14

1388 Words
Pagi ini, Fatimah sudah ada didepan Karisma. Ia menghempaskan surat pengunduran dirinya. Karisma melirik sekilas kemudian merobek kertas itu. "Ingat kontrak kerja bikin? Maka dari itu ini tidak akan berguna, jika kamu mau membayar biaya yang di cantumkan disana." Mata Fatimah kembali memanas, nafasnya memburu. Kemudian ia keluar dari ruangan Karisma dengan membanting pintu. Biarkan saja jika ia tidak sopan. Tapi sungguh, hatinya sakit jika terus begini. Matanya sudah membengkak, semalaman menangis dan tidak dapat tidur. Fatimah mengusap air matanya. Ia menarik nafas, kemudian ia memfokuskan diri pada layar komputer nya. Sementara itu, didalam ruangan, Karisma melihat cctv yang ada diluar. Ia merasa bersalah sekarang, mata wanita itu terlihat sekali menahan beban yang berat. Jika boleh jujur, ia memiliki perasaan lebih pada sekretarisnya itu. Maka dari itu, ia tak ingin Daniel berdekatan dengan wanita itu. Kariama menghela nafas kasar. Kemudian membuka jasnya serta kancing lengan kemeja nya, kemudian menggulungnya hingga ke siku. Dilihatnya kertas pengunduran diri Fatimah. Ia membuka keetas itu kemudian menyatukan nya. "Ini benar surat pengunduran diri."   ⚫⚫⚫   "Enggak Yu, aku bawa bekal sendiri dari rumah." Wanita itu tersenyum kecil, kemudian memelungkupkan wajah nya dilipatan tangan. Matanya terasa berat sekali. Kepalanya pusing. Ia butuh tidur sekarang tapi mengingat ini di kantor, ia bisa saja terkena masalah. Ia hanya akan memejamkan mata sekejap. Dan tanpa sadar wanita itu tertidur. Karisma yang kebetulan keluar, terdiam. Ia menatap wajah letih Fatimah yang tertidur, dengan inisiatif nya, ia membawa Fatimah ke kamar pribadinya. Setidaknya membiarkan wanita itu tidur dengan nyaman. "Maafkan aku yang memberi mu harapan. Tapi sekarang, harapan yang kamu berikan takkan sia-sia."   ⚫⚫⚫   Karisma berjalan keruangan Daniel, pintu itu tertutup rapat sehingga ia harus mengetuk nya lebih dahulu. "masuk." Cklek! "Bisa bicara?." "Mau apa lagi?." "Aku mau bicara." "duduk." Suasana yampak tegang, keduanya masih sama-sama diam tanoa ada yang memulai berbicara. "Cepat katakan." "Aku mau kamu jauh dari Fatimah." "apaan sih lo. Gak bisa." "aku suka dia." "gue yang lebih dulu suka dia. Bahkan gue mau lamar dia, sialan." Karisma hanya menghedikkan bahu tak acuh, "Itu terserah kamu, aku sudah katakan untuk menjauhi nya." Bug! Daniel meninju rahang Karisma dengan keras. Laki-laki itu tersungkur kebelakang. Sudut bibirnya berdarah. Ia hanya berdecih kemudian menhapus bercak darah itu. "tanpa ada kekerasan." "LO PIKIR MUDAH, GUE NGEDEKATI DIA. BUTUH PERJUANGAN, LO DENGAN MUDAHNYA AMBIL DIA DARI GUE. MAU JADI APA LO." "ck, aku menyukainya, dan itu terserah Fatimah mau memilih yang mana." "INGAT LO PUNYA KINANTI, SIALAN?!." "aku tidak tahu." Bug! "Bajingan."   ⚫⚫⚫   Cahaya putih memasuki penglihatan seorang wanita. Ia menyipitkan matanya tak lama cahaya itu menghilang di gantikan dengan sesosok laki-laki. Ia belum dapat melihat jelas siapa itu, hingga saat jarak nya dekat. Ia terbelalak. "ayah?." Dia berlari, sang ayah menerima pelukan itu. "Apa kabar sayang?." "ayah, Fatimah rindu." "Ayah juga rindu, makanya aku kesini." "ini di mana yah?." "tempat jauh." Fatimah menatap tubuh ayahnya yang tampak bugar, "Ayah baik-baik aja kan?." Laki-laki itu mengangguk, "iya, kamu apa kabar nak?." "gak baik ayah, ibu lagi sakit. Fatimah harus cari kerja untuk ibu. Dan sekarang sudah dapat." "hei kenapa menangis?." "Fatimah bingung ayah, Fatimah bingung dengan hati ini." "Ceritakan pada ayah nak." "Fatimah menyukai atasan Fatimah. Tapi... Tapi dia seolah-olah hanya mempermainkan hati Fatimah saja." "Nak, jika seseorang menyukaimu. Ia akan melakukan apapun asal kamu berada disamping nya. Ia akan bertindak semaunya, hanya ingin berdekatan dengan mu." "Tapi Fatimah gak kuat ayah." "itu artinya kamu terlalu menutup diri, coba buka hatimu. Terima sikapnya, ia akan luluh dengan yang kamu lakukan." "ayah mau ketemu ibu?." "Sudah." Tak lama, sebuha cahaya muncul menyilaukan mata. "Ayah harus pergi." "enggak, ayah harus sama Fatimah." "Jaga ibu baik-baik." "AYAH!...." Fatimah terbangun dari tidur nya. Keringat membasahi dahinya ia mengambil air minum diatas nakas. "Astagfirullah." gumamnya. "Terimakasih sudah datang ke mimpi Fatimah, ayah."   ⚫⚫⚫   "Fatimah, saya ingin berbicara penting." "Iya pak ada apa?." "ikut saya ketaman." "Tapi..." "sebentar saja." Daniel menarik tangan Fatimah. Saat ini mereka akan masuk kantor karna jam sudah waktunya untuk bekerja. Tetapi laki-laki itu menarik tangannya kemari. "Ada apa pak?." "Fatimah, saya tidak tahu harus menjelaskan awalnya bagaimana, tapi saay kita bertemu pertama kali,itu memang konyol. Tapi melalui senyum mu, saya merasa yakin bahwa kamu orang yang saya cari.." Daniel merogoh kantong jas nya, kemudian ia berlutut. "Will you marry me?." "Pak..." Fatimah tamoak syok, ia bahkan menggeleng tak percaya. "Saya tahu ini mendadak, tapi hati saya yakin dengan kamu." "Tapi..." "jika kamu menerima saya, ambil cincin ini. Tapi jika tidak, kamu boleh membuangnya." "Pak saya... Saya tidak tahu, beri saya waktu untuk... Menjawabnya." "ya, pasti, saya beri kamu waktu selama yang kamu mau. Setelah itu beri saya jawabannya. Saya mengharapkan iya dari mu.." Daniel tersenyum, kemudian memberikan kotak cincin itu pada Fatimah. "Jika ia, gunakan. Jika tidak, kamu boleh buang ini. Ayo kita keatas."   ⚫⚫⚫   Fatimah tampak termenung di meja kerja nya. Hari ini banyak kejadian aneh yang tidak ia mengerti. Daniel, laki-laki itu mengajaknya menikah. Lalu Karisma, laki-laki itu bersikap aneh yang sulit sekali ia mengerti. Tidak ada inti dari semua yang ia bicarakan. Maksunya, kenapa harus dia yang di tarik, di bopong dan segala nya. Ia teringat dengan mimpi yang Ayahnya berikan. Mungkin kah ia menutup hati, tapi ia menyukai Karisma. "Nak, jika seseorang menyukaimu. Ia akan melakukan apapun asal kamu berada disamping nya. Ia akan bertindak semaunya, hanya ingin berdekatan dengan mu." Kilasan tentang mimpinya semalam menguak, ia mengingat tingkah laku Karisma yang semana-mena padanya. Dan itu mengingatkannya pada perkataan ayahnya. Ia menggeleng kuat," Mana mungkin dia suka kamu Fatimah, ingat, kamu itu gak pantas sama dia."   ⚫⚫⚫   Bruk! "Maaf, aku tidak memperhatikan jalan." "Ya tidak apa." Wanita itu mengambil belanjaan nya yang terjatuh. "Bukan kah kau pacarnya Karisma?." Kinanti mendongak, "ya." "Mari saya bantu." "aku tidak menyangka akan bertemu dengan pasangan nya Karisma. Dan ini waktu yang tepat untuk aku membalasnya."batinnya. "Mau minum bersama ku? Sebagai tanda maaf ku." "Baiklah, tidak masalah." Mereka berjalan menuju kedai minum. Memasukinya dan mengambil tempat duduk. "Tunggu sebentar, biar aku yang memesan nya." "oh, iya." Kinanti duduk sembari memainkan ponselnya. Akhir-akhir ini Karisma sulit sekali untuk di hubungi. Bahkan beralasan sibuk. Tidak kah laki-laki itu mengerti, ia hanya menghubungi sebentar, dan itu bisa dilakukan sambil bekerja. Ia juga takkan menelfon hingga berjam-jam. Hanya lima sampai sepuluh menit. Setelah itu selesai. Kinanti menghela nafas, ia memandangi jalanan Hamburg yang tampak damai. Hatinya bergemuruh menahan rindu. Tapi laki-laki itu seolah tidak menginginkannya. "Ini minuman nya. Maaf lama." "oh ya, terimakasih." Kinanti menyesap minumannya dengan perlahan. Sementara laki-laki didepannya juga ikut menyesap minuman itu. Tetapi matanya menyalang menatap Katrina. "Sebentar lagi." batinnya.   ⚫⚫⚫   "Bu, Fatimah mau bicara, bisa?." "Bisa nak, sini masuk." Fatimah malam ini tampak gelisah. Sehingga ia menghampiri ibunya yang ada dikamar. Wanita paruh baya itu tersenyum menenangkan. "Ada apa?." "boleh Fatimha berbaring di pangkuan ibu?." "Boleh boleh, kemari lah." ujar Fatma sembari menepuk pangkuannya. Fatimah langsung berbaring memiring. Wanita itu tampak murung, sementara Fatma mengelus puncak kepala anak nya. "Ada apa? Ada yang bisa ibu bantu?." "bu, bagaimana jika Fatimah dilamar seseorang?." "Apa ada yang melamar mu?." Fatimah diam sejenak kamudian mengangguk. "Siapa?." "ibu ingat waktu laki-laki yang datang kerumah saat malam hari?." "iya, laki-laki itu yang melamar mu?." "iya." "Lalu, kamu sudah memberi jawaban?." "Belum bu, Fatimah bingung." "apa yang membuatmu bingung?." Fatimah menghela nafas, kemudian ia bangun dari tidur nya. "Fatimah... Fatimah menyukai seseorang." Fatma tersenyum kecil, "Siapa yang anak ibu sukai ini? Apa atasan mu juga?." Fatimah tampak malu, "Bisa dibilang begitu bu." "siapa? Apa laki-laki yang kita temui di restoran waktu itu?." "ibu tahu dari mana?." "feeling ibu selalu kuat untuk anak nya." "Ibu jangan beri tahu siapapun ya bu." "Tentu, untuk apa ibu memberi tahu orang-orang bahwa anak ibu yang cantik ini..."Fatma mencubit hidung Fatimah, "Menyukai atasannya." "Sudah banyak kejadian seperti itu, nak. Seorang sekretaris menjadi pasangan atasannya. Seorang sekretaris yang merayu atasannya..." "Tapi Fatimah gak merayu atasan Fatimah bu." "ibu tidak berkata seperti itu untuk mu sayang." Fatimah terkekeh, "Dulu ibu juga seperti itu bersama ayah mu. Tapi tidak dalam posisi sebagai sekretaris dan atasannya." "lalu?." "ibu dulu sebagai karyawan biasa, dan ayah mu hanya kepala divisi yang biasa saja." "Tapi itu sama saja bu, atasan dan bawahan." "Beda konteks nya kalau menurut ibu." "Lalu, Fatimah harus apa?." Fatma menyentuh d**a Fatimah, "coba tanya kan hatimu. Hati tidak akan salah dalam memilih."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD