13

1229 Words
Pagi ini Daniel sudah siap, ia sudah memantapkan diri untuk melamar secara pribadi pada wanita pujaan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Fatimah. Gadis yang memporak-porandakan hatinya. "Bismillah, in syaa Allah berhasil." Laki-laki itu memakai jas nya kemudian berjalan meninggalkan kamarnya. "Waduh, rapi sekali ini." "Iya dong bun." "Ada rapat?" "enggak kok bun, kan kata bunda di coba dulu." "Coba apa ini?." tanya ayah Daniel. "Ini, anak mu sudah besar. Mau lamar anak gadis orang." "betul kah itu? Semoga diterima nak." "aamiin yah, makasih." "Sarapan dulu nak." "enggak deh bun, nanti aja di kantor." "aduh, anak ini semangat sekali." Daniel hanya terkekeh, "Daniel berangkat dulu. Assalamu'alaikum." "Wa’alaikumsalam." "Anak kita yah, sudah besar." "Ya, kita doakan dia berhasil." "Aamiin."   ⚫⚫⚫   Daniel sudah sampai di kantor, ia menampilkan senyum lebar nya. Daniel sosok yang baik sebenarnya, mudah tersenyum, tetapi senyum itu disalah artikan oleh mereka, mereka mengira bahwa Daniel laki-laki playboy. Padahal bukan begitu. Laki-laki itu sudah sampai di lantai tempat kerja Fatimah. Ia melihat bahwa Fatimah sudah datang. Dengan semangat ia menghampiri wanita itu. "Hai." "eh pak Daniel." "lagi sibuk?." "enggak kok, cuma beres-beres aja." Daniel mengangguk, "Nanti siang...." "sedang apa kamu?." Keduanya menoleh, Karisma muncul dari ruangannya. "Kepo banget deh." jawab Daniel. Mata Karisma menatap tajam mata Daniel. Laki-laki itu merasa ada yang aneh dari sosok Karisma yang berdiri sekarang. Memandangnya dengan tajam seolah ia adalah musuh. "Kenapa?."tanya Daniel. "Dia sedang banyak urusan, jangan ganggu dia. " "Siapa yang ganggu sih? Aku cuma mau ngajak dia makan siang bareng." "Dia banyak pekerjaan Daniel." "Kan makan siang. Bukan sekarang." "Kembali bekerja." "Kenapa sih?." tanya Daniel. "KEMBALI BEKERJA DANIEL!."karisma berteriak. Fatimah maupun Daniel sama-sama terkejut. Keduanya saling pandang, Fatimah memberi kode pada Daniel untuk menurutinya. Daniel pun mengangguk dan pergi dari sana. Fatimah dan Karisma sempat berpandang beberapa dekit kemudian laki-laki itu berlalu dengan menutup pintu dengan keras.   ⚫⚫⚫   Entah kenapa hari ini mood Karisma tidak baik. Sejak kemarin kepulangannya, ia berharap bahwa Fatimah setidaknya menanyakan dirinya. Tetapi itu semua diluar dugaan nya. Ia menghempaskan diri dikamar pribadi nya. Sesekali memijat pangkal hidungnya. Sejak kemarin, Kinanti mengabarinya, bahkan menelfon, ia tidak mengangkat hanya mengirim pesan singkat dengan mengatakan bahwa ia tengah sibuk. "Pak." Karisma beranjak dari kasur, membuka pintu kamar ia terkejut, "Ada apa Fatimah?." "Ada yang mencari bapak." "Siapa?." "Mama." Fatimah pamit undur diri. Memberikan ruang privasi untuk dua orang itu. "Kamu ini ya, gak ada niatan apa kerumah? Harus mama yang kesini?." "ma aku sedang lelah." "kamu sakit?." "enggak, cuma butuh istirahat saja." "Kamu sudah makan?." "belum." "mau makan dulu?." "enggak deh, nanti aja. Aku butuh istirahat." Shinta hanya bisa mengangguk, membiarkan anak laki-laki nya itu beristirahat.   ⚫⚫⚫   "Sudah berapa lama kerja disini nak?." "Sekitar sebulan lebih bu." "Gimana, enak bekerja sama anak saya?." Fatimah tampak tersenyum maklum, "Begitulah bu." "Maafin aja ya nak, dia memang begitu orangnya, turunan dari papa nya." "iya bu, saya mengerti." "Mama ngapain masih disini?." "anak gak sopan kamu." Fatimah hendak pergi dari ruangan Karisma tetapi ditahan oleh Shinta. "Kamu mau kemana?." "biarkan dia bekerja ma." "Kamu ini, coba jangan galak-galak begitu. Ya sudah nak, kembali lah bekerja." Fatimah berlalu, sejujurnya ia tidak dapat bernafas dengan lega. Karna penampilan laki-laki itu begitu... Sexy. Fatima tidak mau berpikiran yang tidak-tidak. Jadi ia putuskan untuk pergi. "Makan dulu, itu diatas meja kerja kamu. sekretarismu yang beli." "Fatimah?." "iya lah, lantas siapa lagi?." Senyum kecil terpantri dibibir Karisma. Ia membuka bungkusan tersebut yang ternyata nasi goreng. Memakannya dengan lahap seperti orang yang tidak makan beberapa hari.   ⚫⚫⚫   "Fat." "ya?." Keduanya kini berada dikantin kantor, mereka tengah makan siang untuk mengisi daya tubuh yang terkuras habis karna pekerjaan. "Aku mau ngomong sesuatu." "Iya, ngomong aja." Daniel berdeham, "Aku gak tahu gimana ngomongnya, hanya saja untuk pertemuan kita...." "Sedang apa kamu disini?." Keduanya terlonjak kaget, saat Karisma datang dengan tiba-tiba. Karisma menarik tangan Fatimah menyuruhnya berdiri. "Kan sudah saya katakan untuk makan siang dengan klien." Fatimah tampak cengo, ia menatap Karisma sembari mengingat pertemuan dengan klien hari ini. "Klien siapa?." "Ikut saya." "Karisma." Daniel menahan tangan Karisma. "Lepas." "lo apaan sih, dia lagi makan." "Lalu? Ini kewenangan saya, dan kamu tidak berhak melarangnya." "Gila ya lo, sakit? Apa gimana? Biarin dia habisi makan, setelahnya lo boleh bawa dia buat kerja lagi." "Ini bukan urusan anda." Karisma menarik tangan Fatimah dengan kasar. Daniel mengeraskan rahangnya, ia bisa lihat wajah kesakitan dari Fatimah. Sesampainya mereka di lobby kantor, seluruh mata memandangi mereka dengan berbisik-bisik. "Pak, lepaskan saya." Karisma tidak menghiraukannya, ia berhenti di lift petinggi. Begitu hendak masuk, Fatimah menahannya. "Masuk." "enggak, saya naik lift keryawan saja." "Masuk." Fatimah menggeleng. Karisma tidak tinggal diam, ia membopong Fatimah di bahunya kemudian menutup lift. Semua orang yang melihat itu membelalak kaget begitupun Fatimah. Wanita itu memukul punggung Karisma dengan keras. "Turunkan saya." "Tidak." "turun kan saya pak, saya habis makan." Karisma menurunkannya. Wajah wanita itu tampak memerah. Hampir muntah. Laki-laki itu menatap Fatimah tanpa mengeluarkan suara. "Bapak kenapa sih? Bapak gak lihat tadi, mereka ngelihat saya. Saya gak mau bikin masalah." "Siapa yang akan memarahi mu? Saya atasan nya disini." "Dan bapak tidak berhak membawa saya seperti tadi. Menarik tangan saya hingga memerah..." Fatimah menunjukkan pergelangan tangan nya yang memerah, "Lalu, bapak membopong saya didepan lift. Demi Allah, saya gak ada urusannya dengan bapak. Dan soal klien. Klien apaan pak? Kita gak ada ketemu klien siang ini." Karisma masih tidak menjawab, ia memperhatikan Fatimah yang tengah memarahinya dengan muka memerah. "Jawab pak. Kenapa diam? Bapak kalah telak, iya?." "Kamu salah jika berpikiran bahwa saya kalah."Karisma menekan tombol yang ada di dekat pintu lift, tak lama lift berhenti. Ia mematikan cctv yang ada didalan lift. Fatimah ketakutan. "Kenapa ini?." Karisma berjalan perlahan mendekati Fatimah. Wanita itu memundurkan tubuhnya hingga menempel pada dinding lift. "Bapak ngapain?." ujar Fatimah yang tampak ketakutan. Kedua tangannya menahan d**a Karisma. "dari kepulangan saya waktu itu, saya pikir akan menjadi sesuatu yang bisa membuat saya tersentuh. Tapi ternyata salah. Beberapa hari mood saya buruk dan itu membuat saya malas bekerja." Brak!. Fatimah terlonjak kaget, ia tidak berani menatap mata Karisma yang tampak berkilat marah. Laki-laki itu memukul dinding lift tepat disampingnya. "saya tidak suka dengan wanita yang membantah bahkan berteriak pada saya. Tapi kamu..." "Bapak mau pecat saya? Silahkan. Saya tidak takut." ujar Fatimah dengan menatap mata Karisma. Senyum smirk terpantri dibibir Karisma. "Tapi saya tidak ingin." "Kenapa? Anda mau siksa saya dengan mulut pedas dan perhatian sialan yang anda berikan itu? Iya?." Karisma terdiam, "Maksud anda memberikan saya sebuah perhatian kecil beberapa hari kemarin itu apa maksudnya? Mau buat saya terbang tinggi keatas langit, lalu menjatuhkan saya?" Fatimah mendorong Karisma hingga punggung laki-laki itu mengenai dinding lift. "Selamat, anda sudah membuat saya seperti itu. Bapak mau pecat saya kan? Besok, surat pengunduran diri saya ada dimeja bapak." Fatimah menekan tombol di dalam lift itu, tak lama pintu terbuka. Wanita itu berlari meninggalkan Karisma yang tampak linglung dengan keadaan sekitar. Ia meluruh terduduk di lantai lift. "Perhatian kecil dan surat pengunduran diri." gumamnya.   ⚫⚫⚫   Daniel menangkap Fatimah yang tampak menangis, "Hei ada apa?." Tanpa memikirkan sekitar, Fatimah memeluk Daniel, menumpahkan tangisnya yang menyesakkan d**a. "Kamu kenapa?." "Saya mau pulang." lirih Fatimah. "Oke, kita pulang." Daniel menarik Fatimah menuju parkiran mobilnya. Mereka memasuki mobil kemudian menjalankannya. Fatimah tidak berhenti menangis, dengan inisiatif, laki-laki itu membelikan air putih untuk Fatimah. "minum dulu. Setelah itu kalau kamu mau cerita, kamu boleh cerita."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD