Part 6

3381 Words
Nic sedang berbincang dengan ibunya saat Cass menghampiri mereka di ruang duduk. Cass terlihat segar dan manis dalam pakaian santai yang dibawakan oleh Kal. Entah bagaimana pakaian itu pas ditubuh Cass. "Betty membuatkan kue kering untuk kita." Ujar Cass sambil meletakkan piring penuh berisi kue kering. Sejujurnya dia ingin sekali menyelinap keluar lalu pulang kalau saja dia tidak ingat bagaimana arogannya Nic dan fakta kalau dia tidak membawa mobilnya ke rumah Nic. "Cass? Kau disini? Kapan kau datang?" Tanya Arianne tidak percaya dan langsung mendorong kursi rodanya mendekati Cass untuk memberikan ciuman pada Cass. Cass tersenyum dan berlutut di depan gadis itu sebelum mengecup pipi Arianne penuh kasih, "Aku menginap disini Arianne. Ayahmu berbaik hati meminjakan kamar untukku karena malam sudah terlalu larut bagiku untuk pulang. Bagaimana acara menginap dengan nenek?" Tanya Cass lembut. "Tentu saja asyik. Setelah ini kami akan jalan-jalan. Apa kau mau ikut? Aunty Kal juga akan ikut." Tanya Arianne antusias. "Maaf, Sayang. Cass masih ada urusan denganku. Aku janji kalau urusan kami selesai, kami akan menyusul kalian." Tukas Nic. Kal berdiri dan menghampiri Arianne. "Ayo kita ambil keperluanmu, gadis kecil." Ujar Kal sambil mendorong Arianne. "Aku ikut." Pamit Cass pada Nic dan ibunya sebelum menyusul Kal dan Arianne ke kamar gadis kecil itu. "Jadi, siapa wanita cantik itu, Nicolas?” Tanya Zoe lembut sambil berpindah duduk ke sebelah Nic setelah memastikan kalau hanya tinggal mereka berdua disana. "Dia Cassidy Carrington, sekretarisku, Matera." "Hanya sekretaris, Nic?" Tanya Zoe lagi. "Kenapa dia menginap disini kalau dia cuma seorang sekretaris? Jangan kau kira aku tidak tahu kehidupanmu dengan wanita selama ini, anakku. Kau tidak pernah membawa wanita ke rumah ini setelah kepergian Shanelle." Nic tersenyum memikirkan semua fakta yang diucapkan ibunya itu. "Entahlah." Sahut Nic ringan. "Arianne menyukainya. Itu suatu kabar baik. Anakmu itu sama sulitnya denganmu. Kalian memiliki syarat tertentu untuk seorang wanita di rumah ini." Ujar Zoe lembut. Nic menatap ibunya, "Al juga berteman baik dengannya. Dia orang yang terlalu mudah mendapatkan perhatian orang lain bukan?" Tanya Nic, "Dan dia juga kakak ipar Aldrich." Kali ini Zoe yang menatap Nic tidak percaya. "Dia saudara Clara? Itu berita baik, Nicolas. Kalau melihat Clara, aku yakin dia wanita baik-baik. Dia kakak atau adik Clara?" "Kakak. Cass lebih tua 4 tahun dari Clara." Jelas Nic. "Ayo Mom! Nanti kita terlambat." Panggil Kal yang sudah berjalan kembali ke ruang duduk dengan membawa tas berisi keperluan Arianne. Cass mendorong kursi roda Arianne mengikuti Kal. "Aku rasa aku juga harus pulang." Ujar Cass cepat. Nic mengambil alih Arianne dan berjalan mengikuti ibunya keluar dari rumah. "Aku yang akan mengantarmu, tapi sebelum itu kita harus bicara." Nic dan Cass mengantar kepergian ibu, adik, dan anak Nic hanya dari pintu. Setelah itu Nic mengajak Cass untuk makan siang di luar, di sebuah restoran_yang entah kenapa selalu mendapatkan tempat_tanpa reservasi terlebih dahulu. "Apa yang ingin kau bicarakan, Nic?" Tanya Cass begitu mereka selesai memesan makanan. "Baiklah, aku langsung saja. Aku ingin kau menjadi kekasihku. Apa yang terjadi tadi malam sama sekali tidak bisa dianggap kencan satu malam. Kau jelas menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu. Dan hubunganmu dengan Arianne jauh lebih baik dari yang kuharapkan." Ucap Nic tenang. "Apa yang barusan kau katakan?" "Aku ingin kita menjadi kekasih. Dan itu dalam hal ini aku menuntut kesetiaan." Cass menggeleng cepat, "Aku bukannya tidak bisa memberikan kesetiaan, hanya saja kalau aku menjalin hubungan dengan seorang pria, aku harus mencintai pria itu. Jadi kita tidak akan mungkin bersama. Dari yang kulihat selama aku bekerja denganmu, kau memiliki banyak wanita yang sangat bersedia menemanimu kemana saja.” Tolak Cass cepat, “Dan yang paling penting, sebelum kau mengatakan apapun lagi, aku ingin bertanya. Vion menolak mengakui kalau dia yang membuatmu mewawancaraiku secara langsung, jadi katakan siapa orang yang terlibat di belakang ini semua? Selain Vion, aku hanya bisa memikirkan satu orang yang selama ini tidak pernah kupikirkan.” “Kau benar. Aldrich yang memintaku menerimamu. Tapi, kalau kau memang menjadi sekretaris yang baik beberapa minggu ini, maka kau akan tahu kalau keputusan apapun yang aku buat tidak akan bisa diganggu oleh siapapun. Jadi, walaupun Aldrich yang memintaku untuk menerimamu bekerja, keputusan akhirnya tetap berada di tanganku. Dan aku puas dengan jawaban yang kau berikan makanya aku menerimamu.” Jelas Nic. Cass meneguk air putih yang ada di hadapannya sebelum kembali berbicara. “Baiklah. Ingatkan aku untuk menanyakan pada Aldrich apa ini semua ada hubungannya dengan Clara atau tidak.” Gumam Cass lalu menambahkan dengan cepat, “Sial. Tentu saja ada hubungannya dengan Clara. Dialah yang memaksaku untuk datang hari itu.” “Jadi, apa sekarang kau bisa menerima tawaranku untuk menjadi kekasihku?” Tanya Nic lagi. “Kalau untuk urusan itu tetap tidak, Nic. Aku tidak bisa.” Tolak Cass lagi. “Anggap saja tadi malam hanya salah satu dari kencan semalammu. Aku juga akan menganggapnya begitu. Aku tidak ingin hubungan kerja kita disalah artikan.” Nic memajukan tubuhnya, ”Apapun yang terjadi tadi malam bukanlah kencan satu malamku ataupun kencan satu malam bagimu. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi aku bersyukur dan sangat senang saat mengetahui kau masih perawan. Diusiamu sekarang, aku tidak akan percaya kalau kau berkata tidak menemukan pria yang tepat. Jadi kalau kau masih menjaga hal itu sampai tadi malam, kenapa kau mau menganggap ini semua hanya kencan satu malam? Ini artinya kau menganggap hal itu sangat berarti sampai kau menjaganya hingga sekarang, Cass. Dan aku tidak bodoh untuk tidak merasakan hal itu.” Wajah Cass langsung merah padam mendengar ucapan Nic. Apa yang Nic katakan benar. Dia memang masih perawan saat berhubungan dengan Nic. Dan sejujurnya Cass bukan belum menemukan pria yang tepat, tapi baru Nic-lah pria yang membuat Cass bisa b*******h dan bertingkah liar untuk pertama kalinya. “Terserah kau mau berpikir apa tentangku, yang jelas aku tidak bisa menjadi kekasihmu. Anggap saja tadi malam aku lepas kendali.” Tegas Cass lagi. “Oke, terserah padamu. Kita tidak harus menjadi sepasang kekasih untuk terus berhubungan seperti itu. Seperti yang tadi sempat kubilang, selama kita berhubungan, aku menuntut kesetiaan. Aku juga akan melakukan hal yang sama, jadi aku minta kau bekerja sama.” Cass menggeleng pelan, “Bagaimana mungkin kau masih tetap bersikeras seperti ini?” Tanya Cass tidak percaya. “Itu keputusan akhirnya. Aku menuntut kesetiaan. Satu wanita dan satu laki-laki, untukku juga untukmu. Sekarang, kalau kau bersedia, aku ingin menyusul anakku.” Ujar Nic datar sebelum mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan mereka. Nic mengantarkan Cass kerumahnya. Dia tidak mengatakan apapun saat Cass turun dari mobilnya dan langsung melesat pergi begitu Cass masuk ke dalam rumah. *** Sudah tiga hari Cass tidak melihat Nic. Pria itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, sedangkan Arianne dititipkan dengan neneknya di Yunani. Awalnya Cass ingin sekali mengatakan kalau Arianne bisa tinggal bersamanya. Tapi mengingat siapa saja yang akan datang ke rumahnya membuat Cass mengurungkan niatnya. Cass baru saja akan pergi makan siang saat ponselnya berdering. Dengan malas Cass melihat siapa yang menelponnya dan mendapati nama Aldrich di sana. “Clara akan segera melahirkan, Cass. Kami sudah berada di rumah sakit. Kalau kau bisa datang, kami akan menunggumu.” Ujar Aldrich yang tanpa menunggu jawaban dari Cass langsung memutuskan sambungan. Cass segera membereskan barang-barangnya, dia menitipkan pesan pada resepsionis tentang kepergiannya, dengan cepat Cass mengemudikan mobilnya ke rumah sakit. Cass bahkan tidak peduli kalau ada beberapa pekerjaannya yang belum selesai. Itu akan diurusnya nanti setelah melihat keadaan Clara. Saat ini Clara adalah prioritas utama bagi Cass.   “Aku kira kau tidak bisa melahirkan dengan normal, Clara. Dokter mengatakan kalau kau tidak akan cukup kuat melahirkan bayi besar ini.” Ujar Cass lembut sambil menggendong anak laki-laki Clara. Clara tersenyum manis, dia sudah sempat tertidur begitu selesai melahirkan. Butuh tenaga yang sangat besar untuk melahirkan anak dengan berat hampir 4 kg itu walau usia kandungannya baru menginjak 33 minggu. “Bukankah keluarga kita sekuat banteng?” Tanya Clara cepat yang langsung disambut kekehan pelan suaminya yang sejak beberapa saat lalu sudah bangun dari tidurnya. Terlalu lelah menunggu dan mencemaskan keadaan Clara selama dua hari terakhir membuat Aldrich nyaris tidak tidur sama sekali. Dan begitu buah hati mereka lahir dengan selamat, Aldrich baru mengizinkan dirinya untuk beristirahat sejenak. “Dan istrimu memang yang terkenal paling kuat.” Ucap Cass ikut tersenyum. “Kau adalah ibu baptisnya.” Ujar Clara tiba-tiba. Cass langsung menatap Clara. Ada binary rasa haru dalam matanya. Namun diluar itu, rasa syukur lah yang paling membuatnya terharu. “Terima kasih. Kau selalu memberikanku keluarga, sayang. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan kalau kau tidak ada dalam hidupku.” Gumam Cass tulus, “Aku akan kembali ke kantor. Nanti sepulang kerja aku akan langsung kesini.” Pamit Cass lalu mengembalikan bayi laki-laki itu pada ibunya.   Cass sempat membeli makan siang sebelum sampai di kantor. Dia memutuskan untuk makan siang di ruangannya saja untuk menebus waktu yang digunakannya untuk menemani Clara di rumah sakit. Cass masih membayangkan betapa tampannya anak Clara saat dia melewati ruangan Nic dan masuk ke ruangannya sendiri. Setelah meletakkan tas serta kantong makanan di atas meja, Cass berjalan ke jendela. Pemandangan dari ruangannya cukup indah, tidak kalah dengan ruangan Nic yang memang langsung menghadap ke pusat kota. Suatu saat nanti, dia akan memiliki anaknya sendiri dan berjanji akan melimpahi anak itu dengan kasih sayang yang tidak sempat didapatkannya dulu dari orangtua kandungnya. “Apa kau sama sekali tidak menyadari kalau aku sudah kembali?” Tanya sebuah suara yang langsung membuat Cass membalik tubuhnya. “Nic? Kau sudah pulang?” Tanya Cass tidak percaya saat melihat sosok yang selama beberapa hari ini selalu menghantui siang dan malamnya. Nic tersenyum dan kemudian menghampiri Cass, dengan santainya Nic memeluk Cass dan kemudian mencium wanita itu lapar. “Aku merindukanmu. Seharusnya aku membawamu kemarin.” Ujar Nic lembut setelah menghentikan aktivitasnya sejenak hanya untuk mengambil nafas sebelum kembali mencium Cass. Cass membalas ciuman Nic sama panasnya. Dan ciuman itu berlangsung cukup lama sampai Nic yang menjauhkan diri dari Cass. “Kau tidak bisa membawaku. Siapa yang akan mengatur semua masalah disini kalau aku juga ikut pergi? Lagipula aku tidak yakin kalau kita akan bekerja selama berada disana.” Nic mengangguk setuju lalu kembali mengecup Cass lembut. “Aku ingin sekali meneruskannya tapi kita masih di kantor. Jadi apakah malam ini aku boleh ke rumahmu?” Tanya Nic cepat dengan pandangan berkabut. Cass terlihat berpikir sebentar dan kemudian menggeleng pelan. “Maaf, tapi tidak bisa. Aku harus pergi malam ini.” Jawab Cass serius. “Kemana kau akan pergi?” Tanya Nic penasaran dan tanpa sadar memegang lengan Cass kuat-kuat. “Nic, sakit!” Tegur Cass. “Maafkan aku. Aku hanya ingin tahu kemana kau akan pergi nanti malam.” Ujar Nic datar lalu melonggarkan pegangannya tapi sama sekali tidak melepasnya. “Apa Aldrich tidak memberitahumu?” “Tentang apa?” Tanya Nic bingung. “Clara sudah melahirkan. Dan aku harus ada disana.” Jelas Cass cepat. Nic mengangguk cepat. “Oke, kalau begitu. Aku dan Arianne juga akan datang menjenguk Clara. Bisa-bisanya Aldrich tidak memberitahukan masalah ini padaku. Tapi setelah itu apakah kau bisa pulang ke rumahku?” Tanya Nic. “Mungkin tidak.” Jawab Cass cepat, “Ayolah, Nic. Ada apa denganmu?” Tanya Cass bingung dengan sikap Nic yang menuntut. “Aku mengerti. Setidaknya sebelum kau ke rumah sakit, bisakah kita makan malam?” Tanya Nic tidak mau menyerah untuk mendapatkan kesempatan menghabiskan waktu berdua dengan Cass setelah tidak pernah melihat dan menyentuh wanita itu selama kepergiannya. Cass tersenyum melihat usaha Nic yang begitu keras ingin bersamanya. “Baiklah. Jam 7, oke?” Nic membalasnya dengan mencium bibir Cass begitu bernafsu. “Aku sangat merindukanmu.” Ulang Nic sebelum kembali ke ruangannya. Tidak lama setelah Nic keluar, ponsel Cass berdering. Dengan satu gerakan cepat wanita itu langsung menekan tombol ok. “Cassidy Carrington.” “Cass, ini aku Vic.” “Vic? Ada apa? Kenapa suaramu begitu lelah? Bukankah kau bilang kalau kau dan Vion ada perjalanan ke luar negeri hari ini?” Tanya Cass bingung. “Ya, seharusnya. Tapi aku tidak bisa. Tadi malam aku kecelakaan dan sekarang aku tidak bisa keluar rumah. Sebenarnya Al bisa saja pergi sendiri, tapi dia berkeras kalau dia akan menemaniku. Sekarang dia sedang kembali ke apartemennya untuk mengambil baju. Bisakah kau datang ke tempatnya dan bilang padanya kalau aku akan baik-baik saja walaupun dia pergi? Pertemuan itu sangat penting untuknya, Cass. Dan Al sama sekali tidak mau mendengarkan aku. Aku harap dia mau mendengarkanmu karena dia mempercayaimu.” Jelas Vic panjang. Cass terlihat berpikir sejenak. Dan tepat saat itulah matanya menangkap sesosok wanita mempesona memasuki ruangan Nic. Cass sama sekali tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya sejak dia bekerja pada Nic. Tapi sekali lihat, Cass tahu kalau wanita itu adalah istri Nic. Dia pernah mendengar nama mantan istri Nic dari karyawan yang lain dan iseng melalukan pencarian di Google tentang mantan istri taipan Yunani tersebut. Shanelle. Model internasional yang benar-benar cantik layaknya dewi. “Aku tidak tahu apakah bisa meyakinkan Vion untuk pergi atau tidak, tapi aku akan berusaha bicara dengannya. Dan aku punya kabar untukumu.” “Apa?” Tanya Vic penasaran. “Clara sudah melahirkan, dan anaknya seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Aku harap kalau kau sudah bisa keluar rumah, kau bisa melihat Clara.” Tiba-tiba Vic tertawa. Dan Cass sudah cukup lama tidak mendengar tawa laki-laki itu. “Hubungan yang aneh, bukan Cass? Kau dan Al, lalu Clara dan aku. Sekarang aku dan Al serta Clara dan Aldrich. Hubungan ini…” Ujar Vic. Cass sama sekali tidak menyimak apa yang Vic katakan setelahnya. Dari ruangannya, Cass dapat melihat apa yang terjadi di dalam ruangan Nic. Dan Cass melihat kalau Nic dan istrinya sedang terlibat pembicaraan serius. Saat itu lah Nic sadar kalau Cass mungkin saja bisa melihat semuanya. Saat Cass memutuskan untuk tidak memperdulikan apapun yang terjadi di ruangan Nic, pintu ruangan Cass terbuka dan Nic melangkah masuk sementara istrinya menunggu di depan pintu. “Cass, aku harus pergi. Mungkin aku tidak akan kembali. Dan maaf, makan malamnya kita tunda dulu. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan.” Ujar Nic cepat. Cass berusaha tersenyum. “Yes, Sir. Kalau begitu nanti saya akan meletakkan semua berkas untuk besok di atas meja anda.” “Cass?” Panggil Nic bingung karena Cass kembali menggunakan bahasa yang sopan. “Ada lagi yang anda perlukan?” Tanya Cass sambil menyembunyikan ponselnya di punggung, berusaha agar Nic tidak melihatnya, tapi Cass gagal. Nic tahu kalau Cass sedang berbicara dengan seseorang di telepon saat dia datang, dan pembicaraan itu sama sekali tidak berhenti walaupun Nic sudah masuk ke dalam ruangan dan Cass sama sekali tidak menyadarinya. “Tidak ada.” Jawab Nic cepat lalu segera keluar dari ruangan Cass. Dia tahu ada yang salah dari sikap Cass padanya. Tapi saat ini ada urusan lain yang harus diselesaikannya lebih dulu. “Hallo, Vic? Maaf, tadi atasanku masuk. Jadi bisakah kau ulangi apa yang kau bilang tadi?” “Dasar. Tidak masalah, bukan hal penting. Yang jelas, terima kasih karena kau mau meluangkan waktumu untuk membantuku. Sampai nanti.” Ujar Vic lalu memutuskan pembicaraan. Cass memandang mejanya. Semua berkas yang harus Nic tandatangani sebenarnya sudah siap dari tadi. Dan sekarang Cass hanya perlu meletakkan semua berkas itu di meja Nic dan kemudian Cass bisa langsung pulang. Setelah memastikan kalau semua berkas sudah ada di atas meja Nic, Cass menelepon Vion sambil berjalan menuju lift khusus untuk pimpinan yang memang boleh dipakai oleh Nic dan Cass kapan saja, mengingat hanya lift ini yang tidak pernah dihentikan walau kapanpun. “Aku akan ke apartemenmu sekarang. Tunggu aku disana dan jangan kemana-mana. Aku tidak ingin menunggu atau mendapatimu tidak ada disana.” Ujar Cass tanpa menunggu respon dari Vion dan kemudian langsung keluar dari lift menuju basement tempat Cass memarkirkan mobilnya.   Nic melirik wanita yang kini duduk di sebelahnya di dalam mobil. Shanelle Franklin. Mantan istrinya yang entah kenapa kini muncul di hadapan Nic dan berkata kalau dia punya urusan penting dengan Nic. “Sekarang katakan dengan jelas kenapa kau kembali dan datang ke kantorku?” Tanya Nic saat mereka berkendara menuju sebuah restoran. “Begitukah sikapmu pada istrimu yang baru kembali?” “Apa kau sudah lupa? Kau sudah bukan istriku lagi sejak kau menyetujui perceraian itu dan memilih untuk berkeliling dunia demi karir yang kau impikan itu.” Balas Nic dingin. “Oke. Katakan saja kalau aku merindukanmu dan Ari. Apa itu sudah boleh menjadi alasanku menemuimu?” Tanya Shanelle. Nic menggeleng tidak percaya. “Aku tidak percaya, Shanelle.” “Aku sudah lama tidak mendengarmu mengucapkan namaku seperti itu.” Balas Shanelle santai. “Aku tidak peduli. Katakan apa tujuanmu menemuiku hari ini? Aku tidak percaya kalau kau merindukan kami. Menelepon saja kau tidak pernah.” Shanelle menghela napas panjang. Dan kemudian, apapun yang dikatakan wanita itu sanggup membuat Nic mengerem mendadak di tengah jalanan yang padat. “Apa kau bilang? Kau sudah gila?” Tanya Nic tidak percaya. “Aku mungkin akan percaya kalau saja kau katakan sekali lagi kalau kau merindukan Arianne. Tapi… Ini tidak mungkin!” Ujar Nic benar-benar terkejut. “Aku benar-benar ingin kembali padamu. Aku sadar ternyata aku tidak bisa hidup tanpa kalian, dan aku sangat tersiksa hidup jauh dari kalian seperti ini. Aku tidak mau lagi menjalani hariku tanpa kalian. Aku tidak akan mempermasalahkan hubunganmu dengan wanita-wanita lain selama ini. Aku tahu kau membutuhkan mereka. Tapi kita akan kembali bersama dan nanti kau tidak akan membutuhkan mereka lagi.” Ujar Shanelle penuh emosi. Nic menepikan mobilnya dan mematikan mesin. “Dengar, Shanelle. Kita sudah berpisah bahkan sejak Arianne belum bisa mengucapkan satu katapun. Selama itu apa yang kau lakukan? Kau punya kesempatan bertahun-tahun. Tapi apa? Kau bahkan tidak ada menelepon ataupun menanyakan kabar anak itu. Dan sekarang tiba-tiba saja kau mengatakan kalau kau tidak bisa hidup tanpa kami. Yang benar saja, Shanelle! Selama 6 tahun ini kau bisa menjalani hidupmu. Lalu kenapa sekarang tidak bisa?” Tanya Nic datar. “Aku dan Arianne sudah terbiasa hidup tanpamu. 6 tahun bisa kami lalui tanpamu, jadi kami pasti bisa melanjutkannya tanpa kehadiranmu.” “Tidak bisakah kau memaafkan aku? Aku benar-benar ingin mencoba kembali hidup bersama suami dan anakku.” “Kenapa baru sekarang kau menginginkan itu? Kenapa pikiran itu tidak ada 6 tahun yang lalu? 6 tahun bukan waktu yang singkat, Shanelle. Kami, khususnya aku, sudah bisa menganggap kalau kau tidak ada.” “Kalau begitu aku akan mengambil hak asuh atas Ari. Aku ingin tinggal bersamanya.” “Jangan macam-macam, Shanelle Franklin! Kau tahu kalau kau tidak akan memenangkan tuntutan itu. Kemana kau selama 6 tahun ini? Bagaimana mungkin saat muncul tiba-tiba saja kau menuntut hak asuh atas Arianne? Arianne bahkan tidak tahu kalau kau masih ada.” Tegas Nic nyaris murka dengan kesabarannya yang semakin menipis. “Pergilah. Kembalilah ke duniamu selama 6 tahun ini. Kalau kau ingin menjenguk Arianne, aku akan mengatur waktunya untukmu. Tapi kau tidak akan bisa mengambil hak asuh atas anakku ataupun kembali ke rumah. Kau sudah membuang kesempatan itu 6 tahun yang lalu.” “Benarkah? Benarkah kau sudah tidak mencintaiku lagi sampai kau tega berbuat seperti ini? Bagaimana kalau aku berkeras menuntut hak asuh atas Ari?” “Lakukan saja, dan aku bersumpah akan melawanmu dengan seluruh kekuasaan Leandro yang ada di dunia. Aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan Arianne.” Shanelle tersenyum mengejek lalu segera turun dari mobil Nic. “Pikirkan dulu tentang permintaanku untuk kembali bersama kalian. Arianne bisa mendapatkan ibunya kembali, kau bisa mendapatkan istri yang bisa kau pamerkan ke depan public, dan kita bisa mendapatkan seks yang luar biasa seperti sebelumnya. Aku akan menemuimu lagi nanti.“ Pamit Shanelle dan kemudian menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Nic mengamati kepergian mantan istrinya. Dia tidak percaya kalau wanita itu sanggup kembali setelah semua ancaman yang Nic lontarkan saat Shanelle memaksa untuk pergi 6 tahun yang lalu. Dulu Nic mengira kalau dirinya sangat mencintai Shanelle sehingga dia menerima wanita itu walau adik-adiknya menentang pernikahannya. Tapi ternyata perasaan apapun yang dulu Nic rasakan terhadap Shanelle sudah hilang seiring waktu. Nic sama sekali tidak memperdulikan Shanelle apapun yang wanita itu lakukan asal jangan mengganggu Arianne. Nic bersumpah akan melakukan apapun untuk mempertahankan Arianne. Dan sekarang karena sudah terlanjur membatalkan janji makan malam dengan Cass, Nic benar-benar tidak tahu harus kemana. Dia ingin pulang, tapi Ariannne tidak ada di rumah, dia masih di Yunani bersama Zoe untuk liburan. Walaupun enggan akhirnya Nic memutuskan untuk mengunjungi Vion di apartemennya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD