Five
*"Baiklah, baik. Aku akan pergi, tapi ingatlah, karma itu akan datang. Karma itu akan selalu datang cepat atau lambat, dan karma itu akan menemui pembunuh yang kalian lindungi dengan segera!"*
*"Anak kecil atau apa, salah tetap saja salah. Ada banyak sosok Ayah dan anak di luar sana, kenapa hanya anak itu yang membuat Ayah kandungnya mati? Kenapa hanya anak itu yang merebut kehidupan keluarganya? Tidakkah tandanya anak itu adalah anak pembawa s**l?"*
"Olyn?" Suara dari hadapan Olyn membuat gadis ini tersentak, ia mengerjapkan matanya perlahan lalu menatap ke arah sosok gadis yang ada di hadapannya. Seorang remaja wanita yang lebih tinggi darinya, berambut hitam pekat panjang yang diikat rapi dan seragam yang dikenakan dengan kurang benar. Gadis di hadapan Olyn ini adalah teman sebangkunya, Myr. Myr adalah sosok remaja wanita yang penuh energi sepertinya ketika pelajaran berakhir, tidak seperti Olyn yang memiliki kepintaran cukup dalam bidang akademis, Myr lebih unggul dalam bidang seni. Myr adalah pelukis andal kebanggaan sekolah mereka, selain pelukis andal, Myr juga salah satu siswi perwakilan ketika diadakannya lomba debat antar sekolah. Memiliki segudang prestasi dan wajah yang cantik, tidak membuat Olyn merasa iri dengan teman perempuannya itu. Sebaliknya, Olyn selalu saja merasa bangga ketika harus berjalan bersampingan dengan Myr baik ke kantin atau ke perpustakaan.
"Sedang memikirkan apa? Pelajaran sudah selesai sejak tadi, bukannya mulai hari ini kau kerja paruh waktu? Salah ya?"
Olyn tersentak lagi, kali ini bukan karena panggilan Myr tetapi karena Myr yang mengingatkannya dengan kerja paruh waktunya. Ia baru saja diterima bekerja kemarin, datang terlambat hari ini bukanlah hal bagus yang dilakukan. Bisa saja, Denette memutuskan untuk memecatnya jika Olyn terlambat dan dianggap bermain-main.
"Myr benar! Aku hampir lupa! Terima kasih sudah mengingatkan! Hehe. Aku akan siap-siap dan segera ke sana, mainlah ke sana kapan-kapan dengan anak-anak yang lain. Tapi, nanti pesan yang banyak ya! Aku akan banggakan kalian pada atasanku di sana, agar wajahnya tidak cemberut terus. Myr tahu? Atasanku itu punya wajah yang mengerikan, seperti burung Gagak." Olyn mengerutkan keningnya dan membuat kedua ujung alisnya terangkat dengan masing-masing telunjuknya, mencoba menirukan wajah yang sering Denette tunjukkan pada Olyn dan pada pelanggan kafe.
"Oh ya? Tidak ramah? Kalau tidak ramah bagaimana bisa jadi pemilik kafe? Apa karena punya banyak uang? Baiklah, nanti aku akan datang bersama yang lain. Kalau dia marah-marah pada Olynku, aku yang akan marahi dia. Hati-hati di jalan, jangan mengikuti orang asing hanya karena orang asing itu memberikanmu permen, baik?" Myr terkekeh perlahan sembari mengusap rambut Olyn dengan salah satu tangannya, sementara tangan lainnya bertopang dagu seolah sedang menikmati reaksi dan raut wajah Olyn. Olyn mengerjapkan mata, tertawa sebelum tersenyum manis.
"Terlihat seperti itu, tetapi aku tidak tahu bagaimana dia ketika bersama yang lain. Mungkin saat bertemu denganku, dia sedang punya masalah? Semua orang pasti punya alasan untuk melakukan sesuatu bukan? Atau bisa saja dia sedang patah hati, ditinggalkan kekasih atau bahkan kafe sedang sepi? Kita tidak tahu apa yang dia alami, aku jadi merasa bersalah karena sudah mengolok-oloknya di belakang seperti ini. Aku akan minta maaf saat bertemu nanti." Olyn memasang wajah murungnya sembari membereskan peralatan sekolah yang ia gunakan selaka jam pelajaran. Myr yang mendengar ucapan Olyn malah tertawa dan memukul ringan pundak Olyn dengan salah satu tangannya yang bebas.
"Hm? Kenapa? Kenapa Myr tiba-tiba tertawa? Apa yang lucu? Wajahku ya? Apa ada tinta di wajahku? Atau ada sesuatu yang menempel di gigiku? Ah! Ristleting seragamku lupa dinaikkan!?" Olyn menatap Myr dengan tatapan penuh rasa cemas sekaligus penasaran, sementara Myr hanya tertawa.
"Bukan, bukan Olyn bodoh. Aku tertawa karna hanya Olyn saja yang merasa bersalah ketika membicarakan orang di belakang. Lagi pula, apa yang Olyn katakan adalah kenyataan bukan? Itu bukan sepenuhnya salahmu, karena manusia itu sudah pasti melihat dan menilai seseorang sejak kali pertama mereka bertemu. Itu namanya Firts Impression, Olyn pernah dengar? Manusia itu tidak dapat menebak pikiran satu sama lain, karenanya guru bilang kita harus selalu ramah dan tersenyum meski pada orang asing. Benar? Yanh seperti itu. Jadi, jangan dipikirkan, dan tidak perlu minta maaf. Yang seharusnya minta maaf itu atasanmu, bukan dirimu. Biarkan saja, lalu lihat bagaimana sifat aslinya. Ataukah benar dia begitu karena ada masalah atau memang dia bukan orang yang ramah. Olyn sudah besar, pasti susah bisa menilai dengan baik." Myr tersenyum manis, senyuman yang membuat Olyn menjadi ingin menangis karena Olyn yang tak pernah menyangka bisa mendapatkan teman sebangku seperti Myr. Olyn meraih tubuh Myr lalu memeluknya erat, benar-benar erat.
"Aku mengerti! Aku tidak akan minta maaf dan akan jadi Olyn yang observant! Aku akan jadi pintar dan dapat diandalkan karena aku sudah dewasa! Hehe. Terima kasih Myr! Aku pergi ya? Kalau nanti aku sudah selesai dan sudah di rumah, aku akan kabari Myr. Bye!" Olyn melambaikan tangannya ke arah Myr dan berjalan ringan sembari bersenandung meninggalkan ruang kelas tersebut. Dan Myr yang ditinggalkan hanya tersenyum tipis karena ucapan Olyn barusan. Sedikit yang Olyn tahu, alasan Myr berkata seperti itu adalah ia yang tak rela jika teman kesayangannya harus minta maaf pada atasan laki-laki yang tidak sopan. Karena bagi Myr, satu-satunya orang yang harus minta maaf adalah pria yang menjadi atasan Olyn.
°
Krak-
Olyn mematung di depan pintu kafe, suasana kafe masih terlihat sepi: belum ada pengunjung yang bersantai dan hanya terlihat satu-dua tamu yang tengah menunggu antrean keik mereka. Olyn masih berdiri di depan pintu kafe, menelan ludahnya samar dengan keringat dingin yang perlahan jatuh menghiasi wajah manis Olyn. Di genggaman tangannya terlihat pegangan pintu kafe yang patah secara ajaib ketika Olyn membuka pintunya. Olyn tidak paham, apa karena ia yang terlalu bersemangat atau karena memang pegangan pintu kafe ini sudah terlalu lama. Yang mana pun pilihannya, pelaku utama yang merusak pintu tersebut adalah Olyn.
"Netty, pintunya rusak."
Seorang pria dengan wajah tampannya berdiri di hadapan Olyn, menatap Olyn dengan bola mata berwarna birunya yang kontras dengan warna rambut yang lelaki ini punya: ash blonde.
"Maafkan aku! Aku bisa jelaskan!"
"Tidak usah, aku sudah maafkan. Sekarang, ayo pergi dari kafe ini dan berkencanlah denganku," ucap lelaki asing itu ringan tanpa memedulikan Denette yang ada di belakangnya.
"Eh!?"