Kenangan itu hanya sampai pada gemuruh yang mengukirnya.
Tidak perlu dikenang untuk membuatnya merasa.
Namun cukup di ingat bahwa setelahnya tidak perlu lagi ada.
Apa-apa tentang kita yang sejak pertemuan itu tidak seharusnya.
***
Alice dan Lea sudah siap dengan dress masing-masing ditubuh mereka. Satu jam lagi mereka sudah harus berada di Bar, pergi bekerja sebagai pelayan untuk menemani para pelanggan minum.
Pekerjaan yang tiga tahun ini terus mereka jalani, mengingat hanya itu yang mampu membuat mereka bertahan di Negara ini, dengan pendapatan yang lumayan besar--meskipun mereka sering di anggap rendah.
"Lea...setelah kupikir, kau tidak ingin mencoba cari pekerjaan lain?" tanya Alice pertama. Mereka sudah berjalan kaki menuju Bar, mengingat jarak dari bar dan rumah mereka tidak terlalu jauh. "Kau cantik, kau pintar, kau--"
"Ck. Berhentilah, kau juga cantik! Kau juga pintar!" sahut Lea cepat. Ia terkekeh, menatap sahabatnya dengan cengiran menggoda. "Apa kau yang menginginkan itu?" ledek Lea kemudian.
Alice mengangguk. "Aku ingin menggunakan seragam, pergi ke kantor tepat waktu. Menunggu gajihku setiap bulan, lalu mempunyai waktu bersantai." ucap Alice. Menghayalkan segala mimpi-mimpi dan keinginan yang ia harapkan.
Lea menatapnya--gamang. Bagaimana sorot menginginkan itu terpancar jelas dari wajah sahabatnya. Membuat Lea meringis melihat itu, seandainya mereka bisa. Seandainya mereka punya kesempatan. "Kita bahkan tidak memiliki gelar, itu sangat tidak mungkin, Alice."
"Ya, ya, aku tahu. Aku hanya mengatakan keinginanku. Melihat gedung-gedung mewah itu," tunjuknya pada semua bangunan mewah yang sedang mereka lewati. "Membuatku berpikir tidak karuan. Seandainya hidup kita tidak seburuk ini." kekehnya geli. "Seandainya kita terlahir lebih daripada ini."
"Alice..." tegur Lea kemudian. "Jangan seperti itu...kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya. Percayakan saja semboyan kita."
Alice menoleh. "Apa? Bahwa di kehidupan selanjutnya kita akan lebih baik?"
Lea mengangguk mantap. "Siapa tau kita menjadi bangsawan di kehidupan selanjutnya." sambung Lea geli.
Membuat Alice mendengus dan mulai menyerang sahabatnya dengan gelitikan andalannya.
"Alice...berhenti b***h! Geli bodoh!" rutuk Lea sembari berusaha melepaskan diri.
Barulah Alice menuruti. Tapi, dia masih terkekeh geli. "Apa malam ini pangeran dan b******n itu akan menemuimu lagi?"
Lea mengerutkan dahi bingung. Memutar bola matanya jengah, karena Alice selalu tidak jelas.
"Ellard dan Altair. Apa dua orang itu akan datang ke Bar lagi?" tanyanya mengulangi.
Lea mengedikkan bahu malas. Tidak terlalu memusingkan itu. "Entahlah, aku juga tidak peduli."
"Tidak peduli pada Altair b******n itu? Tapi peduli pada Ellard si tampan?" goda Alice lagi.
Dengan Lea yang sudah menarik wanita menyebalkan itu dalam rengkuhannya. Mengacak-acak rambut sahabatnya itu, yang dibalas Alice dengan rutukan kesal. Menghiraukan tatapan orang-orang yang berlalu lalang, karena seperti itulah mereka setiap hari.
"See, Jackob sudah menunggumu. Kau benar-benar wanita dambaan semua orang." kekeh Alice ketika mereka berdua baru memasuki pintu utama Montana Bar.
Lea menghela napas panjang, sementara Alice sudah berlalu masuk ke dalam. Lalu ia menghentikan langkahnya, karena lelaki yang dimaksud Alice tadi sudah menghadangnya.
"Lea? Aku tidak melihatmu beberapa hari ini. Pelangganmu benar-benar gila." rutuk laki-laki itu kesal.
"Jackob. Sudahlah, masuk sana. Ibumu akan marah jika melihatku belum bekerja." sahut Lea malas. Setiap kali bertemu Jackob, laki-laki itu selalu mengusiknya. Selalu mengajaknya berbicara dan mengatakan hal yang tidak penting.
"Tidak Lea, tidak akan. Ibuku bukan lagi pemilik bar ini." ceritanya kemudian. Sangat santai, bahkan kelewat santai karena Jackob terlihat tidak masalah dengan itu.
Lea terdiam detik itu juga. Membulatkan mata tidak percaya, lalu terkekeh pada detik selanjutnya. "Jangan bercanda Jackob. Minggir, aku sudah harus kerja!" decak Lea. Ia sudah mendorong tubuh lelaki itu dan mulai melangkah masuk, berbaur dengan semua pelanggan yang mulai berdatangan. Tidak peduli dengan apa yang Jackob katakan, karena lelaki itu sering mengarang cerita hanya untuk berbicara kepadanya.
"Aku serius, Lea." teriak Jacob kembali. Tapi Lea sudah terlanjur berlalu tanpa peduli lagi.
***
"Tuan, Montana Bar sudah saya selesaikan. Hak milik juga sudah saya rubah dengan nama Ataya, sesuai permintaan Tuan." ucap Zach sopan.
Altair mengangguk. Sementara pandangannya masih fokus pada data-data yang terpapar di ipad miliknya.
"Tapi anak pemilik bar masih bersikeras untuk bekerja di sana." sambung Zach kemudian. "Dia menyerahkan itu dengan syarat, dirinya boleh bekerja disana."
Altair menoleh dan menghentikan pekerjaannya sesaat. Mengerutkan dahi bingung tapi juga tidak ambil pusing. "Berikan aku daftar wanita yang bekerja disana, dan penghasilan yang mereka dapatkan." titah Altair kemudian.
Zach mengangguk detik itu juga. "Baiklah secepatnya akan saya dapatkan, Tuan."
Lalu Altair mengangguk. Kembali fokus pada apa yang dia kerjakan, tapi sesekali matanya menoleh pada jendela pesawat. Bagaimana langit cerah--mengingatkannya pada perjalanan udara yang dilewatinya bersama Lea bertahun-tahun yang lalu.
Sialan, karena kini wanita itu terus bersarang dikepalanya. Altair tahu, bagaimana sorot kemarahan dari Lea terus membara setiap kali melihatnya.
Altair tahu dia salah--dia sangat tahu. Lantas jika cara baik tidak mampu membuat wanita itu melihatnya lagi, tidak membuat Lea mampu menatapnya lagi, akan Altair lakukan cara buruk untuk mendapatkannya.
Kemudian memijat pangkal kepalanya pelan, Altair mencoba fokus pada apa yang tengah dia kerjakan. Walaupun pada detik yang terus terlewati Altair tidak berhenti memikirkan wanita itu.
Beberapa jam setelahnya, Airbus 380--Jet Pribadi yang sudah di naiki Altair telah berhenti di atap mewah gedung tertinggi di Dubai.
Berjalan dengan lantang dan gagah--dia sudah menuruni Jet itu, dengan Zach di sampingnya.
Beberapa orang sudah membungkuk untuk menyambutnya. Altair harus menghadiri pertemuan tentang rapat pemegang saham yang di milikinya.
"Mr. Kennedy, wellcome to Dubai." ucap seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan brewok tebal di wajahnya.
Altair menyambut uluran tangan lelaki itu. Tersenyum singkat sebelum ikut memasuki gedung mewah itu. Karena pertemuan mereka sebentar lagi akan berlangsung.
Seharusnya ini waktu Altair untuk menemui Lea di Bar. Menyewa wanita itu untuk menemaninya minum, karena mulai hari itu--setelah dia tahu pekerjaan Lea, Altair harus membawa wanita itu pergi secepatnya. Membiarkan Lea hanya menjadi miliknya--egois memang, tapi semua orang tidak tahu apa yang ingin Altair lakukan membayangkan wanita itu tertawa bersama lelaki lain.
Lalu--mereka memasuki sebuah ruangan mewah, dengan meja bundar berada ditengahnya.
Membiarkan tatapan ingin tahu semua orang tertuju padanya, Altair duduk di sayap kiri. Karena memang semua orang hanya menunggu kedatangannya. Dan setelah itu, rapat dimulai.
Bahkan hingga pertemuan itu berlangsung, Altair terus membayangkan bagaimana kini keinginannya untuk menemui Lea semakin membara.
***
Sudah pukul dua dini hari dan Lea masih bertahan di Bar, memperhatikan lelaki di hadapannya yang sudah setahun belakangan ini Lea kenal--Benjamin, pelanggan yang hampir setiap hari datang ke Bar untuk menemuinya.
Lea tidak tahu apa yang Benjamin hadapi, hingga membuat lelaki yang mungkin memiliki usia tidak jauh di atasnya itu, terus datang agar Lea menemaninya minum. Memang bukan sesuatu yang spesial, tapi kadang Benjamin memberinya beberapa uang saku tambahan. Sehingga hal-hal kecil itu membuat Lea senang berbicara kepadanya. Apalagi Benjamin murah senyum, lelaki itu sering mengajaknya bercerita lebih banyak dari pelanggan-pelanggan yang lain.
"Lea? Kau bisa mengantarku pulang? Sepertinya kepalaku terlalu sakit." erangnya kemudian.
Lea menoleh, menggigit bibirnya pelan lalu mengetuk tangannya di atas paha. Tidak tahu harus bagaimana, karena ia juga sudah sangat lelah. "Kau kenapa, Benjamin?" ujarnya pertama. "Apa yang membuatmu menjadi sekacau ini?"
Tidak ada jawaban. Benjamin hanya menggeleng kepalanya pelan. Seperti kesadarannya benar-benar sudah terkuras habis.
Lea mengimang itu semua. Pada pikiran yang mendadak berkeliaran dikepalanya. Pertama karena ini sudah hampir pagi dan yang kedua karena ia tidak ingin terlibat dengan semua laki-laki yang di temaninya minum--karena pekerjaannya hanya ketika mereka berada di dalam bar. Tidak ada urusan jika semuanya sudah keluar dari Montana Bar.
"Please...aku butuh bantuanmu kali ini." erangnya lagi. Dia bahkan berpindah untuk meraih tangan Lea. Untuk membuat wanita itu mengerti bahwa dia benar-benar kacau.
"Aku akan mengantarmu sampai depan Ben." ujar Lea pertama. Menatap lelaki itu dengan kerutan bingung. "Aku akan memesan taksi, setelah itu kau bisa melanjutkannya sendiri. Kau akan sampai dengan selamat."
Lea semakin kelimpungan saat menemukan Benjamin sudah meracau tidak jelas, sepertinya lelaki itu terlalu mabuk malam ini.
Akhirnya, Lea yang mengambil alih. Ia mendekat untuk memapah tubuh lelaki itu, membawa Benjamin berdiri dan mulai melangkah keluar bar. Menuntunnya, agar Lea sendiri bisa secepatnya istirahat.
"Tidurlah denganku malam ini."
Dan perkataan itu sukses membuat Lea tersedak. Ia menoleh detik itu juga. Menggeleng tidak percaya karena Benjamin benar-benar sudah mabuk. Tapi Lea memutuskan untuk menghiraukan itu. Tetap melangkah hingga keduanya benar-benar sampai di depan bar.
Lea meletakkan Benjamin di lantai, setidaknya itu yang bisa ia lakukan, karena tubuh lelaki itu--berat dan juga besar.
Lalu berusaha meraih handphonenya, Lea berlonjak ketika dari arah belakang seseorang memeluknya.
Lea menengadahkan kepala untuk melihat itu, sialan karena Benjamin sudah mengeratkan pelukannya pada tubuh Lea.
"Benjamin! Hei! Sadarlah, kau terlalu mabuk malam ini!" pekik Lea kemudian. Tapi percuma--tidak ada gunanya berbicara dengan orang yang sudah hilang kesadaran.
"Kau tahu aku mengalami hari yang berat. Temani aku malam ini." erangnya lagi, kali ini ditambah dengan kekehan menyebalkan. "Aku menginginkanmu, Lea..."
Lea berusaha untuk melepaskan pelukan lelaki itu. "Bagaimana aku ingin memesan taksi, jika kau menghalangiku!" rutuk Lea kesal. "Sadarlah Benjamin. Kenapa kau seperti ini!"
Benjamin terkekeh di sana. "Persetan. Aku hanya ingin kau yang menemaniku..."
"Tidak, Benjamin." sela Lea cepat. "Kau tahu batasan antara kita."
Benjamin menatap Lea lekat, menyunggingkan senyum menyebalkan seraya berujar. "Aku akan membayarmu lebih banyak. Temanin aku, huh?!"
"Aku tidak seperti itu." potong Lea. Tapi percuma karena Benjamin benar-benar tidak menggubrisnya. "Ben!" teriak Lea. Meronta-ronta agar Benjamin melepaskannya. Lantas ketika perlawanannya berhasil, pelukan itu terurai.
Tapi lelaki itu berganti dengan menangkup wajah Lea. Tidak peduli dengan kakinya yang sudah sempoyongan.
"Hei-hei! Sadarlah!" ucap Lea, ia menampar wajah Benjamin pelan. Berusaha terus untuk menyadarkan Benjamin. "Jangan seperti ini, Ben." ulang Lea lagi. Seperti orang t***l walaupun tahu semua usahanya percuma.
Benjamin hanya terkekeh, dia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Lea. Lalu ketika sentuhan bibir lelaki itu akan mengenai bibirnya--tendangan keras di tubuh Benjamin membuat lelaki itu terpental.
Lea membulatkan mata tidak percaya. Menutup mulutnya karena keterkejutannya--ia menoleh untuk melihat siapa yang melakukan itu dan menemukan Altair sudah menatapnya--gusar. But, who is he?
"Sialan! Apa yang kau lakukan pada Benjamin!" teriak Lea berang. Ia sudah berlari untuk membantu Benjamin berdiri.
Tapi tangannya kembali di tarik. "Lepaskan aku! Kau gila Altair!" teriak Lea lagi. Ia berusaha melepaskan diri, menepis tangan lelaki itu yang berakhir sia-sia, karena Altair semakin mengeratkan rengkuhannya.
Altair menatap wanita itu berang. Selalu saja, apa yang Lea lakukan, semua yang wanita itu kerjakan berhasil membuat Altair marah. Membuatnya cemburu dan juga gusar.
"Asistenku akan mengurusnya. Kau--ikut aku!" geramnya pertama. Menarik tangan Lea secara paksa dan mulai membawa wanita itu memasuki mobilnya.
Altair melakukan mobilnya cepat. Menderu mobil itu dengan kecepatan gila dalam pekatnya malam, menghiraukan sorot kebencian yang terpancar jelas dari wanita di sebelahnya. Altair meremas setirnya kuat--seiring dengan amarah yang berusaha diredamnya.
"Turunkan aku b******n! Jika kau terus melaju aku akan melompat!" ancam Lea kemudian. Menatap lelaki di sampingnya dengan berang. Selalu seperti ini. Altair, b******n ini selalu menganggapnya lemah dan tidak ada harganya.
Altair memelankan lajunya, sesekali menoleh untuk menatap wanita itu. Melihatnya berkali-kali lebih banyak daripada memperhatikan jalanan yang tengah mereka lewati. "Tidak setelah aku mengantarmu pulang." titah Altair.
Dan Lea meneguk ludahnya kasar. Suara bariton itu seperti menghantui telinganya. Membuat Lea meremas seatbeltnya dengan kasar. Tidak pernah ada kesempatan untuk mengatakan semua kemarahannya. "Kau benar-benar menjijikan!" geram Lea kemudian. Tapi matanya terus terarah pada jalanan lenggang di hadapannya. Tidak sudi untuk menoleh apalagi menatap Altair sialan itu.
"Pikirkanlah semua yang ingin kau katakan, Lea. Kau tidak tahu sekeras apa aku menahan diri untuk tidak membunuh lelaki itu! Dia bahkan ingin menciummu!" decak Altair gusar. "b******n. Dia benar-benar cari mati!"
"Bukan urusanmu aku ingin berciuman dengan siapapun! b******a dengan siapa, atau berkencan dengan siapa! Kau benar-benar tidak tahu malu!" jawab Lea tanpa takut. Menekankan semua kemurkaannya. "Aku punya hak untuk melakukan apa saja tanpa izinmu."
"Tidak Lea. You're mine. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku..." erang Altair putus asa. Yang dibalas Lea dengan kekehan geli dan tatapan meremehkan. "Sampai kapanpun, sampai dunia berakhir sekalipun, kau adalah milikku, Lea..."
Hingga perkataan terakhir Lea--membuat Altair bungkam seribu bahasa. "Aku hanya jalangmu ketika lima tahun yang lalu. Sekarang--jalang bodohmu ini, sudah menjadi jalang-jalang untuk orang lain di dunia ini. Jadi tolong, ingat itu dikepalamu Altair."
***
Lea melepas seatbeltnya kasar dan membuka pintu penumpang, menghempas pintu mobil itu kasar, tidak peduli bahkan jika pintu itu harus terlepas--karena Lea benar-benar geram.
Ia turun dari mobil dan berlalu tanpa sepatah kata lagi. Berjalan cepat dan menghiraukan Altair yang terus meneriaki namanya.
Ketika Lea baru saja sampai di ambang pintu, tangannya kembali di tahan.
"Lea..." erang Altair. Suara itu seperti tengah memohon dan juga putus asa.
Tapi Lea menepisnya kuat. Sangat kuat hingga tubuhnya ikut terguncang. Mengingat betapa sakit pergelangan tangannya setelah Altair menahannya di depan Bar tadi.
"Jangan membuatku berteriak agar orang-orang disini keluar dan mengusirmu!" ancam Lea lagi. Meskipun ia tahu itu percuma--karena b******n dihadapannya masih sama, keras kepala.
"Aku meninggalkan Dubai lebih cepat hanya ingin melihat wajahmu malam ini. Lalu melihatmu dengan lelaki sialan itu--"
"f**k you Altair! Sekali lagi ku tegaskan ini! Kita bukan siapa-siapa lagi, jadi please! Berhenti mengusikku, aku sudah bahagia sekarang."
"Tidak Lea, dengarkan semua penjelasanku lebih dulu..."
"Penjelasan? Kau tahu, jika aku menjelaskan apa yang aku alami bertahun-tahun lalu, kau tidak akan bisa mengerti lagi!"
"I know. Katakan padaku, jelaskan semuanya..."
Lea menggeleng pelan. Menatap lekat mata hazel di hadapannya, sebelum berujar. "Aku ingin kau pergi dari hidupku, seperti sebelumnya."
Lalu Lea berbalik badan dan mulai memasuki rumahnya. Meninggalkan Altair yang sudah mengepal tangannya kuat.
"Hei-hei, ada apa?" pekik Alice ketika Lea sudah memasuki kamar mereka. Menemukan sahabatnya itu dengan wajah masam tengah melempar tasnya asal, Alice mengerucutkan dahinya terheran-heran. "A-ah, apa drama malam ini karena b******n sialan itu? Dia datang lagi?" tebak Alice. Dia mendengar suara mobil di halaman rumah mereka, tapi ia terlanjur malas untuk melihatnya ke depan. Sepertinya Alice tahu apa yang terjadi.
Lea mengedikkan bahu acuh. "Benar-benar sialan! Dia terus mengusik hidupku!" geramnya. "b******n menjijikan! Aku benar-benar membencinya, Alice!"
Alice terkekeh. Menatap iba sahabatnya itu. "Sudah kukatakan, pacari Ellard! Lelaki itu tidak akan berani mengganggumu, lagi." sarannya pertama. "Lagi pula, kenapa tidak kau tendang saja k*********a?"
"Oh, f**k Alice. Tidak ada saran yang lebih baik daripada itu??" ujar Lea tidak percaya.
"Yasudah, pacari Ellard saja kalau begitu." beo Alice kembali. "Itu solusi terakhir, bitch."
"Tidak ada orang lain? Kau pasti tahu gosip yang beredar antara Hadley dan Laurels, jangan pura-pura tidak mengetahuinya." cecar Lea jengah. Menahan fakta dan semua berita yang ia tahu.
"Kau cemburu? Apa sekarang kau mengakui bahwa kau menyukai pangeran tampanmu itu?" ledek Alice lagi.
Membuat Lea memutar bola matanya jengah. Lalu ia meneparkan diri di ranjang mereka. Malas meladeni Alice, karena berdebat dengan sahabatnya itu tidak akan berkesudah. "Lihat sudah pukul empat, aku lelah. Tidurlah, apa saja yang kau lalukan sejak pulang dari bar?"
"Nonton. Aku sengaja menunggumu pulang, mendengar drama malam ini lagi." goda Alice. Membuat Lea langsung melemparnya dengan bantal.
Lalu keduanya terkekeh--selalu seperti itu. Pola tidur yang tidak bagus sudah mereka lewati bertahun-tahun, mengingat pulang dari bar saja sudah terlalu dini hari.
Tapi tidak ada yang lebih mereka syukuri dari itu, setidaknya bayaran dari bar mampu membuat kedua wanita itu bertahan hidup sejauh ini.
***