“Sekali lagi aku bilang kalau aku ingin pulang sekarang juga, Clarance Ivander!” Ucap Cass nyaris berteriak pada adiknya yang sedang duduk tenang di hadapannya saat ini di salah satu kamar perawatan di rumah sakit.
Clara mengalihkan pandangannya dari majalah pada kakaknya yang sedang terbaring kesal di tempat tidur. Dengan malas Clara menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan beberapa kali. “Tidak, sampai aku yakin kalau kau benar-benar baik-baik saja. Dan Dokter bahkan belum mengizinkanmu untuk pulang.” Jawab Clara santai.
“Baiklah, kalau itu keputusanmu. Dengan atau tanpa izinmu, aku akan keluar.” Geram Cass yang seumur hidupnya sangat membenci menjadi orang lemah.
“Kau tidak akan melakukan itu, Cassidy Carrington.” Ujar sebuah suara yang sudah cukup lama tidak didengar Cass dan Clara.
Tanpa sadar Clara langsung berdiri dan dia benar. Aldrich berdiri di dekat pintu masuk kamar. Tapi suara itu bukan milik Aldrich. Suara itu milik seorang pria yang sekarang sedang berjalan menuju tempat tidur Cass hanya dalam beberapa langkah besar.
“Kau tidak akan keluar dari kamar ini sebelum aku mendengar sendiri kalau dokter mengatakan kau sudah boleh pulang. Jadi sampai saat itu tiba, jadilah gadis yang baik.” Tegas Nic.
Tiba-tiba Cass melempar bantalnya ke tubuh Nic. “Kau_tidak_berhak_melarangku, b******k!” Geram Cass, “Kau pergi begitu saja, tanpa mengatakan apa-apa tentang apapun, dan sekarang kau muncul dan menyuruhku tetap di rumah sakit padahal dokter sudah mengatakan kalau aku hanya TERKILIR!! Aku benci kalian semua.”
“Ada apa ini?” Tanya sebuah suara lain milik pria yang kini baru saja muncul di ambang pintu. “Ah, kau ada disini, Kak?” Tanya Vion datar lalu memberikan senyum sopan pada Aldrich sebelum berjalan ke sisi lain tempat tidur Cass. “Aku sudah membereskan semua administrasinya, dokter mengatakan kalau kau hanya butuh istirahat sehari lagi dan itu bisa dilakukan di rumah selama kau ingat untuk mengompres kakimu. Jadi, kapan kau mau pulang, Cass?” Tanya Vion tanpa memperdulikan tatapan menyelidik yang dilemparkan Nic.
“Sekarang juga, Vion. Aku bosan berada di rumah sakit, dan aku benci jadi orang lemah!” Jawab Cass sambil berusaha turun dari tempat tidur.
“Kalau kau memang akan pulang, aku yang akan mengantarmu.” Ujar Nic yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisi Cass dan langsung meraih wanita itu ke dalam pelukannya.
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa memperhatikan sikap Nic yang sangat protektif terhadap Cass. Bahkan tidak seorangpun bisa bicara dengan Cass tanpa mendapatkan tatapan kesal dari Nic. Meski sikap Nic pada Cass mengundang pertanyaan, tidak seorangpun juga yang berani terang-terangan mempertanyakan hal itu. Mereka semua mengenal Nic dengan baik dan memilih untuk diam.
“Ada lagi barang-barang bawaanmu?” Tanya Nic cepat setelah memperhatikan hanya satu tas yang akan dibawa pulang.
Cass menggeleng cepat. “Tidak ada. Aku hanya terkilir dan jangan pernah memperlakukanku seperti orang tua yang membutuhkan segala pertolongan.” Geram Cass
Nic membawa tas Cass dengan satu tangan sedangkan tangannya yang lain memeluk pinggang Cass untuk membantu wanita itu berjalan sampai mereka tiba di parkiran. Cass dan Nic sama sekali tidak bicara sepanjang perjalanan. Sampai beberapa saat kemudian Cass menyadari kalau Nic tidak menuju ke daerah rumahnya melainkan ke rumah Nic sendiri.
“Ini bukan daerah rumahku.” Ujar Cass pelan.
“Betul. Ini daerahku. Kau akan tinggal di rumahku sampai kakimu sembuh. Aku tidak mau melihatmu masuk rumah sakit lagi atau menerima pertolongan dari orang lain.” Ujar Nic tenang.
“Nic! Apa-apaan ini? Aku harus kembali ke rumahku.” Tolak Cass tegas.
Nic menghentikan mobilnya tepat di halaman rumahnya. Dengan santainya Nic turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Cass. “Terserah apa yang kau katakan, tapi selama kau dalam masa penyembuhan, kau akan tinggal bersamaku, sayang. Tenang saja, kau akan menempati kamar sendiri. Dan Arianne tidak akan berada di rumah sampai liburan sekolahnya usai. Jadi, tidak akan ada yang mengganggumu disini.” Jelas Nic sambil membantu Cass keluar dari mobil.
“Kau jelas tidak ingin bertemu denganku atau bahkan mendengar suaraku saja kau enggan. Jadi kenapa kau malah memutuskan untuk membawaku tinggal bersamamu yang malah akan membuatmu lebih sering bertemu denganku? Kau bahkan pergi keluar kota tanpa mengkonfirmasi jadwalmu padaku.” Tanya Cass cepat.
Nic memperhatikan Cass dengan seksama dan dengan mudahnya dia menggendong Cass nyaris seperti mengangkat karung beras. “Aku yakin kalau kau akan terus bertanya bahkan tanpa memikirkan kalau hari sudah malam dan kita sedang berada di halaman. Aku akan menjawab semuanya setelah kita masuk. Aku tidak mau mengambil risiko kau akan demam atau aku yang sakit.” Ujar Nic tenang sambil membawa Cass masuk ke dalam rumah dan terus berjalan menuju kamar kosong di sebelah kamar Nic.
Cass sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan pria ini. Pertama dia terlihat seperti menyukai Cass, dan kemudian dia tiba-tiba meninggalkan Cass tanpa pamit dan tidak memberikan kabar apapun. Sekarang dia memberikan perhatian pada Cass seolah hanya Cass satu-satunya wanita yang dia perhatikan di muka bumi.
“Ini kamarmu. Kau bisa menggunakannya sesuka hatimu. Anggap saja ini rumah sendiri. Dan kalau kau butuh apa-apa, tolong panggil aku ataupun Betty. Istirahatlah, aku akan berada di kamar sebelah.”
Cass menunggu sampai Nic keluar dari kamar sebelum dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur besar yang ada di kamar itu.
Ironis bukan? Laki-laki pertama yang kukira akan menjadi segalanya malah bersikap aneh. Dia sama sekali tidak pernah menjelaskan kenapa dia pergi begitu saja selama beberapa hari. Dan dia juga tidak minta maaf untuk semua tuduhannya padaku ataupun Vion. Sebenarnya dia punya berapa kepribadian? Dan siapa sebenarnya yang ku suka? Nic sang bos atau Nic yang sangat mencintai keluarganya? Sial. Aku tidak boleh memiliki perasaan padanya. Dia masih punya istri.
Nic melangkah keluar menuju beranda kamarnya. Menyadari kalau Cass ada di kamar sebelah yang mungkin sedang tidur membuat Nic harus berulang kali mandi air dingin malam ini. Malam-malam Nic tanpa Cass tidak pernah damai. Hanya dengan memikirkan wanita itu saja sudah bisa membangkitkan gairah liar Nick dengan cepat. Cass nyaris menjadi candu bagi Nick. Tepat saat Nic memutuskan untuk masuk ke kamar dan tidur, matanya menangkap sekelebat bayangan di beranda sebelah. Cass berjalan keluar ke beranda dengan menggunakan gaun tidurnya yang berwarna krem emas dengan rambut terurai di punggung. Dan sepertinya Cass juga menyadari kehadiran Nic karena dia langsung berbalik menghadap ke Nic dengan tatapan yang cukup membulatkan tekad Nic untuk bergegas menuju kamar Cass.
Bersyukur karena pintu kamar Cass tidak terkunci, Nic melangkah masuk ke kamar Cass dan langsung bergegas ke beranda. Cass masih di sana, berpegangan pada pagar beranda dan menatap kegelapan malam saat Nic memeluknya dari belakang.
“Aku membencimu, Cassidy Carrington! Kau membuatku tidak bisa melupakanmu dan selalu merindukanmu. Kau membuatku takut dengan apa yang aku rasakan karena aku benci berhubungan tetap dengan seorang wanita. Sial. Menikahlah denganku, dan hilangkan semua penderitaan ini.” Geram Nic lalu membalik tubuh Cass dan kemudian langsung melumat bibir wanita itu.
Seakan merasakan desakan yang sama, Cass merangkulkan tangannya ke leher Nic dan menekan leher pria itu agar memperdalam ciumannya. Satu tangan Nic juga melakukan yang sama sedangkan yang sebelah lagi menangkup b****g Cass dan menariknya mendekat ke tubuhnya sendiri agar Cass tahu seberapa kuat pengaruh Cass dalam membangkitkan gairahnya.
Nic melepaskan ciumannya hanya untuk membelai leher Cass dengan lidahnya, menekan titik-titik sensitif di leher Cass hanya untuk mendengar wanita itu mengerang nikmat. Dengan satu gerakan ringan, Nic mengangkat Cass dan menjatuhkannya ke tempat tidur.
“Apa aku menyakitimu?” Tanya Nic sambil mengelus pelan pergelangan kaki Cass yang diperban.
Cass menggeleng pelan sambil tersenyum. “Kau tidak pernah menyakitiku dengan ini, Nic.” Bisik Cass serak.
Dengan perlahan Nic menarik Cass agar duduk di tepi tempat tidur, kembali mencium Cass dengan lembut dan membelai mulut Cass dengan lidahnya saat kedua tangannya berjuang melepaskan gaun Cass dari tubuh wanita itu. Nic melepas ciumannya dan berpindah ke tali gaun tidur Cass yang mulai menuruni bahu wanita itu dengan bibirnya. Sambil mendorong Cass agar berbaring kembali, Nic menciumi tubuh Cass yang sudah terbuka dan terus turun menuju perutnya yang terpampang jelas di hadapan Nic. Dengan lidah dan bibirnya Nic meninggalkan jejak lembab di seluruh tubuh Cass sampai gaun Cass benar-benar terlepas.
Betapa bahagianya Nic saat menyadari kalau Cass tidak mengenakan apapun di balik gaun tidurnya. Dengan sangat lembut Nic memijit pergelangan kaki Cass sementara bibirnya bekerja di perut Cass. “Nic?” Panggil Cass sambil berusaha mengintip apa yang pria itu lakukan padanya.
“Sssttt... Sabar sayang. Aku selalu ingin melakukan ini padamu sejak kau melangkahkan kaki memasuki kantorku pertama kali. Kau begitu indah, agape mou.” Gumam Nic yang mulai naik ke p******a Cass dan membuat lingkaran di puncak yang sedang menegang itu dengan lidahnya.
Cass menjambak rambut Nic dan menarik kepalanya. “Cium aku!” Geram Cass yang langsung menempatkan bibirnya di bibir Nic.
“Sesuai perintahmu, agape mou.” Bisik Nic penuh gairah.
Mereka terus berciuman hingga Cass menjauhkan bibir Nic, “Aku ingin melakukannya padamu.” Bisik Cass sambil menyusupkan tangan ke d**a di balik jubah mandi Nic yang sudah tersingkap.
Nic menangkap tangan Cass dan mulai menciumi jarinya satu persatu hingga membuat Cass menggelinjang nikmat. “Tidak sekarang, petite mou. Saat ini aku hanya ingin memuaskanmu. Kau hanya perlu meminta dan aku akan melakukannya.” Gumam Nic sambil memasukan jari Cass secara bergantian ke dalam mulutnya. “Apa kau menginginkanku?” Tanya Nic yang akhirnya melepas tangan Cass dan mengalihkan tangannya ke bagian tubuh Cass yang lain yang sudah lembab dan nyeri.
Nic menekan jarinya ke bagian tubuh Cass yang paling sensitif itu. “Katakan padaku apa kau menyukainya?”
“Ya ya ya... Aku menyukainya. Jangan berhenti.” Ucap Cass cepat.
“Aku bisa gila kalau menghentikannya sekarang.” Bisik Nic yang langsung memasukkan jarinya ke dalam tubuh Cass hingga membuat wanita itu terpekik pelan.
Nic membungkam mulut Cass dengan bibirnya sementara jari-jarinya terus mendesak Cass hingga ke puncak kenikmatan. Dan tiba-tiba Nic menarik jarinya dan melebarkan kaki Cass. Nic menempatkan tubuhnya di antara kaki Cass dan langsung menghunjamkan tubuhnya ke dalam tubuh Cass.
Cass menatap pria yang sedang berbaring di sisinya saat ini. Keringat melapisi seluruh kulit mereka. Dan tubuh mereka bahkan masih bersatu. Cass sudah siap untuk menjauh dan turun dari tempat tidur saat Nic semakin mempererat pelukannya.
“Jangan pergi...” Bisiknya begitu lembut.
“Tapi...”
“Tinggallah sebentar. Ada yang ingin kubicarakan...” Bisik Nic lagi sambil menyusurkan tangannya ke perut Cass dan naik ke p******a Cass. “Aku tahu kalau kita sangat cocok dalam seks, dan kau juga menyayangi Arianne lebih dari yang kuharapkan.” Lanjut Nic tanpa memindahkan tangannya dari p******a Cass dan membuat lingkaran-lingkaran kecil di puncak merah jambu itu.
“Apa yang kau lakukan?” Ucap Cass yang nyaris tidak bisa mempertahankan kesadarannya dengan apa yang dilakukan oleh Nic.
Nic membalik tubuh Cass dan mengecup bibir Cass lembut sebelum membenamkan kepalanya di leher Cass. “Ada banyak kecocokan diantara kita dan aku yakin itu cukup untuk memulai hubungan. Aku ingin kau menikah denganku.” Bisik Nic sambil menurunkan jari-jarinya dan membelai paha Cass dengan lembut.
“Apa?”
“Menikahlah denganku, Cass.” Bisik Nic lagi dan memulai aksinya di bagian tubuh Cass yang mulai basah dan nyeri. “Apa jawabanmu? Maukah kau menikah denganku?” Tanya Nic lagi sambil membuat gerakan-gerakan yang membuat Cass mengelinjang nikmat dan meneriakkan nama Nic.
“Jawab aku, Cassidy Carrington..” Desis Nic sambil menggigit kulit lembab di leher Cass.
“Ya. Ya. Ya. Aku bersedia. Aku akan menikah denganmu. Dan Jangan berhenti, brengsek.” Geram Cass sambil menarik kepala Nic agar bibir mereka bertemu.
Nic melumat bibir Cass seakan dia sedang berada di padang pasir dan hanya bibir Cass satu-satunya sumber air disana. Nic tahu kapan dia harus bermain. Dan saat Nic memutuskan untuk bermain, ia bermain untuk menang. Cass sama sekali tidak punya kesempatan untuk menolaknya.
***
Cass termenung di kamar mandi seorang diri. Setelah malam penuh gairah yang dihabiskannya bersama Nic dan mereka nyaris tidak keluar kamar sampai keesokan harinya, Cass akhirnya berhasil membujuk Nic agar pria itu pergi ke kantor untuk melihat sebanyak apa berkas yang sudah ditelantarkannya selama dia menghilang.
Cass sama sekali tidak percaya kalau dia menyetujui lamaran Nic padanya begitu saja. Itu bukan lamaran romantis yang selama ini dimimpikan Cass. Itu lamaran paling cepat dengan jawaban paling cepat yang pernah Cass berikan.
Tidak.
Ini tidak boleh terjadi. Nic pasti menyesali lamarannya saat ini. Dia tidak akan bersungguh-sungguh. Dia punya banyak wanita yang bisa dinikahinya, dan itu bukan aku. Aku hanya akan menikah dengan pria yang kucintai.
Jadi pertanyaannya, apa aku mencintai Nic?
Cass menggeleng pelan mendengar bisikan hatinya. Tidak. Aku tidak akan sanggup mencintai pria seperti Nic. Dia terlalu sempurna. Dan aku pasti akan terluka kalau aku mencintainya.
Cass keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya sebelum menelepon seseorang. “Bisakah kau menjemputku sekarang?” Tanya Cass pelan.
“Dimana, Manis?” Tanya sebuah suara di seberang sangat lembut dan sangat pengertian.
“Di rumah saudaramu. Dia membawaku kesini kemarin.”
“Apa dia ada di rumah?” Tanya Vion cepat.
“Tidak. Dia ke kantor untuk membereskan masalah yang ditinggalkannya selama dia menghilang.”
Vion menghela nafas panjang. “Dia tidak akan senang, my sweetheart. Dia pasti akan mengamuk kalau dia pulang tidak menemukanmu di rumahnya dan dia bisa membunuhku karena membawamu pergi.” Ujar Vion pelan. “Apa kau yakin ingin pulang? Toh di rumahmu juga tidak ada siapa-siapa yang bisa membantumu, bukan? Aku tidak ingin kau terluka lagi dan masuk rumah sakit. Mungkin tinggal bersama Nic memang pilihan bagus.”
“Tidak, Alvion Leandro. Kau tahu apa yang terjadi tadi malam? Dia melamarku! Yang benar saja! Kau tahu apa yang kuinginkan saat aku menikah. Aku hanya akan menikah dengan pria yang kucintai.” Tegas Cass.
Cass dapat mendengar ada suara sesuatu yang pecah di seberang. Tapi Cass tidak yakin benda apa yang pecah.
Piring?
Gelas?
Kaca?
Entahlah.
“Nic melamarmu?” Tanya Vion seakan mendengar kalau Nic akan mengubah jenis kelaminnya.
Cass menyipitkan matanya. “Kenapa kau sekaget itu?”
“Oh Cass sayang. Ini perubahan besar, kau tahu? Nic benar-benar takut kehilanganmu, karena itu dia melamarmu. Padahal ada banyak wanita yang akan lebih dari bersedia melemparkan diri mereka ke atas ranjang Nic kapan saja.” Ujar Vion begitu saja. “Oh, tapi jangan salah sangka. Nic tidak pernah membawa wanita-nya ke rumahnya. Tidak. Nic selalu menyeleksi mereka sebelum mengajak mereka bertemu dengan Ari dan itu artinya tidak ada wanita yang cukup pantas untuk menjadi ibu Ari selama 6 tahun ini. Dan kalau Nic melamarmu, berarti dia merasa kalau kau adalah segalanya yang dia butuhkan. Untuknya, dan juga untuk Arianne.”
“Kau tahu satu-satunya alasan yang bisa membuatku menikah, Vion.” Bisik Cass pelan. “Apa kau bisa menjemputku atau tidak? Karena kalau kau tidak bis...” Cass menghentikan ucapannya saat dia mendengar sedikit keributan di bawah. “Aku akan menelepon lagi nanti, Vion.” Bisik Cass sebelum memutuskan pembicaraan.
Cass bergegas keluar dari kamar mandi dan setengah berlari menuruni tangga saat mendapati Nic sedang menghalangi seorang wanita untuk masuk lebih dalam ke rumahnya. Walaupun hanya melihat sekilas, Cass tahu kalau wanita itu adalah ibu Arianne. Cass terdiam di tempatnya berdiri sekarang. Dia hanya mengamati kedua orang itu ribut dengan suara yang cukup untuk didengar sampai ke lantai 2.
Nic benar-benar tidak menyangka kalau Shanelle berani menerobos masuk ke rumahnya seperti saat ini hanya untuk membuatnya kesal. Dia sudah mengatakan apa yang harus dikatakannya pada Shanelle tapi wanita itu memilih untuk mengabaikan apa yang Nic katakan.
“Aku bilang aku ingin bertemu Arianne, Nic!” Ujar Shanelle setengah berteriak.
Nic tetap berdiri di hadapannya tanpa bergerak sedikitpun untuk memberi Shanelle jalan. “Dan aku bilang Arianne tidak ada disini. Ayolah, Shanelle. Kenapa kau memilih untuk mempersulit dirimu sendiri? Kau bisa kembali ke duniamu selama 6 tahun ini dan hidup tenang. Jangan ganggu aku ataupun Ari.”
“Aku ibunya, Nicolas Leandro! Aku berhak untuk menemuinya. Dan aku memutuskan untuk mengambil alih hak asuh Arianne darimu.” Tegas Shanelle tidak mau kalah.
“Ibu yang hanya mau melahirkannya dengan perjanjian! Sejak kapan kau berpikir kau ibunya kalau untuk melahirkannya saja kau membuatku berjanji agar menceraikanmu dan membiarkanmu kembali ke pekerjaanmu? Dimana kewajibanmu sebagai ibu saat Arianne membutuhkan ASI pertamanya? Kau bahkan menolak untuk menggendong dan menyusuinya. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk menemui Ari apalagi mengambil hak asuhnya. Tidak, Shanelle Franklin. Selama aku masih berdiri di atas bumi ini, aku tidak akan membiarkan Ari memiliki ibu sepertimu.” Geram Nic kesal.
Shanelle terkesiap.
Dia sadar apa arti ucapan Nic barusan. Tanpa sadar Shanelle memperhatikan rumah itu dan mulai bersikap defensif dan mengganti strategi. “Kau sama sekali tidak mengubah rumah ini, Sayang. Bahkan sejak aku meninggalkannya. Apa kau yakin kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi?” Tanya Shanelle sambil berjalan menuju tangga yang memang cuma beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Dan saat itulah mata Shanelle bertatapan dengan mata Cass. “Ah, pantas saja kau tidak ingin aku masuk ke rumah. Rupanya karena salah satu kekasihmu sedang datang menginap. Tenang saja, Nic. Aku tidak akan marah. Aku mengerti kalau kau juga butuh pelampiasan gairahmu selama aku tidak ada. Tapi saat kita bersama lagi nanti, kau jelas tidak membutuhkan mereka lagi. Kita akan kembali seperti dulu. Hubungan kita selalu memuaskan, bukan? Karena itulah Arianne ada.”
Nic mengalihkan tatapannya ke arah pandangan Shanelle untuk menatap Cass datar dan kemudian kembali ke Shanelle. “Sialan kau, Shanelle! Jaga ucapanmu, perempuan!” Nic melangkah lebar menuju tangga dan berdiri di sisi Cass. “Jangan pernah memanggilnya seperti itu lagi, Shanelle. Kau hanya mantan istriku dan kebetulan adalah ibu dari anakku yang kalau saja aku bisa menghapus kenyataan itu pasti sudah akan aku hapus. Dan dia bukan salah satu dari kekasihku, tapi hanya dia kekasihku. Dia juga akan menjadi ibu Arianne. Kami akan segera menikah, jadi buang saja keinginanmu untuk kembali padaku.”
Shanelle menatap Cass dengan seksama dan kemudian dia menyunggingkan senyum yang ingin sekali direnggut Cass dari wajah cantik yang sombong itu. Cass tahu kalau dia tidak akan pernah menyukai ibu kandung Arianne ini tidak peduli seberapa cantik wanita itu.
“Kau pasti hanya bercanda, Nic. Aku masih terima melihatmu dekat dengan Valeria, Marilyn Kenneth ataupun wanita lain yang biasa bersamamu. Tapi dia? Yang benar saja. Kau tidak cocok berpasangan dengannya dan dia jelas tidak cocok menjadi ibu Ari. Putriku begitu cantik, sedangkan dia? Ya Tuhan, Nic. Dimana kau menemukan dia?” Ujar Shanelle ringan seakan Cass tidak pernah ada disana.
Sudah cukup! Aku seharusnya menolak lamaran Nic saat ini, tapi melihat seperti apa ibu Arianne yang sebenarnya membuatku harus melindungi anak itu dari manusia seperti ini. Putus Cass yang dengan tenangnya menuruni anak tangga hingga berhadapan dengan Shanelle meski harus menahan nyeri di kakinya. Setidaknya Cass tidak ingin terlihat lemah dihadapan ibu kandung Arianne yang b******k ini.
Nic tidak percaya saat melihat tindakan Cass itu. Cass dan Shanelle memiliki tinggi yang hampir sama. Bahkan saat Cass hanya mengenakan sandal kamar. Cass tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arah Nic. “Siapa wanita ini, Sayang?” Tanya Cass terdengar begitu lembut di telinga Nic yang membuat pria itu tidak sadar dengan apa yang Cass lakukan dan hanya menjawab spontan. “Shanelle Franklin.” Sahut Nic seperti terhipnotis dengan panggilan sayang yang diucapkan Cass.
“Ah, baiklah, Ms. Franklin. Kau tahu? Pertama kali aku bertemu Ari, aku selalu bertanya-tanya, wanita mana yang sangat beruntung bisa melahirkan malaikat cantik seperti ini. Dan sekarang setelah aku melihat sendiri wanita itu aku tidak yakin kalau Arianne lahir dari rahimmu. Tapi keyakinanku bahwa Arianne adalah seorang malaikat cilik tidak berubah. Arianne adalah malaikat kecil paling cantik yang pernah aku temui dan malaikat ini kebetulan hanya memiliki satu pilihan saat turun ke bumi karena saat itu hanya ada kau satu-satunya pilihan.
Tapi tenang saja, aku sudah menerima lamaran Nic dan memutuskan untuk menjadi istrinya dan ibu untuk Ari. Aku akan memberikan apa yang tidak pernah didapatkannya darimu. Dan itu artinya, kehadiranmu sudah tidak dibutuhkan lagi disini. Dan kedepannya aku minta tolong agar kau tidak masuk ke rumah kami seperti ini lagi, setidaknya kau bisa bertamu baik-baik dan bukannya menerobos masuk seperti pencuri. Ah, maafkan aku. Bagaimana mungkin Nic bisa menikah dulu dengan seorang pencuri. Lidahku hanya terpeleset.”
Bukan hanya Shanelle yang terkejut mendengar ucapan Cass, karena Nic juga sama shocknya dengan Shanelle. Dia tidak menyangka kalau Cass bisa mengucapkan kata-kata itu dengan ketenangan yang mematikan. Belum sempat Nic melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk memeluk Cass, Shanelle sudah melayangkan tangannya untuk menampar Cass meski tangan Shanelle tidak pernah menyentuh wajah Cass.
“Ups. Apa aku baru saja melihat kau akan menamparku, Ms. Franklin? Apa ini cara seorang wanita terkenal dan berpendidikan mengatasi masalah? Dengan kekerasan?” Tanya Cass sambil menahan tangan Shanelle dalam cengkramannya. “Hmmm~ aku sarankan kau jangan berbuat seperti itu kalau kau tidak ingin disakiti lebih dari apa yang kau lakukan. Kau pasti tidak ingin wajah jutaan dollar mu itu rusak, bukan? Karena aku tidak akan rugi apapun.” Tegur Cass tetap tenang sambil menghempaskan tangan Shanelle.
“Dia benar, Shanelle. Hal terakhir yang ingin kulihat di dunia ini adalah ada orang yang melukai Cass apapun bentuknya. Dan kalau orang itu kau, aku berjanji akan membalasnya hingga kau bahkan tidak akan bisa membanggakan wajah sombongmu itu lagi.” Tukas Nic sebelum Shanelle sempat memaki Cass. “Pergilah, Shanelle, sebelum aku benar-benar menutup pintu rumah ini selamanya untukmu.” Tambah Nic yang kini sudah berdiri di sisi Cass dengan tangan merengkuh bahu Cass.
“Kau akan menerima balasannya, Nicolas Leandro! Atas semua penghinaan ini” Kecam Shanelle sebelum berbalik pergi.
“Oh, tunggu Ms. Franklin.” Panggil Cass sambil berlari pelan menghampiri Shanelle dan kemudian menjabat tangan Shanelle, “Senang berkenalan denganmu. Aku akan menerima apapun tantanganmu nanti, tapi aku tidak akan membiarkanmu mengganggu Ari atau mengacaukan pernikahan kami. Kalau kau berani melakukannya, Nic bukanlah orang yang harus kau takuti saat itu. Selamat tinggal.” Ujar Cass dingin yang kemudian membukakan pintu lebih lebar agar Shanelle keluar secepatnya.
Begitu Shanelle pergi dengan mobilnya, Cass langsung jatuh terduduk di lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Adrenalin yang menguatkannya saat menghadapi Shanelle tadi langsung hilang tanpa jejak. Melihat itu Nic bergegas menghampiri Cass dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
“Apa yang terjadi? Kau kenapa? Apa kakimu semakin sakit?” Tanya Nic terdengar cemas.
Cass menggeleng pelan. “Aku tidak percaya dengan apa yang kukatakan tadi. Oh Tuhan... Apa yang sudah kulakukan... Bagaimana mungkin aku bicara seperti itu?” Bisik Cass sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat itu juga Nic menyentakkan kepalanya ke belakang dan kemudian tertawa keras. Membuat Cass langsung menatap pria yang memeluknya itu. “Kau kenapa? Ada yang salah?” Tanya Cass benar-benar bingung dengan reaksi Nic.
“Kau sayangku.” Bisik Nic sebelum mengecup bibir Cass. “Kau benar-benar wanita yang mengagumkan. Aku sudah tahu itu sejak pertama kali menerimamu di kantorku. Ya Tuhan, Cassidy. Apa kau memang selalu sejujur itu saat berhadapan dengan orang lain? Aku yakin saat ini Shanelle pasti sudah mengutukmu sepanjang jalan.” Sambung Nic yang tanpa peringatan sebelumnya langsung membopong Cass layaknya putri.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Cass tambah bingung.
“Aku akan memberikanmu hadiah untuk semua yang kau katakan pada Shanelle tadi. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu keluar dari kamarku sampai kau tidak bisa menggunakan kedua kaki indahmu itu untuk berjalan.” Bisik Nic penuh janji sensual sambil menaiki tangga menuju kamar Nic.