguk wine milik Altair dalam sekali tegukan. Menatap sahabatnya itu garang, karena itu sangat tidak mungkin.
"Lea ada disini, Los Angeles--negara ini." sahut Altair lagi. Dia menatap Sean dengan semua keputusasaannya.
Lalu Sean terkekeh. Memicingkan mata untuk menemukan keseriusan diwajah sahabatnya itu. "Kau mabuk hanya karena segelas wine ini?"
Altair menggeleng cepat. "Aku serius bodoh!"
"Apa aku harus menghubungi Zach, untuk menjemputmu pulang?" yakin Sean lagi. Merasa bahwa Altair benar-benar sudah kacau.
"Aku bersumpah Sean! Aku tidak punya waktu untuk membicarakan hal-hal tidak penting. Kau tahu itu!" timpal Altair gusar.
Sean kembali menatap sahabatnya. Bagaimana penampilan Altair terlihat sangat kacau, dia meneliti itu kembali. Mencari-cari kebenaran, karena itu sesuatu yang tidak masuk akal. "Lea? Lea Caesario itu?" tanya Sean memastikan. "Wanita yang dulu kau tinggalkan dan sekarang tidak ada kabar?" cetusnya memperjelas.
Altair mengangguk mantap. Membuat Sean melepas jas yang sejak tadi masih melekat di tubuhnya. Dia merasa ini akan menjadi pembicaraan yang panjang.
"Bagaimana mungkin? Di Negara sebesar ini? Kau bertemu dengannya?" tanya Sean pertama. Kali ini dia mengatur wajahnya untuk lebih serius.
"Aku melihatnya di pesta Laurels. Kupikir aku mabuk malam itu, jadi aku membiarkannya." cerita Altair pertama. Mengingat dengan jelas bagaimana lekukan tebuh Lea masih membekas di kepalanya.
"Dan kau yakin itu Lea? Mungkin kau terlalu banyak minum bodoh." singgung Sean lagi. Masih tidak percaya pada apa yang dikatakan sahabatnya itu.
"Aku meminta Zach mencari tahu semuanya. Dan benar, itu Lea--wanita itu." yakin Altair lagi. Bagaimana ingatannya tertampar pada semua kejadian lima tahun lalu.
"Dia masih mengenalmu??" tanya Sean bodoh. Dia sudah meneguk kembali segelas wine yang berjejer rapi di atas meja keduanya.
Altair mengangguk. "Tapi dia menjadi sosok yang berbeda..." jawab Altair putus asa.
"Kenapa? Dia memilih menjadi laki-laki?" tuduh Sean geli. Berusaha mencairkan suasana.
"Berhenti bergurau Sean." titah Altair malas.
Membuat Sean terkekeh melihat sahabatnya itu. Setelah bertahun-tahun lamanya, menemukan Altair menjadi orang berhasil di Negara ini, membuatnya bangga dan juga lega.
"Oke aku minta maaf. Kenapa dengan Lea?"
"Dia bekerja di Montana Bar. Menjadi seorang wanita yang menemani para pelanggan untuk minum-minum..." jelas Altair pertama. "Dia perokok. Dan dia...benar-benar bukan Lea yang kukenal."
Sean menghela napas panjang. "Tidak ada yang salah dengan itu, Altair. Kau sudah meninggalkannya terlalu lama, jika dia seperti itu--bukan sesutu yang mengejutkan."
"Tapi dia tidak seperti itu, dulu." erang Altair putus asa.
"Kau tidak pernah tahu alasan apa yang membuatnya mengambil jalan itu." potong Sean memperjelas. "A-ah, ini alasan aku tidak menemukan keberadaannya di Indonesia? Karena wanita itu berada di sini!"
"Sean, apa yang harus aku lakukan?" tanya Altair lagi, begitu terdengar putus asa. Tidak tahu harus bagaimana. Menemukan Lea menatapnya dengan sorot kebencian, membuat semua pertahanannya hancur.
"Kau ingin bagaimana? Usiamu sudah 27 tahun. Kau bukan lagi anak-anak seperti dulu, jika kau ingin mempermainkannya maka lupakan." jelas Sean pertama. "Biarkan dia menjalani hidupnya."
Lalu Altair terdiam. Mencerna semua yang sahabatnya itu katakan sebelum berdiri dan mengambil jas yang sudah di lemparnya di meja sebelah.
"Aku harus pergi." ucap Altair pertama.
"Si singong ini! Kau memaksaku datang kemari. Aku meninggalkan rapat dengan para Klienku dan kau ingin pergi begitu saja?" rutuk Sean kesal.
Altair melempar blackcard miliknya. "Bayarlah, aku benar-benar harus pergi." ujarnya dan mulai meninggalkan Sean.
"b******n! Kau pikir aku tidak punya uang untuk membayar semua ini? Dasar Kennedy sialan!" pekiknya geram.
Tapi percuma karena Altair sudah benar-benar berlalu dari sana. Meninggalkan Sean yang tersenyum geli, untuk semua yang didengarnya. Dia tahu apa yang akan si songong itu lakukan. Karena hingga hari ini, dia tahu Altair masih menginginkan wanita itu.
Altair keluar dari bar dan langsung di sambut oleh Zach--asistennya. Lelaki itu sudah membuka pintu mobil untuknya, memastikan tuannya masuk, Zach-- mulai menderu mobilnya.
"Apa kau sudah melakukan semua yang ku pinta?" tanya Altair pertama. Dia sudah fokus pada benda persegi di tangannya, memperhatikan ipad itu yang sedang menampilkan data-data penting perusahaan.
"Sudah Tuan. Saya sudah melakukan semua yang tuan perintahkan." sahutnya sopan. Zach--mengendarakan mobil itu pada kecepatan sedang, mengingat tuan majikannya itu tidak senang berlama-lama di jalanan.
"Baiklah. Apa wanita itu tahu aku yang menyewanya untuk minum malam ini?" tanya Altair lagi. Dia sudah merebahkan diri pada bantalan kursi. Benar-benar gila hanya memikirkan pekerjaan Lea.
"Tidak Tuan. Saya memesan dengan nama Tuan Ataya." jelasnya sopan.
Membuat Altair mengangguk dan mulai memejamkan mata. Membiarkan Zach menderu mobilnya menuju--Montana Bar.
Jika memang harus dengan cara itu membuat wanitanya kembali, akan Altair lakukan. Karena menemukan Lea berada di sini, di Negara yang sama dengannya, tidak ada yang Altair inginkan selain mendapatkan wanita itu kembali.
"Tuan kita sudah sampai." ucap Zach sopan. Dia telah turun dari mobilnya, membuka pintu untuk tuannya itu lalu membungkuk hormat.
Altair sudah turun dari mobilnya, merapikan kemejanya yang kusut dengan tangannya, lalu kembali mengenakan jas hitam miliknya. Dia menoleh pada asistennya, menatap Zach yang masih membungkuk terhadapnya, sebelum berujar. "Zach, sepertinya aku harus membeli bar ini. Aku menginginkan salah satu wanita yang bekerja di dalam sana."
Zach kembali mengangguk hormat. Untuk yang pertama kalinya, setelah bertahun-tahun kerja--baru kali ini Zach mendengar Tuannya itu menginginkan seorang wanita lagi. Hingga tanpa sadar bibirnya ikut mengukir senyum. "Baik tuan. Akan saya urus."
Lalu Altair mulai melangkah masuk. Membiarkan semua penjaga dan pengawal di bar itu membungkuk terhadapnya, kemudian Altair melewatinya dan masuk ke ruangan lebih dalam.
Melewati beberapa pintu, hingga sampai di ruangan terujung. Ruangan VVIP yang hanya bisa dimasuki orang-orang tertentu dengan bayaran yang juga sangat menggiurkan. Setidaknya itu yang Altair dapat ketika mencari tahu tentang bar tersebut.
Altair sudah duduk seraya memainkan handphonenya dengan bosan. Sudah lima menit dan wanita yang di tunggunya belum juga tiba.
Jika saja bukan karena wanita itu, Altair bersumpah akan mengumpat cara kerja di bar ini. Benar-benar sangat buruk dan tidak tepat waktu.
Pintu terketuk pertama. Lalu seorang wanita dengan dress di atas paha dan d**a jenjang yang diperlihatkan sempurna, membuat Altair meneguk salivanya.
Altair bersumpah, dia sudah menemukan banyak sekali wanita yang lebih seksi dari pada ini. Tapi hanya wanita itu yang mampu membangun mahkota Altair. Membuatnya menggeleng karena selama ini, jantungnya tidak pernah berdegup kencang.
"Maaf tuan sudah menunggu lama." ujar wanita itu pertama. Ia menutup pintu kembali sebelum menoleh pada seorang laki-laki yang sudah menatapnya--gamang.
Lantas dalam hitungan detik semua wine yang dibawanya jatuh ke lantai. Lea menatap lelaki dihadapannya dengan gusar dan juga kaget. Lalu ia duduk untuk membersihkan semua kekacauan yang dibuatnya, ketika sebuah tangan terulur menariknya.
"Jangan melukai tanganmu karena membersihkan itu." titah Altair pertama. Dia sudah menatap Lea--lekat.
Membuat Lea berdiri dan membalas tatapan lelaki itu dengan garang. "Apa yang kau lakukan disini?!" teriaknya berang.
"Menemuimu. Kau mengusirku dari rumahmu. Lantas, harus bagaimana lagi aku bisa melihatmu?"
"Aku tidak main-main. Aku sedang kerja! Pergilah! Kau mengacaukan semuanya!" pekik Lea lagi. Benar-benar tidak habis pikir sama apa yang laki-laki dihadapannya ini lakukan.
"Lea...biar aku menjelaskan semuanya." mohonnya kemudian.
Lea menggeleng. "Aku tidak butuh mendengar apa-apa lagi. Sudahlah jika kau tidak pergi, maka aku yang akan pergi!" ancam Lea kemudian. Ia sudah berbalik badan dan ingin berlalu.
"Kau akan pergi?" kekeh Altair pertama. Merasa tertantang pada setiap kemarahan wanita itu. "Lakukanlah. Aku tidak yakin sebanyak apa kau harus ganti rugi, kau tidak tahu betapa banyak uang yang aku keluarkan untuk menyewamu!" sindirnya sarkas.
Membuat Lea kembali menatap Altair garang. Lea tahu, jika saja ia punya kekuatan lebih untuk mengganti semua bayaran yang lelaki itu berikan. Tapi Lea sadar, ia tidak akan mampu mengingat betapa mahalnya bayaran di sini dan betapa garangnya pemilik bar tempatnya bekerja ini.
Lea hanya ingin bekerja dengan baik dan mendapatkan bayaran yang setimpal, mengingat semua yang dilakukannya ini karena ia hanya butuh uang.
Lalu menghela napas panjang. Ia menatap lelaki dihadapannya penuh kemarahan. "Apa yang kau inginkan?"
"Menjelaskan semuanya kepadamu, Lea. Aku hanya ingin itu." sahut Altair cepat. Membiarkan Lea melihat bagaimana semua keputusasaannya selama ini.
"Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Kumohon, aku sudah melupakannya." erang Lea kemudian. Benar-benar tidak ingin mengingat masa lalu sialan itu.
"Ta--pi, de--"
"Sudahlah, aku akan menemanimu minum karena itu tugasku berada di sini. Hanya minum dan jangan membahas masalah itu lagi." jelas Lea. Ia menatap Altair tajam, melihat bagaimana wajah itu semakin dewasa. "Biar aku mengambil minuman lagi, setelah itu aku kembali." jelasnya dan berlalu dari sana.
Meninggalkan Altair yang sudah menatap punggung itu dengan pikiran yang benar-benar gila.
Tapi menemukan Lea masih bertahan disana, itu mungkin sudah cukup membuatnya tenang dan juga nyaman.
Hingga beberapa menit berlalu itu, Altair hanya terus membayangkan bagaimana dia ingin mendapatkan Lea lagi dan lagi.
"Silahkan. Minumlah..." kata Lea ketika ia sudah kembali dengan beberapa wine di tangannya.
Altair terkekeh, membiarkan Lea duduk dihadapannya. Tapi matanya tidak sedikitpun berpaling ke arah lain. "Apa seperti itu caramu melayani orang? Bar ini benar-benar kacau." ledek Altair pertama.
"Karena orang itu adalah kau." sahut Lea cepat. Malas meladeni setiap perkataan lelaki itu.
Lalu Altair meringis. Membayangkan bagaimana setiap hari wanita dihadapannya ini menemani semua laki-laki yang berkunjung. Gila. Altair bahkan tidak siap membayangkannya.
"Kau juga duduk sejauh ini dengan para pengunjung yang kau temui?" tutur Altair lagi.
Membuat Lea menatapnya garang. "Karena orang itu kau! Sudah kukatakan, jangan terus membuatku mengulanginya!" rutuk Lea kesal.
Dengan Altair yang sudah terkekeh dihadapannya. Selalu saja, wanita itu berhasil membuatnya bahagia dengan caranya. "Kau masih saja d***u seperti dulu..."
"Bukan urusanmu bodoh!" sahut Lea tidak mau kalah.
"Kau tidak ingin bertanya apa-apa?" tantang Altair kemudian. Dia terus memperhatikan setiap gerakan yang Lea lakukan. Menatap wanita itu dengan penuh dambaan, lalu terbuai pada pesonanya malam ini.
"Tidak ingin tahu." decak Lea judes. Ia sudah mengeluarkan rokoknya, menyimpan benda itu di bibirnya dan mencari pemantiknya yang tiba-tiba lenyap.
"Kau mencari ini?" kata Altair. Dia menunjukkan sebuah pemantik berwarna pink metalic ditangannya. Memutar-mutar benda persegi itu dengan senyum mengejek.
"Berikan padaku!" pinta Lea memaksa.
Lalu Altair menggeleng. "Ambilah sendiri!" katanya.
Membuat Lea mendengus dan mulai melangkah mendekati lelaki itu. "Sini!"
Tapi Altair masih menggeleng. Dia bersikeras untuk tidak membiarkan wanita itu merokok dihadapannya.
Altair mengangkat tangannya ke kanan, membuat Lea mengikuti setiap gerakan yang laki-laki itu lakukan. Tapi sialan, Altair hanya mengecohnya sejak tadi.
Lalu Lea memutuskan untuk membiarkan itu, karena berada dalam jarak sedekat itu membuatnya sulit bernapas. Ketika baru saja Lea hendak melangkah kembali, kakinya bersenggolan dengan kaki Altair, hingga membuatnya oleng.
Lantas Altair sigap untuk meraih tubuh itu. Membawa tubuh Lea di atas pangkuannya, lalu menatap wanita itu dengan keterkejutan yang sama besarnya.
Jarak mereka sangat dekat, sehingga detak jantung itu bahkan terdengar begitu cepat. Seperti memompa untuk memperlihatkan siapa yang akan meledak lebih dulu.
Mereka bertatapan, mengunci pandangan penuh tanya itu tanpa tujuan. Membiarkan tatapan itu bertahan untuk menemukan siapa pemenangnya. Seperti saling menginginkan, tapi terkalahkan pada apa yang terjadi.
Lalu Lea mengalihkan pertama. Dia mendorong tubuh lelaki dihadapannya, lalu turun dari pangkuan Altair. Kembali ketempatnya semula, dan meneguk sebotol wine itu dalam sekali tegukan.
Membiarkan Altair melihatnya dengan penuh keinginan. "Lea..."
"Tidak ada pembahasan tentang kita. Itu peraturan." yakin Lea. Membuat Altair menatapnya sendu.
"Berhentilah merokok. Itu tidak bagus untukmu." pesannya.
Tapi Lea terkekeh. Jika saja lelaki b******n ini tahu sesakit apa yang ia rasakan dulu. Apa saja yang telah di lewatinya selama itu. "Tubuhku bukan urusanmu lagi. Jadi berhenti seolah-olah kau paling tahu segalanya. Kau menjijikan, Altair." sahut Lea puas. Menatap Altair remeh, karena ia tidak akan pernah membiarkan lelaki itu berpikir untuk menjadikannya jalang lagi.
Lantas malam itu, mereka menghabiskan berbotol-botol wine dalam diam. Saling pandang seakan semuanya akan terjawab. Tapi salah, mereka hanya mencoba bertahan dengan sunyi yang mencekam itu.
Lalu selesai dengan Altair. Lea menghela napas panjang. Ia pikir lelaki itu sudah pulang mengingat ini sudah hampir memasuki dini hari.
Lea keluar dari bar, menemukan lelaki itu masih menunggunya didepan. Setidaknya itu yang dapat Lea tebak. Ketika Altair mendekat, membuat Lea memundurkan langkahnya lagi. Karena pekerjaannya menemani lelaki itu sudah selesai.
"Biarkan aku mengantarmu pulang, Lea." ucapnya memohon.
Lea menggeleng. "Aku bisa pulang sendiri."
"Ini sudah larut. Pulanglah denganku, aku akan mengantarmu dengan selamat." yakin Altair lagi. Dia sudah menyerahkan jasnya pada Lea. Menatap tidak suka pada pakaian terbuka yang wanita itu kenakan.
Tapi Lea menepisnya. Melempar kembali jas tersebut, dan berujar sarkas. "Aku tidak butuh jas itu. Kenakan dan pergilah!"
Hingga sebuah mobil berhenti didepan keduanya, Altair dan Lea menoleh untuk melihat siapa yang datang selarut ini.
"Lea? Kau sudah pulang?" tanya seorang laki-laki dengan jas yang masih rapi ditubuhnya. Dia turun untuk meraih wanita itu dalam rengkuhannya.
Lantas Lea menoleh, mendapati Ellard yang baru turun dari Bugatti Divonya, Lea mendekat dan memekik nyaring. "Ellard! Kau sudah datang?" jawabnya senang. Lalu ia meninggalkan Altair begitu saja dan mulai memasuki mobil Ellard.
Membiarkan Altair menatapnya tajam. Tapi Lea tidak peduli. Benar-benar perbedaan yang sangat kontras dari cara bicaranya.
Altair terkekeh, apalagi ketika mobil itu berlalu dan hilang dari pandangan. Membuatnya meringis dan mengepal tangannya kuat.
Sialan!
***