Vion berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit dalam diam. Dia masing mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Cass lewat telepon kemarin. Nic melamarnya? Ya Tuhan, semoga kali ini Cass benar-benar tidak terluka. Setelah apa yang aku lakukan padanya, dia terlalu baik untuk mendapatkan pria seperti Nic yang sangat pencemburu.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Victor sambil melangkah keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Vion menatap Victor dengan seksama dan kemudian menepuk tempat kosong di sisinya. “Cass dan Nic.” Jawab Vion pelan.
“Ada apa dengan mereka?” Tanya Victor tanpa menatap Vion, berjalan melintasi kamar menuju lemari dan mengambil pakaiannya. “Apa mereka menjalin hubungan?” Tanya Victor lagi yang kali ini tanpa malu melepas handuknya dan memakai pakaian dalamnya begitu saja.
“Lebih buruk. Atau lebih baik? Aku tidak yakin. Cass bilang kalau Nic melamarnya.” Gumam Vion pelan, “Saudaraku melamarnya.” Tambahnya seolah masih tidak percaya dengan informasi itu.
Victor nyaris menjepit tangannya sendiri di lemari kalau Vion_yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Victor_menahan pintu lemari. “Kau serius?”
“Seandainya aku bisa bilang ini hanya bercanda dan aku harap ini bukanlah kenyataan.” Geram Vion yang kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Victor hanya bisa menatap pintu kamar mandi tertutup begitu saja sementara dia melanjutkan berpakaian sambil memikirkan ucapan Vion tadi.
Cass akan menikah dengan Nic? Astaga! Seandainya Vion tidak terjebak bersamaku, aku yakin dia masih bersama Cass sampai saat ini. Tapi apa Cass benar-benar akan menikah dengan Nic? Oh, aku tahu kalau Nic memang sangat tertarik dengan Cass, tapi Cass bukan wanita yang akan menikah hanya untuk memuaskan nafsunya. Tidak. Cass bukan wanita seperti itu. Cass wanita yang memuja cinta diatas segalanya. Dan apakah Nic bisa memberikan hal itu? Bisik Victor pada dirinya sendiri.
“Jangan pikirkan apapun, Vic! Kita akan memikirkannya nanti setelah pulang dari Mexico. Sekarang berkemaslah. Aku tidak ingin ketinggalan penerbangan.” Teriak Vion dari kamar mandi seakan bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Victor saat ini.
Sementara itu di kediamannya, Nic sedang menghadapi teror pertanyaan dari Zoe saat dia memberitahu kalau Cass dan dirinya akan segera menikah.
“Kau yakin, Nic? Kau tidak sedang sakit kan? Kau tidak menjadikan gadis itu pelarian kan?” Tanya suara Zoe dari seberang lautan disana.
Nic cemberut, tidak suka saat ibu tirinya itu berkata seperti itu. “Tidak, Matera. Apa kau tidak suka?”
“Ya Tuhan! Mana mungkin aku tidak suka. Kalau aku sempat berpikir seperti itu, kau bisa membawaku ke dokter jiwa. Ya Tuhan, Sayangku! Aku tidak pernah sebahagia ini dalam hidupku. Kau tahu apa yang Ari katakan selama disini? Seandainya dia punya ibu sebaik Cass, dia berjanji akan menjadi anak baik selamanya dan belajar yang rajin. Dan sekarang aku bisa mengatakan kabar gembira ini pada malaikat kecilku. Aku senang sekali karena akhirnya malaikat kecilku itu memiliki seseorang yang pantas dipanggilnya ibu.” Ujar Zoe tanpa jeda.
“Jadi, kapan kau akan datang kesini untuk membantu kami menyiapkan pernikahan kami? Aku bisa saja membayar orang untuk melakukannya, tapi kau pasti akan memecatku jadi anak kalau aku tidak melibatkanmu dalam pernikahanku.”
“Aku akan terbang dengan penerbangan pertama besok bersama Ari. Dia pasti sangat ingin tinggal denganmu dan ibu barunya. Sampaikan salam sayangku untuk Cass, Nic.” Ujar Zoe sebelum menutup telepon.
Nic mengembalikan telepon ke tempatnya dan kemudian tersenyum. Kali ini dia benar-benar berharap kalau pernikahannya dengan Cass akan bertahan sampai akhir. Bukan hanya beberapa tahun dan diakhiri dengan perceraian. Entah kenapa ide melepaskan Cass apapun alasannya membuat hati Nick nyeri.
***
Hari sudah menunjukkan jam 1 siang, sedangkan Cass sama sekali belum mengerjakan apapun sejak dia datang ke kantor tadi pagi. Ingatannya melayang-layang ke pembicaraan yang terjadi antara dirinya dan Zoe 4 hari yang lalu.
“Aku ingin kalian menikah dalam bulan ini.” Ujar Zoe saat Nic mengatakan kalau mereka akan menikah.
Cass nyaris menyemburkan teh yang diminumnya kalau teh itu belum sempat ditelannya. “Matera! Kau yakin itu bisa dilakukan?” Tanya Nic yang bukannya menolak malah terlihat lebih semangat dengan ide menikah dalam bulan ini.
“Tentu. Kalian hanya tinggal mendaftarkannya besok, dan untuk upacara dan pestanya, aku yang akan mengurusnya. Kal akan dengan senang hati membantuku. Kalian bisa tetap bekerja seperti biasa, walaupun aku nanti akan membutuhkan kalian untuk mengepas pakaian pernikahan.” Jelas Zoe tenang.
“Kita bisa membeli yang sudah jadi, kan? Jadi tidak perlu sibuk seperti ini.” Tanya Cass cepat.
Nic menggeleng. “Tidak. Kalau dibutuhkan kita akan mengambil cuti dan fokus untuk acara ini. Aku ingin gaunmu dijahit dan dikerjakan secara khusus. Aku ingin kau tampil mempesona semua orang. Tidak ada yang biasa dari pernikahanku, tidak boleh.” Sela Nic sebelum Zoe sempat menjawab.
“Tenang saja, Cass. Semuanya akan berjalan lancar. Kau dan aku akan segera menikah. Tapi...” Ucapan Nic terputus saat matanya menatap mata Cass begitu dalam.
“Apa?”
“Bisakah kau berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja?” Tanya Nic pelan. “Aku bukannya menghalangimu untuk bekerja, hanya saja kau tidak mungkin lagi menjadi sekretarisku, dan aku tetap tidak mau harus mengejar-ngejar sekretarisku dan kemudian bercinta di meja kerja. Aku bisa saja memintakan satu posisi untukmu di beberapa perusahaan kenalanku, tapi aku tidak suka dengan kemungkinan kau dekat dengan pria lain. Bisakah kau mengabulkan permintaanku ini?”
Cass terdiam.
Selama ini dia bekerja untuk mengusir kebosanan karena harus diam di rumah sementara dia suka untuk disibukkan dengan berbagai macam hal. Dan sekarang setelah menikah, Nic memintanya untuk tidak bekerja. Apa Cass sanggup untuk terus berada di rumah?
Setelah memikirkannya beberapa saat, tiba-tiba ide mengurus rumah dan mengurus Arianne terlihat lebih indah di pikirannya. Cass masih sulit menentukan apa yang dia rasakan dengan Nic, tapi Cass dengan sadar tahu kalau dia menyayangi Nic dan Arianne dan tidak ingin kehilangan mereka berdua.
“Aku rasa aku bisa. Aku akan berhenti bekerja. Hanya saja, aku baru akan berhenti seminggu sebelum upacara pernikahan kita. Aku tidak ingin membiarkanmu sibuk di kantor sendirian dan menghindari segala macam ukur mengukur ini. Aku tidak ingin jadi satu-satunya yang dikejar-kejar jadwal.” Ujar Cass ringan berusaha menerima segala perubahan dalam hidupnya.
“Aku tidak bisa bilang kalau aku senang mendengar ini. Tapi, aku harap kau tidak menyesali keputusanmu untuk melepas karirmu, petite mou. Kau tetap bisa bekerja walaupun bukan di kantor Nic.” Ujar Zoe lembut.
Cass tersenyum meyakinkan. “Aku rasa aku tidak akan menyesal.” Sahut Cass lebih meyakinkan dirinya sendiri daripada meyakinkan Zoe.
Dan disinilah Cass, termenung memikirkan segala perubahan drastis dalam hidupnya tanpa bisa mengerjakan apapun pekerjaannya di kantor. Dia memang berjanji pada dirinya sendiri kalau saat dia menikah nanti, dia akan berhenti bekerja dan mengurus keluarganya. Tidak ingin masa kecilnya yang haus kasih sayang orangtua dialami oleh anaknya. Tapi itu hanya kalau dia menikah berdasarkan cinta.
Sekarang?
Cass bahkan tidak yakin apakah yang dirasakannya cinta atau hanya kebutuhan fisik semata. Semakin dekat hari pernikahannya, membuat Cass semakin tidak yakin. Dering teleponlah yang akhirnya menyadarkan Cass dari dunia khayalnya. Wanita itu segera mengambil ponselnya dan kemudian menjawab pada dering ketiga.
“Cassidy Carrington.”
“Hallo, Manis? Apa kau sibuk siang ini?”
“Vion? Kau sudah kembali?” Tanya Cass tidak percaya karena dua minggu ini Vion dinas ke Mexico sekalian menemani Victor mengabadikan beberapa foto di tanah Aztec itu.
Terdengar suara tawa lembut di seberang sana. “Tentu. Aku tidak mau ketinggalan kesibukan pra nikah kakak dan sahabatku tersayang.” Sahut Vion ringan. “Apa kau ada waktu, Manis? Bisakah kita pergi makan siang?” Tanya Vion.
“Kau tahu, Vion. Ide untuk menikah dengan suadaramu ini mengacaukan hariku. Dan rasanya sudah terlambat untuk membatalkannya karena Arianne terlihat sangat senang dan kemajuan dalam terapinya jelas berjalan sangat baik.” Ujar Cass.
“Kau tidak menyukai Nic?” Tanya Vion seakan ide kalau ada orang yang tidak menyukai abangnya adalah saat dimana dunia akan kiamat.
Cass menggeleng walaupun tahu Vion tidak akan bisa melihatnya. “Apa ada wanita yang tidak menyukai saudaramu itu? Aku berani bertaruh kalau tidak akan ada wanita yang menolaknya apalagi kalau diajak menikah.” Jawab Cass datar.
“Lalu apa masalahnya?”
“Entahlah, Vion. Aku juga bingung. Apa ini yang namanya sindrom pra-nikah? Padahal masih ada waktu seminggu lagi sebelum kami menikah.”
“Aku tidak tahu Cass. Kau tahu sendiri kalau aku tidak akan pernah menikah.”
“Yang benar saja, Vion! Kau tidak sepenuhnya salah jalan!” Tegur Cass cukup kuat hingga wanita itu langsung mengecilkan volume suaranya.
“Aku memang tidak sepenuhnya melenceng, Manis. Tapi kalau satu-satunya wanita yang berharga untukku akan menikah dengan saudaraku, aku rasa aku tidak akan pernah menikah.”
“Alvion!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa di seberang. “Maafkan aku, Manis. Aku hanya bercanda. Tenang saja, ini masalahku, okay? Kau hanya perlu memikirkan apakah kau yakin dengan semua keputusan ini atau tidak. Sebelum kau menikah dengan Nic, aku akan mendukung semua keputusanmu. Tapi setelah kau menikah dengan Nic, maaf Manis, aku akan mendukung Nic. Jadi, kalau aku berniat bercerai dari Nic setelah kalian menikah nanti, aku akan menjadi orang pertama yang memusuhimu, Manis. Walau bagaimanapun Nic adalah saudaraku, dan dia sudah pernah bercerai sebelumnya. Dia memang tidak pernah menunjukkan kesedihannya karena dia tahu kalau dia harus kuat untuk anaknya. Dan kalau itu terulang lagi, Nic akan lebih sakit dari sebelumnya.”
Cass terdiam.
Dia menyerap semua perkataan Vion dan kemudian menghela napas pasrah. “Tetaplah disampingku, Vion. Hanya kau yang tahu betapa sulitnya ini untukku. Aku tidak berani cerita apapun pada Clara karena aku tahu kalau dia sangat menginginkan ini.”
“Till the end, my love. Aku dan Vic akan selalu bersamamu.” Jawab Vion penuh kasih.
Cass tersenyum, tapi sesaat kemudian dia teringat sesuatu. “Masalah makan siang, aku rasa aku bisa keluar denganmu. Kau yang menjemputku atau kita bertemu disana saja?” Tanya Cass cepat.
“Aku akan menjemputmu. Aku rasa aku ingin mengajak Ari sekalian, apa kau keberatan?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Aku tunggu di ruanganku.” Ujar Cass sebelum memutuskan sambungan.
15 menit kemudian, Vion sudah muncul di kantor Cass. Dia mendorong kursi roda Arianne memasuki ruangan Cass.
“Hallo, Manis.” Sapa Vion begitu membuka pintu ruangan Cass.
Cass mengalihkan perhatiannya dari layar komputer ke pria yang sedang berdiri di pintu bersama Arianne. “Kalian sudah datang?” Tanya Cass sambil melirik jam tangannya.
“Kami akan ke ruangan Nic dulu. Dia bisa mengamuk kalau kami tidak mengatakan apapun padanya.” Ujar Vion ringan. “Kau ingin ikut denganku, Sayang?” Tanya Vion yang kali ini lebih ditujukan pada Arianne.
“Tentu.” Sahut Arianne cepat. “Cass, apa kau juga ikut bersama kami?” Tanya Arianne riang.
Cass tersenyum sambil menggeleng. “Aku akan menunggu kalian disini.” Jawab Cass lembut.
Tidak sampai 10 menit kemudian, Vion sudah kembali ke ruangan Cass. Dan kali ini dia tidak hanya membawa Arianne tapi juga Nic. “Apa kau keberatan kalau aku ikut?” Tanya Nic sambil membelai rambut Arianne penuh kasih sayang.
Sial. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengan Vion. Tapi itu semua tidak akan bisa kulakukan kalau Nic ikut. Pikir Cass.
“Tentu tidak. Ayo.” Ujar Cass yang akhirnya menyerah pada kenyataan kalau Nic tidak akan suka kalau dilarang bergabung dengan mereka.
Nic membiarkan Vion dan Arianne berjalan di depan sementara dia berjalan bersama Cass. “Aku tahu kalau kau ingin makan siang bersama Vion dan Ari saja, tapi aku tergoda untuk menghabiskan waktu bersamamu, agape mou. Kita terlalu sibuk beberapa hari ini hanya karena ide menikah ini.” Bisik Nic lembut lalu dengan sengaja mencium bibir Cass walaupun mereka sedang melintas di depan karyawan yang lain yang sedang memberi salam pada Nic.
“Apa yang kau lakukan?” Tegur Cass sambil memukul pelan bahu Nic yang tambah membuat pria itu tersenyum senang.
“Aku bisa melakukan yang lebih menarik dari itu, agape mou. Tapi aku tidak akan mengajarkan cara bercinta pada Arianne dengan melakukannya bersama ibu barunya di depan matanya.” Sahut Nic yang menuai pukulan lain dari Cass.