Nic tidak berharap mendapati Cass dalam balutan gaun hitam yang sialnya terlihat sangat seksi di tubuh Cass saat ini. Ini bukan pertama kalinya Nic jalan dengan seorang wanita yang berpakaian minim. Bahkan Shanelle, mantan istrinya pernah berpakaian lebih minim lagi. Hanya saja bagi Nic, tanpa pakaian seksi sekalipun, Cass bisa membuat laki-laki manapun bertekuk lutut dan membuat macet lalu lintas kalau wanita itu dibiarkan berjalan kaki di trotoar dengan gaun yang dikenakannya saat ini. Ingin rasanya Nic membatalkan kepergian mereka ke pesta itu setelah melihat apa yang Cass kenakan, tapi mengingat yang mengundang secara langsung adalah presiden direktur perusahaan yang sudah lama menjadi klien mereka, Nic minimal harus memperlihatkan kalau dia juga punya kesopanan.
Tidak.
Cass tidak mengenakan pakaian yang sangat-sangat terbuka seperti Shanelle dulu. Tidak. Gaun hitam Cass saat ini meskipun memamerkan bahu telanjangnya, namun tidak cukup terbuka hingga payudaranya terlihat seperti wanita-wanita lain. Bahkan gaun ini cukup sopan dengan lapisan tule transparan yang menutupi sepasang kaki jenjang itu mulai dari pertengahan paha hingga ke mata kaki. Seharusnya Nic tidak masalah dengan pilihan gaun Cass malam ini.
Tapi kenyataannya, Nic tidak suka dengan apa yang dia rasakan.
Mereka tiba di sebuah hotel berbintang saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Begitu memasuki ballroom di lantai 13, mereka langsung bertemu dengan beberapa orang terkenal yang turut menghadiri pesta tertutup itu.
"Hai, Cass. Aku tidak yakin itu kau karena kau jarang sekali menghadiri acara seperti ini." Sapa Aldrich yang langsung mencium pipi Cass.
Nic ingin sekali menarik Cass menjauh dari Aldrich kalau saja dia lupa bahwa Aldrich adalah pengacara pribadinya, dan Aldrich juga sudah punya seorang istri yang dikenal Nic sebagai adik Cass.
Cass tersenyum, "Hai, Al. Mana Clara? Kau biasanya tidak akan menghadiri cara apapun tanpanya." Tanya Cass ramah.
"Dia tidak ingin datang. Aku hanya sendiri disini. Mungkin sebentar lagi aku akan pulang." Jawab Aldrich cepat, "Dan kau, Nic. Malam ini kau benar-benar curang. Kau bilang akan datang sendiri. Tapi kau malah membawa kakak iparku kesini." Ujar Aldrich pura-pura kesal dan sama sekali lupa kalau Cass tidak tahu hubungannya dengan Nic.
Nic memeluk pinggang Cass posesif, "Siapa yang tidak ingin membawa sekretaris sempurnanya ke pesta seperti ini?" Tanya Nic ringan.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Cass pelan namun dengan tatapan tajam pada kedua laki-laki di sisinya.
Nic tersenyum sambil menunduk memandang Cass tanpa waspada sedikitpun dengan suasana hati Cass yang saat ini berangsur berubah, "Dia pengacaraku. Awalnya aku cukup terkejut saat dia bilang kalau kau adalah saudara dari istrinya." Jelas Nic lembut.
Belum sempat Cass mencerna apa maksud dari penjelasan Nic itu, sebuah tangan menariknya menjauh dari Nic. "Aku membawa seseorang." Ujar Vion yang entah kapan datangnya tiba-tiba saja muncul diantara mereka, "Aku pinjam Cass sebentar, Nic." Lanjut Vion tanpa menunggu jawaban dari Nic.
Tidak jauh dari Nic, Cass langsung berlari ke pelukan seorang laki-laki tampan berambut coklat. Dan entah kenapa, jauh di dalam diri Nic, dia benar-benar benci menyaksikan hal itu. Tidak hanya sampai di situ, laki-laki itu juga mencium pipi Cass kiri dan kanan. Seakan dia adalah pasangan Cass malam ini, laki-laki itu dengan ringannya memeluk bahu Cass yang terbuka. Nic ingin sekali berlari kesana dan menarik Cass agar terlepas dari tangan laki-laki asing itu. Tapi pikiran rasional Nic masih memegang kendali dan menahannya untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
Saat melihat Cass berjalan menjauh dari laki-laki asing itu, Nic langsung meninggalkan tuan rumah yang baru saja disapanya untuk menghampiri Cass.
"Siapa pria tadi?" Tanya Nic tiba-tiba hingga nyaris membuat pegangan Cass pada gelas sampagne nya terlepas.
"Apa anda memang punya kebiasaan mengagetkan orang lain?" Tanya Cass kesal lalu berjalan menjauh dari Nic.
Nic mengikuti Cass menuju sudut ballroom yang cukup sepi. "Siapa pria tadi, Cass?" Ulang Nic yang kali ini tidak mengagetkan Cass.
"Itu Victor McGrant, anak angkat James. Kami bertemu kembali saat aku masih bekerja sebagai sekretaris James McGrant." Jelas Cass yang entah kenapa merasa bingung kenapa dia harus menjelaskan masalah ini pada Nic sementara Nic belum tentu mengenal James.
"Begitu. Aku lihat kalian begitu dekat."
"Tentu saja. Aku dan Vic sudah lama berkenalan, bahkan sebelum aku bertemu dengan Vion. Dan sejak aku berhenti jadi sekretaris James, aku tidak pernah melihat Vic lagi. Sebuah keajaiban Vic mau datang ke pesta seperti ini. Dalam hal ini, kami mempunyai kebiasaan yang sama. Kami sama-sama tidak suka keramaian dan Vic adalah orang yang sangat sibuk. Aku beruntung sekali mendapatkan teman yang memiliki kesamaan denganku." Ujar Cass sambil mengulum senyum dan kemudian melambaikan tangan pada Vic.
Nic sengaja berpindah dan menempatkan dirinya diantara Cass dan Vic. "Benarkah?" Tanya Nic asal.
Tiba-tiba Cass tersenyum lebar, "Tentu." Jawab Cass semangat yang tanpa disadari oleh Nic, Vic sudah berjalan mendekati Cass.
"Bukankah ini Nicolas Leandro? Saudara Al?" Tanya Vic yang sudah mempunyai kebiasaan menyentuh Cass dan kali ini meletakkan sebelah tangannya ke lekukan pinggang Cass tanpa menyadari tatapan tajam dari Nic.
Nic kali ini benar-benar tidak bisa menahan emosinya, dengan satu gerakan cepat dia menarik Cass menjauh dari Vic. "Kita pulang." Ujar Nic yang langsung menarik Cass agar mengikutinya keluar dari ballroom.
"Nic?!" Panggil Cass bingung bercampur kesal karena dia sebenarnya setengah diseret oleh Nic. Sudah dua kali dalam satu hari dia diperlakukan dengan semena-mena oleh bosnya ini. Dan Cass sama sekali tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukannya.
Nic sama sekali tidak memperdulikan panggilan Cass. "Mr. Nicolas Leandro! Apa-apaan ini?" Tanya Cass lagi dan kali ini wanita itu benar-benar kesal.
Nic baru berhenti saat mereka sampai di depan pintu lift. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Nic mengatur nafas dan emosinya agar kembali normal. Dan begitu pintu lift terbuka, Nic kembali menyeret Cass masuk dalam lift dan langsung mencium Cass kasar.
Cass terkejut.
Secara otomatis Cass meletakkan tangannya di d**a Nic untuk mendorong pria itu, tapi semuanya tidak sesuai keinginan Cass. Begitu tangannya menyentuh d**a Nic, Cass dapat merasakan detak jantung pria itu, dan hal ini membuat Cass lemas.
Nic mencium Cass dengan hasrat yang tidak terkendali. Cass pernah sekali dicium Nic, dan ciuman yang sangat terkendali waktu itu sangat berbeda dengan ciuman kali ini. Nic menciumnya dengan kasar dan sangat menuntut. Ada kerinduan dalam kekasaran ciuman Nic. Dan ciuman Nic tidak berhenti sampai pintu lift terbuka di lobby.
"Nic..."
"Ssttt... Tenang saja... Aku sudah lama ingin menyentuhmu seperti ini. Kau begitu cantik." Gumam Nic di bibir Cass.
Cass berusaha memalingkan wajahnya, "Nic kita menjadi tontonan orang." Ujar Cass susah payah diantara serbuan ciuman Nic.
Tiba-tiba Nic langsung menegakkan tubuhnya. Mereka sudah sampai di lobby. Tanpa memperdulikan banyaknya orang disana, Nic merangkul Cass dan membawa Cass keluar.
Nic dan Cass langsung masuk ke dalam mobil begitu mobil Nic dibawa ke depan hotel oleh petugas hotel.
"Di rumahku atau rumahmu?" Tanya Nic serak.
Cass yang masih belum sadar sepenuhnya karena ciuman Nic hanya bisa menatap Nic bingung saat mendengar pertanyaan itu. "Kita bisa saja melakukannya disini sekarang juga, tapi aku ingin semua terjadi dengan perlahan." Jelas Nic.
Cass masih diam saja sampai akhirnya Nic yang memutuskan. "Di rumahku saja." Putus Nic dan langsung mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa.
Tidak ada yang bicara sepanjang perjalanan menuju rumah Nic. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Nic bahkan tidak sadar kalau dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang bisa membuatnya ditilang kalau saja polisi sedang berjaga malam ini.
Baru saja Nic membuka pintu rumahnya, pria itu langsung menarik Cass dalam pelukannya dan menciumi Cass dengan lapar. Tidak ada lagi penantian. "Nic... Ada Arianne..." Bisik Cass di sela-sela ciuman Nic.
"Ssshhh... Arianne tidak ada. Dia sedang bersama neneknya di hotel. Aku benar-benar menginginkanmu sayang. Aku sudah ingin melakukan ini saat aku melihatmu membukakan pintu rumahmu untukku. Dan melihatmu begitu dekat dengan Vic_Siapapun Itu membuatku semakin sulit menahan keinginan ini." Gumam Nic serak dan memulai apa yang sudah ditahannya sejak beberapa jam lalu.
Cass sama sekali tidak sadar bagaimana caranya mereka bisa sampai ke kamar Nic tanpa melepaskan ciuman mereka dan tetap bisa terus berciuman tanpa kehabisan napas. Tapi yang jelas sekarang Cass sudah berada di kamar Nic yang bernuansa brown dan beige, membiarkan pria itu menciuminya sambil melepaskan gaunnya.
“Kau begitu indah, Cass. Sangat indah.” Bisik Nic sambil melepaskan ciumannya di bibir Cass hanya untuk menyusuri leher Cass hingga ke tulang selangkanya dan memberi kecupan dalam disana. “Kalau bukan karena acara penting, aku tidak akan membawamu kesana malam ini. Kau cantik, dasar penggoda.”
Cass terkesiap.
Dia sama sekali tidak tahu kalau tempat itu merupakan salah satu titik sensitifnya. Dengan spontan Cass mengulurkan tangan membelai rambut Nic. Dan seakan diberi dorongan, Nic menjauhkan tubuhnya dari tubuh Cass hanya untuk melepaskan penghalang terakhir mereka sepenuhnya sebelum bergabung dengan Cass di tempat tidur.
Nic menggeram dalam hati. Dia tidak pernah sekeras ini menahan diri untuk tidak langsung menghujamkan tubuhnya ke dalam tubuh Cass. Dia ingin Cass menikmati apa yang dia lakukan, sama seperti Nic menikmati tubuh Cass saat ini. “Nic... Astaga... Aku mohon...” Bisik Cass penuh gairah saat gelombang kenikmatan itu sudah siap menghancurkan dirinya sekali lagi.
“Tatap aku, Sayang. Lihat aku.” Balas Nic parau sambil membelai pipi Cass dan membuat wanita itu menatap matanya yang kini diselimuti gairah.
Dengan sisa pengendalian diri yang terakhir, Nic akhirnya menghujamkan dirinya ke tubuh Cass, membuat wanita itu mengerang kesakitan sejenak sebelum berganti dengan lenguhan nikmat.
Nic terkesiap.
Dia sama sekali tidak siap dengan apa yang ditemukannya. Tapi semua kendali dirinya sudah habis dan sudah terlambat untuk menghentikan semuanya. Cass begitu menggoda, dan saat ini hanya Tuhan yang bisa menghentikan Nic. Dengan dorongan gairah yang sejak tadi ditahannya, Nic mulai bergerak di tubuh Cass, membuat wanita itu mengerang nikmat. Mendaki puncak kenikmatan mereka hingga mereka terpuaskan bersamaan.
Cass terbangun saat dia merasakan ada sesuatu yang mengelus rambutnya dengan lembut. Tidak terlalu yakin dengan apa yang terjadi, Cass membuka matanya dan mendapati Nic sedang tersenyum ke arahnya. Spontan Cass langsung menutup kembali matanya, berharap apapun yang terjadi, mimpi itu tidak berakhir.
"Aku sudah lama sekali menunggumu bangun, dan sekarang kau tidur lagi. Aku tidak akan membiarkan itu." Ucap Nic lalu mencium Cass dan langsung di balas Cass sama agresifnya. Awalnya Nic ingin membahas masalah keperawanan Cass, tapi saat melihat betapa cantiknya wanita itu saat bangun, Nic kehilangan pikirannya. Yang dia inginkan hanya mencium Cass untuk memenuhi kelaparannya.
Cass membelai wajah Nic begitu pria itu menghentikan ciumannya dan mengamati wajah Nic dengan seksama. "Aku kira aku sedang bermimpi. Aku pikir aku tertidur di kamarku sendiri saat merasakan sentuhanmu." Gumam Cass pelan lalu memejamkan matanya sesaat sebelum kemudian tersenyum pada Nic.
Tiba-tiba Nic langsung berguling keatas Cass, kedua tangannya menumpu tepat di sebelah kepala Cass. "Aku akan membuktikan kalau ini bukan mimpi." Ucap Nic serak. Dan dari matanya, Cass sudah tahu apa yang akan terjadi.
***
Nic baru terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Diperhatikannya wanita cantik yang terbaring disebelahnya kini. Cass terlihat sangat cantik pagi itu tidak peduli kalau wajahnya tanpa riasan, rambut pirangnya tergerai dibantal Nick yang bernuansa coklat, dan tubuh tanpa pakaian. Kaki mereka masih saling bertaut dengan tangan Nic dibawah kepala Cass. Nic ingin sekali membangunkan Cass dan mengajak wanita itu bercinta lagi. Tapi mengingat sudah berapa kali tadi malam mereka bercinta gila-gilaan, Nic mengurungkan niatnya dan bangkit dari tempat tidur dengan sangat perlahan.
Nic masuk ke dalam kamar mandi dan segera mandi air dingin. Nic tidak akan sok suci dengan mengatakan kalau dia tidak pernah tidur dengan wanita manapun setelah kepergian Shanelle. Sebagai pria normal, Nic membutuhkan semua itu. Tapi tidak bisa dipungkiri lagi kalau apa yang baru saja Nic alami bersama Cass adalah yang pertama dalam hidup Nic. Dia tidak pernah begitu agresif saat tidur dengan wanita manapun dan setidaknya Nic tidak pernah menghabiskan waktu hingga pagi bersama wanita manapun. Dia selalu pulang seusai bercinta dan tidur di kamarnya yang dingin di rumahnya. Dan ini pertama kalinya Nic tidur dengan wanita_yang bukan istrinya_di rumahnya, di kamarnya.
Nic keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandinya. Di tempat tidurnya yang besar dan di d******i warna coklat, Cass masih bergelung di dalam selimut, pemandangan itu membuat Nic tersenyum. Dan sedetik kemudian, ponsel Nic berdering.
“Nicolas Leandro.”
“Nico, kami akan mampir ke rumah agar Ari bisa ganti pakaian dan setelah itu kami akan jalan-jalan sebentar. Apa begitu tidak masalah?” Tanya suara di seberang begitu merdu dan sangat berwibawa.
“Tentu saja, Matera. Kalian bisa datang kapan saja. Aku tidak masuk kantor hari ini, jadi kalau kalian ingin aku antar, aku bisa.” Ujar Nic yang langsung membuat ibunya diseberang sana nyaris terkena serangan jantung karena kaget mengetahui anak sulungnya akhirnya mengambil liburan. Nic dan liburan tidak bisa digabungan dalam satu kalimat.
Hening sejenak sebelum suara di seberang kembali terdengar. “Tidak perlu. Aku cukup kaget dan sangat senang kalau kau memang akhirnya bersedia keluar dari gedung isolasi itu untuk sehari saja. Kami akan kesana sekitar sejam lagi.”
“Jangan berlebihan, Matera. Kantorku bukan tempat untuk mengisolasi orang.” Tegur Nic yang suasana hatinya masih terlalu baik untuk berubah secepat itu. “Dan baiklah. Aku juga ingin mengenalkan seseorang padamu.” Ujar Nic sebelum mengakhiri pembicaraan dengan ibunya via telepon.
Nic segera berpakaian. Karena sudah memutuskan untuk tidak masuk kantor, Nic memilih mengenakan celana jeans hitam yang dipadukan dengan sweater turtle neck berwarna abu-abu lembut. Nic berjalan ke dapur dan mendapati kalau pengurus rumah hariannya sudah datang.
"Hallo, Betty." Sapa Nic ramah.
Wanita gemuk bernama Betty itu menatap Nic tidak percaya. Bagaimana mungkin Tuan Besar yang selama ini dingin dan pelit sapaan berubah drastis pagi ini?
"Apa yang terjadi pada Anda, Mr. Leandro? Apa anda sedang sakit? Atau anda salah minum obat?" Tanya Betty cemas.
"Apa maksudmu?" Tanya Nic bingung.
Betty yang baru saja selesai membuat roti bakar langsung meletakkan sepiring roti di atas meja dapur, dan tanpa mengatakan apapun, Nic mengambilnya kemudian memakannya. "Anda belum pernah menyapa saya seperti itu. Ya. Sepanjang ingatan saya, anda belum pernah menyapa saya seriang ini." Jawab Betty.
"Benarkah? Bukankah tiap berangkat aku selalu menyapamu?" Tanya Nic bingung berusaha mengingat apakah yang dikatakan pengurus rumahnya itu benar atau hanya suatu hal yang dibesar-besarkan.
"Kalau mengatakan apa saja tugas tambahan saya dikatakan sebagai cara anda menyapa, maka terima kasih." Ucap Betty kesal dengan majikannya ini. "Percuma Anda berbohong, pasti ada yang sudah terjadi hingga anda berubah drastis seperti ini."
Nic tersenyum melihat Betty, "Kau cukup menjadi pengurus rumahku saja dan tidak perlu menjadi mata-mata. Sebentar lagi Matera dan Arianne akan pulang untuk mengambil baju. Siapkan beberapa baju yang biasa Arianne kenakan. Setelah itu kau akan tahu apa yang kau cari-cari pagi ini." Ucap Nic sambil mengambil piring berisi roti bakar dan secangkir penuh kopi.
Cass nyaris melompat dari tempat tidur begitu mendengar apa yang baru saja selesai Nic katakan. "Yang benar saja. Apa lebih baik aku tidak usah turun?" Tanya Cass serius.
"Untuk apa kau tidak turun? Aku ingin mengenalkanmu dengan ibuku, dan Arianne pasti akan senang sekali kalau melihatmu disini. Jadi apa yang kau takutkan?"
Cass berdiri dengan melilitkan selimut di sekeliling tubuhnya, "Dengar, Mr. Leandro. Lupakah kau kalau tadi malam aku datang kesini mengenakan gaun? Apakah kau sama sekali tidak berpikir apa yang ibu dan anakmu pikirkan kalau melihat wanita mengenakan gaun pagi-pagi di rumah seorang pria yang tinggal sendiri?” Tanya Cass cepat. "Oh, tidak perlu kau jawab karena aku yang akan menjawabnya. Itu artinya sang wanita menginap di rumah pria itu. Jadi kalau kau bersedia mengizinkanku ganti baju, aku akan segera pulang sebelum ibumu datang. Lagipula, aku sekretarismu! Bagaimana mungkin aku tertangkap basah oleh ibu atasanku! Aku tidak bisa bertemu mereka." Tambah Cass tanpa menyembunyikan kepanikannya.
"Kau tidak akan kemana-mana Cass. Urusan kita masih belum selesai. Masih ada beberapa hal yang harus kita bicarakan. Jadi, aku minta kau bersabar dan jadilah gadisku yang baik." Tukas Nic.
Cass berjalan mondar-mandir di depan Nic dengan tangan di d**a, menahan agar selimut yang dikenakannya tidak jatuh dan menatap Nic seolah ada tanduk yang muncul di kepala laki-laki itu. "Apa lagi yang ingin kau bicarakan? Apa tidak bisa ditunda? Aku harus pergi sebelum mereka datang. Jam berapa mereka kesini?" Tanya Cass cepat.
"Berhentilah berjalan mondar-mandir Cass. Aku masih lapar dan baru memakan satu roti. Tapi kalau kau terus bergerak seperti itu, aku akan menjamin kalau bukan hanya aku yang terlambat sarapan, tapi kau juga. Dan kita baru akan keluar lagi dari kamar ini siang atau nanti sore." Ancam Nic serak.
Tanpa disuruh dua kali Cass langsung duduk di tempat tidur. Menghadap Nic yang duduk di salah satu kursi di dekat jendela. Bukan berarti dia tidak menyukai apa yang mungkin Nic lakukan padanya, tapi ancaman Nic kalau mereka tidak keluar hingga sore-lah yang menjadi masalah. Bahkan saat ini sudah banyak sekali masalah yang harus dipikirkannya, dan yang paling mendesak adalah apa yang harus dikenakannya nanti saat bertemu dengan ibu Nic.
"Jadi, apa masalah yang ingin kau bicarakan itu? Tidak bisakah kita membicarakannya sekarang lalu aku bisa pulang sebelum ibumu dan Arianne sampai?" Tanya Cass lagi sambil mengatasi sesuatu yang muncul di dalam dirinya akibat perkataan Nic.
"Lebih baik kau mandi. Dan aku rasa aku bisa meminta Kal mengantarkan pakaian untukmu." Ujar Nic santai.
"Kal?"
Nic menggeser cangkir mendekati Cass, "Kalliana itu adalah adik tiriku. Aku dan Al sering tidak menganggapnya, tapi walau bagaimanapun, ibunya adalah ibu tiriku. Apa Al tidak pernah menceritakan masalah ini?"
Cass menggeleng pelan dan kemudian menyesap kopinya, "Vion hanya bercerita kalau dia punya seorang saudara laki-laki yang lebih tua yang mengatur segalanya di keluarga kalian. Jadi, dimana Kal itu tinggal?"
"Benarkah kau tidak menyadarinya? Kalliana Anastasya adalah adikku."
"Manager pemasaran itu adikmu?" Tanya Cass untuk memastikan kalau dirinya tidak salah mengingat nama.
"Ya. Jadi, sekarang silakan mandi. Aku akan meminta Kal untuk mengantarkan pakaian untukmu. Aku rasa ukuran kalian sama." Ujar Nic lalu meninggalkan Cass sendirian dalam kamar.