Part 3

3525 Words
Sudah seminggu Cass bekerja sebagai sekretaris Nicolas Leandro. Pengalaman yang jauh berbeda dengan saat bekerja bersama James. Bekerja bersama Nic lebih membutuhkan ketenangan hati dan kesabaran serta ketelitian tinggi. Ketenangan hati untuk tetap mempertahankan kewarasan saat berada di dekat pria penuh pesona itu, dan kesabaran karena pria penuh pesona itu tidak menginginkan satu penolakan apapun dalam setiap perintah yang dia berikan. Ketelitian tinggi berguna karena pria itu tidak ingin ada sedikitpun cacat dalam pekerjaannya. Cass masih sibuk dengan pikirannya sendiri saat bentuk nyata dari hasil pemikirannya muncul di hadapan Cass. Nic yang hari itu mengenakan stelan kerja abu-abu yang semakin memperjelas bola matanya yang berwarna coklat keemasan berdiri di depan meja Cass dengan satu tangan di dalam saku celananya. ''Ms. Carrington, malam ini anda boleh pulang lebih awal. Saya ada pertemuan di luar.'' Ujar Nic datar. ''Baiklah, Sir. Kalau boleh saya bertanya, jam berapa anda akan pulang?'' Tanya Cass. Nic melihat Cass dengan tatapan menyelidiki, ''Cukup malam. Dan saya rasa ini bukan kapasitas anda sebagai sekretaris.'' ''Tentu. Saya tahu itu. Hanya saja, Arianne sudah pulang sejak sore tadi, dia pasti tinggal sendiri di rumah. Saya cemas dengannya.'' ''Kau terlalu berlebihan. Lagipula, kau tidak punya alasan untuk mencemaskannya. Ada perawat yang akan menjaganya.'' Jawab Nic cepat lalu segera keluar dari ruangan Cass. Sekilas, sebelum Nic menutup pintu, Cass melihat sosok seorang wanita yang sangat cantik menemani Nic. Mau tidak mau Cass mulai menebak apa yang atasannya lakukan di jam kosongnya. Dia pergi makan diluar dengan wanita lain dan meninggalkan anaknya yang sedang sakit di rumah dengan orang lain. Benar-benar ayah yang perhatian. Pikir Cass lalu membuka arsip data pegawai dan mencari alamat rumah Nic. Setengah jam kemudian, Cass sudah sampai di depan sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. Cass tahu kalau sebagai direktur utama sekaligus pemilik Andromeda Grup, Nicolas Leandro pasti sangat kaya. Tapi Cass tidak menyangka kalau rumah pria itu berada di Kensington, kawasan paling elite di London. Rumah itu walau tidak lebih mewah dibanding rumah-rumah lain di sekitar sana, tapi jelas bisa dibedakan dengan mudah dari yang lainnya. Saat rumah-rumah lain di jalan itu memiliki bentuk yang hampir sama dengan luas bangunan yang menakjubkan, rumah Nic malah berdiri sendiri di atas tanah luas dengan halaman yang indah yang ditata seolah rumah itu berada di tengah-tengah daerah mediterania. Entah apa yang membuat Cass sampai nekad datang ke rumah Nic. Tidak akan ada yang menduga kalau seorang Nicolas Leandro yang dingin dan kaku tinggal di rumah yang sangat indah dan asri seperti ini. Cass melangkah menaiki beberapa anak tangga dan kemudian memencet bel. Lama Cass menunggu pintu terbuka hingga akhirnya pintu kayu ganda berukir itu terbuka, dibalik pintu, Arianne berusaha untuk duduk kembali di kursinya. ''Apa yang kau lakukan!?'' Tanya Cass cepat yang langsung bergegas menolong Arianne kembali duduk di kursi rodanya. Arianne tersenyum manis pada Cass, ''Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mencari Dad?'' Tanya Arianne terdengar sedih dengan kemungkinan kalau Cass disana hanya karena mencari ayahnya. ''Aku datang karena mencemaskanmu, Manis. Ayahmu ada pertemuan diluar dan mungkin akan pulang malam, walaupun dia bilang ada perawat yang menjagamu, tapi tetap saja aku mencemaskan keadaanmu.'' Jelas Cass jujur dan sedikit ngeri dengan kemungkinan dia akan mencari-cari Nic hingga sampai ke rumah laki-laki itu. ''Benarkah?'' Tanya Arianne bersemangat. ''Tadinya aku memang bersama seorang perawat, tapi kemudian dia pergi saat mengira aku sedang tidur dan pulang. Jadi, sekarang hanya ada aku di rumah.” Jelas Arianne. Cass memandangi rumah Nic dengan cermat dan dengan enggan mengakui kalau rumah itu indah luar dalam sebelum kemudian tersenyum pada gadis dihadapannya. “Tentu. Aku akan menemanimu sampai ayahmu kembali.” Jawab Cass cepat. “Benarkah? Aku senang sekali. Dad baru saja membelikan peralatan lukis untukku.” “Benarkah? Kalau begitu kita akan melukis dan melakukan hal-hal lainnya sambil menunggu ayahmu pulang. Sebenarnya aku bisa mengajarimu cara mengukir, tapi aku sama sekali tidak membawa peralatannya.” “Kau pandai melukis dan mengukir?” Tanya Arianne takjub. “Hanya sedikit. Sewaktu aku masih di kursi roda, kanvas dan kayu ukiran yang menemaniku. Aku mendapatkan ketrampilan ini juga pada saat itu.” ''Apakah kau mau berjanji untuk mengajariku melukis dan mengukir? Aku bosan sekali kalau harus diam di rumah dan kalaupun keluar hanya ke kantor Dad atau rumah sakit.'' Tanya Arianne pelan, tidak berani terlalu berharap. ''Tentu saja. Besok kita akan pergi membeli keperluan belajarmu. Dan kalau kau tidak bisa, aku yang akan pergi sendiri dan kita akan bermain sambil belajar. Hanya saja sebelum itu kau harus minta izin pada ayahmu.'' ''Tentu!'' Sahut anak kecil itu bersemangat. “Sebelum itu, aku membawakanmu beberapa cemilan. Aku harap kau suka, dimana kita bisa meletakkannya?” Tanya Cass sambil mengangkat kantong belanjaan di tangannya. “Kau baik sekali.” Seru Arianne, “Ikut aku.” Tambahnya kemudian dan dengan cepat memutar kursi rodanya melewati koridor. “Kau bisa meletakkannya disana saja.” Ujar Arianne sambil menunjuk meja di ruangan yang diduga Cass merupakan ruang tamu. Ada satu set sofa disana lengkap dengan meja ditengah-tengahnya. Cass menggeleng pelan pada Arianne. “Tunjukkan dimana dapurnya.” “Baiklah.” Sahut Arianne cepat dan kembali memutar kursi rodanya untuk memandu Cass menuju dapur. Setelah meletakkan semua belanjaan bahan makanan di meja dapur, Cass menemani Arianne ke ruang belajar sekaligus ruang bermain gadis kecil itu untuk mengambil beberapa alat lukis yang baru saja dibeli oleh Nic untuk anaknya. Mereka menghabiskan waktu dengan melukis berbagai hal, dari yang paling tidak berbentuk hingga sebuah lukisan sederhana yang indah. Saat melihat mata Arianne perlahan menutup dan kepala gadis itu tidak bisa lagi tetap tegak, Cass tersenyum geli. “Kau sudah lelah. Ayo tidur.” “Kau akan pulang kalau aku tidur?” Cass menggeleng, “Tidak, Manis. Aku akan disini sampai ayahmu pulang. Tunjukkan dimana kamarmu.” Ujar Cass tulus sambil memutar kursi roda Arianne keluar dari ruang belajar. “Kamarku yang lama ada di lantai dua. Tapi sejak kecelakaan itu, dad memindahkan kamarku ke bawah.” Gumamnya pelan sambil terus menggerakkan tangan untuk menunjukkan jalan menuju kamarnya. Sekali lagi Cass terkejut melihat kamar Arianne. Cass tidak menemukan kamar bernuansa pink dengan ranjang berkanopi layaknya ranjang seorang putri jika melihat bagaimana ruang bermainnya tadi. Alih-alih menemukan kamar penuh feminitas anak perempuan, Cass malah menemukan kamar bernuansa biru lembut dengan interior penuh segala hal berbau putri duyung. “Kau suka warna biru?” Arianne mengangguk lemah,  “Aku suka putri duyung. Dad yang menghias semua ini.” Gumamnya pelan. Meski terkejut mendengar kalau seorang Nicolas Leandro menghias kamar seorang diri tanpa membayar jasa orang lain, Cass hanya mengangguk paham, “Ayo cuci muka dan sikat gigi. Setelah itu kau harus tidur.” Ujar Cass lembut sambil mendorong kursi roda Arianne menuju kamar mandi dan membantu gadis kecil itu mencuci muka dan menyikat gigi. Setengah jam kemudian, Arianne terlelap di ranjangnya bersama dua boneka putri duyung dalam pelukannya. Setelah memastikan kalau Arianne benar-benar tertidur, Cass beranjak ke dapur untuk menyusun makanan kecil yang tadi sempat dibelinya di mini market sebelum datang ke rumah Nic. Bahkan setelah dia selesai menata semua di tempatnya, Nic belum juga pulang. Cass akhirnya kembali ke kamar Arianne dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak setidaknya sampai ayah dari gadis kecil ini pulang. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi saat Nic masuk ke dalam kamar Arianne dan menemukan bukan perawat Arianne yang berada disana, melainkan sekretarisnya yang cantik. Cass duduk sambil bersandar dikepala tempat tidur Arianne sambil mengelus rambut gadis kecil itu dan bersenandung pelan. Awalnya Nic ingin membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Cass. Namun bagian lain dirinya tidak terima melihat orang asing berada di rumahnya, di kamar putrinya tanpa izin Nic. Apalagi orang itu adalah sekretaris barunya yang sangat ingin tahu. ''Apa yang kau lakukan disini?'' Tanya Nic sambil melangkah masuk ke kamar anaknya. Cass terkejut dan langsung mencari si pemilik suara. Bibirnya terkatup rapat, tak lagi menyenandungkan lagu lembut untuk Arianne. Antara lega dan sedikit cemas, Cass berdiri. "Saya hanya merasa cemas dengan Arianne saat anda bilang akan pulang malam dan men..." Ujar Cass terputus karena Nic dengan santainya melonggarkan dasi dan membuka beberapa kancing kemejanya sambil berjalan mendekati tempat tidur Arianne. Sialan! Maki Cass dalam hati sambil menikmati pemandangan di depannya. "Dimana perawat Arianne? Kenapa harus kau yang menjaganya?" Tanya Nic tanpa emosi yang malah membuat Cass kesal. ''Untuk anda ketahui, Mr. Leandro. Perawat yang anda pekerjakan untuk merawat anak anda sudah pulang bahkan sebelum jam 8 hanya karena Arianne masuk ke kamar dan tertidur hanya 10 menit. Anak anda ditinggal seorang diri di rumah malam hari tanpa penjagaan sedikitpun. Saya benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran anda. Bagaimana mungkin anda bisa memperkejakan seseorang yang tidak bisa bertanggung jawab seperti ini? Selain itu, tega-teganya anda meninggalkan anak anda yang sedang membutuhkan perhatian dan pulang selarut ini. Arianne tidak boleh membebani kakinya sampai waktu yang ditentukan oleh dokter Orthopedi-nya. Kalau anda sering meninggalkannya seorang diri seperti ini, Arianne harus melakukan segala sesuatu seorang diri dan bukan tidak mungkin dia akan menggunakan kakinya untuk bertumpu." Ucap Cass begitu saja tanpa bisa ditahan satu katapun. Nic berbalik dan menatap Cass dalam. Membuat Cass benar-benar membutuhkan sesuatu untuk menopang tubuhnya. Cass merasa seakan ditelanjangi dibawah tatapan pria ini. "Apa yang baru saja kau katakan?" Tanya Nic tidak percaya. "Bisakah kita keluar? Arianne baru saja tidur." Ucap Cass begitu melihat Arianne bergerak saat tidur. Entah kenapa dia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak gadis kecil itu. Keduanya pun berjalan menuju ruang duduk dengan perapian batu tepat di depan kamar Arianne. "Anda tidak perlu bingung kenapa saya ada disini. Saat anda mengatakan akan pulang, saya ingat kalau Arianne pasti akan tinggal sendirian di rumah, dan saya benar. Saat saya datang, Arianne sendiri yang membukakan pintu dan mengatakan kalau perawatnya langsung pulang saat Arianne tertidur sebentar. Bayangkan kalau terjadi sesuatu pada Arianne saat perawatnya tidak ada." Jelas Cass pelan. Nic semakin melonggarkan dasinya, seakan menganggap kalau tindakannya itu tidak berarti apapun bagi wanita manapun. Seolah tubuhnya bukan tubuh yang dipuja wanita dan membuat iri kaum pria. "Kau sudah mengatakan tentang itu tadi. Sekarang yang ingin kutanyakan adalah kenapa anda bisa berada disini, Ms. Carrington?" Tanya Nic. "Ada beberapa hal yang kenyataannya bukan urusan anda." Ujar Cass pelan. "Baiklah. Saya mengerti. Saya akan mengantar anda pulang, hari sudah larut." Putus Nic begitu saja. "Tidak perlu. Saya bawa mobil sendiri. Selamat malam, Mr. Leandro." Pamit Cass yang langsung mengambil mantelnya di gantungan dan segera pergi dari rumah Nic. Kenapa dia begitu perhatian pada Arianne? Dia hanya seorang sekretaris, dan dalam datanya dia masih lajang belum pernah menikah. Tidak ada seorangpun yang tahan dengan sikap Arianne, apalagi kalau anak itu tidak menginginkan kehadiran siapapun di dekatnya, saat itu, Arianne sanggup bersikap seperti iblis kecil. Pikir Nic semakin bingung sebelum kembali ke kamar putrinya untuk mengucapkan selamat malam serta memberikan ciuman selamat tidur seperti yang selalu dilakukannya selama ini. *** Cass menepati janjinya pada Arianne. Setelah memastikan kalau anak itu mendapatkan izin dari ayahnya, Cass meluangkan waktu makan siangnya untuk membawa Arianne berbelanja semua kebutuhan untuk melukis dan mengukir. Mereka benar-benar memuaskan diri dengan berbelanja berbagai keperluan untuk melukis dan mengukir, dan Cass sendiri sudah lama tidak berbelanja barang-barang itu. Hampir setiap malam Cass menghabiskan waktunya di rumah Nic seusai bekerja saat Nic sedang makan malam diluar ataupun tidak. Cass melakukannya semata-mata hanya karena janjinya pada Arianne, gadis kecil yang sangat mirip dengannya. Dia merasa nyaman menghabiskan waktu bersama Arianne daripada pulang ke rumahnya yang sepi. Arianne terlalu lelah karena menghabiskan waktunya bersama Cass untuk belajar mengukir, sehingga gadis kecil itu tertidur saat jam baru menunjukkan pukul 8 malam. Cass membereskan semua peralatan yang mereka gunakan untuk melukis. Ada sebuah lukisan lucu yang akhirnya bisa mereka selesaikan malam ini. Lukisan yang menggambarkan seorang anak kecil dengan seekor anjing. Cass dan Arianne sama sekali tidak membutuhkan model untuk melukisnya. Mereka hanya membayangkannya dan itulah yang mereka tumpahkan ke dalam kanvas putih. "Terima kasih karena kau bersedia menemani Arianne. Aku sangat menghargai itu. Arianne terlihat lebih membutuhkanmu daripada semua perawat yang aku pekerjakan untuk merawatnya. Dia lebih bahagia dan lebih penurut." Ujar Nic pada suatu malam, "Tapi tetap ada hal yang ingin kutanyakan. Tidak banyak orang yang mau bermain apalagi menghabiskan banyak waktu dengan Arianne. Selain dia cukup sulit bergaul, dia juga sedang menjalani fisioterapi. Sikapnya bisa sangat menyebalkan. Jadi, kenapa kau bersedia menghabiskan malammu bersama anakku dan bukannya bersama kekasihmu?" Tanya Nic pelan sambil menuangkan wine untuk Cass. Cass tersenyum, selama beberapa hari ini, dia sadar kalau Nic adalah seorang ayah yang baik, saat Arianne membutuhkannya, dia akan selalu ada disamping putrinya sesibuk apapun dia di kantor. Seperti yang terjadi sehari sebelumnya. Arianne jatuh sakit, tubuhnya panas sekali, perawat Arianne bingung harus berbuat apa karena anak itu tidak mau dibawa ke rumah sakit dan akhirnya memilih untuk menelepon Nic. Mendengar kabar itu, tanpa berpikir panjang Nic langsung menunda rapat dan bergegas pulang untuk melihat keadaan putrinya. Tidak banyak laki-laki dengan posisi seperti Nic yang rela meninggalkan pertemuan senilai jutaan dollar hanya untuk mengantarkan anaknya ke rumah sakit. "Saya punya pengalaman yang sama dengannya, dan saya tidak punya kekasih. Anda pasti ingat kalau saya pernah mengatakan kalau saya pernah berada diatas kursi roda, bukan? Dan saya pikir saya bisa berbagi pengalaman dengan Ari. Lagipula tidak ada satupun sikap Ari yang menyebalkan. Dia anak yang baik dan cantik. Dia hanya butuh teman." Jelas Cass ringan. Nic mengangguk pelan, "Ya, aku ingat itu. Tapi aku tidak tahu kalau ada pengalaman yang bisa dibagi dari masa-masa di atas kursi roda.” Gumam Nic pelan. “Selalu ada pengalaman yang bisa diambil dari setiap kejadian, Mr. Leandro. Bahkan di masa-masa terburuk sekalipun.” Sela Cass cepat. “Tolong panggil Nic saja. Kita bukan berada di kantor. Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu saat itu." Ujar Nic. Cass menatap Nic sejenak untuk memastikan apakah permintaan laki-laki itu hanya basa-basi semata atau keinginan tulus untuk mengobrol bersama Cass. Butuh semenit penuh sebelum Cass akhirnya buka suara. "Saat itu, tidak ada seorangpun yang bersedia menjagaku, aku juga anak yang sulit bergaul dulu, ayahku sudah meninggal saat usiaku baru 2 tahun sehingga ibu bekerja lebih keras dan tidak memiliki banyak waktu untukku. Waktu yang kuhabiskan saat itu lebih banyak bersama tetanggaku, orang yang menjadi orangtua dan adikku saat ini. Ibuku meninggal saat pulang kerja dalam kecelakaan lalu lintas. Saat itu aku sudah berusia 6 tahun, sama seperti Arianne sekarang. Dan sejak saat itu aku diadopsi oleh keluarga Carrington." Jelas Cass pelan, "Aku hanya merasa melihat kembali aku yang dulu dan ingin melakukan sesuatu." Lanjut Cass nyaris berbisik. "Kalau begitu maafkan aku." Ujar Nic tiba-tiba. Cass menatap Nic bingung saat mendengar permintaan maaf Nic yang mendadak, "Untuk apa?" Tanya Cass. "Aku pernah menganggap kalau kau mengarang cerita kursi roda itu untuk menarik perhatianku." Ujar Nic sedikit merasa bersalah. Cass melemparkan senyum lembut, "Aku mengerti, kau kaya dan menarik. Banyak wanita yang akan berusaha menarik perhatianmu apapun caranya. Kepercayaan dirimu jelas sangat besar, Nic.” Ujar Cass sambil tersenyum geli. “Dan terima kasih atas minumannya, aku menyetir dan besok harus bekerja. Aku tidak ingin ditilang karena minum." Tambah Cass kemudian yang langsung bangkit dari kursi. Nic menahan pergelangan tangan Cass, "Setelah ibu Arianne pergi, aku tidak mempercayai wanita manapun. Bagiku mereka semua sama sampai aku bertemu denganmu. Tidak banyak wanita yang berkata jujur dalam setiap perkataannya. Dan kau sepertinya tidak kesulitan untuk mengatakan apapun yang kau pikirkan." Ucap Nic pelan. Cass mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Apa yang diucapkan Nic menarik perhatiannya. "Ibu Arianne pergi? Bukan meninggal?" Tanya Cass tidak percaya. "Dia pergi meninggalkan Arianne karena tidak tahan untuk tinggal di rumah. Dia seorang wanita karir. Model. Dan Arianne tidak pernah tahu masalah ini, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, karena itu aku sangat berterima kasih karena kau mau meluangkan waktu untuk bersamanya. Setidaknya dia bisa merasakan sedikit kasih sayang dari seorang wanita." Jelas Nic datar. Dengan enggan Cass mengangguk paham. Firasatnya benar. Arianne memiliki banyak kesamaan dengan dirinya di masa kecil. Mereka sama-sama kekurangan kasih sayang seorang ibu walau Cass mungkin lebih beruntung dengan kehadiran pasangan Mr dan Mrs Carrington yang juga menyayangi Cass seperti menyayangi anak mereka sendiri, Clara. "Aku mengerti. Aku harus pulang, sudah semakin larut. Aku tidak mau kemalaman di jalan." Pamit Cass cepat lalu kembali bangkit dari sofa yang diikuti oleh Nic. Nic mengantar Cass sampai ke mobil, "Sampai jumpa besok, luangkan waktu makan malammu karena aku ingin mengajakmu makan malam bersama Arianne." Ujar Nic sambil membukakan pintu pengemudi untuk Cass. "Terima kasih. Akan kuatur." Sahut Cass lalu masuk. Dan apa yang terjadi sesudahnya benar-benar tidak bisa dipercaya oleh Cass. Nic membungkuk dan mengecup bibir Cass sekilas. Aliran listrik yang tiba-tiba timbul membuat Cass bereaksi dan menegang. Cass membenci tubuhnya yang beraksi seperti anak remaja yang baru pertama kali dicium oleh seorang pria. Cass tidak ingin Nic mengetahui kalau Cass sudah lama tidak berkencan. "Hati-hati dijalan." Ujar Nic tenang lalu menutup pintu mobil Cass dan mengamati sampai wanita itu menghilang dari halaman rumahnya.   Apa yang baru saja aku lakukan? Tanya Nic pada dirinya sendiri. "Hanya terbawa perasaan. Aku tidak pernah menceritakan tentang kepergian Shanelle pada siapapun, dan bertemu dengan Cassidy membuatku ingin menceritakannya." Jawab Nic sambil menghempaskan tubuhnya ke ranjang besar miliknya. Cass bilang kalau dia adalah anak adopsi keluarga Carrington? Pantas saja Aldrich mengatakan kalau Cass tidak bersedia menerima dana perwaliannya dan memilih keluar dari rumah lalu hidup mandiri. Pikir Nic cepat sambil menatap lampu-lampu berbentuk lilin yang tergantung di langit-langit kamarnya. Nic masih membayangkan rasa bibir Cass saat bel rumahnya berbunyi. Dengan enggan Nic bangkit dari ranjangnya dan melangkah cepat menuju pintu depan dan membukakan pintu untuk tamu yang sudah menganggu jam istirahatnya. "Apa kabar, Nic? Aku beruntung sekali bisa mendapatimu di rumah pada jam seperti ini." Ujar tamu Nic yang langsung masuk begitu saja. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Nic cepat saat melihat adiknya itu melangkah menuju kamar Arianne tanpa permisi. "Aku merindukan Arianne. Sudah hampir seminggu aku tidak melihatnya." Jawab adik Nic sambil membuka pintu kamar Arianne. Nic bersandar di dinding dan menatap adiknya dalam diam saat adiknya membungkuk dan mengecup dahi Arianne penuh kasih, "Aku kira kau terlalu sibuk mengurusi wanita barumu itu." Sindir Nic karena adiknya tidak pernah mau disuruh melakukan perjalanan ke luar negeri dengan alasan tidak bisa meninggalkan kekasihnya. Adiknya bahkan memilih tinggal di apartemen saat dia bisa saja tinggal di rumah Nic sekaligus menemani Arianne. Dan semua hal aneh itu baru terjadi sekitar satu tahun terakhir dimana sebelumnya Al tidak pernah menolak melakukan apapun perintah Nic. Al kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Nic datar. "Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Dia wanita terbaik yang pernah aku temui. Dan jelas dia lebih baik dari Shanelle." Jawabnya dingin. "Jangan ungkit nama itu di depanku, Alvion Leonidas Leandro." Geram Nic yang mendadak kesal mendengar nama bekas istrinya disebut di dalam rumahnya. "Kau manusia paling egois yang pernah kutemui, kak." Ucap Vion geram, "Sampaikan pada Arianne aku datang karena merindukannya. Jelas malam ini kau sama sekali tidak mengharapkan kedatanganku apapun alasannya. Aku akan datang lagi besok untuk menemui gadis kecilku." Ujar Vion yang langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan respon dari kakaknya itu. “Sial! Dia terus saja membela wanitanya.” Gerutu Nic sambil ikut keluar dari kamar putrinya dan masuk ke kamarnya sendiri. *** Cass sedang mengerjakan pekerjaan terakhirnya sebelum makan siang saat ponselnya berdering. "Cassidy Carrington." "Hai, Manis. Aku merindukanmu. Apa kau sudah makan siang?" Tanya suara di seberang yang sangat dikenal Cass. Cass tersenyum mendengar ungkapan hati Vion, "Belum, tampan. Aku masih kerja, masih ada beberapa hal yang harus kuurus sebelum makan siang." Jawab Cass. "Aku ingin mengajakmu makan siang. Jam berapa kau bisa selesai?" Tanya Vion pantang menyerah. "Aku rasa setengah jam lagi sudah selesai." Jawab Cass sambil tertawa. "Baiklah. Aku akan menjemputmu. Sebutkan alamat kantormu." Cass menggeleng pelan. Dia tahu kalau ini hanya alasan Vion untuk mengetahui dimana Cass bekerja. Setidaknya Cass akan terus merahasiakan pekerjaannya sampai Vion benar-benar bekerja di gedung yang sama dengannya. Dan selama Vion masih sibuk berkeliling dunia, Cass bisa tenang. "Jangan. Kita bertemu di tempat biasa saja. Setelah makan siang aku ingin pergi ke beberapa tempat sebelum kembali ke kantor." Jelas Cass. "Aku jadi berpikir kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi baiklah. Kita bertemu di tempat biasa. Sampai nanti, Manis." Ujar Vion lalu mengakhiri pembicaraan. "Apa itu artinya kau tidak bisa ikut makan siang bersama kami?" Tanya sebuah suara begitu merdu di telinga Cass. Cass membalik tubuhnya dan mendapati Nic sedang berdiri di pintu kantornya. Sekali lagi jantung Cass menolak untuk disuruh tenang. Pria itu memang sangat mempesona tidak peduli pakaian apapun yang dikenakannya. Dan kali ini dengan sweater turtle neck sewarna pasir yang benar-benar menonjolkan bentuk tubuhnya, Nic bisa membuat kemacetan di jalan raya. Butuh semenit penuh bagi Cass untuk membuat suaranya tetap tenang dan terkendali. "Apa maksud anda, Mr. Leandro?" Tanya Cass bingung. "Nic, please. Dan aku berencana mengajakmu makan siang bersama Arianne di rumah. Tapi karena kau sudah ada janji, berarti hanya aku dan Arianne yang makan bersama. Tapi, jangan lupa luangkan waktumu untuk nanti malam. Aku dan Arianne akan menjemputmu." Ujar Nic cepat dan langsung pergi dari ruangan Cass bahkan sebelum Cass bisa mencerna dengan baik kata-kata Nic. Sejak malam Cass menjaga Arianne di rumah atasannya itu, Nic tidak lagi menggunakan bahasa formal pada Cass walaupun Cass berkeras tetap menggunakan sapaan formal untuk bosnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD