Kedekatan antara Daniel dan Fatimah, masih tampak biasa saja. Sama seperti sebelumnya. Mereka bahkan saat ini tengah makan siang, dengan Fatimah yang membawa bekal dari rumah masakan ibu nya.
"Tumben bawa bekal?."
"Iya, mau hemat."
Daniel terkekeh,"Aku bisa bayarin, padahal."
"Enggak deh pak, gak masalah kok. Lagian ibu saya yang masak kan gak enak kalo saya gak bawa."
Keduanya terkekeh kecil. Semenjak Karisma berteriak marah di lobby seluruh karyawan seperti tidak ingin mengulangi hal yang sama. Dan harusnya Fatimah berterimakasih tetapi ia tidak berani.
Bangku disamping Fatimah bergerak keduanya langsung mendongak, Karisma duduk kemudian membuka tempat makannya.
"Bapak ngapain?."
"Makan."
"tapi.."
"Apa? Apa saya tidak boleh makan disini?."
Fatiamh tampak memperhatikan sekitar. Bangku yang masih banyak kosong dan seluruh mata memandangi nya.
"Ya sudah kalau begitu biar saya ambil tempat lain."
Greep! "Duduk."Karisma menahan tangan Fatimah.
"gak enak dilihat orang."
"Kenapa?kamu berpakaian lengkap bukan bertelanjang."
Fatimah hanya bisa menghenla nafas.
⚫⚫⚫
"Nanti, pulang dengan saya."
"Saya naik taksi saja pak."
"Dengan saya."
"Bapak kenapa sih? Aneh banget tahu gak."
"Siapa yang aneh? Saya? Itu perasaan kamu saja."
"Apa nya? Pak, tolong jaga jarak dengan saya."
"Ngapain saya jaga jarak?"
Fatimah tampak geram ia pun mempercepat langkahnya kemudian memasuki toilet.
Sementara Karisma hanya tersenyum kecil yang bahkan orang tidak menyadarinya.
⚫⚫⚫
"Dua hari lagi kita akan ke Istanbul."
"Hah? Ngapain?."
"bulan madu."
BLUSH! pipi Fatimah memanas. "Ya kamu pikir aja ngapain kesana."
Fatimah merutuki dirinya, dua hari lagi ada sebuah pergelaran yang mengumpulkan seluruh pemilik perusahaan untuk mengadakan sebuah pertemuan dan mendekatkan diri dengan pemilik perusahaan yang lainnya.
"Iya iya saya tahu."
"persiapkan semuanya dari sekarang."
"Tapi pak..."
"apa?."
"ibu saya bagaimana?."
"Ya di ajak."
"Bener pak?."
Karisma hanya berdeham, kemudian berkutat pada layar laptop nya.
⚫⚫⚫
"Ibu harus ikut Fatimah."
"kemana?."
"Istanbul."
"Ngapain nak?."
"ada acara disana. Dan mungkin sekitar tiga atau empat hari, tenang bu, ini disuruh atasannya Fatimah kok. Jadi ibu harus Fatimah bawa, gak mau Fatimah tinggalin."
"Iya sudah apa saja yang harus di bawa?."
"Pakaian, perlengkapan mandi. Sepetinya begitu."
"Mau di persiapkan sekarang?"
"Enggak dulu bu. Mungkin besok saja."
"Naik pesawat?."
Fatimah mengangguk, "akan banyak lagi biaya nya nak."
"Kan atasan Fatimah yang tanggung."
"Kamu ini..."
⚫⚫⚫
"Jadi bagaimana rasanya di lamar pak Daniel?."
"Gak ada apa-apa. Aku kaget aja. Kok bisa sama aku."
Ayu terkekeh, "Lucu tahu. Jadi kamu terima?."
"belum."
"kenapa?."
"jujur, aku gak suka dengan pak Daniel, walau dia tampan juga tapi..."
"Kamu menyukai seseorang? Benar kan?." potong Ayu.
"Kamu tahu?."
"enggak, aku hanya menebak. Jadi siapa yang kamu sukai?."
"Pak Karisma."
"Sudah ku duga. Siapa sih yang gak suka dengan yang satu itu, bahkan di kantor ini rata-rata suka dia."
"Aku aja gak tahu kenapa bisa suka."
"gak mungkin, kamu suka pasti ada sesuatu."
"sudah ah, jangan di bahas. Aku gak mau."
"lah, kok gak mau."
"sudah Yu, aku males deh." Ayu hanya tertawa.
⚫⚫⚫
Kinanti tampak tertidur pulas, disampingnya ada seorang laki-laki yang menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Satu langkah lagi."
Ia menjalankan mobilnya membawa kesebuah tempat. Tempat yang akan memulai semuanya menjadi lebih menyenangkan. Tentunya bagi dirinya.
⚫⚫⚫
Karisma mencoba menelfon Kinanti, ia merasa terllau sibuk dengan dunianya sendiri hingga melupakan wanita itu.
Dering pertama tidak diangkat hingga ia mencoba kembali. Dan kali ini diangkat. Tapi....
"Ahh... Stop... I said ssstt... Stophh."
Karisma yang hendak berbicara lantas terdiam. Itu suara Kinanti... Tetapi, "Babe, are you okey?."
Tidak ada yang menjawab, hanya bunyi suara yang membuatnya mual seketika. Dan desahan saling bersautan.
"Babe, jawab aku."
Tut!.
"Hah? Apa ini?."
⚫⚫⚫
"Pak."
"ya?."
"Saya, mau bicara."
"Kamu sudah bicara dari tadi Fatimah."
Fatimah hanya tersenyum kecil, "Pak, saya gak tahu akan berapa lama menjawab ungkapan bapak waktu itu. Tapi..."
"Kenapa?."
"Bisa kita jalani saja dulu?."
"Tentu, kita jalani seberapa maunya kamu mengenal aku."
"Terimakasih mau mengerti saya."
"SUDAH SAYA KATAKAN UNTUK JAUHI FATIMAH, SIALAN." BUG?!
Semua yang ada di kantin menjerit ketakutan. Karisma datang dengan wajah memerah kemudian memberikan bogeman pada Daniel.
"Pak hentikan." ujar Fatimah yang mencoba melerai.
"KAU SUDAH KU PERINGATKAN UNTUK JAUHI FATIMAH, TAPI MALAH MELAWANKU!!."
"BAPAK BERHENTI."
"APA?." nafas Karisma memburu.
"Bapak yang apa, kenapa bapak lakuin itu, salah apa dia?."
"Dia salah karna mendekatimu!."
"Lalu kenapa? Apa hak bapak untuk melarang orang yang mau berdekatan dengan saya?."
"SAYA ATASAN MU FATIMAH.."
"GAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN ITU." balas Fatimah dengan memekik. "Bapak bukan siapa-siapa saya, jangan semena-mena dengan kehidupan saya."
Fatimah berlalu, ia membantu Daniel untuk berdiri. Kemudian pergi dari kantin itu.
"APA YANG KALIAN LIHAT. BUBAR!."
⚫⚫⚫
"maafkan pak Karisma ya, pak."
"Kenapa kamu yang meminta maaf?."
"gara-gara saya, bapak jadi seperti ini."
"Kenapa kamu? Tidak apa, ini sudah biasa bagi seorang laki-laki."
Saat ini Fatimah yengah membantu Daniel membersihkan luka yang ada di wajah laki-laki itu. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Lalu di pelipis nya membalu.
Fatimah membasahi sapu tangan dengan air dingin kemudian menempelkannya di pelipis Daniel.
"Masih sakit?."
"tidak, terimakasih sudah membantu saya."
⚫⚫⚫
"Bu, tadi di kantor pak Karisma memukuli pak Daniel."
"Kenapa?."
"enggak tahu, tapi yang Fatimah dengar karna pak Daniel mendekati Fatimah. Coba ibu pikirkan, kenapa laki-laki itu menyuruh orang untuk menjauhi Fatimah, padahal kan dia bukan siapa-siapa."
"Mungkin dia suka."
"ih ibu. Suka apa nya? Lakian pak Karisma sudah punya pacar."
"Bisa jadi seperti itu. Biarpun memiliki pacar, mungkin ia tidak menemukan kebahagiaan dari pacaranya."
"ibu jangan bicara begitu. Nanti dikira orang-orang, Fatimah malah merebut."
"Enggak kok."
"Ya sudah, ayo tidur. Sudah malam. Kamu mau bekerja gak besok?."
"Iya ya, lupa. Ayo bu."
⚫⚫⚫
"Jauhi Daniel."
Fatimah mendongak. "Apa?."
"saya tidak suka mengulangi."
"Saya gak dengar pak."
"Jauhi Daniel."
"Kenapa?."
"saya tidak suka."
"Kayaknya saya yang dekat dengan pak Daniel, bukan bapak."
"IKUTI SAJA FATIMAH!."
Fatimah terkesingkap. Karisma tak menghiraukannya ia berlalu dari sana.
"Astaghfirullah."
Fatimah menyiapkan jadwal hari ini kemudian berjalan keruangan laki-laki itu.
"Cancel semua jadwal saya hari ini, saya tak ingin di ganggu."
⚫⚫⚫
Karisma memandangi jalanan kota Jakarta dengan dengan kosong. Pikirannya berkelana atas kejadian dimana ia menelfon Kinanti. Wanita itu bermain api di belakangnya.
Dan ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Apa salahnya, ia mengikuti semua kemauan perempuan itu, tetapi ia malah di selingkuhi.
Kepalanya terasa sakit, lantas ia memutuskan untuk kekamar nya beristirahat.
Fatimah yang ada diluar sempat kebingungan, ini sudah jam makan siang tetapi laki-laki itu tak kunjung keluar atau sekedar menghubunginya membuatkan minum atau membeli makanan.
Ia teringat dengan kejadian di Istanbul. Saat akan makan malam, laki-laki itu layaknya seorang suami yang berbakti pada mertua.
Laki-laki itu membantu ibunya makan, memotong steak, lalu menghibur ibunya hingga tertawa.
Mengajak mereka untuk berkeliling setelah kota Istanbul.
Hatinya menghangat melihat kedekatan keduanya, ingin ia berdoa agar Karisma menjadi jodohnya, tetapi mengingat laki-laki itu memiliki kekasih, pupus sudah harapnnya.
Saat mereka akan di sebuah restoran yang menghamparkan pemandangan sungai luas, dan burung camar berterbangan. Laki-laki itu menatap nya dengan lembut layaknya wanita yang di jaga dengan baik.
Ia sempat terkejut bebraapa saat sebelum akhirnya ia lah yang memutuskan tatapan itu.
"pak."
Fatimah mengetuk pintu itu, tetapi tidak ada sahutan. Lantas ia mengulanginya lagi. Masih tetap sama.
Akhirnya ia membuka pintu dan ruangan itu kosong. Ia sempat bingung kemudian saat ia tertidur dan berada disebuah kamar. Dan ia yakin, laki-laki itu ada disana.