Aku benar-benar tak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh Irma. entah maunya apa
awalnya bukan maksudku yang benci dengan sikap Irma, hanya saja sebenarnya Arya sudah mengenal Irma sejak dibangku SMP, Irma yang merupakan murid pindahan dari kalimantan ini adalah anak yang pendiam serta selalu menyendiri
pernah suatu ketika, Irma diganggu oleh anak lain karena selalu menyendiri bahkan tak jarang di mintai uang oleh teman-teman yang lain
memang notabene nya jika ada murid pindahan yang berasal dari luar Pulau Jawa, selalu dianggap anak orang kaya
padahal sebenarnya pun juga tidak
suatu hari, aku yang sudah benar-benar jengah dengan sikap teman-temannya yang hanya memanfaatkan Irma
memarahi dan membela Irma di depan mereka
satu kesalahan yang pernah dibuat Arya adalah kata-kata yang pernah diucapkannya di depan Irma
"lain kali lawan, kalo memang kamu nggak berani atau takut, kamu panggil aku, cari aku, aku bakalan ngebelain kamu dan ngelindungi kamu" kataku pada Irma
seketika Irma yang sama sekali belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu langsung terkesima akan apa yang dilakukan olehku
dan tanpa Aku sadari, sejak saat itulah Irma merasa jika dia sudah jatuh cinta padaku
dan hampir setiap hari jika ada kesempatan, Irma selalu "mengekor" padaku
karena makin lama aku merasa tak nyaman
" kamu ngapain sih ngikutin aku terus? cari temen sana,main sama cewek, bukan ngikutin aku aja" usirku dengan sedikit membentak
"tapi aku khan nggak punya temen?" jawab Irma dengan air mata yang hampir menetes
"duuhhh.... lama kelamaan nyusahin tau nggak? dah ahh kamu duduk sini aja, jangan ngikutin aku aja" perintahku pada Irma setengah membentak
Irma yang terkejut dengan perlakuanku langsung duduk dekat taman sekolah dan menangis
sejak itu pula Irma mengenal Mina dan Shinta
Mina dan Shinta yang melihat Irma.menangis akhirnya iba dan mendekati Irma,dari situlah pada akhirnya mereka bersahabat
sejak saat itu, Irma yang merasa tak mempunyai salah, tetap mengikutiku, bahkan tak jarang dia juga mencari perhatianku walaupun dia sudah berteman dengan Mina dan Shinta
tapi aku adalah seorang yang terkenal sebagai cowok yang dingin sedingin kulkas, cuek tapi buat anak seantero sekolah aku adalah cowok paling ganteng se-sekolah, padahal untukku hal itu terlalu dilebih-lebihkan
ketika kelulusan tiba, Irma benar-benar murung karena berpisah denganku hingga Irma sampai mencari tau dimana aku akan melanjutkan sekolah
secara tak sadar, Irma menjadi orang yang terobsesi padaku
itu yang aku tau
saat masuk di SMA C,
aku yang berkenalan dengan Dino dan merasa jika Dino ini memang sepaham dengannya, dan baru kali ini Aku merasa dia mempunyai sahabat yang benar-benar menerima dia apa adanya dan aku benar-benar merasa dihargai sebagai seorang teman bukan sekedar orang yang "membutuhkan" saja
karena sebelumnya, bisa dipukul rata jika semua mendekatiku karena aku populer, kaya dan pintar. tapi Dino lain, dan dia tidak seperti itu.
aku kaget yang melihat Irma ketika dia ada di kelas 11 dan aku menjadi panitia penerimaan murid baru, aku melihat ada Irma ditengah-tengah anak-anak baru.
entah kebetulan ataukah tidak, akubtidak berani untuk berspekulasi yang terlalu jauh untuk itu
tak.dipungkiri juga jika saat itu Aku yang menjadi magnet bagi para cewek yang ada di sekolah dan ternyata itu membuat Irma meradang dan itupun bukan karena aku yang peka tapi dino yang mengatakan dan aku hanya bisa cuek menanggapi itu semua
sampai suatu saat, Irma yang saat itu sedang berkumpul dengan Mina dan Shinta melihatku yang sedang sendiri
"mas... lagi sendirian?"
"yang kamu liat gimana memangnya?" jawab Arya
dengan setengah jengkel
"gitu bener sih mas... aku tuh kangen tau nggak mas sama kamu?" Kata Irma yang dibuat manja dan itu benar-benar membuatku muak
kenapa bisa ada orang macam seperti ini yang, cewek lagi
"nggak... dan aku nggak mau tau!" jawabku ketus
"ihhh gitu banget sih, setahun ku tahan-tahanin kangen sama kamu mas, ehh sekarang responnya gitu-gitu aja" Irma yang ngambek tapi tetap dengan manjanya
"bodo amat lah.. bukan urusanku!"
"kamu kenapa sih mas gitu banget sama aku?" tanya Irma
"ya karena aku ga suka kamu ngekorin aku, atau ngikutin aku" jawabku penuh ketegasan
"mas... aku tuh kayak gini karena aku sayang sama kamu mas, aku pengen ada dideket kamu, apa salah?"
"kamu tanya sama aku?!!" tanyaku setengah muak
"iyalah.. kamu kira aku ngomong sama siapa!!" jawab irma sudah dengan setengah teriak dan marah
" tapi aku nggak tuh" jawabku yang cuek
"kenapa mas... apa yang salah sama.aku? apa kurangku buat kamu? apa aku nggak cantik? atau apa? tolong bilang mas.. biar aku jadi apa yang kamu mau?!"
"sorry lah.. ga butuh tuh, dan kalo kamu bilang salah kamu apa?? salah kamu ada kamu ngotot bener, kalo aku bilang aku nggak suka sama kamu,kamu mau apa!"aku sudah benar-benar terpancing emosi
"aku yang cantik gini apa yang salah sih mas" irma yang mulai ikut emosi
aku yang melihatnya dari atas sampai bawah
tersenyum,
"buatku biasa aja sih, dan satu lagi aku bilang sama kamu, aku nggak suka sama kamu, dan tolong banget jangan ngekorin aku kemana- mana , ga usah nyari tau apapun tentang aku!!! ngerti nggak!!" bentakku sambil berdiri dan ketik akan beranjak pergi, irma yang tiba-tiba juga ijut berdiri dan memegang tanganku
"aku nggak terima mas kalo kamu nolak aku, kamu bener-bener harus jadi milik aku mas, asal kamu tau,kalo sampe ada yang ngedeketin kamu, atau jadi pacar kamu, bakalan aku buat perhitungan sama dia, kalo aku ga bisa ngedapetin kamu, naka orang lain nggak akan bisa ngedapetin kamu!" ancam Irma
aku yang sedikit terhenyak dengan apa yang di katakan Irma, mengibaskan tanganku agar tangannya terlepas,
"sakit jiwa kamu ya!!!" sambil berlari kecil meninggalkannya
"ingat mas, aku nggak pernah main-main sama omonganku" teriak Irma dan sama sekali tak ku hiraukan
suatu ketika, ada cewek dari kelas IPS datang padaku (karena aku adalah anak IPA), memang sebelum hari ini dia getol sekali mendekatiku, kalo kata anak-anak dia adalah salah satu anak tercantik disekolah, tapi tetap buatku biasa saja
dan kebetulan irma tau
yang aku dengar keesokan harinya adalah anak IPS kemarin mendapatkan "pelajaran" dari Irma
aku tersadar dan berpikir jika ternyata irma tak main-main dengan apa yang dia ucapkan sebelumnya
tapi buatku aku tidak pernah mau ikut campur masalah itu dan mencari tau, karena aku tak mau jika nantinya ada yang salah paham dengan sikapku
buatku belum ada yang bisa menggerakkan hati dan perasaanku, hingga saat penerimaan siswa baru kelas 10, aku melihat seorang cewek chubby
yang buatku dia adalah seorang cewek yang imut dan menggemaskan
hanya yang membuat aku penasaran adalah ketika semua cewek melihat intens atau mencoba menarik perhatianku, tapi tidak dengannya
bahkan ketika yang lain meminta tanda tangan untuk mengisi kolom formalitas penerimaan siswa baru di sekolah
dia pun hanya bersikap biasa-biasa saja
padahal yang lain sudah modus tak karu-karuan
aku semakin penasaran dengannya dan saat itu yang aku tau namanya adalah Karina setyo Octarina
aku yang merasa heran dengan sikapku sendiri menceritakannya kepada Dino
"aku heran dech, baru kali ini aku penasaran sama cewek"
"ahhh yang bener dech ya" jawab Dino
"seriusan.. tuh orangnya" aku menunjuk Karina yang saat itu sedang bersama dengan Nita
"lah selera kita sama donk"
"memang kamu suka sama dia" tanyaku dengan rasa tidak rela
"iyalah, cewek cantik sexy tapi nggak caper gitu, langka man" jawab Dino yang antusias menjelaskan
"sexy?? yang kamu maksud yang mana sih?" aku yang bingung
"ituuhh yang pake tas ransel hitam, itu khan yang kamu maksud?" jawab Dino sambil menunjuk ke Nita
aku yang merasa lega, "bukaaaannnn... sebelahnya" jawabku
"ehhh seriusan ahhh, kamu suka sama temennya?"
"iya.. kenapa memangnya" tanyaku heran
"aku kira selera kita sama, kenapa suka sama dia?" tanya Dino, inilah yang aku suka dari Dino, tak terlalu suka tanya dengan pertanyaan yang menjatuhkan
"entah, tapi aku suka aja... bisa kenalan nggak yah?"
"coba aja,,, duhhh si kulkas ternyata cair juga" ejek dino dengan bercanda
"sialan kamu" jawabku dengan tertawa
setelah upacara penerimaan siswa pun, aku masih terus melihat dia, tak jarang juga aku sengaja lewat didepannya, tapi entah kenapa dia sama.sekali tidak pernah merespon apapun
jika melihatkupun, hanya sebentar tapi tidak pernah sekalipun mengajakku berbicara atau mendekatiku... semakin membuatku penasaran, tapi sempat terlintas, apakah dia sudah punya pacar? jika ya, beruntung cowok yang mendapatkan dia
"waahhh, tumben baru kali ini aku tau ada cewek yang nggak ngerespon kita sama sekali yah?" tanya Dino keheranan
"itulah.. aku yakin sekarang, buatku, dia cinta pertamaku dech, tpu dah punya cowok belum yah?" tanyaku pada dino
"tanya ke aku, aku tanya ke siapa.oyyyy... tanyalah ke dia?"
"dianya aja nempel terus ma cewek gebetan kamu tuh, takutnya responnya jelek patah hati aku ntar"
"duhhhh melow amat man" sindir Dino
setahun berlalu tapi tidak ada yang berubah sama sekali dan perasaanku pun tak pernah berubah padanya hingga hari kelulusanku dari SMA
aku yang sudah ada di bangku kuliah, satu jurusan lagi dengan Dino yaitu management bisnis, di kampus A, merasa suntuk akhirnya memutuskan jalan-jalan ke mall
Dino yang melihat Karina dan Nita di mall yang sama memutuskan untuk mengikuti mereka
kamipun serasa give up, namanya cewek yah kalo shopping kuat bener yah
kami memutuskan untuk makan di salah satuneesto japanese food di mall itu
dan tak disangka, Karina dan Nita pun makan di resto yang sama
kami pun memberanikan diri untuk berkenalan
dan yang membuatku senang adalah respon Karina yang sesuai dengan harapanku
dan benar, dia benar-benar orang yang lucu, humoris dan imut
tak di duga jantungku berdebar-debar ketika
melihatnya
setelah lama ngobrol aku pun meminta no handphonenya
setelah pulang pun aku langsung menghubunginya dan begitu senangnya aku ketika mendengar jika dia belum punya pacar
2 hari ini aku benar-benar tak ingin jauh dari dia dan aku tak akan pernah melepasnya sampai kapanpun
karena itu aku mengajaknya jalan setelah perkenalan kami di resto
saat kedua kalinya aku menjemputnya
aku benar-benar marah dan muak dengan apa yang dilakukan Irma setelah Nita yang cerita kepadaku
Karina memang orang yang halus perasaannya, terbukti jika sudah diperlakukan seperti itu, dia yang menahanku agar tidak melabrak Irma
tapi buatku, aku sama sekali tak terima jika orang yang aku sayangi disakiti dalam bentuk apapun itu, atau dia bakalan berurusan denganku tak peduli apapun resikonya
dan sesuai dugaanku ketika aku melabrak Irma, dia masih tetap papa pendiriannya terdahulu
dan itu benar-benar membuatku muak dengan tingkahnya pantang memang buatku main tangan dengan cewek, tapi jika kurasa sudah keterlaluan aku benar-benar akan buat perhitungan padanya
"aku benar-benar harus ngelindungi Ina apapun itu resikonya"
janjiku dalam hati