Kini, Fatimah dan Karisma telah sampai di sebuah restoran untuk membahas pembangunan hotel sekaligus untuk makan siang bersama.
"Di lantai berapa dia?." tanya Karisma.
"Katanya di lantai dua, tapi coba kita tanya dulu. Mana tahu pelayan disini bisa mengantarkan kita."
Karisma hanya mengangguk, membiarkan Fatimah bertanya pada salah satu karyawan untuk mengantarkan mereka.
Pelayan tersebut mengantarkan mereka pada ruang VIP di restoran tersebut. Kemudian Fatimah mengetuk dua kali lalu membuka pintu nya.
Didalam sana ada dua orang yang Fatimah yakin, wanita di samping laki-laki itu adalah sekretaris nya. "Mari pak."
Farimah membuka pintu dengan lebar, membiarkan Karisma berjalan lebih dahulu.
"Selamat siang Pak Karisma."
"Siang pak Agum. Apa kabar?."
"Baik, bagaimana dengan bapak?."
"Seperti yang anda lihat."
Agum mengangguk, "Silahkan duduk."
Agum memanggil pelayan, kemudian memesan makanan untuk mereka.
"Jadi bagaimana dengan kerja sama kita?." tanya Agum.
Karisma hanya menghedikkan bahunya, "Kita mulai sekarang?."
Agum mengangguk, "Baiklah, jadi saya disini akan membangun sebuah hotel, untuk bagian wilayah saya memiliki 3 cadangan, dan itu masih perlu mengurus hak kepemilikan. Dan sekarang sedang kami tangani."
Karisma mengerutkan dahinya bingung, "Dimana saja?."
Agum memberi tanda pada sekretaris nya untuk memberikan tab pada Karisma.
"Jadi, saya mengambil wilayah di Sukabumi, ada laham kosong yang berdekatan dengan pantai."
Karisma mengangguk, kemudian mengganti slide ke dua, "Itu yang kedua. Kami mengambil lokasi yang ada di Yogyakarta, karna banyak turis yang berlibur jadi saya mengambil nya di bagian yang tidak jauh dari tempat hiburan."
Karisma mengangguk lagi, "Boleh, saya tidak mempermasalahkannya."
"Lalu yang ke tiga..."
Karisma langsung mendongak, "Ada lagi?."
Agum mengangguk, "Silahkan lihat di slide ke tiga."
Karisma menurut, "Apa ini?."
"Ini lokasi yang ada di Bali. Saya ambil lahan kosong yang tidak jauh dengan pantai dan pusat pembelanjaan."
Agum melirik sekretaris nya, "Saya rasa, lokasi yang saya ambil tidak begitu merugikan, karna loaksi yang strategis"
Karisma terdiam, mencoba memahami semuanya. Kemudian ia mengangguk, "Saya setuju dengan semua tempat lokasi yang anda berikan, dan ini masuk akal."
Agum tersenyum, "Terimakasih."
Tak lama pelayan datang membawakan makan siang mereka. Kemudian mereka melanjutkan untuk makan siang sejenak sebelum kembali membahas pekerjaan.
⚫⚫⚫
"Saya permisi ke toilet sebentar." ujar Karisma.
Agum mengangguk, "Tidak masalah."
Sepeninggalan Karisma, suasana hening. Fatimah menyibukkan diri pada tab di tangannya. Membaca data penting yang akan mereka lakukan nanti pada pukuk tiga.
"Sekretaris baru pak Karisma?."
Fatimah mendongak, "Iya pak."
Agum tersenyum, Fatimah tidak paham dengan senyum itu. Tapi dalam dirinya membuat peringatan tanda bahaya akan terjadi.
"Berapa lama?."
"Baru satu hari."
Agum mengangguk sembari mengusap dahunya dan memandangi Fatimah dengan tatapan nakal.
Sang sekretaris Agum mengilang kakinya hingga mengekspos paha nya. Pakaian wanita itu cukup sexy.
"Saya bisa bayar kamu berapapun yang kamu mau."
Fatimah paham maksud itu, ia memandang Agum dengan tajam. "Maaf saya tidak tertarik."
Agum beranjak dari tempat duduk nya membaut Fatimah lebih waspada.
"Ayolah, jangan menolak. Saya jamin, apapun yang kamu inginkan, akan kamu dapatkan."
Fatimah mendorong Agum dengan sekuat tenaga, laki-laki itu terjatuh. Dengan cepat Fatimah berjalan kepintu keluar. Belum sempat ia meraih pintu itu telah terbuka lebih dulu.
Nafas Fatimah memburu, dengan sigap ia bersembunyi dibalik punggung kokoh Karisma.
"Ada apa ini?." tanya Karisma.
"Tid..."
"Dia mencoba melecehkan saya."
Liapatan pada dahi Karisma semakin dalam. "Apa maksudnya?."
"Pak Agum mencoba menawarkan saya."
Mata Karisma menajam, ia menatap Agum yang tampak gugup, "Benar begitu Pak Agum Jayanto?."
Agum tampak gugup, "Tidak, itu bohong."
Karisma mengeluarkan ponsel pintarnya kemudian mendial nomor seseorang.
"Bisa temui saya di VIP nomor 5?."
Setelahnya ia mematikan ponsel, masih dengan tatapan yang tidak terputus dari Agum. Tak lama datang seorang laki-laki menyapa Karisma.
"Hai, ada apa ini?."
"Rizki, saya minta sesuatu padamu."
"Apa?."
"Berikan cctv pada ruangan ini. Sekarang."
"Kenapa? Apa..."
"Berikan saja sekarang."
Fatimah akhirnya bernafas lega. Ketakutannya tidak lagi membuncah seperti tadi, sekarang ada sosok malaikat berwujud manusia tengah hadir didepannya.
"Terimakasih pak."
Karisma melirik Fatimah dengan sudut matanya, kemudian memejamkan mata sekali, tanda 'iya'.
Rizki kembali dengan laptop yang menyala. "Ini."
Karisma mengambil laptop itu kemudian melihat rekaman yang terjadi selama ia meninggalkan ruangan. Rahangnya mengencang, ia menatap Agum dengan tatapan iblis.
"Kerja sama kita. Saya akhiri sampai disini."
Setelah mengatakan itu, Karisma menarik tangan Fatimah membawanya turun kelantai satu dan kembali kekantor.
⚫⚫⚫
"Pak, apa tidak masalah jika kita memutuskan kerja sama dengan sepihak?."
"Itu sudah tertulis dalam perjanjian. Dan tak akan menjadi masalah."
"Tapi saya tidak enak."
"Tidak enak, tinggal kasih kucing."
Fatimah langsung menoleh dengan cepat. Ini pertama kalinya atasannya bergurau.
"Apa?." tanya Karisma.
Fatimah tersadar, kemudian menggeleng, "Tidak.. Tidak."
"Apa aneh jika saya seperti tadi?."
"Enggak, enggak." Fatimah menjawab dengan cepat.
"Kenapa kamu seperti itu? Kamu takut?."
"Tidak pak, untuk apa saya takut. Hanya saja ini pertama kali setelah dua hari bertemu, saya pikir bapak sosok yang tegas dan ya begitu."
Karisma tidak menjawab, ia menatao lurus kedepan dengan matanya yang tajam, Fatimah merasa apa ia salah menjawab.
"Maaf saya lancang."
"Tidak masalah."
Setelah nya tidak ada yang bersuara hingga tiba di perusahaan.
⚫⚫⚫
"Apa semua nya sudah berkumpul di ruang rapat?."
"Sudah pak."
Karisma mengangguk, "Kita kesana."
Keduanya berjalan beriringan, kemudian Fatimah menunggu lift yang di khusukan untuk para karyawan, ia merasa ada seseorang yang berdiri disamping nya.
Fatimah tersentak kaget, ia terlonjak keberlakang, dengan sigap Karisma menahan tubuh Fatimah agar tidak jatuh.
Kedua mata mereka saling oandang dengan jarak yang dekat. Aroma mint dapat Fatimah rasakan dari nafas Karisma serta aroma tubuh yang maskulin.
Ting!
Keduanya tersentak kaget, kemudian saling berjauhan. Fatimah merapiham hijab nya sementara Karima berdeham menetralkan suaranya. Keduanya masuk kedalam lift membuat Fatimah bingung.
"Kenapa bapak masuk kesini?."
"Kenapa? Apa tidak boleh?."
SKAKMAT!
Fatimah lupa, siapa pemilik perusahaan ini. Kemudian mereka tidak bersuara lagi hingga akhrinya lift terbuka. Karyawan yang tengah menunggu lift terkejut. Pasalnya belum pernah mereka melihat pemilik perusahaan menggunakan lift karyawan, apa lagi bersama sang sekretaris.
Fatimah berjalan mengikuti Karisma yang lebih dulu berjalan meninggalkannya. Ia menunduk mencoba untum tidak menghiraukan tatapan tanya dari karyawan lainnya.
Mereka sampai pada ruang rapat ayang ada dilantai satu.
Fatimah membukakan pintu agar Karisma dapat masuk.
"Jangan lakukan itu."
"Maaf pak."
Seluruh karyawan yang ada dalam ruangan berdiri. Karisma memberi intruksi agar mereka duduk.
"Bisa dimulai?."
Mereka mengangguk, satu orang berjalan menuju layar infokus untuk mempersentasikan design resort yang akan mereka bangun.
"Disini saya merevisi beberapa untuk kepuasan para pengunjung. Yang pertama adalah kolam renang outdoor. Saya membuat satu lagi untuk anak-anak. Lalu yang kedua di bagian lobby, saya membiat sedikit rombakan untuk memberikan kenyamann ketika pertama kali mereka memasuki lobby. "
"Apa yang kamu ubah di bagian lobby?."
"Saya membuat bagian belakan recepsionis pembatas lalu disebelah kanan saya buatkan kursi untuk para pengunjung jika menunggu atau bertemu seseorang."
"Lalu yang ke tiga?."
"Saya membuat kolam renang Indoor."
"Untuk apa?."
"Saya pikir, ini akan berguna untuk para wanita yang mengenakan hijab, mereka membutuhkan privasi tersendiri dan menikmati renang tanpa terlihat oleh kaum Adam."
Karisma mengangguk, menyetujui karya yang tengah di persentasikan oleh karyawannya.
"Ada lagi?."
Rapat tersebut memakan waktu hingga 3 jam lamanya, banyak sekali yang harus di lakukan dalam pembangunan, Fatimah dengan sigap mencatat hal penting yang tengah dibahas.
⚫⚫⚫
"Saya akan pulang sekarang, jika ada dokumen yang harus saya tanda tangani, kirim melalui email saya. Paham?."
Fatimah mengangguk, "Paham pak."
"Baik."
Setelah mengatakan itu, Karisma berlalu. Sembari membawa jas yang telah dilepaskannya setelah rapai selesai. Fatimah kembali ke meja nya. Banyak pekerjaan yang harus ia selesai kan dengan cepat. Agar tidak menumpuk.