VI. Pertemuan

2958 Words
Lalu, kita bisa menebak bagaimana akhirnya kisah panjang ini. Membenamnya bertahun-tahun, lalu tersadar bahwa luka yang kau beri tak semudah itu melupakannya. Hingga sebuah maaf diterima, bekas luka itu tidak hilang sampai disitu saja. *** Ataya Building--Los Angeles. Altair sudah sibuk dengan semua berkas-berkas di tangannya. Data-data mengenai karyawan di Montana Bar yang dimintanya, sudah Zach serahkan sejak pertama kali mereka sampai di kantor. Altair membuka data itu satu persatu, ketika halaman selanjutnya nama Lea berhasil membuatnya menghentikan lembaran itu. MONTANA BAR KARYAWAN 1. Bella Belinda Charlote ( 3000 usd ) 2. Agatha Amber Danila ( 2500 usd ) 3. Lea Gavera Zelina Caesario ( 2000 usd ) 4. Alice Brianna Eilaria ( 1500 usd ) 5. Elena Freya Liana ( 1350 usd ) Altair mengerutkan dahi bingung, tidak mengerti dengan penghasilan yang berbeda-beda itu. Apalagi saat melihat penghasilan Lea berada diurutan ketiga, sialan karena Lea hanya dapat penghasilan kecil--membuat Altair menggeram. Dia bahkan bisa memberikan lima kali lipat untuk wanita itu. Lalu ketika pintu kantornya di ketuk--dan seorang wanita berseragam seksi dengan rok seatas lutut terlihat mendekat, Altair menghela napas. "Permisi Tuan. Ini daftar pemegang saham yang sudah diperbarui kemarin. Juga data-data tentang alat yang baru datang." jelas wanita itu sopan. Di d**a kanannya name tag tertera nama Amanda. "Simpan saja diatas meja." titah Altair. Matanya bahkan tidak berpindah pada berkas dan data mengenai Montana Bar yang sedang dibacanya. Seperti memberitahu bahwa tidak ada yang membuatnya berpaling selain segala hal mengenai Lea. "Sepertinya, Laurels menambah saham." jelas Amanda lagi. "Aku juga sudah memasukkan itu sekaligus dilembaran ini." Altair mengangguk sebagai jawaban. Masih tidak peduli pada apa yang sekretarisnya itu katakan. Karena pikirannya hanya berporos pada apa yang Lea kerjakan sekarang. Mengenai apa sebenarnya yang harus dia lakukan untuk wanita itu. Selesai dengan semua itu, Amanda kemudian beranjak untuk segera pergi dari ruangan CEOnya tersebut. Lantas Altair teringat pada wanita bernama Alice. Setidaknya itu yang dia ingat ketika Lea memanggil nama wanita itu saat dia datang kemarin. Saat wanita bernama Alice itu terang-terangan menentangnya. Melawan dan berusaha menyembunyikan Lea dari dirinya. Bagaimana wanita itu menatapnya dengan penuh kebencian--Altair tidak tahu kenapa. Tapi jika dia tidak salah menduga, sepertinya Lea mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Sehingga membuat wanita bernama Alice itu menatapnya gusar. Atau karena Lea memang sudah menceritakan semua hal yang dilakukannya dulu dimasa lalu. Altair kemudian meraih handphonenya, memanggil Zach, untuk segera memasuki ruangannya. Lalu tidak butuh waktu lama hingga seorang laki-laki berkemeja dan seragam rapi itu masuk ke dalam ruangannya. Menunduk hormat bahkan ketika tuan majikannya itu belum memerintahkan sesuatu. "Alice Brianna, salah satu karyawan di Montana Bar--cari tahu semuanya tentang wanita itu, Zach." titah Altair pertama. "Dapatkan datanya secepat mungkin." "Baik Tuan, akan saya laksanakan. Hanya itu?" "Dan alasan kenapa gajih mereka berbeda-beda. Tanyakan pada anak pemilik bar yang masih berada disana." "Siap Tuan. Akan saya cari tahu secepatnya." sahut Zach setelahnya. "A-ah, bagaiamana dengan lelaki semalam? Kau sudah mengurusnya?" ingat Altair pada seorang lelaki sialan yang ingin mencium Lea. Membuat Altair kembali menggeram membayangkannya. "Namanya Benjamin, dia pemilik restoran yang terletak tidak jauh dari Bar. Lelaki itu pelanggan tetap di Montana Bar--dan dia selalu meminta wanita bernama Lea untuk menemaninya, Tuan." jelas Zach hati-hati. "Apa saya harus melakukan sesuatu pada lelaki itu, Tuan?" Altair terdiam sejenak, sebelum berujar tegas. "Beli restoran miliknya. Dan satu lagi, pastikan dia di hapus dari daftar pelanggan Montana. Aku tidak ingin melihatnya berada disana lagi." "Baik, Tuan." Zach berlalu secepat yang ia bisa. Meninggalkan Altair yang sudah kembali berkutat dengan pikirannya. Altair membiarkan data-data itu bertaburan diatas mejanya. Memikirkan segala cara bagaimana agar Lea kembali menjadi--miliknya. Setidaknya, untuk selalu ada di sampingnya. Agar Altair lebih mudah membiarkan dirinya menebus semua yang di lakukannya dulu. Karena kesalahannya pada Lea tidak akan pernah hilang jika dia belum menebusnya. *** "Alice--sepertinya malam ini aku izin tidak kerja." jelas Lea ketika mereka sedang berada di meja makan. Menyantap masakan yang sudah di buat Lea sejak tadi. Menu sederhana yang tiap hari mereka makan sesuai keadaan. Lalu Alice menghentikan suapannya. Menatap sahabatnya itu lekat, karena Lea jarang meninggalkan Bar. Sejarang itu, hingga perkataan sahabatnya tersebut berhasil membuat Alice menelitinya, memastikannya. "Ellard memintaku menemaninya bertemu--Clara." jelas Lea kemudian. Ia membalas tatapan Alice, menunggu persetujuan dari sahabatnya itu. Ketika respon Alice membuat Lea mengerutkan dahinya bingung. Alice terkekeh. "Benarkah? Apa itu artinya Ellard ingin mempertegas bahwa dia memilihmu dari pada si Laurels itu?" Lea menghela napas panjang. "Dia menyewaku, lalu membayarku. Bukankah sudah jelas bahwa aku hanya jalang mainannya?" "Ssst!" Alice menggeleng. "Tidak mungkin, kau tau bagaimana tatapannya seperti ingin memangsamu?" goda Alice kembali. Puas, karena sahabatnya itu satu langkah lebih unggul dari sebelumnya. "Bullshit. Dia hanya mencoba menggodaku," sahut Lea cepat. "Tapi kau tahu, aku sudah kebal dengan banyak lelaki." "Itu karena kau tidak mau mencoba, tidak mau membuka hati lagi. Tapi aku tahu--kau menyukai Ellard. Jangan membohongiku kali ini..." "Ck. Apa tidak masalah menyukai si kaya raya itu?" kekeh Lea kemudian. Dengan Alice yang sudah mendengus dan mengangguk mantap. "Akan kurestui seribu persen!" Lea terkekeh. Lalu ia kembali memasang wajah serius. Menatap sahabatnya itu lekat. "Alice...bagaimana kabar Ibumu?" ucapnya. Lea tahu Alice selalu pura-pura tegar untuk menutupi kesedihannya. Alice menghentikan suapannya. Menatap Lea sesaat, sebelum berujar. "It's okay..." "Bohong. Aku mendengar percakapanmu dengan ayahmu, apa kondisinya semakin---parah...?" Alice terdiam sesaat sebelum mengangguk. Lalu dia benar-benar menghentikan makannya. Menatap Lea--gamang dan juga bingung. Lea berdiri, memutari meja makan sederhana mereka, kemudian duduk tepat disebelah sahabatnya itu. "Katakanlah, siapa tau aku bisa membantumu...?" "Sepertinya tidak..." kekeh Alice kemudian. "Aku tidak ingin mempersulitmu Lea." Lea menggeleng cepat. Alice--sahabatnya itu adalah yang utama. Lea bisa melakukan apa saja untuk membantunya. "Apa semuanya tentang uang?" tanya Lea kemudian. Alice mengangguk cepat. "Uangku sudah menipis...sementara keadaan ibuku semakin memburuk..." "Itu sebabnya kau menghayal jika kita kerja di kantor?" ledek Lea, mencoba mencairkan suasana. Membuat Alice terkekeh di sebelahnya. "Aku punya--tabungan. Kau bisa memakainya." yakin Lea setelahnya. Alice menggeleng pelan. "Tidak Lea, kau juga butuh untuk menghidupi Ayahmu..." "Tidak apa Alice, aku masih bisa menabung untuk beberapa waktu." jelas Lea, ia masih berusaha menyemangati. "Pakai saja jika kau mau." "Akan kupikirkan cara lain, Lea. Terimakasih sudah selalu ada untukku." tutur Alice tulus. Dengan Lea yang kini sudah memeluk sahabatnya itu. "Jangan menyimpan beban itu sendirian, kau tahu kita sudah bersama sejak datang ke Negara ini." timpal Lea. Dengan Alice yang sudah mengangguk dan membalas pelukan sahabatnya itu sama lekatnya. "Setidaknya, katakan saja, jangan memendam itu sendirian. Aku tidak suka melihatmu sedih, Alice." *** Mansion Laurels-Los Angeles. Altair sudah menghentikan Lamborghini Veneno Roadster di kediaman Laurels. Tadi setelah wanita itu menghubunginya dan mengatakan bahwa malam ini adalah waktu temu mereka, Altair bersiap dengan setelan rapi, kemeja dan jasnya. Semua pelayan disana sudah membungkuk menyambutnya hangat. Sementara Altair sudah duduk di ruang tamu wanita itu dengan kaki menyilang bosan. Menatap pergelangan tangannya--sudah hampir sepuluh menit dan wanita itu belum juga tiba. Baru saja Altair akan menghubunginya, ketika seorang wanita dengan dress seksi berwarna pink pastel terlihat turun dari tangga istana mewah itu. Jika semua laki-laki meneguk ludah jika melihatnya, Altair hanya menatapnya sesaat sebelum mengalihkan pandangan. Bukan, bukan karena dia tidak terpesona, tapi karena dia--jengah. Clara membuatnya menunggu dan itu sangat mengesalkan. "Tuan Kennedy yang terhormat, maaf sudah membuatmu menunggu..." ucapnya pertama. Tahu betul bahwa lelaki dihadapadanya ini sangat tidak suka menunggu lama. "Kau benar-benar menyebalkan, Clara." decak Altair sebelum melangkah pergi. Melewati seluruh pelayan disana yang kini sudah menatapnya kagum, Altair menghiraukan itu. Sehingga membuat Clara meringis karena harus setengah berlari untuk menyamai langkah lelaki itu. "Altair, pelan-pelan. Tunggu aku, kakiku bisa lecet jika terus mengejarmu." decaknya pertama. Membuat Altair menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menunggu wanita itu. Sehingga senyum di wajah Clara terpapar begitu nyata. "See, begini lebih baik." ujar Clara ketika dia berhasil menggandeng tangan Altair. "Bukankah kau bertemu untuk membahas tentang kerja sama perusahaan kalian?" tanya Altair pertama. Lalu Clara mengangguk mantap. "Kenapa kau seperti ingin pergi kencan?" ledek Altair. Bagaimana wanita disebelahnya ini sangat antusias dan juga penuh semangat. "Itu karena aku akan bertemu Ellard. Kau tahu sebesar apa aku menyukai lelaki itu." jujurnya kemudian. Altair mengangguk dan mulai membawa Clara menuruni mansion milik wanita itu--menuju Lamborghini Veneno Roadster yang terparkir di halaman mewah tersebut. "Jika Ellard membawa jalang itu--" "Aku akan mengurusnya." potong Altair kemudian. "Biar aku yang mengurus itu." sambungnya mengulangi. Clara menoleh dan menatap Altair tajam. "Apa kau benar-benar menginginkan jalang itu?" tuduhnya. "Kau mau memakainya juga?" Altair berdeham. Clara--wanita ini benar-benar senang meracau. "Namanya Lea." jelas Altair akhirnya. "Entahlah, aku juga tidak tahu." sahutnya malas. "Sudahlah, kendarakan saja mobil ini dengan cepat. Aku tidak ingin Ellard menungguku lama." "Sementara kau membuatku menunggu?" decak Altair kesal. "Itu karena kau teman terbaikku." kekeh Clara kemudian. Yang dibalas Altair dengan dengusan malas. Lalu Altair mulai melaju dalam pekatnya malam. Membiarkan jantungnya berpacu gila--hanya karena membayangkan kedatangan Lea dengan Hadley itu. Hell, Altair yakin dia tidak akan pernah menyukai saat-saat Lea bersama orang lain. Benar-benar gila karena setelah bertahun-tahun, Altair masih terus menyuarakan wanita itu dalam relung hatinya. Tanpa ada yang tahu, sekalipun kedua orang tuanya. *** LANARI RESTAURANS--Los Angeles. Lea sudah turun dari Buggati Divo milik Ellard. Bagaimana lelaki itu membukakan pintu penumpang hingga membawa Lea dalam rengkuhannya, membuat Lea meneguk salivanya berkali-kali. Perlakuan Ellard, tatapannya--bahkan semua yang laki-laki itu lakukan kepadanya membuat jantung Lea berdebar. Lea tahu ini bukan perasaan biasa sebatas menemani lelaki itu, mendapatkan bayaran dan pergi setelahnya. Ini berbeda, Lea tahu bagaimana bayang-bayang Ellard terus menghantui kepalanya. Tapi setiap kali perasaan itu timbul, Lea menepisnya. Seperti rasa sakit yang dulu di dapatinya, akan terulang lagi. Menjadi kenangan yang semakin sulit Lea hilangkan. Karena itu pula ia tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak tentang perasaan yang dimilikinya kepada Ellard. Karena lelaki itu sangat sempurna untuk wanita sepertinya. Apalagi Lea selalu membayangkan bagaimana Ellard seperti seorang pangeran berkuda--dalam mimpinya. Jika saja orang sepertinya dapat keajaiban seperti Cinderella--Lea ingin Ellard yang menjadi pangeran itu. Karena semakin hari, semakin sering ia menemani lelaki itu, Lea dibuat seolah-olah lumpuh, atas semua yang lelaki itu lakukan. "Kau yakin tidak masalah aku ikut? Kau tahu betapa wajah Clara terlihat sangat berang saat melihatku di Pestanya waktu itu." ucap Lea kemudian. Bagaimana berbicara kepada Ellard akan selalu sesantai ini, mengingat usia mereka juga sama. "Dia jelas-jelas memberikan tatapan seperti ingin memangsaku." Ellard menggeleng untuk meyakinkan. Kali ini dia merengkuhkan tangannya dipinggang Lea. Membawa wanita itu semakin mendekat sebelum berujar. "Jangan memikirkan itu, aku yang mengajakmu. Jadi...ikut saja dan temani aku." titahnya. "Tidak ada yang harus kau khawatirkan, Lea..." "Huh, kau selalu berkata seperti itu." sahut Lea malas. "Kau tidak tahu bagaimana aku melewatinya." Ellard terkekeh. "Hanya berusaha menghiburmu. Melihatmu malam ini, benar-benar sesuatu yang menyenangkan. Kau sangat cantik Lea." pujinya tulus. Membiarkan Lea yang kini mulai mengatur detak jantungnya. Sialan, karena Ellard memiliki mulut yang begitu manis. Lalu keduanya mulai menaiki lift, membawa mereka ke gedung teratas restaurant itu. Menampilkan pemandangan yang mampu membuat semua orang terhipnotis oleh keindahannya. Bahkan, hingga lift terbuka Ellard masih terus merengkuh pinggang Lea. Mereka berjalan pada koridor atas hingga membawa mereka ke sebuah rooftop yang terletak di ujung restaurant. Lea masih terperangah pada semua pemandangan di sekitarnya. Sehingga tanpa sadar Ellard sejak tadi terkekeh melihatnya. "Kau suka?" Lea mengangguk. Tapi langkah Ellard semakin dipercepat, hingga mereka sampai pada meja terujung--dengan dua orang yang sudah menunggu kehadiran mereka. Dan Lea membulatkan mata saat menemukan Altair ada disana. Lea pikir ia berada dalam situasi yang gila mengingat Clara sudah menatapnya garang, sementara Altair ikut melayangkan tatapan berangnya. Tapi bagaimana sentuhan Ellard pada jemarinya membuat Lea tersadar. Menghiraukan bagaimana Altair terus menatapnya--tanpa henti, Lea tidak mempedulikan itu. "Duduklah Lea." katanya dan mulai menyiapkan kursi untuk Lea. Clara menoleh, menyiniskan perlakuan Ellard pada wanita disebelah lelaki itu. Menunjukkan bahwa dia benar-benar membenci jalang yang Ellard bawa. "Kenapa kau membawa orang lain dalam pertemuan kita?" singgung Ellard pertama. Clara mendengus. "Terus? Bagaimana denganmu?" jawabnya tidak mau kalah. "Kenapa? Kau mau balas dendam?" sindir Ellard kemudian. "Lalu? Kenapa kita seperti ini?" sahut Clara malas. Semua orang tahu ada sesuatu diantara Hadley dan Laurels. Perdebatan antara Clara dan Ellard bahkan menjawab segalanya. Semua yang terjadi, tatapan dan semua kegilaan yang berada dimata keduanya, seperti membuat semua orang memahami bahwa masih ada keinginan yang menari-nari dimata Ellard saat melihat Clara. Ellard menghela napas panjang, memalingkan wajah lebih dulu. Tidak lagi memusingkan itu. Dia menatap Altair, meneliti semua penampilan lelaki di hadapannya sebelum mengulurkan tangan. "Ellard Loye Hadley." katanya pertama, begitu menekankan setiap perkataannya dengan bangga. Seperti semua orang harus tahu siapa dirinya. Siapa Hadley sesungguhnya. Lantas Altair menyunggungkan senyum mengejek, sebelum menerima uluran tangan lelaki di hadapannya. "Altair Ataya Davendra Kennedy." Hening, Ellard seperti berlonjak dan tidak percaya pada apa yang baru di dengarnya. Ataya? Kennedy? Apa ini yang orang-orang maksud memiliki kekayaan diatas keluarga Hadley? "Ellard?" tegur Lea. Membuat lelaki itu tersadar dan langsung melepaskan diri. "Oh kenalkan ini Lea." sambung Ellard kemudian, dia meminta Lea untuk berkenalan. Sengaja menepis fakta pada siapa dia berkenalan sebelumnya. Lea lalu mengulurkan tangan kepada Clara. "Lea..." katanya pertama. Sialan karena wanita itu tidak berniat untuk membalasnya. Tapi ketika Lea baru saja ingin menarik tangannya kembali, Altair lebih dulu meraih tangan wanita itu. "Altair." katanya seraya mengedikkan sebelah mata. Membuat Lea meringis dan menarik tangannya cepat. b******n itu! "Aku sering mendengar orang-orang membicarakan bagaimana gigihnya seorang Kennedy bekerja." imbuh Ellard memulai pembicaraan. "Seperti apa semua orang mendambakan bekerja di Attaya Building." "Benarkah? Apa kau memang hobi mendengar gosip-gosip murahan itu?" singgung Altair kemudian. Membut Lea menoleh menatap bagaimana kesongongan itu tidak pernah hilang sedikitpun. "Kau punya waktu untuk mendengarkan hal-hal seperti itu?" "Yeah, semua orang tahu betapa gila Kennedy bekerja. Kau sudah kaya, seharusnya nikmati itu." Clara yang menyahut. "Jangan susah payah bekerja seperti ini." Altair terkekeh, lalu dia meneguk wine yang sudah tersedia di sana. "Aku harus kerja untuk hidup." "Tidak kerja juga kau akan tetap hidup. Kau tahu betapa banyak kekayaan yang dimiliki Kennedy? Huh!" decak Clara lagi. "Apa pertemuan ini hanya untuk membahas kekayaan yang kumiliki?" tanya Altair heran. Membuat Ellard dan Clara terkekeh. Altair memang pandai membuat situasi lebih baik. Tapi tidak dengan Lea, bagaimana ia merasa bodoh berada diantara tiga orang itu. Apalagi menemukan tatapan Altair terus berpusat kepadanya, membuat Lea--jengah. Sejak tadi, bahkan ketika pertama kali datang ke restaurant ini Altair tidak merubah sedikitpun pandangannya. Sialan, jika saja Lea tahu lelaki itu ikut dalam pertemuan ini, ia lebih baik memutuskan untuk tidak ikut. "Karena kau juga ada disini, apa kau tertarik untuk ikut dalam kerja sama perusahaan kita?" tanya Ellard pertama. "Ataya, kurasa itu menjadi pencarian terbanyak selama bertahun-tahun ini." Clara menoleh, menatap Altair seperti menemukan ide cemerlang. "Right. Kau harus ikut dalam kerja sama ini, kenapa aku melupakanmu?" "Akan kupikirkan." sahut Altair malas. Dia sedang tidak dalam situasi yang baik melihat bagaimana penampilan Lea membuatnya ingin memangsa wanita itu. Membiarkan Lea dibawah kuasanya seperti kenangan terakhir mereka, merindukan erangan wanita itu pada setiap perlakuannya. Sialan. Benar-benar sial, karena Altair menahan diri untuk tidak melakukannya. Lalu Clara dan Ellard masuk kedalam pembicaraan yang lebih serius. Sesekali Altair menyambung, sementara Lea-- hingga datang tadi ia bahkan hanya memperhatikan Ellard dan semua pembicaraan lelaki itu. "Ellard--sepertinya aku harus ke toilet lebih dulu." potong Lea. Tidak menoleh pada Clara ataupun Altair. Ellard menghentikan pembicarannya dan baru menyadari kehadiran Lea. Tapi dia memilih mengangguk sebagai jawaban. Lea melangkah pergi, tidak butuh persetujuan dari dua orang lainnya. "Seharusnya kau tidak membawa jalang itu." singgung Clara kemudian. Bagaimana melihat Lea--membuatnya muak. "Bukan urusanmu, Clara. Kembali lagi pada pembicaraan." titah Ellard. Dengan Clara yang sudah mendengus malas. Lalu Altair angkat dari duduknya. "Aku juga harus ke toilet. Kalian--teruskan saja." katanya dan mulai beranjak dari sana--mengikuti Lea. Altair benar-benar memantapkan kakinya mengikuti Lea menuju toilet wanita. Lalu sebuah tanda bertuliskan toilet sedang diperbaiki dia simpan ditengah-tengah, sehingga tidak akan ada yang bisa masuk. Altair membuka semua bilik disana yang beruntungnya kosong. Hanya satu bilik yang Altair tahu Lea ada didalamnya. Altair sudah menyilangkan tangan didada, menyenderkan tubuh pada dinding toilet, sementara kakinya terus dihentak pelan kelantai. Menghitung, membuang waktu untuk menunggu. Untuk menemui, memperhatikan, melihat Lea. Meyakinkan wanita itu lagi dan lagi. Sementara Lea baru saja keluar dari toilet, merapikan rambutnya sesaat lalu berlonjak ketika menemukan Altair sudah berdiri di hadapannya. "s**t! Apa yang kau lalukan disini!" Altair terkekeh dan mulai mendekati wanita itu. "Menemuimu." "b******n gila!" geram Lea. Dengan Altair yang sudah menyunggingkan senyum mengejek khasnya. "I'm." Lantas malas meladeni itu Lea melangkah cepat. Tapi seperti biasa, tangannya berhasil ditarik paksa oleh lelaki menyebalkan itu. Mendekatkan jarak diantara mereka, lalu menguncinya dengan pandangan berbeda-beda. Seperti satu menginginkan dan satunya berusaha mengalihkan. "Aku akan teriak jika kau menyentuhku lagi!" ancam Lea, ia sudah menepis tangan Altair kasar. "Kau selalu mengancamku." sahut Altair masam. Dia kembali memusatkan parhatiannya pada semua keindahan di tubuh Lea. Bagaimana wanita itu semakin menakjubkan dan mempesona dalam satu waktu. "Tapi kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan, Lea..." "Aku harus menghampiri Ellard, pergilah! Jangan menggangguku!" geram Lea masih bersikeras. "Kau membuatku muak, Altair." "Menemani lelaki itu? Apa itu alasan kau tidak bekerja malam ini?" tanya Altair pertama. Lea menatapnya garang. "I swear, Not your bussines!!" "Bukan urusanku?" beo Altair. "Kau ingin aku memotong gajihmu karena mementingkan urusan pribadi?" Lea mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan perkataan b******n gila di hadapannya. Sehingga membuat Altair terkekeh. "Aku pemilik Montana Bar yang baru." Lea tertawa keras di sana. "A-ah, apa mimpimu memang setinggi itu?" singgung Lea tidak percaya. "2000$ huh? Aku bahkan bisa memberimu 5 kali lipat dari pada itu!" "Sialan! Kau mencari tahu tentang penghasilanku?" teriak Lea berang. Altair mengedikkan bahu sebelum berujar geli. "Akan kupotong menjadi 1990$. Itu hukuman karena kau meninggalkan pekerjaan dengan alasan--urusan pribadi." Lea mendengus dan menggeleng tidak percaya. Tidak peduli dengan semua yang b******n itu katakan. Lalu Lea berlalu dan meninggalkan Altair. Dia pikir--Lea akan mempercayai semua yang dikatakannya? Hell, tidak akan lagi. Karena kepercayaan Lea untuk lelaki itu sudah benar-benar musnah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD