Part 4

3295 Words
Cass bingung harus mengenakan pakaian apa untuk makan malam dengan Nic. Wanita itu masih mondar-mandir di dalam kamarnya memilih pakaian saat bel rumahnya berbunyi. Cass berniat untuk mengabaikan tamunya itu dan tetap melanjutkan aktivitasnya saat bel kembali berbunyi, menunjukkan kalau siapapun tamunya, orang itu bukan termasuk orang yang sabar. "Semoga itu bukan Nic, karena sekarang baru jam setengah tujuh." Gumam Cass pelan sambil berjalan menuju pintu depan. Tapi ternyata doa Cass tidak dikabulkan. Nic berdiri di depan pintunya. Pria itu mengenakan kaos polo berkerah warna abu-abu dengan celana jeans hitam. Membuatnya 10 tahun lebih muda dari usia sebenarnya. "Tidakkah kau datang terlalu cepat?" Tanya Cass kesal karena saat itu dia hanya mengenakan kaos longgar tua dan celana jeans belel selutut. Benar-benar tanpa riasan. “Dan, mana Arianne?” "Tidak masalah. Arianne mengatakan kalau dia akan menunggumu di rumah saja." Sahut Nic tenang, "Apa aku boleh masuk?" Tanya pria itu cepat. Cass minggir selangkah, "Silakan. Kau bisa duduk disini sementara aku bersiap. Kau ingin minum apa?" Tanya Cass masih kesal karena Nic tidak menepati janjinya, yang Cass tahu tidak pernah diucapkan Nic. Nic mengedarkan pandangannya, "Menurutku kau tidak punya bir. Jadi air putih saja." Ujar Nic yang tanpa diduga­_tersenyum. Cass sangat tidak menyukai senyuman Nic dan tidak ingin menyukai senyuman itu. Karena kapanpun dan dimanapun mereka berada Cass akan langsung lemas. Pria itu tidak memiliki ketampanan layaknya para artis layar lebar atau model Armani, masih jauh lebih tampan Vion, wajah Nic tidak sesempurna itu. Tapi wanita normal manapun dalam rentang usia 16 hingga 60 tahun dan yang masih bernapas, bila melihat Nic dan Vion, pasti akan memilih Nic. Pria itu punya pesona mematikannya sendiri, bukan dari ketampanannya. Melainkan dari pembawaan diri pria itu yang Cass yakin sudah dimilikinya sejak lahir. Cass tidak ingin menginginkan Nic. Karena sejak pertama kali bertemu di kantor laki-laki itu, Cass tahu kalau Nic adalah laki-laki yang berbahaya_dengan huruf B besar_bagi kesehatan mentalnya. "Kau benar. Aku tidak memiliki simpanan bir. Aku tidak mengkonsumsi minuman itu. Scotch saja sudah terlalu keras untukku walau aku tidak pernah mabuk." Ujar Cass pelan sambil melangkah menuju dapur dan mengambilkan segelas air putih dingin untuk Nic. "Aku harap kau tidak bosan menunggu karena ini memang kesalahanmu datang terlalu cepat. Dan aku juga tidak bisa janji akan selesai dengan cepat, jadi terima saja akibat dari perbuatanmu, Mr. Leandro." Lanjut Cass saat meletakkan gelas berisi air untuk Nic. "Tidak masalah. Aku yakin bisa menunggumu." Jawab Nic ringan_bahkan tersenyum_ sebelum Cass meninggalkannya di ruang tamu sendirian. Tidak masalah. Gumam Nic lagi dalam hati dan dia benar-benar senang dengan keputusannya untuk datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan.   Nic mengamati rumah Cass dengan seksama. Dia sama sekali tidak menduga kalau rumah Cass adalah sebuah rumah mungil tradisional bertingkat dua yang sangat hangat. Melihat penampilan Cass yang begitu tenang, elegan, dan teratur, Nic menduga kalau rumah Cass adalah jenis rumah ecletic dengan interior yang minimalis namun tetap mewah. Tapi sofa lembut, dengan beberapa barang berserakan disana dan disini, beberapa lukisan pemandangan, serta paduan warna-warna yang lembut, membuat rumah Cass terasa hangat dan tidak terkesan kaku seperti sikapnya di kantor. Tidak hanya itu, awalnya Nic menduga akan mendapati Cass dalam pakaian yang rapi dan elegan, minimal wanita itu mengenakan flower dress dengan celana denim. Bukannya mendapatinya dalam kaos longgar tua dan jeans belel selutut, seakan dia bukan Cassidy yang selama ini menjadi sekretarisnya. Nic masih tenggelam dalam pikirannya tentang Cass saat wanita itu menjelma menjadi kenyataan di depan matanya. Wanita itu mengenakan halter top berwarna hitam dengan motif polkadot putih kecil yang dipadukan dengan celana panjang denim berwarna putih. Tidak ada yang seksi dari pakaian yang Cass kenakan, tapi sosok Cass itu sendiri sudah menggoda Nic. Apapun yang dikenakan wanita itu tetap membuatnya terlihat sempurna. Bahkan dengan pakaian kasual dan sederhana seperti ini, Cass malah terlihat semakin mempesona. Cass memiliki banyak hal yang tidak ditemukan Nic pada pasangan kencannya selama ini dan itu membuatnya merasa tertantang. "Mr. Leandro?" Panggil Cass pelan. Tiba-tiba Nic tersenyum tulus sambil bangkit dari sofa, "Kau terlihat cantik." Puji Nic tulus. Dan baru menyadari sesuatu begitu selesai bicara. Cass lebih dari sekedar ‘cantik’, wanita itu mempesona, selalu mempesona. Seolah sudah menduga akan mendapatkan pujian, Cass hanya mengangguk ringan. "Terima kasih. Jadi, apa kita berangkat sekarang?" Tanya Cass. "Tentu. Mari..." Nic tidak henti-hentinya melirik Cass. Dia jelas tertarik dengan Cass sejak pertama kali mereka bertemu. Dalam stelan konservatifnya, Nic tetap dapat menyadari betapa seksinya wanita yang kini duduk di sebelahnya ini, tapi dalam pakaian kasual dan jeans ketat ini, Cass jauh terlihat menggoda dan lebih meyakinkan Nic tentang pendapatnya terhadap sepasang kaki indah milik Cass. Nic sudah memutuskan kalau dia akan mendapatkan Cass, terlepas apakah Cass sekretarisnya atau tidak. Dan biasanya, Nic selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Sesampainya di rumah, Nic sudah melihat sebuah mobil diparkir tidak jauh dari garasi. Nic tahu siapa pemilik mobil itu dan jelas tidak menyangka kalau si pemilik mobil akan datang malam ini, begitu juga dengan Cass.   Bukan hanya Vion yang memiliki Alfa Romeo GT di kota ini, Cassy. Ujar Cass memperingati dirinya sendiri saat melihat sebuah mobil yang sangat familier terparkir manis di pekarangan Nic. Cass mengikuti Nic memasuki rumah dan menuju ruang keluarga sambil terus berdoa kalau Vion tidak ada hubungannya dengan laki-laki yang berjalan di sisi Cass saat ini. "Arianne sudah menunggumu dari tadi. Dia sangat senang saat tahu kalau kau akan makan malam bersama kami." Jelas Nic saat mereka menuju ruang keluarga. Tapi siapapun yang ada di sana bersama Arianne jelas orang yang dikenal Cass. "Vion?" Panggil Cass tidak mempercayai penglihatannya sendiri ketika menatap Vion sedang duduk nyaman di ruang keluarga milik CEO Andromeda Grup sambil menonton TV yang tergantung di atas perapian. Vion membalik tubuhnya, "Cass? Apa yang kau lakukan disini, Manis?" Tanya Vion bingung sambil menatap Cass dan Nic penuh tanda tanya. Nic maju_berusaha menutupi wajah kesalnya_dan duduk di sebelah Arianne, "Maaf kalau aku belum mengatakan ini pada kalian. Sejujurnya aku tidak yakin kalau kalian butuh diperkenalkan. Aku yakin kalian sudah saling mengenal." “Ya, ya tentu saja kami sudah saling mengenal. Cass itu ad…” “Cassy!!” Potong Arianne sebelum Vion sempat menjelaskan apa hubungannya dengan Cass, “Ayo kemarilah. Kau harus menonton ini dulu sebelum kita makan malam.” Sambung Arianne riang. “Tenang, koritsaki mou. Kau baru belajar menahan beban dengan kakimu. Jangan sampai dokter menceramahiku karena kau tiba-tiba tergelincir dari sofa sialan ini dan membuatmu berdiri dengan kedua kakimu itu.” Tegur Nic tanpa berhasil menyembunyikan nada cemburu pada suaranya akibat tatapan penuh arti antara Cass dan Vion yang masih terjalin hingga saat ini. Dan tidak satupun antara Cass ataupun Vion yang berniat untuk kembali menjelaskan apa hubungan mereka setelah itu meskipun satu-satunya orang di rumah itu yang tampaknya tidak peduli dengan ketegangan yang terjadi hanyalah Arianne seorang. Makan malam yang berlangsung beberapa saat kemudian berjalan dalam keheningan mencekam seolah sesuatu siap meledak kapan saja. *** Cass benar-benar tidak mempercayai apa yang terjadi tadi malam. Vion adalah adik Nic. Dan Nic adalah 'dewa' yang selalu Vion katakan. Dan tiba-tiba saja Cass mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Semua puzzle sudah lengkap dan tersusun sempurna. Dengan amarah yang sangat besar Cass menelepon Vion, dia tidak peduli kalau jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Yang artinya, Cass pasti menganggu tidur Vion. "Alvion Leonidas." Ujar Vion pelan. "Kita langsung saja, Vion. Tadi malam aku tidak sempat menanyakan masalah ini. Jadi sekarang jawab aku dengan jujur. Apa kau yang meminta Nic untuk menemuiku langsung dan bukannya melewati prosedur yang seharusnya saat aku melamar kerja?" Tanya Cass cepat. "Apa maksudmu, Manis?" “Kau tahu? Sewaktu aku wawancara di perusahaan saudaramu, bukan pihak HRD yang mewawancaraiku, tapi saudaramu, Nicolas Leandro langsung yang meneleponku dan memintaku datang ke ruangannya. Katakan padaku, apa kau ada campur tangan dalam masalah ini?” “Tentu saja tidak.” Jawab Vion lalu menambahkan dengan cepat, “Kau tahu sendiri kalau aku pernah mengatakan kalau kakakku itu tidak pernah mendengarkan pendapat orang lain bahkan adiknya sendiri. Dia hanya menerima pendapat dan penilaiannya sendiri. Lagipula aku tahu bagaimana sifatmu, Manis. Kau pasti akan langsung mengundurkan diri kalau kau tahu aku yang merekomendasikanmu dan menembakku setelahnya. Aku tidak akan melakukan itu. Dan bagaimana bisa aku merekomendasikanmu kalau kau saja tidak ingin memberi tahuku dimana kau akan bekerja.” Jawab Vion jujur dan sangat tenang. “Selain itu, bagaimana bisa kau makan malam bersama Nic di rumah? Nic tidak pernah membawa teman kencannya ke rumah. Nic akan memastikan kalau wanita itu memenuhi kriterianya baru membawanya ke rumah, dan sampai saat ini belum ada wanita yang memenuhi syaratnya. Apalagi sampai diperkenalkan dan diajak makan malam bersama Arianne. Nic selalu berhati-hati mengenalkan seseorang pada Arianne.” Tambah Vion kemudian. “Aku datang karena aku janji dengan Arianne. Kau tahu bagaimana miripnya aku dengan anak itu. Jadi, Nic-kah ‘dewa’ yang kau maksud?” “Tidakkah kau merasakannya? Apa ada orang lain yang bisa melakukan sesuatu semenyebalkan saudaraku itu? Bahkan aku seharusnya sudah curiga saat kau menceritakan tentang Nic. Tidak mungkin ada dua orang yang sama di dunia ini dengan segala sikapnya itu. Tidak. Rasanya memikirkan ada sosok lain di dunia ini dengan sifat seperti dia saja sudah tidak tertahankan.” Cass akhirnya bisa tertawa setelah berpikir keras semalaman. “Aku rasa sebenarnya kau lebih tahu kalau diatas ‘dewa’ itu masih ada seorang ‘dewi’. Itukah alasan kenapa kau tidak mengenalkan Vic pada Nic?” “Kalau aku melakukannya, itu akan menghancurkan segalanya, Cass. Kalau bukan aku, Vic yang akan hancur. Ya. Nic pasti tidak akan bisa menerima ini. Harga dirinya tidak bisa menerima ini. Dia akan menghancurkan Vic dan hal itu pasti akan menghancurkanku juga. Tidak mudah menerima keadaanku, Manis. Hanya kau yang bisa.” Sahut Vion pelan. “Maafkan aku. Dan terima kasih mau menjelaskannya padaku. Padahal kalau dipikir-pikir, aku seharusnya sudah curiga dengan pekerjaanmu. Bos mana yang mengizinkan karyawannya lebih banyak bermain daripada bekerja?” Gumam Cass mengutuk kebodahannya sendiri. “Tidak ada, Manis. Bahkan Nic juga kesal dengan apa yang kulakukan. Dia tidak memberiku izin dengan semudah itu. Selalu ada bayaran di setiap kelonggaran yang kudapatkan.” Cass kembali terkekeh pelan, “Istirahatlah, aku juga sangat lelah. Selamat pagi.” Ucap Cass mengakhiri pembicaraan mereka.   Vion baru saja akan tidur kembali saat ponselnya kembali berdering. Erangan kesal meluncur dari mulutnya saat melihat jam digital di nakas tempat tidurnya. “Alvion Leonidas. Dan kalau yang anda ingin bicarakan bukan sesuatu yang penting, saya harap segera tutup telepon anda karena saya butuh tidur.” Ujar Vion kesal karena jam tidurnya terganggu dan sudah bersiap memutuskan sambungan ketika suara di seberang terdengar. “Ini aku, Al.” Ujar suara di seberang yang membuat Vion langsung terdiam. “Apa yang kau inginkan, Nic? Kau tidak pernah meneleponku sepagi ini. Jadi katakan apa masalah yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang, Nic?” Tanya Vion langsung. “Karena kau sudah menanyakannya, aku akan langsung saja. Apa hubunganmu dengan Cass? Apa dia wanita yang selama ini menahanmu disini hingga kau tidak mau dinas keluar? Apa kekasihmu itu adalah Cass? Apa dia wanita yang kau bela selama ini?” Sudah kuduga. Nic tidak akan menelepon kalau hanya masalah sepele. Dia benar-benar sudah menganggap Cass cukup penting hingga tidak bisa menunggu sampai pagi untuk mendapatkan penjelasan. Pikir Vion. Ya, katakan saja hanya laki-laki buta yang tidak tertarik dengan Cass. Dan Nic jelas jauh dari hal itu. “Kau benar. Cass memang wanita itu, karena dia ada disini, makanya aku suka berada disini. Dan dia memang salah satu alasan kenapa aku tidak bisa meninggalkan kota ini, tapi aku dan dia sama sekali tidak ada hubungan. Kami sekarang hanya teman. Jangan mempersulitnya, Nicolas. Cass bukan w************n yang rela menggodaku dan kau di saat bersamaan hanya untuk mendapatkan uang. Dia tidak pernah kekurangan uang.” Tegas Vion. “Aku tahu kalau Cassidy Carrington tidak akan pernah kekurangan uang. Aku harap apa yang kau katakan memang benar. Selamat pagi.” Ujar Nic memutuskan sambungan begitu saja. Aku harap kau tidak terlalu keras dengan syaratmu sendiri, Kak. Kalau kau memang melakukan itu, wanita seperti Cass pun tidak akan bisa memenuhi syaratmu. Padahal dari semua wanita yang pernah kukenal, Cass-lah yang nyaris membuatku kembali ke jalanku semula. Dan kalau kau tidak bisa menemukan kebaikan dalam diri Cass, aku yang akan merebutnya. Karena sejak aku bertemu Cass kembali, dia mengubah sebagian duniaku yang aku pikir tidak akan pernah bisa berubah. Pikir Vion yang kemudian langsung mematikan ponselnya agar tidak seorangpun bisa mengganggu tidurnya lagi. *** Nic sama sekali tidak tahu kenapa dia sangat tertarik dengan sekretarisnya kali ini. Selama ini, Nic selalu bisa memisahkan yang mana pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Secantik dan seseksi apapun sekretarisnya, Nic pasti tidak akan tertarik dan dia sudah membuktikannya selama ini. Tapi sejak Cass menjabat menjadi sekretarisnya, wanita itu sudah membuat Nic melenceng beberapa derajat dari jalur yang seharusnya. Salah satu contoh yang sudah terjadi dan benar-benar tidak bisa Nic hindarkan adalah, untuk pertama kalinya, Nic mengundang seorang wanita untuk makan malam di rumahnya tanpa hubungan apapun selain pekerjaan. Bahkan Nic tidak pernah mengadakan perjamuan makan di rumahnya dalam rangka apapun. Selain itu, Nic akan memastikan siapa teman kencannya sebelum menyentuh wanita itu sedikitpun, tapi apa yang terjadi dengan Cass tidak seperti biasanya. Nic jarang sekali mengikuti nafsunya untuk mencium seorang wanita, dan saat berhadapan dengan Cass, Nic akan kehilangan akal sehatnya. “Cass, datang ke ruanganku sekarang.” Ujar Nic melalui intercom di telepon kantor. Belum lewat semenit, ponsel Nic berdering. Nama di layar ponsel membuat Nic mengurungkan niatnya untuk mematikan sambungan. Dia harus menjawab panggilan ini sekaligus memperjelas situasi saat ini. “Nicolas Leandro.” Ujar Nic datar. “Hallo, Nic. Apa kabarmu? Sudah lama sekali kau tidak menghubungiku. Apa kita bisa keluar makan siang?” Tanya suara diseberang begitu lembut. Tepat saat itulah Cass melangkah masuk ke ruangan Nic. Dengan gerakan tangan, Nic meminta Cass menutup pintu dan duduk di sofa. “Maaf, Valeria, siang ini aku sudah punya janji dengan seseorang.” Jawab Nic dingin. “Apa seseorang itu wanita?” Tanya suara diseberang penasaran. “Ya. Jadi aku minta kita selesaikan saja sampai disini. Hubungan ini sudah berakhir sejak kau menolak untuk menemui Arianne dan menjaganya untukku. Aku tidak pernah mencari teman kencan demi kepentinganku sendiri. Putriku adalah segalanya.” Tegas Nic dingin lalu mematikan ponselnya. “Ayo kita makan siang.” Ujar Nic begitu saja tanpa memberikan penjelasan sedikitpun kenapa dia memanggil Cass ke ruangannya. "Makan siang?" Ulang Cass bingung seolah dua kata itu tidak ada dalam bahasa manusia manapun di muka bumi. "Kenapa? Apa kau ada janji dengan orang lain?" Tanya Nic balik. Cass menggeleng pelan, "Tidak. Hanya saja... Kenapa anda mengajak saya? Lagipula masih ada beberapa berkas yang belum saya kerjakan." Nic juga memikirkan pertanyaan yang sama dengan yang diajukan Cass. Nic juga tidak tahu kenapa dia mengajak Cass untuk makan siang bersamanya. "Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan dan aku adalah atasanmu. Kau akan bekerja dan berhenti kalau aku menginginkannya. Jadi, ayo kita pergi, sebelum ada pengganggu yang tidak kuinginkan datang lagi." Ujar Nic begitu saja dan langsung menarik tangan Cass untuk mengikutinya. Cass berusaha melepaskan genggaman tangan Nic sepanjang perjalanan menuju parkiran. Dia tidak tahan mendapat pandangan penuh spekulasi dari orang-orang yang melihat adegan itu. Cass tidak ingin dianggap merayu atasannya saat dia baru bekerja hanya masih hitungan minggu. Bahkan meski ini kedua kalinya Cass berkendara bersama Nic dengan menggunakan Aston Martin One-77 milik laki-laki itu, Cass tetap tidak bisa bersikap santai. Nic membawa Cass ke Stef’s sebuah restoran Italia yang cukup mewah dan termasuk salah satu dari 10 restoran terbaik di London. "Saya tahu anda mampu, tapi untuk sekedar makan siang, ini terlalu berlebihan." Ujar Cass sambil mengikuti Nic masuk ke dalam restoran. "Tidak ada yang berlebihan. Aku ingin melakukannya dan akan kulakukan. Apa kau tidak suka makanan Itali?" Balas Nic ringan. “Aku suka, hanya saja...” Seorang laki-laki berjas mendatangi Nic dan memotong ucapan Cass, "Sudah reservasi, Sir?" Tanya laki-laki itu. "Tentu. Atas nama Nicolas Leandro." Jawab Nic. Pramutamu mengangguk sopan pada Nic dan mengulurkan tangan untuk menunjukan arah. "Mari, Sir." Ujar laki-laki itu lalu mengantarkan Nic dan Cass menuju sebuah meja dengan area privasi di sudut ruangan yang dilengkapi pemandangan paling spesial. "Silakan." Ujar Nic sambil menarikkan sebuah kursi untuk Cass. Cass menatap Nic sejenak dan kemudian dengan pasrah menerima nasibnya hari ini. Nic jelas tidak bisa di bantah karena sepertinya Nic memang sudah merencanakan semuanya.   Cass bukan tidak menyukai perhatian yang Nic berikan. Bahkan semua itu membuat Cass merasa istimewa. Hanya saja kalau melihat berapa banyak wanita yang selama ini singgah dalam kehidupan Nic, Cass merasa tidak yakin. Nic memang tidak pernah mencium Cass lagi sejak malam itu, hanya saja sekarang kemanapun Cass akan pergi, Nic selalu mengantarnya. Dan yang paling berubah adalah sejak Nic selalu menyempatkan diri untuk mengantarnya, Cass jadi tidak bisa pergi bersama Vion ke tempat Vic saat temannya itu sedang berada di London. "Apa yang anda bilang? Saya menjadi pasangan anda?" Tanya Cass tidak percaya saat Nic mengajaknya menghadiri sebuah pesta peluncuran produk baru dari klien perusahaan mereka. Tidak terhitung berapa kali dalam satu hari ini Nic sudah membuat Cass terkejut dengan segala ucapan dan tawarannya. "Ya. Aku akan menjemputmu jam delapan. Ada cukup banyak orang yang kau kenal akan hadir disana. Vion juga akan hadir disana." Ujar Nic tenang dan terkendali. Cass benar-benar tidak yakin dengan perubahan sikap Nic ini. Awal mereka bertemu, Nic terlihat begitu dingin. Dan sekarang pria itu mendekati Cass dengan seluruh pesonanya yang mematikan dan pastinya tanpa mempedulikan pandangan orang lain terhadap kedekatan mereka yang terbilang cukup instan ini. “Saya tidak memiliki kesempatan untuk menolak, bukan?” Tanya Cass pasrah. Nic tersenyum. Ada kepuasan dalam senyuman memikat itu. Dan tanpa perlu mendengar apapun dari Nic, Cass tahu kalau dia memang tidak akan bisa menolak titah sang bos besar. Cass pulang diantar oleh Nic saat jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Dan jam delapan malam Nic berjanji akan menjemputnya. Berarti Cass hanya punya waktu 2 jam untuk bersiap-siap. Begitu Nic pulang, Cass langsung bergegas mandi dan mempersiapkan diri. Cass cukup pusing memilih gaun malam yang akan digunakannya karena Cass memang jarang menghadiri acara seperti itu. Dengan susah payah dan menghabiskan waktu yang cukup lama akhirnya Cass menjatuhkan pilihannya pada black strapless lace gown karya Vera Wang yang dibelinya hampir setengah tahun lalu. Dan Cass memadukan gaunnya dengan evening sandals rancangan Giuseppe Zanotti warna hitam dengan taburan kristal Swarovski di bagian depan dan suede slingbacks serta sepasang anting berlian 18 karat hadiah ulang tahun ke-21 dari ibunya. Rambutnya yang panjang digelung keatas dan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya begitu sempurna. Tepat saat Cass selesai menyapukan lipstik ke bibirnya, bel rumahnya berbunyi. Cass langsung bergegas untuk membukakan pintu sebelum tamunya kembali memencet bel. Cass terkesiap saat melihat Nic. Pria itu terlihat benar-benar sempurna dalam balutan jas formal putih dengan kemeja hitam. Kali ini, Cass benar-benar sadar dan tidak menyangkal pernyataan Vion yang mengatakan kalau saudaranya ini sempurna dalam segala hal. Nic memang tidak memiliki ketampanan klasik seperti yang dimiliki oleh Vion, tapi ada yang lain di wajahnya yang sanggup membuat wanita manapun yang masih bisa melihat memujanya. "Kau ingin masuk atau kita langsung berangkat?" Tanya Cass berusaha mengatasi kegugupannya, tapi kata-kata yang keluar tetap saja sedikit terputus-putus. Nic menatap Cass dalam. Apapun yang dilihat Nic membuatnya merasa akan jauh lebih baik kalau dia bisa menjaga jarak sesaat atau segera pergi dari rumah Cass dan bergabung dalam keramaian karena itu jelas lebih membantu Nic mempertahankan akal sehatnya. Tidak ada yang lebih diinginkan Nic saat ini selain membaringkan Cass di tempat datar terdekat dan bercinta dengan wanita itu sampai salah seorang diantara mereka tidak bisa bangun lagi. Sesaat Cass seperti melihat kabut gairah dalam mata pria itu. "Aku tidak yakin aku ingin masuk." Jawabnya serak. "Baiklah, aku akan mengambil tas dan mantel." Ujar Cass yang kemudian masuk kembali untuk mengambil ponsel, tas tangan dan mantelnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD