Halaman empat

1097 Words
Four Olyn sidah bangun pagi-pagi sekali, ia begitu bersemangat hari ini. Pasalnya, ia akan mendatangi kafe yang tengah mencari pegawai paruh waktu. Olyn menatap dirinya di depan cermin, ia sudah berulang-ulang kali berganti pakaian hanya agar terlihat cantik dan rapi di depan mata atasan barunya nanti. Gadis remaja yang bahkan belum menginjak usia tujuh belas itu tidak mau dianggap sebagai anak-anak yang bahkan masih duduk di sekolah dasar. Olyn menatap dirinya lekat-lekat, kali ini ia mengenakan setelan kemeja berwarna cerah yang dipadukan dengan rok di atas lutut berwarna setingkat lebih gelap. Rambutnya sudah ia ikat dengan rapi, sebagai tambahan, Olyn juga memakai pelembab wajah dan pewarna bibir agar wajahnya terlihat lebih dewasa dibanding biasanya. Olyn menarik napas dan mengembuskannya perlahan, dalam hati ia merasa gugup, Olyn bahkan dapat merasakan debaran jantung miliknya yang tidak bisa dikendalikan. "Semua akan baik-baik saja, semua akan berjalan dengan baik dan semua akan terasa begitu menyenangkan!" Olyn menunjuk bayangnya di cermin lalu tersenyum lebar. Perlahan ia berbalik meninggalkan cermin dan menuju ke meja makan, ia tidak sempat siapkan sarapan pagi ini, beruntung Olyn sempat membeli beberapa kue kering dan beberapa karton s**u saat perjalanan pulangnya kemarin. "Aku akan beli sesuatu saat kembali ke rumah nanti, atau aku bisa beli sesuatu di kafenya nanti, hehe. Ah, aku sungguh tidak sabar." Olyn bergumam dengan dirinya sendiri, buru-buru gadis remaja cantik itu menghabiskan s**u yang sudah ia tuang dan sepiring kue kering yang disiapkan agar hari ini ia punya tenaga lebih. Olyn menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi, segera ia mengambil tas ransel dan kunci rumah karena Olyn tidak mau terlambat datang ke kafe sama sekali. Di sana terlihat jelas jika pendaftaran untuk pegawai dimulai pukul sembilan lewat tiga puluh menit pagi, dan Olyn sama sekali tidak ingin melewatkannya. Olyn bergegas keluar kamar dan berjalan menuju halte, sebenarnya kafe yang tengah ia incar tidak berada jauh dari tempat tinggalnya. Namun, Olyn akan terlambat jika ia memutuskan untuk jalan kaki, mengingat Olyn yang sering kali terdistraksi karena satu hal sampai ia melupakan tujuan sebelumnya. Karena kebiasaan ini, Olyn juga sering kali dimarahi Ibu dan teman-temannya karena selalu saja datang terlambat terutama ketika sedang ditunggu. Karena itu, kali ini Olyn tidak akan membiarkan kebiasaan buruknya membuat pekerjaan impiannya melayang. Tidak lama Olyn menunggu, bus yang mengarah ke Ibu Kota datang tepat waktu. Olyn segera naik dengan rasa senang dan jantungnya yang masih berdebar, Olyn berusaha tenang sejak kali pertama ia melangkah keluar dan tanpa sadar jika bus yang ia tumpangi telah berhenti menandakan jika Olyn sudah sampai. Olyn menarik napas panjang, melangkah turun dari bus dan menatap sebuah bangunan yang didesain begitu cantik dan kasual, warna pastesl mendominasi bangunan tersebut, dengan pintu kecil yang terlihat semakin rupawan dengan tambahan lonceng brwarna perak di bagian atasnya. Di samping pintu, terdapat dua unit jendela besar yang memperlihatkan isi dalam kafe: ada cukup banyak meja dan kursi di dalamnya dan terlihat belum ada pengunjung sama sekali. Lampu-lampu hias yang berukuran kecil dan hiasan bunga artificial yang ditata cantik di dinding kafe menambah kesan manis bagian dalam kafe. Olyn tersenyum lebar, ia sudah berdoa sejak pagi tadi agar Malaikat selalu menyertai setiap langkahnya. "Selamat siang! Saya datang untuk wawancara pekerja paruh waktu di kafe ini!" "Kau, kau anak kecil yang waktu itu?" Senyum Olyn memudar ketika mendengar suara dan menatap sosok wajah yang pernah ia temui dan masih ada di ingatannya dengan jelas. "Denette!?" Olyn berteriak secara tidak sadar, ia tidak habis pikir bagaimana pria menyebalkan yang membuatnya dalam masalah tersebut ada di dalam kafe. Terlebih lagi pria ini tengah berdiri di belakang mesin kasir dan kedua tangannya sibuk membersihkan gelas dan piring yang akan dipakai para tamu. Olyn tidak pernah berdoa agar ia jadi sesial ini, Olyn juga tidak pernah melakukan hal buruk sepanjang hidupnya sampaia ia harus bertemu dengan pria menyebalkan yang sama sebanyak dua kali dalam hidup. "Sedang apa kau di sini?" Olyn kembali bertanya, ia berdoa setengah mati agar Denette menjawab jika ia juga seorang pegawai paruh waktu di sana. "Harusnya aku yang tanya begitu. Sedang apa kau di sini? Pertanyaan bodohmu itu disimpan dulu, perhatikan sekitarmu lalu tanya lagi." Denette memasang wajah masamnya, wajah tidak ramah yang selalu mampu membuat Olyn merasa kesal. Pria berambut gelap dengan sepasang bola mata berwarna Olive Green dan terkesan tajam itu tampak mengenakan apron berwarna putih dengan tanda pengenal yang tersemat di kemeja berwarna gelap yang ia pakai. Olyn diam, berusaha menahan emosinya karena apa yang pria jangkung menyebalkan ini ucapkan. Perlahan, Olyn melangkah mendekati Denette dan menatapnya lurus. "Apa kau bekerja di sini? Jika iya, aku minta maaf. Aku sudah tidak sopan, tapi aku datang bukan untuk cari masalah, sungguh. Aku datang untuk melamar pekerjaan, aku melihatnya di koran. Di sana disebutkan kalau kafe ini membutuhkan karyawan paruh waktu, aku punya waktu kosong setelah sekolah dan saat libur aku bisa bekerja penuh waktu di sini. Aku tidak bisa membuat kue, tidak bisa juga membuat minuman yang enak. Namun, aku cepat belajar, cepat mengerti dan tidak mudah lelah. Aku juga cukup kuat! Meski tubuhku terbilang kecil, aku dapat membawa belanjaan sendirian dengan mudah. Jadi, aku akan sangat berguna di sini, ah! Tidak perlu membayarku mahal, karena aku tidak punya banyak pengalaman. Sejujurnya ini kali pertama aku bekerja paruh waktu, dan, dan ini juga kali pertamanya aku tinggal di Ibu Kota. Mungkin aku akan lakukan banyak kesalahan, tentu saja aku tidak keberatan jika harus dipotong gaji atau diminta bekerja lembur tanpa dibayar. Kau tidak akan menyesal setelah mempekerjakan aku!" Olyn tersenyum lebar, sepasang mata cerahnya terlihat bersinar. "Kau tidak seperti seseorang yang butuh uang, lalu kenapa repot-repot bekerja paruh waktu dan tidak fokus pada sekolahmu?" Denette meletakkan gelas yang sudah ia bersihkan di etalase, menatap lurus Olyn yang memang terlihat begitu rapi dan hidup berkecukupan. Olyn mengerjapkan matanya perlahan, wajahnya masih tersenyum tetapi sorot matanya tidak lagi bersinar. "Aku ingin, membawa kebahagiaan pada sekitarku. Aku ingin melihat orang-orang yang ada di sekelilingku bahagia, dan aku sendiri merasa nyaman ketika melihat ada banyak kebahagiaan. Meski tidak banyak yang bisa aku lakukan, seperti mengantar kue dan minuman kesukaan mereka, seperti mendengar tawa dan canda para tamu, seperti melihat wajah bahagia mereka ketika pesanan tiba, hal-hal kecil seperti itu membuatku merasa senang. Seperti ada yang mengisi kekosongan dalam diri, haha. Terdengar konyol memang, tapi aku juga tertarik dengan nama kafe ini. Bonheur, aku suka sekali namanya." Denette diam, sekilas ia bisa melihat bagaimana pikiran gadis di hadapannta, sekilas ia bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di balik ucapan dan senyuman Si gadis. Sesuatu yang Denette tidak akan pernah menyangka, sesuatu yang akan membuat Denette tidak ingin melepaskan Olyn di kemudian hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD