7

1281 Words
Hari ini, keduanya tampak canggung ketika bertemu. Karisma merutuki dirinya yang terbawa suasana malam kemarin. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Dan beruntung, Fatimah menegurnya. Jika tidak... Ia tidak tahu masalah apa yang akna terjadi nanti. "Pak, ini data yang bapak minta." "Terimakasih." Fatimah mengangguk, ia berjalan menuju pintu. "Eh, Fatimah." Fatimah berbalik, "Ya pak?." "Tolong, untuk hsri ini saya tidak mau di ganggu oleh siapapun." Fatimah mengangguk, "Baik pak." "terimakasih."   ⚫⚫⚫   Suara lift bebunyi, membuat Fatimah menoleh dengan penasaran. Tak lama muncul seorang wanita yang tampak tinggi, dengan baju yang terlihat mewah, Fatimah tidak mengenal wanita ia sehingga ia pun berdiri. "Maaf bu, anda siapa?." "Karisma ada didalam?." wanita itu tidak menjawab pertanyaan Fatimah. "Ada, tapi..." Wanita jtu dengan cepat berjalan kearah ruangan Karisma. Fatimah mengejarnya, kemudian menghadangi jalan wanita tersebut. "Maaf bu, pak Karisma tidak bisa diganggu untuk saat ini." Wanita itu memandang Fatimah dengan remeh. Kemudian menghempas tangan Fatimah dengan kasar. Pintu itu terbuka dengan paksa. Karisma yang tengah fokus, terlonjak kaget kemudian ia menggeram marah. "Saya sudah katakan.... Kinanti." Karisma langsung berdiri, "Maaf pak, saya..." "Tidak apa, kembali kemeja mu." Fatimah pergi meninggalkan dua orang tersebut didalam ruangan. "Kamu..." "Yes." Dengan cepat Karisma memeluk Kinanti dengan erat. "I miss you." "Me too." "Tunggu..." Karisma melepaskan pelukannya. "Aku menelfonmu.." "Ya, dan aku memang sengaja tidak menjawabnya. Kejutan." Karisma kembali mendekap wanita itu dengan erat. "Babe, aku tidak dapat bernafas." "Maaf." Karisma beranjak menuju meja nya kemudian menekan angka 2. " "Buatkan minuman, antar keruangan saya." Ia kembali berjalan mendekati Kinanti. Mengelus pipi wanita itu dengan lembut. Hingga tanpa sadar, wajah keduanya mendekat. Kinanti memejamkan matanya. Hidung mereka bersentuhan dan berikut bibir keduanya. Karisma mengecup perlahan, kemudian kecupan itu menjadi lumatan. Karisma mencium bibir nya dengan buas. Melampiaskan rasa rindu nya yang tak tertahankan. Tok Tok. Ciuman mereka terlepas, nafas keduanya memburu. Kinanti menyuruh Karisma untuk membukakan pintu sementara dirinya merapikan rambut. "Terimakasih." Karisma meletakkan minuman itu diatas meja kemudian menerkam wanita itu. "I miss you." "Me too." Keduanya bertatapan, Karisma menatap Kinanti dengan tatapan lapar. "I want you." Kinanti hanya mengangguk, tak lama Karisma membopongnya menuju kamar pribadi milik laki-laki itu.   ⚫⚫⚫   "Hai Fatimah." "Pak Daniel. Ada yang bisa saya bantu?." "Makan siang bareng saya ya?." "Bagaimana ya pak..." "Kenapa? Ada pekerjaan?." Fatimah menggeleng, "tidak, cuma..." Fatimah menatap pintu Karisma. "Kenapa didalam?." "Ada seorang wanita didalam. Dari tadi tidak kunjung keluar. Harusnya pak Karisma tadi bertemu investor dari spanyol." "Wanita? Siapa?." "Enggak tahu, tapi sepertinya pacarnya pak Karisma." "Kinanti..." gumam Daniel yang masih dapat di dengar Fatimah. "Kinanti?." "Ya, itu pacar Karisma. Mereka sudah lama tidak bertemu. Biarkan saja, ayo makan siang." Fatimah akhirnya mengangguk, ada sesuatu dalam dirinya yang patah dan remuk dalam satu waktu yang bersamaan. Terakhir kali ia melihat pintu ruangan Karisma sebelum akhirnya menghilang. "Ayu...." Fatimah melambaikan tangannya saat tidak sengaja melihat Ayu tengah mencari tempat duduk. Ayu melangkah mendekati mereka, "Hai pak Daniel." "jangan formal."ujar Daniel. "okey. Jadi sudah bisa makan siang bareng..." Daniel tersenyum, "Yap, dan tanpa halangan." Ayu terkekeh, "Lanjut terus" Fatimah tampak tidak mengerti kemana arah pembahasan mereka hingga akhirnya ia pun bertanya. "Maksudnya?." "Kamu gak tahu?" Fatimah menggeleng menjawab pertanyaan Ayu. "Dia itu...hhmmm" Daniel membekap mulut Ayu kemudian tersenyum canggung. "Gak usah didengari. Bacot dia." Ayu memukul lengan Daniel dengan kuat, bekapan tersebut lepas. Ayu menghirup nafas dengan ganas. "Mau saya mati ya?." "Kamu yang mau buat saya mati. Belum saat nya." "Ck, terserah." "Ada apa sih?." tanya Fatimah bingung. "Enggak, entar kamu juga tahu sendiri."   ⚫⚫⚫   "Sepertinya aku harus memiliki mu secepatnya." "Sudah kan?." "Bukan itu. Married." Kinanti terdiam, ia menatap mata Karisma, mencari kesungguhan disana. Dan ia menemukannya. "Maaf, aku masih harus..." "Ya,tidak apa." potong Karisma. Karisma mendekap Kinanti kemudian mencium puncak kepala wanita itu. Kruuuk.... Karisma menahan tawanya, ia tahu berasal dari mana itu. "Lapar?." Kinanti mengangguk, "Kamu buat aku lupa makan." "Ya, dan kamu bahkan berteriak meminta nya lagi." Kinanti menepuk lengan berotot Karisma, kemudian meraih pakaian nya. "Sebentar, aku pesan kan."   ⚫⚫⚫   "Didepan, sekretaris baru kamu?." Karisma mengangguk, "Ya." "Sudah berapa lama?." "Dua tiga hari mungkin, entahlah aku lupa." "Jaga matamu." "Baik baik. Akan selalu aku ingat." Kinanti tersenyum. Tak lama suara pintu diketuk membuat Karisma beranjak. "Pak, ini pesanan anda." "Terimakasih." Karisma hendak menutup pintu tetapi tertahan saat Fatimah memanggilnya. "Ada apa?." "Pak, tadi siang harusnya kita bertemu dengan investor dari spanyol." Karisma tersnetak kaget kemudian ia menepuk dahinya. "Terimakasih." Ia bergegas ke meja kerjanya kemudian mendial nomor investor itu. "Hola señor Bonto. Como estas Perdóname por negligencia esta tarde. Realmente lo olvidé." (Hai mister Bonto. Apa kabar? Maafkan saya atas kelalaian tadi siang. Saya sungguh lupa. " " Para ser sincero, he esperado dos horas. Y de repente tu secretaria me informó que fue cancelada. Estoy realmente decepcionado por tu comportamiento poco profesional." (Sejujurnya saya telah menunggu dua jam lamanya. Dan tiba-tiba sekretaris mu mengabariku bahwa di batalkan. Aku sungguh kecewa dengan ketidakprofesional nya kalian.) Karisma meringgis tidak enak." Lo se, lo siento. Y si mañana nos encontramos?." (Saya tahu, maafkan saya. Bagaimana jika besok kita bertemu?.) "Lo siento, pero tengo que ir a Hamburgo, y tal vez el próximo mes vuelva." (Maaf, tapi saya harus ke Hamburg, dan mungkin bulan depan saya akan kembali.) "De acuerdo, no hay problema, no delante de nosotros nos encontraremos. Y una vez más, perdóname." (Baiklah tidak masalah, bukan depan kita akan bertemu. Dan sekali lagi maafkan saya.) Karisma memukul meja dengan kepalan tangannya. Kinanti yang melihat itu dengan segera mendekat dan menahan tangan itu. "Hei, babe. Stop.  Ada apa?." "Bodoh, aku membuat kesalahan pada investor ku." "Tapi bukannya bulan depan kalian akan bertemu?." "Ya, tapi aku malu." "Sudahlah, ayo makan dulu."   ⚫⚫⚫   Fatimah sampai dirumah nya, ia sudah memberi tahu ibu nya tentang fasilitas yang di berikan oleh perusahaan. Ibunya tampak senang, sangat antusias. Tapi jauh dilubuk hatinya, ia juga sedih. Belum bisa memberikan kebahagiaan untuk ibunya. Rumah keadaan sepi karna jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Fatimah duduk disofa kecil dengan memijat dahinya. Entah kenapa, hari ini ia merasa banyka sekali beban yang di tanggungnya. Padahal sudah jelas, ia tidak ada apapun yang di pikirkan. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, wanita yang datang kekantor tadi siang. Jika di bandingkan dengan dirinya, sangat jauh sekali. Bagaikan langit dan bumi. Bahkan wanita itu tinggi semampai. Sedangkan dirinya? Pendek. Mengingat reaksi atasannya, harinya rapuh. Entah sejak kapan ia menyimpan rasa untuk atasannya yang jelas memiliki wanita yang lebih dari diri nya. Fatimah menghela nafas, ia beranjak menuju kamarnya. Kemudian mengambil pakaian dan membersihkan diri. Ia butuh sesuatu yang sejuk untuk menjernihkan pikiran nya.   ⚫⚫⚫   "Ibu, rindu ayah?." Fatma mendongak, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?." "Tidak hanya bertanya saja. Fatimah rindu ayah." "Tapi kamu belum libur." "Sepertinya Fatimah bisa minta izin dengan atasan Fatimah, mungkin dua atau tiga hari." "Lalu kita tidur di mana? Kamu ada uang?." Mengingat uang, Fatimah tersadar, ia belum gajian tapi sekarang ia merindukan ayahnya. Ia ingin mrlihat keadaan makam sang ayah. "Belum, mungkin nanti setelah Fatimah dapat gaji." Fatma mengangguk, "Iya, lebih baik begitu."   ⚫⚫⚫   Pagi ini Kinanti tampak cantik dengan setelan baju berwarna hitam yang kontras dengan kulit putih nya. Ia berjalan meninggalkan kamar hotel untuk bertemu dengan Karisma. Begitu sampai di perusahaan, ia turun dan berjalan memasuki lobby. Beberapa orang yang mengenalnya menunduk hormat dan ia balas dengan anggukan sekali. Lift membawanya menuju lantai tertinggi, kemudian ia berjalan menuju ruangan Karisma. "Maaf bu, ada yang bisa saya bantu?." "Sepertinya saya harus mengatakan pada Karisma untuk tidak menghadangi jalan saya." Fatimah merasa tersindir, ia mengangguk membiarkan wanita itu berjalan memasuki ruang Karisma. Tak lama mereka berdua keluar dengan bergandengan. "Hari ini, kosongkan jadwal saya. Dan ingat, jangan hadangi Kinanti untuk bertemu dengan saya." "Tapi pak, hari ini ada meeting dengan perusahaan UNO." "Cancel saja, dan ganti jadwal nya." "Baik pak." Setelah peninggalan kedua orang itu, Fatimah menghela nafas. "Harus di cancel lagi?." gumamnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD