Pada nama-nama yang sudah tersusun rapi,
kita bisa mengelabuhinya tanpa henti.
Seperti perasaan kita yang sengaja di hilangkan tanpa arti.
Lalu kembali seperti tidak ada yang terjadi.
Padahal kita tidak tahu,
sebanyak apa penantian itu mengikis janji.
***
Altair terbangun dengan kepala pening dan tubuh berbau alkohol. Semalam, setelah Lea meninggalkannya dan pulang bersama Hadley sialan itu, Altair berakhir mabuk dengan sangat gila-gilaan. Ada banyak kegilaan yang mengusiknya, segala hal mengenai Lea yang entah sampai kapan mampu dia tahan.
Seperti tidak terima pada apa yang wanita itu lakukan, padahal dia menyakiti Lea lebih parah dari itu?
Altair memijat kening dan pangkal kepalanya bergantian, benar-benar konyol karena segalanya seperti mencekik pertahanannya. Bukan ini yang dia inginkan.
Tapi ketika ketukan dari pintu kamarnya terdengar, Altair menormalkan kondisinya.
Dia berdeham sesaat, lalu Zach--asistennya masuk perlahan dan sudah membungkuk hormat dengan setelan yang rapi. "Permisi tuan, maaf menganggu waktumu. Tapi hari ini Tuan harus menghadiri pertemuan dengan rekan dari Spanyol." ingat Zack pertama, menekankan itu agar Tuannya mengerti.
Altair meringis, melupakan semua pekerjaanya, bahkan membiarkan itu terbengkalai sejak pertama kali tahu Lea berada di sini. Seperti kehadiran wanita itu mengacaukan semuanya, mengusik pertahanannya, membiarkannya terbendung dengan perasaan kalut dan bersalah. Altair masih menginginkan wanita itu, keinginan yang tidak pernah ada habisnya.
Lalu Altair mengangguk, mengisyaratan bahwa dia mengerti.
"Dan soal Montana Bar, sepertinya akan sulit untuk membelinya. Anak dari pemilik bar itu tidak ingin menjualnya, Tuan." jelas Zach lagi. Mengingat usaha yang sudah dikerahkannya semalam--berakhir gagal. "Sepertinya anak pemilik Montana Bar tersebut masih bersikeras dengan pendiriannya, Tuan."
Altair angkat dari tidurnya. Dia menghela napas panjang. Menatap Zack dengan malas, lalu berujar. "Kau tahu aku tidak suka mendapatkan penolakan." singgung Altair pertama. Menatap asistennya itu tajam. "Hanya bar sekecil itu kau tidak mampu mengurusnya?" sambungnya ketus.
Membuat Zach menundukkan kepala lebih dalam. Merasa bersalah karena pekerjaannya tidak benar. "Maafkan saya Tuan. Saya akan mengurusnya lagi kali ini." ucapnya takut-takut.
Lalu Altair mengangguk, dia angkat dari ranjangnya untuk segera bersiap-siap. "Jangan mengatakan sesuatu yang mengecewakan, aku tidak suka mendengarnya." titahnya seraya berlalu memasuki kamar mandi.
Meninggalkan Zach yang sudah meringis, sangat terbiasa dengan kegilaan majikannya itu. Paham dan tahu betul bahwa apapun yang tuannya itu inginkan maka harus dia dapatkan.
Tidak lama Altair sudah selesai dengan urusan mandi, dia kini terdiam didalam walk in closet miliknya. Memilih dasi yang pas untuk dia kenakan pada pertemuan kali ini. Lantas, setelah memantapkan pilihan pada dasi berwarna hitam, dia melangkah pergi. Tidak melupakan jam tangan Patek Philippe yang sudah terpampang indah di pergelangan tangannya.
Altair keluar dan menemukan Zach sudah menunggunya mantap, lalu mereka melangkah menuju parkiran manssion ini.
Bahkan sepanjang perjalanan menuju Perusahaannya, Altair di pusingkan dengan semua pekerjaan yang terus menerus berdatangan dilayar ipadnya. Tidak lelah membuatnya tenang barang sehari.
Seperti tidak pernah berhenti karena selama bertahun-tahun ini, hidupnya hanya untuk kerja dan kerja. Setidaknya itulah yang Altair lakukan sebelum menemukan--Lea. Karena kini pekerjaannya yang paling utama hanya satu, memikirkan wanita itu. Mendambanya semampu yang dia bisa. Dan mendapatkannya sampai gila.
Altair tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia menjalani hari-hari seperti biasa. Berkutat dengan semua pekerjaan, menghadiri rapat dan melakukan pertemuan dengan para Pengusaha lainnya. Pergi ke club bersama Arion dan Axel, atau meminta anak-anak Carswell untuk datang ke Los Angeles, jika memang dia merindukan para sahabatnya di Indonesia itu.
Selama bertahun-tahun pula, Altair mencoba lupa pada sosok Lea. Mengenyahkan pikirannya setiap kali wajah wanita itu berputar di kepalanya. Dan terus melanjutkan hari-hari membosankan itu seperti biasa.
Ini bukan salahnya, Altair benar-benar tidak tahu bahwa merindukan wanita itu nyaris membuatnya mati. Jika saja Altair punya pilihan, jika saja ia tahu apa sebenarnya yang ia lakukan.
Lalu menemukan wanita itu lagi dengan semua yang berbeda, benar-benar menampar Altair pada kenyataan, sejauh apa dia melukai wanita itu? Lantas, hanya itu alasan yang membuat Altair yakin, hingga hari ini Lea memang tidak pernah hilang dari pikirannya--atau bahkan hatinya.
"Tuan?" tegur Zach lagi. Sudah yang ketiga kalinya dia menegur majikannya itu.
"Y--a,?" sahut Altair gelagapan. Berlonjak karena teguran dari Zach, menghancurkan lamunannya. Buru-buru Altair menyadarkan dirinya.
"Handphone tuan berbunyi sejak tadi. Sepertinya sesuatu yang penting." ucap Zach kemudian, berusaha untuk menyadarkan Tuan Majikannya itu.
Altair mengangguk, lalu mulai menerima panggilan itu.
See, hanya karena beberapa detik pikirannya berputar pada Lea, Altair bahkan sudah melupakan semua pekerjaannya.
***
Langit cerah Los Angeles menyambut pagi Lea dengan tenang. Lagu-lagu kesukaannya mengalun dengan jelas dari speaker kecil yang dibawanya dari Indonesia dulu.
Lea sudah siap dengan baju kaos dan celana trining, sesuatu yang tidak berubah sejak ia pertama kali datang ke Negara ini--lari pagi.
Lea menepuk tangan puas ketika ikatan terakhir tali sepatunya berhasil ia selesaikan. Memutar-mutar tubuh pada setiap lantunan lagu yang terus berganti.
"Alice! Cepatlah, kau ikut atau tidak?" rutuk Lea kesal pada sahabatnya. Selalu saja Alice menjadi penghambat setiap kali ia ingin bergegas cepat.
"Ya, ya. Wait! Aku sedang memasang alisku!" sahut Alice nyaring. Bagaimana Lea mendesaknya, membuatnya melakukan semua itu dengan cepat.
"Kau hanya akan lari pagi, tidak perlu berdandan seheboh itu!" rutuk Lea lagi. Benar-benar tidak habis pikir pada jalan pikiran sahabatnya itu. Selalu saja, Alice-lah pengacau kegiatan mereka.
Tidak ada jawaban. Tapi tidak lama Alice keluar, menatap Lea masam dengan bibir ditekuk habis-habisan. "Aku hanya memoles sedikit wajahku! Kau selalu tidak sabaran!"
"Oh c'mon, sudah lima lagu berganti dan kau bahkan belum selesai bersiap-siap Alice." jawab Lea lagi, menggeleng tidak percaya. "Dan lima lagu kau bilang itu sebentar?"
Alice mengerutkan dahinya. Menatap Lea malas. "Kau terlalu perhitungan!"
"Perhitungan??" beo Lea. Menggeleng tidak percaya. "Bahkan nasi bisa berubah jadi bubur setiap menunggumu."
"Ish Sudahlah--tidak ada habisnya berdebat denganmu!" decak Alice kesal. Membuat Lea terkekeh dan mulai mendesak Alice untuk segera mengenakan sepatunya.
Lalu--setelah semuanya siap, Lea langsung menarik Alice untuk segera berlari. Melewati rute-rute mereka seperti biasa, dengan pikiran yang sudah bercampur menjadi satu.
"Sepertinya aku melihat sesuatu yang mengejutkan di depan bar semalam." ledek Alice pertama. Tidak melupakan fakta bahwa mereka kerja di tempat yang sama.
Membuat Lea memelankan langkah larinya. Menatap Alice garang, yang di balas kekehan geli oleh sahabatnya itu.
"Tidak ingin mengatakan apa-apa tentang semalam? Ellard dan Altair di tempat yang sama?" ledek Alice lagi. Bagaimana senyum mengejek sudah ia layangkan pada wanita di sebelahnya.
"Tidak ada yang perlu dikatakan." sela Lea pertama. "Diamlah Alice, kau benar-benar sangat berisik." decak Lea kesal. Malas meladeni sahabatnya itu, karena ia juga tidak tahu harus berkata apa.
"Yasudah, Lea. Aku malas melanjutkan lari ini!" balas Alice keki. Dia sudah berbalik badan untuk kembali ke rumah mereka.
Tapi Lea menahannya. "Dasar, tukang marah!" rutuknya kesal. "Kau benar-benar menyebalkan!"
Membuat Alice tersenyum puas. "Ceritakanlah, aku penasaran sejak semalam. Kau bahkan sudah tidur ketika aku pulang."
Lalu mereka berlari pelan, seiring dengan cerita yang mulai Lea sampaikan. Kegilaan yang dilewatinya semalam, lalu kedatangan Ellard yang tiba-tiba mengejutkannya.
Lea tidak tahu bagian mana sebenarnya yang ia pikirkan, entah karena Ellard, atau karena Altair. Tapi Lea menggeleng cepat. Tidak, tidak boleh. Ada banyak hal yang harus ia lakukan daripada mempermasalahkan hal-hal konyol itu.
"Sepertinya...aku akan memilih Ellard." kekeh Alice kemudian. Bagaimana cerita Lea membuatnya geli pada semua yang sahabatnya itu lewati. "Tampan, mempesona, ka--"
"Kaya raya, baik, sopan--seperti pangeran." beo Lea. "Aku tahu semua yang akan kau katakan tentang Ellard." sambungnya. Selalu, Alice selalu mengatakan itu setiap kali sahabatnya itu mendambakan Ellard.
Sementara Alice sudah terkekeh geli. "Serius bodoh! Lihat--semua kesempurnaan ada pada Ellard!" sahutnya kembali. "Wajahnya, kebaikannya, kau tidak berpikir bagaimana jika kau mendapatkannya?"
"Entahlah. Aku belum memikirkan itu." sahut Lea malas. Ia terus berlari kecil, menghiraukan peluh yang mulai menetes dari dahinya. Alice tidak akan berhenti mendesaknya setiap kali membahas sesuatu.
Menaikkan kedua alisnya, Alice terkekeh. "Belum memikirkan itu huh?" ledeknya kembali. "Kurasa kau memimpikan Ellard setiap malam. Sebelum si b******n itu datang, kau bertingkah aneh. Atau kau masih mencintainya?"
Lea menghentikan larinya detik itu juga. Menatap Alice garang, sebelum berujar. "Aku bahkan tidak mengenalnya, lagi."
"Benarkah? Bahkan ketika kau menutup pintu kemarin, kau masih mengintipnya dari jendela." kekeh Alice lagi. Tidak pernah berhenti untuk mengusik sahabatnya itu. Menggoda Lea sampai kesal. "Wajahmu, seperti memberitahu satu dunia bahwa kau merindukannya."
"Aku hanya memastikan dia pergi..." lirih Lea kemudian. "Tidak ada pikiran lain untuk b******n itu." sambungnya. Walaupun Lea sendiri tidak menyadari apa sebenarnya yang ia katakan.
"Memastikan dia pergi? Atau kau menahan untuk tidak memeluknya?" goda Alice. Masih bersikeras pada pendiriannya. "Aku mengenalmu, Lea. Lebih dari siapapun."
"Sialan kau, Alice!" pekik Lea. Karena kini sahabatnya itu sudah berlari menjauh. "Berhenti mengarang!"
"Aku tahu, sepertinya ada yang belum bisa melupakan mantan kekasihnya." goda Alice tanpa henti. Membiarkan Lea menatapnya masam. Tapi dia senang menggoda sahabatnya itu. "Kau masih merindukannya?"
"Aku sudah melupakan b******n itu!" teriak Lea meyakinkan. Membuat Alice tertawa dan menjadikan mereka berakhir kejar-kejaran. "Tidak ada bagian penting yang harus kuingat tentangnya."
"Tapi kurasa--"
"Diam, Alice." potong Lea cepat. Tahu apa yang akan dikatakan sahabatnya itu. "Membuang-buang waktu membicarakan lelaki itu.
"Apa itu juga berlaku untuk Ellard?" goda Alice kembali. Mengedipkan sebelah mata menggoda.
"Tidak keberatan untuk yang satu itu." ujar Lea geli. Membuat Alice terkekeh.
"Aku tetap memilih Ellard sampai akhir!" yakin Alice akhirnya, menghentikan larian kecilnya setelah merasakan napasnya sudah hampir habis.
"Up to you, b***h!" sahut Lea. Lalu mereka berpegangan tangan sepanjang jalanan lenggang yang mereka lewati. Tertawa tanpa henti seakan hidup mereka akan selalu sebebas ini.
Setidaknya, bertemu Alice adalah bagian terbaik yang kini Lea lewati dalam hidupnya.
***
Altair sudah berhenti di gedung mewah milik keluarga Laurels. Mungkin gedung ini setara dengan gedung yang di miliki Kennedy dan juga Hadley, mengingat bagaimana pengaruh tiga perusahaan itu terhadap Los Angeles.
Hadley--nama itu bahkan bisa membuat Altair menggeram setiap kali mengingatnya. Untuk apa lelaki itu mendekati Lea? Sialan! Karena memikirkannya saja membuat Altair gusar.
Tadi, setelah Clara menghubunginya dan mengatakan bahwa wanita itu membutuhkan bantuan, disinilah Altair akhirnya.
Bahkan ketika Zach baru saja membuka pintu mobil untuknya--seorang karyawan wanita sudah menyambutnya ramah, dengan tatapan yang Altair simpulkan seperti berusaha menggodanya. Tapi tidak ada keramah tamahan yang Altair tunjukkan, karena ia benar-benar muak.
"Permisi Mr.Kennedy, silahkan ikut saya ke ruangan Nyonya Clara." ucap seorang karyawan wanita pertama, masih menunduk sopan.
Membuat Altair mengangguk dan mulai melangkah mengikutinya. Membiarkan Zach--menunggunya di lobi utama gedung ini.
Bagaimana karyawan wanita itu melekukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan sengaja, bergaya seperti sesuatu yang menggiurkan dengan rok diatas paha, lalu berharap Altair tergoda pada apa yang dilakukannya. Tapi Altair meringis, tersenyum kecut karena itu malah terlihat memuakkan.
Hell, Altair bahkan tidak peduli pada apa yang wanita itu lakukan. Tidak pernah ada wanita lain. Pada satu relungnya yang dalam, Altair masih menyimpan ruang itu untuk satu nama yang sampai kini masih bertahan disana. Dibiarkannya untuk waktu yang lama.
Kemudian mereka memasuki lift, menekan tombol lantai teratas, Altair memperhatikan apa yang karyawan wanita itu lakukan. Bagaimana dia membuka setiap pembicaraan yang sama sekali tidak digubris Altair.
Lalu Altair memutuskan untuk membuka handphonenya. Memperhatikan objek paling disukainya hingga hari ini. Semua foto--Lea yang berhasil ia dapatkan dari orang suruhannya untuk mengikuti setiap gerak gerik wanita itu.
Altair tahu itu salah, tapi hanya dengan cara itu ia mampu mengatasi kemarahannya. Kemarahan tak berdasar atas kepergian Lea. Padahal ia sendiri penyebab semua itu terjadi. Konyol, karena Altair bahkan tidak berhenti membayangkan Lea dalam hidupnya.
Akhirnya ketika lift berhenti di lantai teratas. Mereka keluar dan melangkah pada pojok ruangan. Melewati seluruh karyawan di sana yang menatapnya--kagum.
Altair membiarkan bagaimana tatapan para karyawan wanita di sana menatapnya--seperti penuh keinginan. Dia terkekeh geli, lalu sengaja merapikan kemeja dan jasnya yang acak-acakan. Bahkan bagaimana karwayan wanita disana menjerit--hanya karena langkah kakinya. Altair menghela napas malas.
"Ini ruangan Nyonya Clara, Tuan." ucap karyawan wanita yang menyambut dan mengantarnya sejak tadi. "Sampai jumpa..."
Lalu Altair mengangguk dan mulai melangkah masuk. Menemukan Clara yang sudah duduk manis menatapnya dengan kekehan geli seperti biasa.
"Mr. Kennedy. Apa kesan pertama datang ke kantorku?" tanyanya mengejek. Dia menyunggingkan senyum geli, apalagi saat melihat Altair merenggengkan dasinya jengah. "A-ah, menyenangkan bukan?"
"Seperti melewati asrama wanita. Karyawan wanitamu melihatku seperti ingin melahapku." rutuk Altair kesal. Dia sudah meneguk segelas wine nganggur yang ada didepannya. Tahu bahwa mungkin Clara sudah menyiapkan itu untuknya. "Benar-benar gila."
Clara terkekeh mendengarkan itu. "Kau ingin aku memecat wanita-wanita itu?" tantang Clara pertama. Bagaimana dia sudah mengenal lelaki di hadapannya ini, bahkan ketika mereka baru pertama terjun ke dunia Bisnis. "Haruskah?"
"Maka kau harus siap kehilangan semua karyawanmu itu." jawab Altair puas. Dia sudah mengedikkan sebelah mata bangga.
"Kesongonganmu tidak pernah hilang, Mr.Kennedy." timpal Clara lagi. Dia kembali mencurahkan segelas wine untuk lelaki dihadapannya.
"Yes, I'm." jawab Altair cepat. "Kau juga tidak pernah berubah Ms.Laurels."
Membuat Clara mendengus dan menatap lelaki itu geli. "Sepertinya mereka tahu siapa yang datang."
Altair mengedipkan sebelah mata. "Semua orang juga tahu."
Clara mendecih sebelum menggeleng.
"Apa yang membuat seorang Laurels membutuhkan bantuan?" tanya Altair kemudian. Menyunggingkan senyum mengejek pada wanita di hadapannya.
"Kau ingat aku pernah mengatakan bahwa aku menyukai seorang laki-laki?" ingat Clara kemudian. Dia selalu menceritakan semua hal pada Altair. Tidak mengherankan semua orang berpikir mereka memiliki hubungan yang spesial. Tapi semuanya salah--karena mereka hanya teman berbagi cerita, tidak lebih. Ada banyak hal yang keduanya pahami. Seperti keberadaan mereka dan apa yang masih-masing dari mereka inginkan.
Altair mengangguk. Lalu teringat pada pembicaraan Axel dan Arion saat di Pesta kemarin. Dia berujar kemudian. "Apakah lelaki itu berasal dari keluarga Hadley?"
Clara mengangguk mantap. Mengerutkan dahi bingung, karena dia tidak pernah mengatakan siapa lelaki itu. "Ya, dari mana kau tahu? Kau mendengar gosip tentangku?"
Altair terkekeh. Dia mengangguk kemudian. "Siapa namanya? Lalat? Seperti nama binatang, huh!" goda Altair pertama.
"Sialan kau, namanya Ellard bodoh!" rutuk Clara kesal. Menatap lelaki dihadapannya jengkel. Bagaimana pembicaraannya dengan Altair seperti sesuatu yang sangat kekanak-kanakan.
Lalu Altair tertawa puas. "A-ah ya, namanya terlalu sulit, lidahku kaku menyebutnya."
Clara menggeram dan melayangkan bantalan sofa kepada wajah songong di hadapannya. Yang dibalas Altair dengan cengiran mengejek ketika bantalan itu berhasil disambutnya.
"Malam itu, Ellard datang ke pestaku dengan seorang jalang. Informanku berkata jalang itu bekerja di Montana Bar." jelas Clara pertama. Bagaimana ingatannya pada sosok wanita yang di bawa Ellard membuatnya berapi-api.
"Namanya Lea. Berhenti memanggilnya jalang." decak Altair tidak suka.
Clara menoleh dan menatap Altair sinis. Mencari-cari sesuatu yang terasa aneh dan juga tidak wajar. "Apa wanita itu jalangmu juga?" tuduhnya kemudian. "Kau meniduri wanita itu?"
Altair tidak menjawab. Dia mengalihkan pembicaraan. "Katakan saja kau ingin meminta bantuan apa. Aku tidak punya banyak waktu untuk hal-hal seperti ini." titah Altair kemudian.
Menghela napas panjang Clara mulai mengatakan rencananya. "Aku harus bertemu Ellard untuk membicarakan bisnis kami." jelasnya pertama. Dia menatap Altair lekat untuk melihat bagaimana respon lelaki itu. "Aku yakin, Hadley sialan itu pasti membawa jalang itu lagi untuk pertemuan kami." sambungnya meyakinkan.
"Tunggu---" henti Altair. "Si Hadley itu akan membawa wanita yang sama saat di pestamu?"
"Ya, sepertinya. Ellard sering memanasiku. Menolak perjodohan diantara kami, dia memanfaatkan wanita itu untuk membuatku berhenti menyukainya." cerita Clara lagi. "Padahal aku tahu, kami masih saling mencintai." jelasnya. "Dan wanita yang dibawanya, selalu sama dengan yang di Pesta. I don't know why, maybe Ellard memang menyukai wanita itu, atau dia sengaja membuatku cemburu."
Tanpa sengaja Altair mengepal tangan kuat. Jika memang yang Clara katakan benar, maka Altair tidak akan membiarkan itu terjadi. Teringat bagaimana Lea bergelanyut manja pada lelaki itu semalam, benar-benar membuatnya berang.
"Lupakanlah. Lalu apa rencanamu?" tanya Altair penasaran. Mendesak Clara untuk segera mengatakannya.
"Temani aku menghadiri pertemuan itu..." mohon Clara kemudian. Menatap Altair payau agar lelaki itu menuruti keinginannya. Karena sangat sulit untuk membuat seorang Kennedy mengiyakan seluruh ajakannya.
"Oke. Aku ikut." sahut Altair cepat. Kelewat cepat hingga membuat Clara memandangnya tidak percaya.
"Benarkah? Aku tidak salah dengar?" tanya Clara lagi memastikan.
"Tidak ada pengulangan. Kabari aku kapan waktunya." jelas Altair kemudian, lalu dia berdiri. "Aku sudah harus pergi." timpalnya dan mulai berlalu dari sana.
Meninggalkan Clara yang sudah melompat girang. Tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Tidak seperti biasanya, karena kini Altair langsung menyetujuinya tanpa berpikir.
Padahal Clara tidak tahu, Altair melakukannya karena Lea--wanita itu.
***