6

1318 Words
Kamar yang wanita itu sewa lebih mirip dengan sebuah apartement. Lengkap dengan pantri, bar kecil disudut kiri, lalu perabotan memasak dan mesin cuci. Wanita itu melangkahkan kaki ke kamar utama. Melempar tas mahal nya kemudian menghempaskan diri. "Jakarta, it's been so long since we came here. Honey, I'm coming." Kemudian ia memejamkan mata, memasuki mimpi dengan senyum cantik yang terpantri.   ⚫⚫⚫   Karisma keluar dari ruangannya kemudian mendekati meja sekretaris nya. "Bapak?." "Serahkan berkas yang saya minta saat perkumpulan tadi." "Tapi...." Karisma mengerutkan dahinya, "Kenapa?." Fatimah menggeleng, "Bapak tidak perlu repot-repot ini. Saya gak apa tinggal disana." "Tapi ini fasilitas yanh saya berikan kepada karyawan saya." Fatimah mengangguk, "Saya tahu, tapi tidak apa..." "Serahkan saja. Saya yang menanggungi semua." Setelah mengatakan itu Karisma kembali kedalam ruangannya tanpa menunggu jawaban yang akan Fatimah berikan. Fatimah hanya menghela nafas kasar, ia pasrah kemudian menyuapkan berkas yang di minta. Sementara itu, didalam ruangan. Karisma tengah berkutat dengan ponsel pintar di tangannya. Mencari nomor seseorang yang kian hari semakin sulit di hubungi. Dering pertama masuk, tetapi tidak diangkat dengan pemilik nya. Karisma mencoba kembali. Dengan hasil yang sama, kemudian ia menghempaskan ponsel nya ke atas meja. Memijat dahinya yang terasa pusing. "Kemana kamu..." Tok Tok. "Masuk." "Pak, saya meminta tanda tangan untuk berkas ini." Karisma mengangkat tangannya menyuruh Fatimah mendekat. Setelahnya Fatimah memberikan berkas tersebut. Karisma membacanya dengan seksama. "Saya rasa data mu ini salah." Fatimah membelalak kaget, "Salah pak?." "Perhatikan di rincian keuangannya. Selesaikan dalam waktu tiga puluh menit." Fatimah mengangguk, ia pamit undur diri. Kembali kemeja nya kemudian menggerutu, "Astaghfirullah kenapa bisa salah." Fatimah membuka hardcopy kemudian membaca nya dengan teliti. Pada bagian rincian keuangan ia salah memasukan angka. Pintu lift terbuka membuat Fatimah menoleh. Disana ada seorang laki-laki yang berjalan menuju ruang Karisma. "Sekretaris baru?." Fatimah mengangguk, "Iya pak." "Saya Daniel, bagian HRD." Fatimah tersenyum, "Saya Fatimah." Daniel terpaku sesaat ketika melihat senyum kecil yang di berikan untuk nya. Matanya menatap mata Fatimah dengan jantung yang berdebar. "Em.. Karisma ada di dalam?." "Ada pak." "Baik lah terimakasih." Setelah mengatakan itu, Daniel berbalik menuju lift membuat Fatimah kebingungan. "Tadi bukannya bertanya pak Karisma? Kenapa berjalan ke arah lift?." Wanita itu menghedikan bahu tak perduli kemudian kembali pada aktifitas sebelum nya.   ⚫⚫⚫   "Oh tidak, jantungku. Ada apa ini?." gumam Daniel. Didalam lift, tubuhnya merosot kemudian menyentuh dadanya yang bergetar hebat. Ia memejamkan mata mengingat kejadian yang beberapa menit lalu terjadi. Senyum indah itu menyihirnya. Menggetarkan hati kecil yang paling terdalam. Lututnya lemas. Lift terbuka, ia tidak dapat berjalan hingga harus memanggil seorang ksryawan yang kebetulan melinta suntuk membantunya membawa ke dalam ruangan. "Bapak kenapa?." "Tidak apa. Terimakasih." "Sama-sama pak. Sepeninggalan karyawan itu, Daniel kembali memegangi dadanya yang maish bergetar hebat. "Aku tidak sanggup ini...."   ⚫⚫⚫   "Pak ini data yang tadi sudah saya revisi." Karisma membacanya lagi kemudian mengangguk dan menanda tangani nya. "Pak, tadi pak Daniel kemari mencari bapak." Karisma mendongak, "Lalu? Dimana dia?." "Saya tidak tahu, setelah bertanya bapak ada didalam atau tidak, pak Daniel berbalik menuju lift." Karisma terkekh kecil. "Baiklah terimakasih." Fatimah menunduk, kemudian berjalan keluar dengan membawa berkasnya. Karisma langsung menghubungi Daniel melalui telfon kantor. Dan laki-laki itu segera mengangkatnya. "Kenapa mencariku?." "Kau tidak mengatakan ada sekretaris baru, huh?." Karisma terkekeh, "Kenapa? Bukan kah seperti itu sebelum nya?." "Aishh, kau takkan mengerti. Jantungku sakit." Karisma mengerutkan dahi, "Ada apa? Kau sakit?." Diseberang sana Daniel menggeleng, "Bukan. Jantung ku sakit saat aku melihat sekretaris barumu tersenyum. Aku melayang." Karisma berdecak malas, teman satunya ini memang berlebihan dalam masalah wanita. "Sudahlah aku akan kembali bekerja." "Ya sampaikan salamku pada sekretaris barumu." "Sampaikan sendiri jika kau laki-laki." Karisma langsung menutup telfon kemudian menggeleng heran, ia membuka dokumen dan membacanya dengan teliti.   ⚫⚫⚫   Jam makan siang akan segera mulai dalam lima menit lagi. Lift terbuka menampilkan Daniel yang berjalan dengan gagah nya. "hai." Fatimah mendongak, "Eh pak Daniel, mau bertemu pak Karisma?." Daniel menggeleng, "Nope. Aku mau mengajak mu makan siang, bisa ?." "Tapi..." "Dia akan makan siang bersama dengan rekan kerja ku." Mereka menoleh, didepan ruangan Karisma, laki-laki itu berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tangan kanan yang ia amsukan dalam saku celana. "Ck, kau ini." ujar Daniel. "Lain waktu saja." Daniel menghela nafas, kemudian ia menatao Fatimah. "Mungkin lain waktu." Setelah mengataka itu, Daniel berlalu membuat kerutan di dahi Fatimah semakin dalam. "Sudah jangan dipikirkan, dia memang seperti itu." Fatimah tersentak kaget, kemudian mengangguk. "Sudah siapkan berkasnya?." "Sudah pak." "Kita berangkat."   ⚫⚫⚫   Daniel tampak murung siang ini, bahkan rekan kerja nya mengajak untuk makan siang, laki-laki itu hanya lenggeleng kemudian menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan. Ia menghela nafas kasar berkali-kali. Riza yang kala itu ada dirunagan laki-laki itu, hanya berdecak malas kemudian menepuk pundak laki-laki itu. "Kenapa sih?." Daniel menggeleng, "Apaan dah, lames banget gue dneger helaan nafas lo." "Gue galau." "Siapa lagi yang lo dekati?." "Sekretaris baru Karisma." Riza memebelalakan mata nya, "Serius lo?." "Iya,soalnya senyum nya bikin gue melayang." Riza mengerang kesal, "Aduh, sumpah gue malas banget dengar ke bucinan lo ini." "Gue harus gimana ini? Hati gue sudah terpikat sama dia." "Ya di gebet lah." "Tadi gue ajak dia makan siang, tapi Karisma datang terus bilang ada pekerjaan." "Ck, baru juga sekali. Ajak pupang bareng lah." Daniel langsung menegakkan tubuhnya,"Lo benar. Thanks bro." Riza hanya menggeleng malas kamudian kembali ketempat duduk nya.   ⚫⚫⚫   Hari ini, Fatimah tidak dapat pulang kerumah karna ada berkas yang harus ia siap kan untuk besok pagi. Dengan terpaksa, ia akhirnya lembur. Matanya terasa perih karna terus menerus menatap layar komputer. Pintu ruangan Karisma terbuka, laki-laki itu berdiri disana. "Kenapa belum pulang?." "Saya tengah menyiapkan berkas untuk besok pak." Karisma melihat jam di pergelangan tangannya, "Tapi ini sudah malam, Fatimah. Pulang saja, besok masih bisa di kerjakan." Fatimah menggeleng, "Tidak apa pak, biar besok tidak terburu-buru." Karisma mengangguk, ia kemudian hendak berjalan menuju lift tetapi tertahan saat melihat Daniel berjalan kearah mereka. "Hai." sapa nya. Kemudian ia menatap Fatimah, "Pulang bareng yuk?." "Maaf pak, saya harus lembur." Senyum Daniel langsung luntur, ia menatap meja Fatimah yang masih berantakan. "Pulang saja. Dia harus menyelesaikan pekerjaan nya." ujar Karisma. "Lo sih, kenapa kasih dia pekerjaan sampai lembur sih." gerutu Daniel pada Karisma. Karisma hanya menaikan sebelah alisnya kemudian menggeleng. "Ya sudah kalau begitu, saya pulang dulu. Dan lo..." Daniel menunjuk Karisma, "Awas aja besok lo mengganggu lagi. Tadu siang lo batali makan siang gue, dan sekarang lo batali gue buat pdkt dengan Fatimah." Karisma hanya terkekeh, kemudian menggelengkan kepalanya. Daniel melangkah kembali berjalan menuju lift. Fatimah tampak terdiam. "kenapa?." "Pdkt apaan ya pak?." "Kamu tidak tahu?." Fatimah menggeleng. "Lihat saja nanti. Saya duluan." Fatimah akhirnya mengangguk kemudian kembali menyelesaikan berkasnya. Sementara itu Karisma mampir pada warung makan yang berada tepat disebrang perusahaan nya. Ia memesan dua bungkus nasi goreng beserta dua botol minum. Setelah nya ia kembali berjalan menuju kantor. "Bapak?." "Dimakan dulu, setelahnya kamu boleh lanjut dengan berkas itu." "Tapi, bapak gak perlu repot." "Sudah, makan saja. Saya temani juga." "Eh..." "Apa? Kenapa?." "Bapak mau menemai saya?." "Iya, lalu?." "Tidak, mari pak duduk." Mereka memakan nasi goreng dalam diam. Sebelum akhirnya Karisma memecah keheningan. "Kenapa bisa pindah ke Jakarta?." Fatimah menoleh, "Karna kami butuh biaya." "Untuk?." "Pemakaman ayah saya." Karisma tersentak kaget, "Ayahmu..." "Iya, saat saya umur tujuh belas tahun." "Kenapa?." "Serangan jantung." "Maaf." Karisma merasa tidak enak. "Tidak apa pak." "Lalu ibu mu?." "Ada, dirumah. Sedang sakit juga." "Sakit apa?." "Diabetes." "Sudah di bawa kerumah sakit?." "sudah, dan untuk sekarang belum." "Kenapa?." "Tidak apa-apa. Saya sedikut sibuk di perusahaan." Karisma memandang Fatimah daru samping. Menurutnya, wanita ini cantik, lesung pipi disebelah kanan bibir yanh berwarna pink serta hidung yang terlihat mungil. Wajahnya tampak polos tanpa polesan apapun. Lebih indah ketika dipandang. "Saya bisa bantu, kalau kamu dalam kesulitan." Pandangan keduanya bertemu. Menyelami jauh saat mata mereka bertemu. Tanpa sadar Karisma memajukan tubuhnya mendekati Fatimah. Wanita itu seakan sadar apa yang akan terjadi, ia berdeham dengan keras. "Maaf." ujar Karisma.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD