Bag. 7

1219 Words
"Pak, tolong cari toko kucing terdekat ya." "Jadi, kita ke tempat makan dulu atau toko kucing, Pak Angga?" "Tempat makan dululah, Pak! Perut nomor satu!" Seru Angga. Lelaki itu menatap jalanan yang cukup lenggang. Selain asri dan tentram, Jogja juga ternyata cukup lenggang. Sangat nyaman untuk berlibur. Kota ini juga banyak sekali tempat bersejarah dan tempat-tempat nyaman untuk menghabiskan uang. Sepertinya kalau Angga boleh, ia ingin memegang kantor cabang saja. Kota Jogja sepertinya cocok untuknya. Tapi sayangnya, keasrian, kenyamanan, kelenggangan ini akan gagal karena kucing permintaan Marsha. Aish! Kalau memikirkannya saja Angga sudah kesal, apalagi nanti kalau benar-benar bertemu kucingnya. "Kita sudah sampai, Pak." "Oke. Bapak mau? Biar saya pesankan juga," ujar Angga seraya bersiap keluar mobil. "Ah, ti-tidak perlu, Pak Angga." "Gak papa, Pak. Gak usah sungkan. Suka pedas gak, Pak?" "Saya kurang suka pedas. Terima kasih, Pak." "Siap! Santai aja, Pak." *** Angga menutup pintu mobil hitamnya dan berjalan santai memasuki warung bakso di pinggir jalan. Warung itu cukup ramai, Angga jadi lapar melihat pengunjungnya saja. Ia menatap sekitar, memastikan bahwa ada bakso yang sedang ia cari. Membaca sebuah spanduk besar yang berisi menu dan jenis bakso di sana, mata Angga langsung berbinar melihat nama bakso lava yang tertera di sana. Memang rejeki anak sholeh tidak akan kemana. "Mas, mau memesan?" Tanya seseorang yang duduk di meja kecil dengan payung besar. "Iya, Mbak," jawab Angga penuh binar. "Ini nomor antriannya ya, Pak." Angga menatap kertas yang wanita itu berikan padanya. Ia mengambilnya dan mengangguk dan berjalan menuju ke dalam warung tersebut. Angga melihat sekali nomor yang ada di kertas tersebut. 123. Angga mengangguk-anggukkan kepalanya. Oh.. antrian seratus dua tig-- "HAH?! SERATUS DUA TIGA?!" Pekik Angga keras. Lelaki itu menatap dengan seksama nomor di tangannya. Takut-takut matanya salah lihat. Beberapa kali juga ia mengucek matanya. Tapi angka yang tertera benar adanya. Seratus dua puluh tiga. Angga sontak menatap barisan panjang yang sedang mengantre. Bahkan ada yang sedang membuat video dengan kameranya. Angga menggelengkan kepala. Sudah kesal karena kucing, perutnya harus menunggu selama apa sampai ada nomor antriannya? Angga menghela napas dan berjalan menuju meja resepsionis itu sekali. Mencoba memastikan apakah benar ia mendapatkan nomor tersebut atau mereka sedang membuat video prank bagi Angga. Karena ada yang sedang membuat video-log. Ada kemungkinan ini adalah perbuatan youtuber, kan? Membuat konten yang mana judulnya nge-prank orang ganteng sejagat Jogja. "Mbak, ini nomor antriannya bener? Gak salah, Mbak?" Tanya Angga melas. "Bener, Mas. Iki nomor re 123," jawab pegawai itu dengan logat jawa yang medok. Berbeda sekali dengan pertama kali bertanya pada Angga. "Gak bisa ganti, Mbak?" Tanya Angga. Wajahnya sudah pias dan sangat memprihatinkan. Kalau saja ada Mamanya di sini, sudah pasti Angga tidak akan menunggu selama ini. Mamanya begitu-begitu bisa bahasa Jawa. Karena pernah tinggal beberapa tahun di kota ini. "Oh, bisa Mas. Mau nomor berapa? 124? 125? Atau 200-an?" Tanya pegawai tersebut antusias. Angga menggeleng lemah. Lelaki itu berjalan lesu menuju mobilnya. Dengan tangan yang lemas, Angga mengetuk kaca mobil sopir. Yang tak lama membuat pria itu keluar dari sana dan menatap khawatir pada wajah tak bersemangat Angga. "Ada apa, Pak?" Tanya sopir dengan tatapan panik. "Gak ada lagi tukang bakso, Pak?" Tanya Angga lesu. "A-ada. Tapi bakso solo dan bakso biasa. Tidak ada bakso pedas seperti keinginan Bapak. Hanya di sini saja, Pak." Angga menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sepertinya ia memang sedang diuji kesabarannya. "Sebenarnya ada, Pak." "Eh, ada?!" Tanya Angga sumringah. Lelaki itu langsung berdiri tegak dengan sempurna. Merasa ada harapan untuknya. "Ayo, Pak! Cepat kita ke sana!" Ajak Angga semangat. Lelaki itu memegang tangan Pak sopir dengan penuh harap. "Tapi perjalanannya bisa memakan waktu setengah jam," tambah sang sopir dengan tenang. Angga mengembangkan lubang hidungnya. Menatap pada pria di depannya dengan tatapan tajam. Sepertinya jika ia ada di dalam dunia novel, sudah pasti bentuknya macam banteng mengamuk. Lubang hidungnya dan kedua telinganya pasti sudah mengeluarkan asap, atau mungkin bahkan api. "Bapak lagi bercanda, ya?" Ujar Angga tajam. Sopir tersebut menyengir lebar dan menggaruk tengkuknya. "Tadi saya mau lanjutin ngomong, tapi Bapak keburu motong omongan saya." Angga menghela napas. Jadi ini salahnya? Tentu saja bukan! Ini salah Marsha! Gara-gara kucing, ia jadi sangat bahagia untuk mendapatkan bakso. "Ya udah, Pak. Saya mau ke dalam dulu. Mau antre." "Saya aja, Pak. Bapak di mobil saja." "Gak usah, Pak. Saya aja. Sekalian mau menghirup aroma baksonya. Siapa tahu bisa nahan kenyang sampe antreannya selesai." Angga tersenyum dan menepuk bahu pria yang menjadi sopirnya itu. Beginikah rasanya sakit tak berdarah? Bakso.. oh, bakso.. Lama-lama Angga jadi pembuat puisi kalau gini caranya! *** Setelah menunggu kurang lebih 1 jam setengah, akhirnya Angga mendapatkan tiga porsi bakso. Satu porsi bakso lava dan dua porsi bakso iga. Sengaja Angga langsung membeli yang besar. Jadi, ia tidak perlu lagi kembali ke sini dan mengantre selama itu. "Akhirnya!" Pekiknya bahagia setelah mendudukkan bokongnya di atas jok. Matanya terpejam dengan hidung yang menghirup aroma bakso di tangannya. Sopir di depannya hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Sekarang kita ke toko kucing ya, Pak!" "Baik, Pak Angga." Angga tersenyum, setidaknya apa yang ia lakukan tidak sia-sia. Sudah lelah karena perjalanan dan presentasi pada orang yang macam raksasa, akhirnya Angga bisa mengisi energi dan juga mengisi otaknya dengan hal-hal yang sangat ia senangi.  Sampai ia melupakan bagaimana nasibnya setelah membeli kucing. Drrt. Drrt. Drrt. Angga mengambil ponselnya dengan tangan yang kosong. Lelaki itu menatap sebentar nama yang tertera sebelum kembali menaruhnya di saku. Membiarkan nomor itu meneleponnya beberapa kali sampai akhirnya ponselnya tidak lagi bergetar. Angga tersenyum, ia tidak ingin waktu dengan baksonya diganggu. Sudah cukup adik manisnya itu menganggu dengan meminta membelikan kucing. Orang lain jangan sampai membuat dirinya kesal. "Tidak diangkat teleponnya, Pak?" Tanya sang sopir karena mendengar dengan jelas getaran dari belakang. Angga mengibaskan tangannya. "Biarin aja, Pak. Orang iseng. Biasa." Angga sebenarnya tahu kalau itu bukan hanya sekedar orang iseng. Itu adalah nomor salah satu pegawainya yang menjadi ketua divisi. Siapa lagi kalau bukan Arasya Feronica. Setelah hari di mana Angga kesal bukan main, ternyata Papanya memanggil wanita itu dan meminta penjelasan kenapa baju yang ia pakai tidak sesuai dengan kriteria. Tentu saja gadis itu langsung memberikan alibi yang sama sekali tidak masuk akal. Angga saja kalau mengingatnya cukup muak. "Saya hanya punya pakaian ini, Pak. Sayang kalau saya buang." Sayang apanya?! Memangnya gajinya selama sebulan hanya lima ribu? Sampai tidak bisa membeli kemeja putih yang lebih bagus dan baik? Atau memang porsi makannya yang sampai menghabiskan seluruh uang perbulannya? Angga tahu kalau gadis itu cukup berada. Memiliki kekuasaan juga. Karena katanya, Paman Arasya adalah salah satu pimpinan negara yang cukup berpengaruh. Keluarga besar perempuan itu juga sebagian memiliki partai sendiri dalam pemilihan pemerintah tahun lalu. Dan walau ibu perempuan itu hanya seorang IRT, nyatanya kehidupan mereka lebih dari kata baik. Ya, memang sih.. yang namanya attitude tidak bisa dibeli dengan uang. Sebanyak apapun memiliki uang ataupun kekayaan, itu semua tidak akan sebanding dengan perilaku yang baik. Jika tidak good money, cobalah menjadi salah satu kaum good looking. Kalau masih tidak bisa, masuklah ke dalam good attitude. Dan jika masih tidak bisa, maka masuklah ke dalam good brain. Dan kalau tidak bisa juga, masuklah ke dalam good people. Tidak mungkin dalam diri kita tidak memiliki salah satu dari kelima good tersebut. Semua orang memiliki kelebihannya masing-masing. Dan untuk Angga sendiri sih tentu saja good segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD