Part 7

2463 Words
“Vion? Kau mendengarkanku?” Tanya Cass sudah tidak sabar dengan sikap Vion yang tetap berkeras untuk tinggal. “Aku selalu mendengarkanmu, Cass. Kau tahu itu.” “Lalu kenapa kau tetap ingin tinggal?” Tanya Cass cepat. Vion menghembuskan napas panjang. “Kalau aku pergi, siapa yang akan mengurus Vic? Dia tidak punya siapa-siapa disini. Dan sekarang dia jelas butuh seseorang disisinya.” Jelas Vion entah untuk keberapa kalinya. “Dan kau sama sekali tidak mempercayaiku, bukan?” Tanya Cass lagi. “Aku percaya, Cass. Aku akan selalu mempercayaimu bahkan kalau kau membohongiku.” Sahut Vion cepat sambil menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. “Aku hanya tidak ingin ada yang berpikir buruk tentangmu. Kau tidak mungkin menerima Vic di rumahmu sementara aku pergi. Dan kau juga tidak mungkin bolak balik dari rumahmu ke apartemen Vic. Tidak, Cass. Clara akan tahu tentang Vic, dan kau juga akan sulit. Aku tidak ingin menyulitkanmu lagi. Tidak, Cass.” “Aku beri kau waktu untuk berpikir, Vion. Aku tidak akan menerima jawaban tidak. Aku akan dengan senang hati membantu mengurus Vic setelah semua yang kalian lakukan padaku. Dan masalah Clara, dia tidak akan tahu. Seandainya dia tahu, Clara bukan lagi gadis polos yang langsung terpuruk begitu ditinggal kekasihnya.” Tegas Cass yang kemudian meletakkan tasnya di atas tempat tidur sebelum masuk ke kamar mandi. Vion baru saja akan memikirkan kata-kata Cass saat bel apartemennya berbunyi. Dengan langkah berat Vion berjalan keluar dari kamarnya menuju pintu depan. Vion sama sekali tidak menduga siapa tamunya kali ini, dan begitu dia membuka pintu, jelas kehadiran si tamu sangat membuat Vion terkejut. “Apa kau akan pergi?” Tanya Nic datar yang tanpa dipersilakan masuk langsung menerobos begitu saja. Vion menutup pintu begitu Nic masuk. “Tadi tidak, tapi mungkin sekarang iya.” Jawab Vion bingung. Bingung dengan jawabannya sendiri dan bingung kenapa Nic bisa mengunjunginya seperti ini. Nic berjalan menuju ruang duduk sebelum menghempaskan tubuh jangkungnya di sofa. “Kau sudah bisa hidup dengan teratur sekarang. Jadi, katakan padaku, kenapa kau tidak juga mau mengurus hotel kita di Mexico?” “Jangan ungkit masalah itu lagi, Nic. Kau sudah mendapatkan orang yang tepat untuk mengurusnya, jadi kenapa kau masih mempertanyakan hal itu lagi? Aku masih dengan jawabanku dulu.” Jawab Vion pelan. “Dengar, Al. Kalau kau memang punya wanita yang benar-benar tidak bisa kau tinggalkan, kau bisa menikah dengannya dan membawanya ke Mexico. Aku akan langsung menyetujui siapapun yang kau pilih asal bukan wanita pemeras. Aku yang ak...” “Apa kau sudah memikirkan ucapanku, Vion?” Tanya sebuah suara yang langsung membekukan suasana di apartemen Vion. Nic sangat mengenal suara itu, dan Vion sendiri tidak pernah berharap kalau Cass akan keluar secepat ini. Cass keluar dari kamar Vion dengan santainya dan dia baru berhenti saat matanya menangkap sosok Nic. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Nic dan Cass nyaris bersamaan. Nic langsung bangkit dari tempat duduknya. Ada emosi di wajahnya, tapi tidak seorangpun bisa menebak apa yang akan dilakukan pria itu. “Apa yang kau lakukan disini, Cass?” Tanya Nic dingin, “Dan sebenarnya apa hubungan kalian?!” Bentak Nic kemudian. “Lebih baik kau duduk dulu, Nic. Ini tidak seperti yang kau lihat.” Ucap Vion cepat berusaha meredakan ketegangan yang ada. “Tidak seperti yang kulihat? Apa maksudmu? Cass keluar dari kamar tidurmu. Kamar tidurmu! Apa penjelasan untuk itu?” Tanya Nic dingin tapi tetap menuruti permintaan Vion untuk duduk. “Aku kesini karena ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Vion. Dan kau tidak berhak berpikir apapun tentang itu. Kau tidak berhak menuduh apapun pada kami.” Sahut Cass cepat. “Aku sudah mengatakan dari awal, Cass. Kalau kita berhubungan, apapun itu, aku menuntut kesetiaan.” Ujar Nic mengingatkan. “Dan dari awal aku juga sudah menolak untuk menjalin hubungan apapun denganmu selain hubungan kerja.” Jawab Cass cepat. “Dan inilah alasannya bukan? Kau tidak bisa hidup dengan satu pria di ranjangmu!” “Demi Tuhan jaga ucapanmu, Nic!” Bentak Vion yang untuk pertama kalinya berhasil membentak Nic. Nic mengalihkan perhatiannya pada Vion. “Kenapa kau yang marah, Al?” Tanya Nic benar-benar dingin. “Dia benar, Vion. Kau tidak perlu marah pada orang yang selalu membuat keputusan bahkan sebelum mendengar apa yang terjadi. Aku harap kau mengerti apa yang kita bicarakan tadi, Vion. Aku pulang dulu.” Pamit Cass tetap dengan ketenangan menakjubkan setelah semua tuduhan kasar dari Nic. Vion langsung mengantarkan Cass ke pintu dan kemudian kembali ke ruang duduk. Bersiap melontarkan semua kemarahannya pada Nic. “Aku pulang dulu.” Ucap Nic begitu saja. “Tidak, Nic. Kau tidak boleh pergi kemanapun sebelum mendengarkan penjelasanku.” Tegas Vion. “Apa yang ingin kau jelaskan? Bahwa kalian seharusnya masih berada di ranjang kalau aku tidak datang?” Tanya Nic sinis. “Demi Tuhan. Jangan sampai Cass mendengarmu mengatakan ini. Aku dan Cass tidak melakukan apapun yang kau pikirkan. Aku sudah mengatakannya dulu, aku dan Cass tidak ada hubungan apapun. Kami hanya teman. Aku hanya ingin menyarankan padamu, kalau kau peduli pada Cass, kejar dia sekarang. Aku bisa memastikan kalau kami tidak ada hubungan apapun sekarang.” “Dengar, Al. Aku ingin percaya padamu, tapi sulit mengingat apa yang sudah kulihat tadi.” “Begitukah caramu menilai orang? Tidak pernahkah kau berpikir untuk menggunakan perasaanmu menghadapi orang lain?” Tanya Vion. “Aku sudah pernah melakukannya dan kau tahu apa akhirnya. Aku tidak ingin mengalami hal yang sama lagi. Tidak, Al.” “Aku juga tidak ingin kau merasakan hal yang sama, karena itu aku minta kau mengejar Cass sebelum semua terlambat. Cass tidak berhak mendapatkan semua kecurigaan ini.” Nic terdiam. Alvion mungkin adik yang sulit diatur, tapi Vion jelas bukan pembohong. Dengan berat hati akhirnya Nic mempercayai ucapan adiknya dan kemudian pamit pulang. Walaupun begitu Nic sama sekali tidak mengejar Cass. Dia butuh sendirian di sisa hari ini. *** Cass melirik jam di sebelah tempat tidurnya, masih satu jam sebelum berangkat ke kantor. Tapi siapa yang sudah bertamu ke rumahnya sepagi ini? Dengan langkah berat Cass bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil jubah tidur kuning gading di atas kursi sebelum mengenakannya. Cass keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu, dia benar-benar berharap kalau bel rumahnya rusak karena dengan begitu si tamu akan berhenti menekan bel terus menerus sejak 10 menit yang lalu. Betapa kagetnya Cass saat mendapati Clara dan Aldrich berdiri di depan pintu dengan anak mereka. “Apa yang kalian lakukan sepagi ini disini?”tanya Cass sambil berusaha menahan kantuknya. Clara tersenyum. “Aldrich akan segera berangkat keluar negeri bersama Nic, karena itu aku akan menginap beberapa hari disini. Aku harap kau tidak keberatan.”ujar Clara langsung tanpa bertanya terlebih dahulu apakah Cass bersedia menerimanya atau tidak. “Aku ingin sekali menjawab tidak kalau saja kau bertanya. Tapi kau sama sekali tidak bertanya. Karena itu aku hanya bisa mengatakan ya, dan masuklah. Keponakanku akan kedinginan kalau kalian masih tetap di luar.” Jawab Cass cepat lalu segera menyingkir agar Clara dan Aldrich bisa masuk. Clara langsung menuju ke kamar kosong di rumah Cass sementara Aldrich duduk di ruang santai Cass. “Maaf kalau kami menyusahkanmu, tapi hanya kau yang bisa kupercaya disini.” Ujar Aldrich saat Cass membawakannya secangkir kopi. “Kenapa kalian keluar dari rumah sakit secepat itu?” Tanya Cass begitu dia sudah duduk di seberang Aldrich. “Clara tidak ingin lama-lama disana. Dia nyaris menembakku kalau aku tidak bersedia mengeluarkannya dari rumah sakit pagi ini. Lagipula, Nic tiba-tiba memintaku menemani perjalanannya yang sangat mendadak ini, padahal setahuku dia baru saja sampai kemarin.” “Kau benar. Dan aku bahkan sama sekali tidak tahu kalau dia ada perjalanan hari ini. Jadwalnya sampai akhir bulan ini tidak ada yang mengharuskannya untuk bepergian.” Sambung Cass jujur. “Entahlah, Cass. Mungkin Nic sedang ada masalah sendiri. Dia selalu seperti ini kalau sedang ada masalah.” Cass tiba-tiba memajukan tubuhnya, “Dari dulu aku penasaran, sejak kapan kau mengenal Nic? Kenapa aku tidak tahu?” Aldrich tersenyum, “Kami sudah saling mengenal sejak kuliah, dia mengambil management bisnis, dan aku mengambil hukum. Kam...” “Kau tidak tahu karena kau tidak mau tahu, Kak.” Sela Clara saat dia berjalan mendekati Aldrich dan duduk di sebelah suaminya itu. “Kami sering memberimu undangan perjamuan agar kau keluar dari dunia surammu itu dan mengenal banyak orang, tapi kau tidak pernah datang. Kalau kau dari dulu bersedia meluangkan waktumu yang berharga itu untuk menghadiri salah satunya, aku yakin kalau kau sudah mengenal Nic sejak dulu.” “Baiklah, anggap saja ini salahku, oke? Jadi sebenarnya kemana kalian akan pergi, Aldrich?” Tanya Cass. Aldrich menatap istrinya sebelum menjawab Cass. “Entahlah. Dia meneleponku tadi malam, minta maaf karena tidak bisa menjenguk Clara dan kemudian dia memintaku untuk ikut dengannya hari ini. Dia sama sekali tidak mengatakan apapun atau kemana kami akan pergi. Kemungkinan besar kami akan ke Yunani.” “Baiklah. Aku akan mengatur kembali jadwal Nic sementara kalian pergi.” Ujar Cass datar. Aldrich meletakkan cangkir kopinya, “Katakan padaku, kalian berdua ada hubungan selain rekan kerja, bukan?” Tanya Aldrich pelan. “Apa maksudmu?” “Nic memintaku untuk tidak mengatakan kepergiannya padamu padahal kau sekretarisnya. Aku tahu pasti ada sesuatu diantara kalian.” Ujar Aldrich. “Jangan menanyaiku seperti itu, Aldrich. Aku bukan tersangka yang harus mengakui segala kejahatan yang sudah aku lakukan. Lebih baik kau katakan pada sahabatmu itu kalau dia tidak seharunya cemburu pada Vion. Dia bodoh kalau melakukan hal itu.” “Vion? Apa yang kita bicarakan ini adalah Vion Leandro?” Tanya Aldrich cepat “Alvion Leonidas Leandro.” Ujar Cass membetulkan nama Vion. “Kau kenal dengannya?” “Apa aku belum mengatakannya padamu, Sayang? Vion sudah pernah berkunjung kesini. Dan dia terlihat sangat dekat dengan Cass.” Tukas Clara cepat. “Bukankah saat pesta itu kau ada disana? Apa kau tidak menyadari kalau aku mengenal Vion?” Tanya Cass balik. Aldrich mengedikkan bahunya, “Aku kira kau berbicara dengan Victor. Dan Vion disana karena dia teman Victor.” Jawab Aldrich jujur. “Vic ada disini?” Tanya Clara cepat. Cass dan Aldrich mengangguk pelan. “Dia sedang sakit saat ini.” Lanjut Cass cepat. “Apa yang terjadi dengannya?” Tanya Clara terlihat tertarik. “Dia baru saja kecelakaan. Dan sama sekali tidak bisa keluar rumah.” Jawab Cass jujur. “Dan Aldrich, aku mengenal Vion jauh sebelum aku mengenalmu. Kami satu universitas, dan tidak adil kalau Nic marah karena itu.” Jelas Cass sedikit berbohong. “Jadi, Vion lah masalah yang membuat Nic melakukan perjalanan dadakan ini?” Tanya Aldrich yang memilih percaya pada istrinya walaupun istrinya terlihat tertarik dengan kabar Vic. “Mungkin, aku baru sebentar bekerja dengan Nic, jadi aku tidak terlalu mengenal bagaimana sifat pria itu.” Jawab Cass datar. “Jadi, apa yang akan kita lakukan sementara Daddy-mu pergi, tampan?” Tanya Cass lembut sambil menggendong Daniel. Setelah Cass pergi membawa Daniel ke kamarnya, Clara mulai bicara. “Apa aku bisa menemui Vic? Aku ingin melihat keadaannya, sangat tidak sopan kalau dia disini dan aku tidak menjenguknya.” “Aku baru saja akan mengatakannya. Pergilah, tapi jangan lupa kalau Daniel membutuhkanmu, jadi jangan pergi lama-lama.” Ujar Aldrich lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Clara tersenyum. “Aku berencana membawa Daniel bersamaku. Kami akan pergi bersama Cass. Aku ingin sekali memamerkan anakku pada Vic.” Sahut Clara cepat. Aldrich hanya tertawa pelan, dan setelah pamit pada Cass, Aldrich langsung mengemudi menuju bandara dan memilih untuk meninggalkan mobilnya disana.  *** Sudah lebih dari 2 hari Clara tinggal di rumah Cass bersama Daniel, dan Aldrich masih menemani Nic di Yunani entah untuk urusan apa. Sementara itu di kantor, Cass nyaris membakar semua berkas yang harus ditandatangani oleh Nic karena pria itu tidak juga memberikan kabar apapun pada Cass atau kapan dia akan kembali. Cass melirik jam tangannya dan menyadari kalau dia sudah terlambat untuk janjinya dengan Vic. Setelah memastikan kalau semua pekerjaan sudah selesai, Cass langsung bergegas keluar dari ruangannya dan menuju lift yang langsung menuju parkiran basement. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Cass sampai di apartement Vic. Dan sialnya, tiba-tiba listrik di bangunan itu padam, mau tidak mau Cass harus naik tangga menuju kamar Vic di lantai tujuh.   Aldrich sedang meneguk kopinya saat ponsel di dalam sakunya bergetar. Nama istrinya tertera di layar ponsel. “Hallo, sayang?” Sapa Aldrich terdengar sangat merindukan istrinya itu. Sejak mereka menikah, Aldrich jarang melakukan perjalanan ke luar negeri atau luar kota yang mengharuskannya melewati malam di luar. “Aku ingin sekali mendengar suaramu lebih lama kalau tidak ada masalah ini.” Gumam Clara cepat dan terdengar sedikit panic. Aldrich langsung meletakkan cangkir kopinya dan berdiri cemas. Clara baru saja melahirkan. Apapun bisa terjadi padanya. “Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Aldrich tidak kalah cepat. “Cass kecelakaan. Dan aku akan menemaninya di rumah sakit, Daniel akan kutitipkan dengan Aunty sementara, Mom baru akan datang besok pagi. Jadi, kalau kau ingin menelepon, jangan menelepon ke rumah Cass karena tidak akan ada orang disana.” Jelas Clara yang menyebutkan bibi dan ibu Aldrich. “Kau baik-baik saja, bukan? Apa yang terjadi pada Cass? Kenapa dia bisa kecelakaan?” Tanya Aldrich masih tetap cemas. “Panjang ceritanya, Sayang. Nanti aku akan menghubungimu lagi, tapi yang pasti sekarang aku harus ke rumah sakit, hanya ada Vic disana, dan Vic juga tidak dalam keadaan yang baik. Sampaikan salamku untuk Nic. Aku mencintaimu.” Ujar Clara sebelum memutuskan pembicaraan dengan suaminya. Aldrich kembali duduk dan memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Cass kecelakaan? Sejak Aldrich mengenal mereka berdua, yang berarti lebih dari 4 tahun yang lalu, Cass adalah satu-satunya orang yang paling tidak mungkin mengalami kecelakaan. Wanita itu sangat tenang dan sangat berhati-hati, tidak seperti Clara yang cenderung hiperaktif dan ceroboh. Jadi kalau ada yang paling mungkin mengalami kecelakaan, Clara-lah orangnya, bukan berarti Aldrich ingin sesuatu terjadi pada istrinya. “Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya sebuah suara yang ternyata adalah milik Nic. “Ah akhirnya kau selesai juga.” Seru Aldrich spontan. “Apa kau masih punya urusan disini yang harus kutemani?” Tanya Aldrich serius karena mereka baru saja menyelesaikan penandatanganan perjanjian pembelian sebidang tanah yang direncanakan akan dibangun resort. “Kenapa? Apa kau sudah tidak tahan ingin bertemu dengan istrimu?” Tanya Nic skeptic meski sebenarnya dia sendiri lah yang ingin bertemu dengan Cass, namun ego menahannya. “Setengah, tapi setengahnya lagi karena aku cemas dengan keadaan Cass. Dia tidak pernah seceroboh ini sebelumnya.” Jawab Aldrich pelan tapi cukup kuat untuk dapat didengar oleh Nic. “Cass? Apa yang kau maksud? Apa yang terjadi pada Cass?” Tanya Nic cepat. Kekhawatiran terhadap keadaan Cass membuatnya melupakan ego nya untuk mengabaikan wanita itu. “Clara baru saja meneleponku dan mengatakan kalau Cass kecelakaan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD