11

1233 Words
Hari ini, waktu yang ditunggu oleh seluruh karyawan untuk kepindahan mereka di rumah baru yang di berikan perusahaan. Fatimah mendapatkan rumah bernomor 5, mobil yang biasanya di sewa untuk mengangkut barang pindahan rumah tiba, Fatimah dengan segera membuka pintu, ia membelalak kaget. "Alhamdulillah, rumahnya besar sekali bu." "Alhamdulillah." "Pak, masukan saja kedalam barangnya." "Iya neng." Fatimah dan Fatma tampak berkeliling dirumah itu. "Untung hanya satu lantai ya bu, kalo enggak, kita pasti bolak balik naik keatas." "iya, ibu juga takut nanti jatuh." Mereka membuka sebuah ruangan, "Ini kamar bu, sudah ada kasurnya. Ini akan jadi kamar ibu saja, nah yang sebelah mungkin juga kamar. Itu akan jadi kamar Fatimah." mereka mmbuka lagi pintu disebelahnya. "Bener kan, ini jadkamar Fatimah." "Iya nak." Mereka berjalan kearah dapur disana cukup nyaman. Ada meja makan, tempat memasak yang tertata rapi. "dapurnya bagus ya bu." "iya, ibu gak kebayang bisa dapat ini rumah." Fatimah terdiam. Ini satu satu hari atasannya pergi, ia merasa bersalah. Tapi rasa kesal masih ada didalam hatinya. Ingin mengucapkan terimakasih tetapi ragu. "disana apa ya bu?." "Apa?." "Itu." Fatimah menunjuk sebuah pintu, "Mau kesana?." tanya Fatma. Fatimah mengangguk. Keduanya berjalan kearah pintu itu kemudian membukanya. "Oh, tempat jemur pakaian bu." "Iya, sepertinya sudah di siapkan banget." "Iya bu, pasti ini mah." "Apa ada taman nya?." "Kayaknya ada, coba kita kembali masuk mana tahu ada taman belakang rumah." Mereka menyusuri rumah itu, barangkali mereka menemukannya. Dan benar Fatimah menemukannya. Ada taman di belakang rumah, tidak besar mungkin sekitar dua kali dua meter. "Ibu bisa tanam apa aja disini. Selagi Fatimah kerja. Gak jauh kok dari sini." "Iya, ibu bisa santai disini, berjemur. Gak didalam rumah aja." Fatimah membalasnya dengan anggukan kecil.   ⚫⚫⚫   Karisma tengah berada dalam satu apartement bersama Kinanti. Ia sudah menghubungi mama dan papa nya, memberi tahu bahwa ia bersama Kinanti beberapa hari. Dan mereka menyetujuinya. Karisma tengah menunggu Kinanti berdandan. Ia berada di balkon, pemandangan kota Spanyol, cukuo indah. Lalu lalang jalan raya maish terdengar disini. "Babe, aku sudah selesai." "Aku datang." Mereka meninggalakan apartemen dengan dua bodyguard yang menemani di belakang mereka. "Langsung photoshoot?." "Iya, setelah itu, masih ada beberapa pekerjaan lainnya." "Apa?." "Berbelanja." Karisma terkekeh, "Aku kira pekerjaan seperti apa." "Hei, kamu pikir apa? Aku mau belanja di sini. Mungkin ada barang bagus." "Ya, terserah pada mu saja. Aku ikut." "Kamu bayari?." Karisma langsung menoleh, "Tidak tidak, aku hanya bercanda saja." ujar Kinanti. "Hei, tentu aku yang membayarinya. Kapan lagi bukan? Waktu kita untuk bersama itu sedikit sekali." "Tidak, aku hanya bercanda. Aku bayar sendiri." "Kita lihat nanti, siapa cepat."   ⚫⚫⚫   Kinanti tangah berpose, sementara Karisma berada di balik layar, menunggu sekaligus memainkan ponselnya, membaca data-data yang dikirimkan Fatimah untuk segera di tanda tangani. Ada satu kendala pada satu data. Disana ia tampak bingung, seorang pengusaha yang mengajukan surat untuk bekerja sama. Tapi ada yang berbeda. Ia mendial nomor kantor. Diserang sana Fatimah segera mengangkatnya. "Fatimah saya mau bertanya mengenai surat kerja dengan POCO Property. Kenapa mereka meminta persennya lebih besar?." "POCO Property, sebentar pak saya lihat dulu." Fatimah dengan segera membuka data nya du komputer. "Bagian mana pak?." "Lihat pada persentasi keuntungan. Apa mereka tidak waras?." Benar, Fatimah melihat kejanggalan disana. Perusahaan itu meminta persenan tinggi dari keuntungan yang ada, padahal sudah jelas mereka yang meminta bekerja sama dengan perusahaan Karisma. "Tolong hubungi pihak perusahaan disana, katakan maksud dari itu apa. Saya tidak akan menindak lanjuti ini." "Baik pak, akan saya tanya kan." "Fatimah." "Ya pak?." "apa semua karyawan sudah pindah kerumah baru?." "Sepertinya pak, mungkin mereka tengah menyiapkan barang mereka." "Lalu kamu?." DEG! Fatimah terdiam, seluruh tubunya terasa mati rasa. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, hingga ia merasakan sakit. "Fatimah, masih disana?." "Ya pak, saya harus tutup telfonnya, pekerjaan saya sudah menunggu." Tanpa mendengar jawaban Karisma, Fatimah langsung menutup nya. Ia baru dapat mengambil nafas sebanyak-banyak nya. Laki-laki itu seperti tidak mengerti dengan dirinya. Memberikan sebuah perhatian yang semua wanita pasti akan luluh, dan itu terjadi dengan dirinya. Jangan salahkan dia, jika menyukai laki-laki itu, bahkan laki-laki itu lah yang memberikan sebuah harapan kecil yang lama-lama menjadi bukit di hati Fatimah. Wajar ia menyukai laki-laki itu, bahkan semua karyawan wanita di kantor ini mungkin sama. Tapi tidak kah laki-laki itu mengerti, bahwa sakitnya di beri harapan yang tak pasti. Fatimah mencoba menghindar dengan pergi ke makan ayahnya, tetapi laki-laki itu terus menghubunginya, memberi pesan, menyanyakan di mana dirinya. Apa ia salah, jika ia menaruh hati pada laki-laki itu.   ⚫⚫⚫   Karisma temenung menatap ponselnya yang menampilkan layar gelap. Fatimah mematikan panggilan. Ia salah? Ia hanya bertanya, apa wanita itu sudah pundah atau belum. Dan panggilan terputus. "Babe." Karisma mendongak, "Sudah?." "Ya, tapi aku harus mengganti pakaian sebentar." "Baiklah, aku tunggu di mobil." Kinanti mengangguk. Mereka berdua berpencar, Karisma berjalan kebawah untuk ke mobil, sementara Kinanti mengganti pakaian. Sesampainya Karisma di mobil, supir pribadi mereka bertanya. "Mau kemana lagi kita pak?." dengan bahasa Spanyol. "Pacar saya ingin berbelanja, tapi mungkin kamu tanyakan padanya saja." Supir itu mengangguk, mereka menunggu kedatangan Kinanti. Tak lama wanita itu muncul. "Kemana kita nona?." "Diamonds n Diamonds."   ⚫⚫⚫   "Kamu mau beli apa?." "Apa yang menarik aja sih, banyak banget ini." Karisma mengikuti kemana pun Kinanti melangkah, disini banyak sekali perhiasan yang berkilauan. Toko yang menjual segala jenis perhiasan. Mulai dari cincin, gelang, anting dan semacamnya. Semua yang datang kesini, rata-rata turis. Dengan penampilan yang mencolok seperti Kinanti. "Ini bagus gak?." tanya Kinanti. "Hiasanya terlalu kecil." "lalu aku harus ambil yang mana?." "Kenapa gak diamond?." "Enggak deh, diamond sudah banyak, aku mau yang lain." "Ambil saja apa yang kamu mau. Aku kurang mengerti tentang ini." Kinanti terkekeh, laki-laki itu menjauh dari keramain dengan mencari bangku untuk nya duduk Sementara Kinanti tengah sibuk mencari barang-barang mewah ditoko itu.   ⚫⚫⚫   "Lo jahat banget deh sumpah, ngapain sih pergi gak jelas? Lo gak tahu calon bini gue itu kelimpungan." "Siapa?." "Fatimah lah." "Kapan lo lamaran?." "ck, belum sih, tapi kan nanti." Karisma menghembuskan nafasnya malas, "Gue pikir beneran." "Ya doain aja napa sih. Eh dimana lo." "Spanyol." "Ngapain?." "Cuci karpet. Pakai nanya lagi." "Ck, jawab aja napa sih." "Nemani Kinanti." "Eh, monyet, pekerjaan lo disini banyak, malah keluyuran gak jelas pula." "Gue mau ngabisin waktu bareng dia, setelah itu kapan lagi kami bisa ketemu. Jadi menurut gue gak masalah." "Ck, serah dah, gue gak mau calon bini gue lembur ya." "Itu sudah tugas dia." "Tapi gak gitu juga, ini tuh harusnya pekerjaan lo. Tapi malah pergi kesana." "Kok malah lo yang ngatur gue sih?." "Iya tahu gue, lo itu boss. Tapi mikir dong, kalau anak orang sakit gimana. Lo mau tanggung jawab?." "Berisik." Setelah mengatakan itu, Karisma langsung memuruskan panggilan. Ia berdecak malas, tidak suka mendengar omelan orang yang tidak tahu maksudnya. Jadi lebih baik ia duduk bersantai menunggu Kinanti menyelesaikan belanjanya.   ⚫⚫⚫   Fatimah pulang pukul setengah sepuluh malam, rumahnya sudah sepi. Malam ini, ia diantar Daniel pulang, laki-laki itu menemaninya menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. "Mau mampir dulu?." "Enggak deh, sudah malam, gak enak sama yang lain." Fatimah mengangguk, "Maaf merepotkan bapak akhir-akhir ini." "Santai sja, untuk Fatimah apa sih yang enggak." Fatimah hanya terkekeh, sosok Daniel sudah seperti kakak laki-laki baginya. Menghibur dan membantu. Awalnya ia pikir Daniel sosok laki-laki yang kaku, ternyata ia cukup nyaman berada disamping laki-laki itu. " Terimakasih pak. " " ya, aku pulang. " " hati-hati di jalan." Daniel menunjukkan jempolnya. Kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Fatimah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD