"Udah songong, gak tau diri juga ternyata kamu, Ngong," ujar Angga lagi pada kucing tersebut. Merasa kucing itu takut lapar tengah malam, Angga segera menuangkan makanan kucing yang ia beri nama Ongong itu dan air minumnya. Angga lalu memilih mengambil mangkuk yang ada di lemari kecil dan mulai menuangkan baksonya ke dalam sana.
Meong.
Angga mendengkus sebal. Memang ya, gak manusia gak hewan, kalau cium bau bakso langsung bangun. Ongong saja langsung bangun dan pura-pura mendekatinya seraya menempelkan bulu-bulunya pada kaki Angga.
"Gak boleh, Ngong. Makanan kamu tuh," tunjuk Angga pada mangkuk yang sudah tersedia dekat kandang kucing.
"Meong.."
"Dih, belaga banget gak mau! Itu makanan mahal, Ngong. Cuman kucing kaya kamu aja yang makan kaya gitu. Masih untung saya kasih kamu makan itu daripada ikan asin. Terima aja sih! Pengen banget makan bakso. Kaya tau aja rasa bakso gimana," ujar Angga panjang lebar. Kucing gembul itu langsung berjalan menjauh mendengar Angga yang terus menceramahinya dan memilih memakan makanannya.
Begitupun Angga, lelaki itu langsung sibuk dengan baksonya begitu kucing itu pergi darinya.
"Nah, gitu, Ngong! Jangan mau makanan saya. Kamu punya jatah sendiri."
"Meong.."
***
Mobil hitam yang dinaiki Angga dan Farhan akhirnya sampai di kediaman Rajendra. Kedua lelaki itu turun perlahan seraya menenteng barang masing-masing. Angga dengan kucing Ongong dan Farhan dengan oleh-oleh yang sudah ia siapkan untuk istri dan anak-anaknya.
"Assalamualaikum, Papa pulang!" Teriak Farhan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Angga menjawab salam begitu ikut masuk ke dalam rumah tiga lantai itu. Lelaki yang kini berdampingan dengan sang papa ikut mengusung senyum. Farhan ternyata cukup pintar merubah mimik wajah. Di saat tekanan begitu besar pria itu rasakan, bibirnya tetap melengkung. Membentuk senyuman manis, penyambut seseorang yang kini berlari mendekati dirinya. Mengatakan bahwa ia sangat bahagia di sana. Padahal kenyataanya tidak.
"Waalaikumsalam!" Jawab Mamanya dengan lembut. Wanita yang kini memakai gamis berwarna biru muda itu tersenyum manis di depan Papanya. Terlihat begitu natural. Di mana tatapan keduanya penuh dengan rasa sayang.
Farhan mengecup kening istrinya begitu wanita itu datang padanya dan mengambil tangan kanannya untuk dikecup kecil. Dela--Mamanya itu tersenyum lembut. Benar-benar senyum yang ingin Angga dapatkan nanti ketika menemukan pendamping hidupnya. Lelah bekerja selama seharian pun rasanya akan hilang melihat senyum itu. Mungkin karena itu juga Papanya menunjukkan raut wajah seolah baik-baik saja. Karena senyum Mamanya bisa membuat siapapun ikut tersenyum termasuk Angga.
"Papa mau langsung mandi?" Tanya Dela dengan suaranya yang terdengar mendayu manis. Angga menggelengkan kepalanya. Mamanya memang sangat berbeda dengan wanita biasanya. Di umurnya yang menginjak 42 tahun, Mamanya terlihat lebih muda. Mungkin karena postur tubuhnya yang kecil dan cukup tinggi. Tentu saja karena Dela mantan pramugari. Wanita itu juga sempat gendut kok, tenang saja.
Setelah melahirkan Marsha, Dela pernah mengalami kelebihan berat badan sampai terlihat seperti bola. Bukannya mengejek, tapi memang kenyataannya seperti itu. Sampai Papanya saja yang biasanya selalu bisa mengangkat Mamanya ketika wanita itu tertidur di sofa tidak kuat lagi. Lalu saat melahirkan Rasya, Mamanya mulai melalukan olahraga rutin dan mengonsumsi makanan sehat. Dan terakhir Lingga, sempat kembali melebar, namun tak lama. Karena Mamanya sempat hamil lagi namun keguguran. Sempat terpuruk cukup lama yang mana membuat tubuh wanita itu mengecil dengan sendirinya. Sampailah sekarang. Wanita itu terlihat seperti Kakak Angga jika berjalan bersama dibanding Mamanya.
"Anak-anak mana?" Tanya Farhan seraya mengelus kepala Dela. Angga mendengkus. Lelaki itu memilih pergi atau matanya kembali ternistakan oleh adegan yang akan ia praktekkan setelah menikah nantinya.
Lelaki itu menaiki tangga dengan kedua tangan yang penuh. Sebelah kanan adalah tempat si Ongong. Dan yang sebelahnya lagi berisi keperluan kucing itu. Angga melirik ke bawah dan kembali berjalan saat Papanya juga ternyata ikut naik ke atas.
"Pada kemana sih? Tumbenan kagak buat rumah jadi kapal pecah," gumam Angga yang sudah lelah karena membawa kucing itu terus menerus di tangannya. Belum lagi saat di mobil ia harus menyempatkan memberi makan dan minum.
"Marsha!" Panggil Angga dengan keras. Lelaki itu menaruh kucing yang ia bawa di lantai. Melihat sekitar yang sepi, Angga langsung tersenyum miring. Lelaki itu berlari dan berhenti tiba-tiba di sebuah ruangan. Dengan sekuat tenaga, Angga memegang knop pintu. Menggerakkannya ke bawah dan berniat mendorongnya ke belakang. Namun niatnya tidak terlaksana dengan baik karena seseorang dari dalam ruangan itu juga membuka pintu. Membuat Angga terjatuh dan tersungkur mencium lantai.
Bruk.
"Ups!" Gadis yang Angga cari itu menutup mulutnya. Menahan tawa melihat Kakaknya yang kini masih setia dengan posisinya yang menungging mencium lantai.
"Abang lagi nyobain rasa lantai?" Tanya Rasya dengan wajah tanpa dosa. Wanita yang kini tengah memegang gitar di tangannya itu menatap Angga dengan halis yang terangkat sebelah.
"Lagi sujud sukur kali," jawab Lingga asal. Lelaki yang memegang gitar listrik serta microfon itu malah menertawakan Angga dengan sangat keras. Yang mana malah mengundang tawa Kakak-Kakaknya. Lalu tak lama tawa itu bertambah karena kedatangan Papanya.
"Ya Allah, Bang! Ngapain sih? Saking kangennya sama rumah sampe nyium lantai? Ya ampun! Gak nyangka Papa kamu bisa sekangen ini sama rumah. Kirain kangen kantor doang," kelakar Farhan seraya menggelengkan kepala.
Angga bangkit dengan bantuan Farhan. Menarik napas panjang lalu menatap ketiga adiknya yang masih asyik tertawa.
"Uang bulanan lo semua berhenti dari sekarang sampe seterusnya!" Ujar Angga tajam. Tawa mereka langsung terhenti dan tergantikan dengan wajah horor yang pias.
"Bang, jangan dong.. gua butuh buat nabung beli buku panduan UN," melas Rasya.
"Kaya yang iya aja belajar UN," sindir Angga yang malah mendapat cengiran dari Rasya. Baik, adiknya memang tidak benar-benar waras.
"Bang, Lingga butuh uang. Mau beli.. apa ya? Kak Ras, bantuin gua dong! Alesannya apa biar Bang Angga percaya!"
Doeng.
Angga menatap datar Lingga yang sibuk menggoyangkan bahu Rasya. Tolong.. ini memang keluarganya yang tidak waras atau Angga saja yang sedang dalam mode tidak sadar sepenuhnya?
"Marsha sih gak masalah, nanti Marsha bisa minta sama Papa. Ya gak?" Ujar Marsha percaya diri. Farhan mengangkat sebelah halisnya.
"Kata siapa? Papa juga berenti aja deh uang bulanan kalian," canda Farhan. Pria itu menaik-turunkan halisnya pada Angga yang langsung mendapat acungan ibu jari.
"Melarat amat kehidupan SMA gua," melas Rasya dengan tangan yang memetik senar gitar perlahan.
"Sedih amat hidup SMP Lingga," ujar Lingga menambahkan. Keduanya saling menatap sebelum akhirnya berpelukan dan mengelus punggung.
"Sabar ya, Ling.. nanti kita aduin sama Ibu Ratu aja," ujar Rasya dengan nada sedih.
"Iya, Kak. Gak masalah. Ibu Ratu masih berkuasa. Semoga beliau memihak rakyat jelata seperti kita," tambah Lingga ikut sedih.
Angga mendengkus sebal. Lubang hidungnya mengembang. "Lo mah gak gitu ya Mar--"
"Iya, adik-adikku sayang. Tenang saja. Tahta masih diduduki oleh Ibu Ratu." Marsha yang entah sejak kapan berpindah tempat itu ikut memeluk adik-adiknya dan mengelus punggung mereka sedih.
"Pa, itu anak Papa?" Tanya Angga.
"Gak tau. Kayanya waktu nyetak terlalu semangat, jadi agak kurang."
"Apanya yang kurang?" Tanya seseorang di belakang Angga dan Farhan. Kedua lelaki itu seketika menelan saliva kasar. Senyum terpaksa mereka tunjukan seraya menolekan kepala ke belakang.
"Kenapa mereka bertiga pada berpelukan?"
"Itu.."
"Uang jajan kita diberhentiin, Ma!" Adu ketiganya bersamaan.
Sontak saja saat itu juga Angga rasakan aura membunuh yang sangat kental dari belakangnya. Bulu kuduknya bahkan sampai mencuat saking takutnya.
"Papa.. Abang.."
Glek.
"I-iya, Ma. Itu tadi cuma bercanda," ujar Angga dan Farhan bersamaan. Keduanya menggaruk belakang telinga seraya menyengir.
"Mana ada! Bohong! Mukanya serem, kaya beneran!" Adu Lingga semangat.
Angga hanya bisa pasrah. Ya sudahlah, niat pulang mau istirahat dan berfikir jernih, malah mendapat ceramahan dan juga jeweran khas Mamanya.
***