'Saya minta maaf, karna waktu itu.'
Sebuah pesan, masuk ke ponsel Fatimah. Wanita itu hanya menatap nya tanpa mau membalas. Ini sudah tiga hari atasanya itu pergi. Dan ia merasa semakin aneh dari hari ke hari.
Laki-laki itu mengirimkan nya pesan yang menurut Fatimah, itu sekedar basa-basi. Contoh nya seperti, bertanya bagaimana perusahaan, padahal jelas cctv tersambung ke ponsel nya. Lalu pegawai yang mereka data sudah ada di rumah baru atau belum, padahal itu tergantung para pegawai nya masing-masing, mau kapan mereka pindah.
Dan yang ketiga, laki-laki itu bertanya perihal ibunya, apa sudah sembuh,apa masih butuh penanganan, dan yang terakhir tadi. Ia tidak membalas semua pesan yang dikirimkan. Hanya melihat kemudian menghapusnya.
"Siapa nak?."
"Atasan Fatimah bu."
"Kenapa? Ada masalah?."
"Enggak, cuma urusan kantor."
"Ayo makan dulu." Fatimah mengangguk.
⚫⚫⚫
"Gak kerasa ya, sebentar lagi kamu pulang ke Indonesia. Aku sendiri lagi."
"Pekerjaan aku masih banyak sayang, dan aku tidak bisa meninggalkan nya."
Kinanti tampak cemberut. Malam ini keduanya tengah menikmati kota malam Spanyol, langit menaburkan kilauan bintang di mana-mana.
Wanita itu tampak nyaman, menyender pada bahu Karisma dengan sebuah selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Setelahnya juga, kamu pasti akan keliling dunia."
Kinanti mengangguk, "Iya, waktu untuk kita berdua sepertinya akan sulit."
"Ya, kamu benar."
Sejujurnya, Karisma ingin segera menikahi wanita ini, tetapi mengingat perkataan Kinanti bahwa ia tidak ingin menikah cepat, ia harus mengubur dalam-dalam perihal itu.
Entah kenapa, akhir-akhir ini pikirannya tertuju pada satu orang. Fatimah. Wanita itu mengusik pikirannya setiap hari, bahkan sampai mimpi.
Kemarin, ia bermimpi bahwa Fatimah menjadi istrinya, memiliki satu anak yang tampan. Wanita itu tampak sangat berbinar kala mengurus dirinya, menyayangi nya dan mencintainya.
Ia menggelengkan kepalanya membuat Kinanti bangun. "Kamu mengganggu tidur ku."
"Maaf, aku tidak tahu kamu tertidur. Lebih baik kita kedalam, disini dingin."
⚫⚫⚫
"Ayu, saya mau minta bantuan kamu."
Ayu tersentak kaget, saat Daniel datang dengan tiba-tiba kemudian berkata seperti itu.
"Bapak, kalau datang tolong jangan bikin saya kaget."
"Maaf, tapi tolong bantu saya."
"Bantu apa?."
"Ikut saya ketaman."
Ayu mengerutkan dahi tapi tetapi mengikuti Daniel ke taman. Sesampai nya disana mereka duduk disalah satu bangku taman.
"Apa pak?."
"Sebentar. Saya mau bercerita dulu."
Ayu menghela nafas, "Baiklah."
"Jadi begini, kamu tahu kan saya suka dengan Fatimah."
Ayu mengangguk, "Nah, saya juga sudah menunjukan foto Fatimah pada orang tua saya."
"APA?!."
"ssst, jangan berteriak, dengarkan dulu."
"Bapak gila, mau apa bapak?."
"Ya makanya dengarkan dulu."
"Ya, lanjutkan."
"Saya mau melamar Fatimah."
Ayu tersentak kaget. Ia menatap mata itu, ada sebuah keseriusan disana.
"Bapak serius?."
Daniel mengangguk, "Hati saya sudah jatuh ke Fatimah."
"Tapi..."
"Saya minta bantuan kamu."
"Apa?."
"Saya akn mencoba memperagakan, dan kamu yang menilai."
"Saya?" tunjuk Ayu.
"Iya, kamu."
"Gak mau ah pak, ini di kantor, nanti kalo orang liat gimana."
"Janji, disini gak ada yang lihat."
"Aduh, pak, kenapa saya sih. Sumpah deh, saya gak mau."
"Cuma kamu yang dekat dengan saya."
"Ya, yang lain kek siapa gitu."
"Plis, sekali ini aja."
"ya ya ya, ayo cepatlah."
Daniel tersenyum, ia menheluarkan kotak biru kecil. Kemudian berlutut.
"Demi apapun, saya malu." ujar Ayu.
"Sebentar saja."
"Iya iya."
Daniel nearik nafas, kemudian menatap mata Ayu. Keduanya saling padang.
"Fatimah, saya tahu pertemuan kita terlihat konyol. Tapi dari situ lah, aku menemukan mu. Menemukan senyum indah yang kamu berikan saat kamu tampak kebingungan."
Ayu menatap mata itu seolah ucapan itu tertuju padanya. Tanpa bisa di cegah, hatinya tersentuh.
"Will you marry me?."
Ayu mengangguk, matanya berkaca-kaca. Daniel tersenyum. Ia beranjak dari bawah untuk duduk disamping Ayu.
"Kok kamu malah nangis?."
"Abisnya tersentuh pak."
Daniel terkekeh, "Berarti pas. Saya akan lakukan seperti tadi."
"Kapan bapak akan melamar Fatimah?."
"Niatnya nanti malam, tapi liahat keberanian saya aja deh nanti."
⚫⚫⚫
Malam ini, Karisma putuskan untuk pulang, seharusnya ia masih berada di Spanyol dua hari lagi. Tetapi ia tidak bisa, semuanya jadi kacau berada disini.
"Hati-hati." ucap Kinanti.
"Jaga kesehatan." Karisma mencium puncak kepala Kinanti.
"Bye."
"Bye."
Karisma menaiki pesawat pribadi Kinanti, wanits itu menyuruh sanh pilot untuk mengantar balik Karisma ke Indonesia.
Mobil Kinanti sudah menjauh, kini pesawat akan terbang membawa Karisma ke Indonesia.
"Aku tidak bisa diam disini, pikiran ku terus berkelana pada sosok wanita itu."
⚫⚫⚫
"Ucapkan terimakasih pada atasanmu nak."
Fatimah menoleh, "Su—sudah bu."
Kini keduanya tengah duduk di depan televisi. Fatimah tampak menjawab dengan gugup.
"Kamu ada masalah dengan atasanmu?."
"Ibu tahu dari mana?."
"Feeling seorang ibu."
"Enggak kok, semuanya baik-baik aja."
"Nak, mau bagaiamana pun, dia masih atasamu. Dia yang memberimu gaji, semarah-marahnya kamu. Harus tetap ucapkan terimakasih."
"Iya, nanti Fatimah sampaikan . Ibu belum ngantuk?."
"Belum."
Fatimah pergi kedapur, membuat s**u sehat untuk ibu nya. Kemudian kembali keruang santai.
"Ibu minum ini setelah itu minum obat langsung tidur."
Fatma mengambilnya sementara Fatimah kedapur mengambil obat.
"Ini obatnya. Sekarang bagaimana? Ibu masih sakit-sakit?."
"terkadang, tapi sudah sedikit jarang."
"alhamdulillah, semoga ibu cepat sembuh."
"aamiin."
⚫⚫⚫
Setelah memepuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Karisma tiba di Indonesia. Ia bernafas lega sekarang. Tapi sesuatu dalam dirinya membuncah bahagia. Ia tidak mengerti ada apa ini. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan ini. Bahkan ketika berpacaran dengan Katrina.
"Saya sudah di depan pak."
"Baiklah."
Karisma berjalan membawa kopernya menuju pintu kedatangan. Ia menoleh kekanan dan kiri, setelah menemukan supir pribadinya, ia pun menghampiri.
"Mari saya bantu tuan."
Karisma menyerahkan kopernya. "Terimakasih."
"Kita pulang kemana tuan?."
"Apartement saja."
"Baik tuan."
⚫⚫⚫
Daniel mondar-mandir di kamarnya dengan kotak cincin biru di tangannya. Ia bergerak gelisah sesekali mengepalkan tangannya.
"Gue pasti bisa."
CKLEEK!
"Nak."
"Bunda."
Bunda Daniel masuk dengan senyum cantiknya. "Kamu kenapa?."
"bunda yang kenapa, tumben ke kamar aku."
Plak! "Anak ini, kalau di tanya, malah nanya balik."
Daniel terkekeh, "Ada apa bun?."
"Kamu kenapa? Kok gelisah?."
"Bun, Daniel mau lamar wanita itu, tapi takut."
"Hah? Kok takut."
"Iya, takut di tolak."
"Belum juga di coba sudah takut aja. Coba dulu."
"Kan, kalau bun. Takut aja gitu."
"Bunda doa kan kamu bisa, in syaa Allah lancar."
"Aamiin bun. Oh ya, bunda kenapa?."
"Enggak, cuma lihat kamu aja."
"Bunda kalau masuk ya ketuk dulu, entar kalau misal nya aku habis mandi gimana?."
Plak! "Anak ini. Ya sudah bunda tidur dulu."
"Iya bun, selamat malam."
"malam juga."
⚫⚫⚫
Pagi ini Fatimah sudah ada di kantor. Saat hendak duduk, ia terlonjak kaget saat pintu ruangan Karisma terbuka.
"Bapak?."
Karisma muncul dengan senyuman, "Hai."
Fatimah terdiam sembari mengerutkan dahi, "Iya pak ada yang bisa di bantu?."
Karisma berdeham, senyumnya luntur seketika. "Tidak, segera keruangan saya."
Fatimah mengangguk, "Baik pak."
Fatimah menyiapkan jadwal Karisma kemudian berjalan memasuki ruangan itu.
"Pak saya akan membacakan..."
"Kamu tidak menanyakan saya?." Karisma memotong ucapan Fatimah.
Fatimah tampak bingung, dahinya mengkerut tipis, "Tanya apa?."
Rahang Karisma mengeras. "Bacakan sekarang."
⚫⚫⚫
Makan siang ini, terasa tidak karuan. Karisma bersikap aneh yang ia sendiri tidak mengerti maksudnya. Ayu tampak bingung menatap Fatimah yang hanya mengaduk-aduk makananya.
"Itu makanan loh Fat. Bukan air kobokan."
Fatimah tersentak, "Maaf."
"Kamu kenapa sih?."
"Enggak kok."
"Tuh kan, gak mau cerita. Cerita aja kali, gak masalah."
Fatimah menghela nafas, "Kamu pernah merasa aneh gak sih sama seseorang?."
"Aneh gimana nih?."
Fatimah memejamkan matanya, ia ragu ingin mengatakannya. Ia takut malah menjadi salah tanggap.
"Enggak jadi deh, aku langsung ke atas aja gak apa ya. Banyak kerjaan soalnya."
"Iya iya gak apa kok."
Ayu menatap kepergian Fatimah dengan bingung, "Apa mungkin, pak Daniel sudah mengatakannya?."