Three
Olyn masih sibuk bersungut karna kejadian beberapa saat lalu. Ia sampai harus menunjukkan kartu pengenalnya berkali-kali agar mereka percaya jika Olyn bukan salah satu anak sekolah dasar. Terutama pada pria jangkung dengan wajah menyebalkan bernama Denette yang ia temui beberapa jam lalu. Olyn harus jelas-jelas mengatakan jika ia adalah siswi yang duduk di bangku sekolah menengah dan berusia enam belas tahun, meski Olyn tetap membutuhkan pengawasan orang tua atau wali. Namun, adalah hal biasa bagia remaja perempuan yang berusia di atas lima belas tahun untuk tinggal sendirian. Terutama di Ibu kota.
Belum puas Tuhan mengujinya menghadapi orang-orang yang salah paham dan bagaimana menyebalkannya Denette, Olyn juga harus mendengarkan ocehan Ibunya yang kembali berkomentar tentang keputusannya untuk tinggal sendirian.
"Olyn lihat? Sudah Ibu bilang bukan? Bukan ide bagus untuk tinggal sendirian, bukan ide yang tepat untuk pindah ke Ibu kota sendirian. Olyn, tunggu saja di sana, Ibu akan segera menjemputmu. Bagaimana kalau orang-orang yang salah paham denganmu bertambah banyak dan melaporkan Ibu ke kantor polisi, hm? Ibu sungguh tidak mau dicap sebagai orang tua yang menelantarkan anaknya, Ibu tidak mau dikatakan jika Ibu tega membiarkan anak perempuan satu-satunya tinggal sendirian di Ibo kota. Ya, Olyn?"
Hampir satu jam Olyn kembali meyakinkan Ibunya tentang rencana untuk tinggal sendiri, dan hampir satu jam Olyn harus meyakinkan Ibunya jika pergi ke Ibu kota sekarang untuk menjemputkan bukanlah hal yang tepat. Olyn harus memakai alasan Mikael; sosok baru ayahnya agar Ibunya dapat berhenti. Olyn kini sudah sampai di apartemen pilihannya, ia sengaja memilih sebuah apartemen mungil yang berada tidak jauh dari sekolahnya. Sehingga, Olyn hanya butuh berjalan kaki selama lima menit untuk sampai di sana. Olyn juga sengaja memilih ruang studio sebagai tempat tinggalnya yang baru, selain lebih murah, ruangan yang sempit dan kecil akan lebih mudah untuk dibersihkan mengingat Olyn bukanlah gadis yang suka bersih-bersih. Olyn menatap kamarnya; sebuah ruangan yang cukup untuk ditinggali satu orang, ruangan yang memiliki satu tempat tidur berukuran sedang, sedikit ruangan depan untuk bersantai, kamar mandi dan dapur yang cukup untuk bereksperimen dalam hal memasak. Olyn meletakkan kopernya di balik pintu, sekilas Olyn melihat jika apartemen yang ia tempati ini tidak begitu ramai. Mungkin hanya beberapa puluh kamar saja yang terisi, sisanya kemungkinan besar masih kosong.
Perlahan Olyn memeriksa seisi kamar, dinding ruangan berwarna abu-abu muda dengan hiasan berupa gambar kucing lucu dan dua buah jendela mungil yang membiarkan sinar Matahari dan angin masuk ke dalam kamarnya. Lantainya berwarna putih, bersih dan terlihat nyaman. Sementara tempat tidurnya lebih besar dibanding yang Olyn bayangkan, entah karena tubuhnya kecil atau karena ukurannya memang sedikit lebih besar dari apa yang Olyn bayangkan. Olyn berdendang perlahan sebelum memutuskan untuk menyusun barang-barang yang ia bawa. Mulai dari pakaian hingga peralatan sekolahnya. Juga tidak lupa potret ayah kandung tercinta Olyn yang tidak pernah gadis muda itu lupakan. Olyn duduk perlahan di atas tempat tidur, menatap lurus pada potret seorang pria muda yang memiliki warna rambut dan mata yang sama dengannya.
Tiap kali Olyn menatap potret Ayahnya, Olyn akan selalu lupa waktu, ia juga biasanya lupa tentang apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Olyn begitu merindukan sosok Ayahnya, Olyn selalu merasa sedih sekaligus menyesal karena pria baik dan luar biasa seperti Ayahnya harus pergi dengan begitu cepat.
"Ini semua gara-gara kau! Kalau saja kau tidak pernah lahir di dunia, kalau saja dia tidak perlu menyelamatkanmu! Dia pasti masih hidup sampai saat ini! Semua ini gara-gara kau! Bagaimana kau bisa terus hidup sementara, sementara dia yang harus meninggalkan kehidupannya demi dirimu!"
Olyn tersentak, ia kembali mengingat tentang sosok pria yang begitu membencinya dan kata-kata yang pria itu lontarkan padanya. Olyn tidak dapat mengingat wajah Si pria dengan jelas, sama seperti ia yang tidak dapat mengingat wajah Ayahnya tanpa dibantu dengan potret yang Ibunya simpan. Hal-hal yang bersangkutan dengan kecelakaan Ayahnya, hal-hal yang menyangkut masa lalu Olyn akan terasa samar dan buram. Olyn tidak akan mampu mengingatnya dengan jelas, dan kalau pun ia memaksakannya, maka ia akan merasa sakit kepala yang hebat dan mengganggu.
Olyn mencium potret Ayahnya perlahan, memeluknya erat sebelum meletakkannya di atas meja yang berada di sebelah kasur. Olyn tersenyum manis, ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Olyn tahu betul jika ia tidak boleh terjebak oleh perasaan sedih dan kejadian masa lalu, meski luka dan rasa sakit itu tidak juga hilang, Olyn harus tetap melangkah dan maju ke depan. Olyn masih punya kehidupan, begitu juga dengan Ibunya yang masih muda dan begitu cantik. Olyn tidak akan membuat orang-orang di sekitarnya merasa sedih apa lagi terpuruk, karena saat ini tujuannya adalah membuat orang lain merasa bahagia. Terutama mereka yang berada di dekatnya.
Olyn melirik ke arah surat kabar yang tidak sengaja ia dapatkan dari petugas kereta. Olyn melihat deretan iklan yang membutuhkan banyak pekerja paruh waktu dan pekerja penuh waktu, membuat Olyn kembali teringat jika tujuan keduanya setelah keluar dari rumah dan tinggal sendirian adalah mencari kerja paruh waktu.
Jelas saja, Olyn masih diberikan uang saku oleh Ibu dan Mikael, hanya saja ia merasa jika ia bisa menghasilkan sendiri uang jajannya maka akan terasa bagus sekali. Lagi pula, Mikael sudah membiayai Ibunya dan juga biaya sekolahnya yang terbilang cukup tinggi. Pada awalnya, Olyn berkata jika ia tidak pernah masalah jika harus bersekolah di kota kecil agar biayanya lebih terjangkau. Sayang, perkataan Olyn malah membuat Mikael menangis sedih dan terisak di pangkuan Ibunya karena telah merasa gagal menjadi sosok ayah yang dapat diandalkan.
Karena sifat lembut dan baik hati Mikael membuat Olyn luluh dan akhirnya setuju untuk sekolah di Ibu kota.
Olyn selalu saja ingin tertawa jika harus mengingat bagaimana lembut dan lucunya Mikael, sampai sepasang mata Cokelatnya menangkap berita tentang sebuah kafe yang mencari pekerja paruh waktu. Kafe yang menjual keik, aneka ragam roti juga kopi dan terletak di dekat taman kota Paris.
Olyn buru-buru melingkari berita tersebut karena sejak lama, Olyn selalu mengidam-idamkan bekerja di sebuah kafe mungil sejak dulu.
°
"Selamat siang! Saya datang untuk wawancara pekerja paruh waktu di kafe ini!"
"Kau, kau anak kecil yang waktu itu?"
Senyum Olyn memudar ketika mendengar suara dan menatap sosok wajah yang pernah ia temui dan masih ada di ingatannya dengan jelas.
"Denette!?"