Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Fatimah menelfon Ayu dengan niatan ingin meminjam uang untuk bayar kontrakan. Kalau Ayu tidak keberatan.
"Halo?."
"Ayu, aku boleh ketemu kamu sebentar?."
"Boleh, aku ada di kantin."
"Aku kesana."
Setelahnya, Fatimah menutup panggilan dan segera beranjak untuk kekantin. Semoga saja Ayu memiliki uang lebih dan bisa membantu nya.
Setelah sampai di kantin, Fatimah mencari sosok Ayu dengan teliti diantara kerumunan orang. Disudut dekat jendela, wanita itu duduk dengan secangkir minuman. Ia langsung beranjak untuk mendekati.
"Ayu."
"Hai, duduk duduk."
Fatimah duduk didepan Ayu dengan wajah gugup.
"Kenapa? Kok gugup?."
"Ayu,aku boleh minta tolong sesuatu?."
"Apa? Selagi aku bisa bantu, ya qku bantu."
"Aku... Aku pinjam uang boleh?. Aku harus membayar kontrakan yang menunggak tiga hari yang lalu. Tapi... Tapi kalau..."
"Berapa yang kamu butuhkan?." potong Ayu.
"Hanya satu juta."
"Aku transfer saja sekarang."
Fatimah mendongak, "Transfer?."
"Iya. Kenapa?."
"Aku gak punya ATM."
Ayu tersenyum, "Sebentar, aku ke sana dulu."tunjuk Ayu pada mesin ATM.
Tidak berapa lama, akhirnya Ayu kembali ketempat duduk. "Ini."
"Aku beneran gak apa pinjam uang kamu?."
"Iya gak apa, santai saja."
Fatimah tersenyum, "Terima kasih banyak, aku akan membayarnya setelah mendapatkan gaji pertama ku. Aku janji."
"Santai saja, jangan terburu-buru, aku belum ingin memakainya kok."
"Terima kasih."
"Ya sudah, ayo kembali ke atas."
Keduanya berjalan beriringan menuju lantai atas. "
⚫⚫⚫
Jam kerja telah selesai. Fatimah membereskan meja nya kemudian turun ke bawah, beberapa karyawan tengah berjalan menuju pintu keluar. Seskali ia menyapa karyawan lainnya.
Ia menunggu taksi yang akan mengantar nya kembali kerumah. Tak lama taksi lewat ia pun memasukinya kemudian memberikan alamat.
Selama perjalanan ia tengah berencana untuk mampir kerumah pemilik kontrakan untuk langsung membayarnya. Begitu sampai dirumah nya. Ia pun membayar taksi dan berjalan menuju rumah pemilik kontrakan.
Tok tok.
"Assalamu'alaikum."
Pintu terbuka. "Wa’alaikumsalam."
"Bu, saya mau bayar uang kontrakan."
Ibu kontrakan hanya mengangguk, Fatimah merogoh tas nya kemudian mengambil uang dalam dompet lusuh nya.
"Ini bu."
"Pas satu juta kan?."
Fatimah mengangguk, "Iya bu."
"Lain kali jangan menunggak lagi ya."
"In syaa Allah bu. Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa’alaikumsalam."
Fatimah berjalan menuju rumahnya, setelah sampai ia membuka pintu dengan kunci cadangan, suasana sunyi, ibunya pasti telah terlelap. Ia berjalan menuju kamar ibu nya.
Dibukanya pintu, kemudian ia mengerutkan dahi.
"Ibu."
Fatma menoleh, "Sudah pulang?."
Fatimah membalasnya dengan anggukan. "Ibu kenapa belum tidur?."
"Enggak apa kok."
Fatimah menatao Fatma dengan tataoan menyelidik, "Sungguh, ibu hanya tengah menunggu mu saja."
"Bohong, ibu sudah minum obat?"
"Habis."
Fatimah labgsung menoleh pada atas meja. Benar, obatnya telah habis, tampak telah terbuka bunggusannya.
"Kenapa gak bilang, ya sudah Fatimah belikan dulu."
"Jangan nak sudah malam, besok saja."
"Enggak apa bu, tunggu sebentar."
⚫⚫⚫
Karisma dan Shyla sudah berada di mall, mereka tengah berkeliling. Karisma membiarkan adiknya mengajak nya kemanapun yang gadis itu mau. Dan Karisma tidak keberatan.
"Abang mau makan gak?."
"Masih kenyang."
Shyla mengangguk, kemudian ia mengapit lengan Karisma seskali ia menatap toko-toko, mana tahu ada yang ia inginkan.
"Kamu mau beli baju?."
Shyla menggeleng, "Enggak, masih banyak baju. Sayang."
Karisma hanya mengangguk, "Ah,,, ice cream."
"Kamu mau?."
Shyla mengangguk, "Ayo bang."
Mereka berjalan mendekati stand yang menjual ice cream.
"Vanilla satu. Abang mau?."
Karisma menggeleng. "Ya sudah, vanilla satu." "Cup besar."
"Jangan makan es terlalu banyak, ini sudha malam."
"Tahu kok, lagian sesekali."
Satu cuo ice cream sudah ada dideoan Shyla, ia memekik terkatahan kemudian memakannya. Semenatar Karisma membayar nya.
"Sudah? Ataua da lagi yang ingin kamu beli?."
"Aku mau makan ayam deh kak, tapi yag hot."
"Baiklah."
Mereka akhirnya berjalan menuju sebuah restoran terkenal yang menyajikan ayam spicy dengan saus keju. Memesan yang jenis paketan.
"Habis ini pulang?."
Shyla mengangguk. Mereka menunggu giliran untuk mengambil pesanan mereka.
⚫⚫⚫
Selama perjalanan, Shyla tertidur dengan menyandar pada bahu Karisma. Laki-laki itu hanya tersenyum kemudian mengelus pipi adik kecil nya dengan sayang kemudian mencium puncak kepala nya.
Karisma memperhatikan jalanan Jakarta yang cukup leluasa, mengingat ini sudah hampir pukul sembilan malam.
Tidak sengaja matanya menangkap sosok wanita yang ia kenal. Wanita itu berjalan ke arah sebuah apotek. Itu Fatimah.
"Sedang apa dia malam-malam begini?." gumamnya.
"Pak, tolong berhenti di apotek tadi."
"Baik tuan."
Mobil memutar arah menuju apotek yang terakhir kali Karisma lihat. Setelah sampai, ia memperhatikan bahwa wanita itu masih ada disana.
Sampai akhirnya wanita itu keluar.
"Fatimah."
Fatimah menoleh, "Pak Karisma."
"Sedang apa?."
"Eh, mm..mm sedang membeli obat."
"Kamu sakit?."
Fatumah menggeleng. "Bukan saya."
"Lantas?."
"Ibu saya."
"Masuk lah, saya antarkan kamu pulang."
"Tidak apa pak. Lagian dekat juga."
"Sudah malam, bahaya."
Dengan pasrah akhirnya Fatimah memasuki mobil itu dengan duduk dikursi samping pengemudi. Mobil melaju meninggalkan apotek.
"Beru tahu dimana rumah mu pada pak Yaqub."
Fatimah mengangguk, ia memberikan arahan diaman rumah nya pada pak Yaqub.
"Maaf ini rumah kecil saya."
Karisma terpaku. Kuntrakan yang tampak tidak begitu layak di pakai, ternyata Fatimah lah pemilik nya.
Fatimah yang melihat Karisma tampak terpaku hanys tersenyum tipis, kemudian ia keluar dan sekali lagi mengucapkan terimakasih.
⚫⚫⚫
Karisma tengah sibuk dengan berkas perusahaan, ia menambahkan beberapa point penting. Tengah sibuk dengan berkasnya. Pintu diketuk membuatnya menoleh.
"masuk."
Fatimah muncul, "Pak, bapak Irawan sudah datang."
"Suruh dia masuk."
"Baik pak."
Irawan masuk dengan senyum lebarnya. "Apa kabar sobat."
"Baik."
"Ck, lama banget kayaknya kita gak jumpa."
"Jangan berlebihan, seingatku kita seminggu yang lalu bertemu."
"Ck, gak bisa diajak bercanda ini anak."
"Mau apa kemari?."
Irawan menepuk dshinya, "Lupa. Ini ada undangan, datang ya."
"Undangan apa?."
"Gue mau nikah."
Karisma menatao Irawan dengan tak oercaya. "Gak percaya? Cek aja namanya disana."
"ya ya ya, aku percaya."
"jangan lupa bawa partner mu."
"Dia sedang sibuk."
"Ck, masih aja bertahan. Cari yang baru."
"kamu gak akan tahu."
"ya deh, ya deh. Gue duduk disini dulu ya, capek."
Karisma hanya mengangguk kemudian kembali menyibukkan diri pada berkas dimeja nya.
Irawan—teman semasa kuliah Karisma. Laki-laki itu bisa di katakan seratus persen berbeda jauh dengan Karisma.
Irawan yang mudah tersenyum, friendly bahkan tak jarang banyak sekali yang mau berteman dengannya. Sedangkan Karisma, bisa dikatakan kebalikan yang seratus persen berbeda jauh dengan Irawan.
"Eh didepan siapa?."
"Sekretaris ku."
"Cakep juga."
"ingat dengan calon istri mu."
Irawan bungkan dengan wajah masam nya. "tahu kok, cuma ngomong aja. Tapi..."
"Apa?."
"Gak minat sama tuh cewek."
"Aku masih ada Katrina, jika kamu lupa."
Irawan hanya bisa menghela nafas. "Gak perlu ngomong juga gue tahu."
"Tahu tapi kamu ngomong."
⚫⚫⚫
Seorang wanita tengah berjalan dari tempat pengambilan bagasi. Ia membawa koepr yang lumayan besar. Dengan kaca mata yang bertengger dihidung mancung nya. Gaya nya hang mencolok membuat berapa orang disekitar melirik nya dengan tatapan memukau.
"Itu bukannya model terkenal itu ya?."
"iya ya? Wah cantik banget."
Wanita itu hanya tersenyum kecil kemudian berjalan menuju pintu kedatangan. Disana ia menoleh ke kanan dna kiri mencari taksi untuk membawanya menuju hotel.
"Jakarta, I'm here."
Taksi melaju membelas jalanan kota menuju hotel tempat nya menginap.
⚫⚫⚫
Seluruh karyawan telah berada di gedung rapat yang memang di khususkan untuk mengumpulkan para karyawan.
Mereka tampak bingung ada apa, kenapa mereka disuruh datang ke mari. Sepertinya ada sesuatu yang akan disampaikan oleh atasan mereka.
"Terimakasih sudah mau berkumpul disini. Saya akan meberikan pengumuman baru kepada kalian semua. Jika sebelum nya perjanjian yang sudah saya buat hanya keuntungan itu saya yang kalain dapatkan. Maka kali ini saya menambahkan point penting."
"saya akan memberikan fasilitas penting bagi yang tidak mampu. Disini saya membuat fasilitas berupa rumah dengan isi yang lengkap. Bagi karyawan saya yang tidak mampu, tolong segera berikan data nya kepada saya. Saya tunggu hanya satu minggu. Terimakasih."