Part 2

3104 Words
Cass menendang lepas sepatunya dan melempar tasnya begitu saja. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Demi menyenangkan Clara, Cass akhirnya bersedia datang ke sebuah perusahaan yang mempunyai terlalu banyak kebetulan. Perusahaan keluarga Leandro kebetulan adalah perusahaan dengan jaringan yang sangat luas, baik di Amerika maupun di negara asli pemiliknya, Yunani. Perusahaan itu juga kebetulan perusahaan yang pernah berbisnis dengan James dan merupakan tempat dimana Vion bekerja saat ini, dan sekarang perusahaan itu kebetulan sedang membutuhkan seorang sekretaris yang kebetulan Cass memenuhi persyaratan yang diajukan oleh sang kaisar dunia perhotelan. Cass baru akan membuka pakaiannya saat ponselnya berdering. “Cassidy Carrington.” Ujar Cass datar. Dia lelah dan tidak ingin berbasa basi dengan siapapun yang meneleponnya saat ini. ''Hallo, Manis. Bagaimana wawancaranya? Sukses?” Tanya suara diseberang yang dikenali Cass sebagai suara Vion dan membuatnya mau tidak mau memilih untuk mengobrol dengan laki-laki itu. ''Wawancaranya bisa dibilang sukses, bisa juga tidak.'' ''Ceritakan padaku.'' Perintah Vion yang langsung menyadari kelelahan dari suara Cass. Cass mengurungkan niatnya untuk ganti pakaian dan mengunjungi Clara di sisa waktunya hari ini. Wanita itu duduk di dekat jendela kamarnya sambil memandang keluar jendela dan mulai menceritakan awal harinya pada Vion tanpa ada bagian yang dikurangi atau dilewatkan meski Cass juga tidak menyebutkan nama siapapun. ''Sepertinya aku mengenal satu lagi orang seperti itu. Dan aku harap atasanmu ini tidak seperti orang itu. Karena kalau itu memang benar, akan jadi masalah besar. Dan hari-hari yang akan kau jalani akan berat, Manis. Oh, tapi tenang saja. Dengan semua kemampuanmu dalam bekerja, aku yakin tidak akan ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengkritik kerjamu. Kau sempurna, Sayang.'' Cass memperbaiki duduknya, ''Oh ya? Siapa? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku selama ini?'' Tanya Cass antusias. ''Aku bukan tidak mau bercerita tentangnya, hanya saja kalau aku bercerita tentangnya, akan ada banyak sekali kelebihannya yang sangat enggan kuakui. Dan itu sekaligus membuktikan kalau apa yang telah aku lakukan selama ini tidak ada artinya sama sekali. Kau tidak akan mungkin tertarik padaku kalau tahu ada yang jauh lebih hebat dariku.'' ''Ceritakan saja. Aku sudah menceritakan hariku yang menyebalkan padamu. Dan selama ini kita selalu adil, Vion.” Bujuk Cass pantang mundur. ''Kau memang tidak pernah menyerah kalau sedang menginginkan sesuatu, Manis. Kau menang. Orang itu kakakku. Dia dewa di keluarga kami, tidak ada seorangpun yang bisa membantah, menolak perintahnya, atau memberinya perintah. Bahkan dia tidak akan bernegosiasi apapun tentang keputusan yang akan dia buat tentang hidup seseorang. Dia sang pembuat keputusan. Dia tidak pernah melakukan kesalahan, itulah yang membuatku membencinya. Semua hal dikeluarga kami, dia yang mengaturnya. Sialnya, semua keputusannya memang selalu benar. Walaupun dia tinggal jauh dari keluarga inti, dia tetap selalu rutin memeriksa segala hal. Aku menghormati sekaligus membencinya. Aku ingin menjadikannya sebagai tujuanku, tapi aku bahkan tidak bisa menyamainya sedikitpun. Sebagai manusia, dia sangat sempurna, Cass.'' Jelas Vion sarat emosi. ''Maafkan aku kalau membuatmu menceritakan hal yang tidak ingin kau ingat. Aku sama sekali tidak berniat seperti itu.'' Ujar Cass tulus. Cass sangat mengenal Vion sehingga dia tahu kalau laki-laki baik itu memang terintimidasi oleh sosok saudaranya bahkan sebelum bertemu dengan orang yang dimaksud Vion tadi. Belum-belum Cass sudah enggan bertemu dengan laki-laki itu karena bisa dipastikan kalau mereka berdua tidak akan cocok. ''Tidak. Aku malah senang bisa menceritakan orang yang kukagumi pada orang lain. Aku yakin kalau kau melihatnya, kau pasti akan menyukainya. Dia selalu menarik perhatian orang. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku ingin sekali mengenalkanmu padanya. Aku rasa akan menarik sekali melihatmu bertengkar dengan kakakku. Tidak pernah ada yang menang saat melawannya. Dan kalau kau bertemu dengannya, jujur, aku harap kau bisa mengalahkan kaisar itu. Kau punya sisi yang tidak dimiliki wanita manapun, Manis.'' Cass menggeleng, ''Aku yakin pasti lebih menyukaimu. Kau tahu aku tidak menyukai konflik.'' Jawab Cass cepat. Dan karena tidak ada yang lebih mempesona daripada ayah satu anak yang kutemui siang ini. Dia yang terindah, Vion. Makhluk terindah. Lanjut Cass dalam hati. ''Terima kasih. Aku senang kau ada disisiku dan menemaniku. Nanti malam aku akan menjemputmu, kita akan makan malam untuk merayakan pekerjaan barumu, bagaimana? Kau bisa memilih tempatnya.'' ''Maafkan aku, Vion. Aku tidak bisa. Mungkin besok? Sebenarnya aku sudah berjanji akan mengunjungi Clara hari ini, dan karena saat ini tidak mungkin, aku berencana untuk kerumahnya nanti malam. Aku harap kau tidak marah.'' Ujar Cass sedikit merasa bersalah pada Vion. ''Tidak masalah, Manis. Besok juga tidak masalah. Berarti kita akan merayakan hari pertamamu bekerja. Jangan izinkan atasanmu merusak hari pertamamu bekerja walau aku masih penasaran dimana kau bekerja. Aku tidak mengerti kenapa kau merahasiakan tempat kerjamu padaku. Istirahatlah. Sampai jumpa besok.'' Ucap Vion sebelum memutuskan sambungan. Cass memandangi ponselnya dalam diam. Aku tidak berani membayangkan hari-hari yang menyenangkan kalau dia yang menjadi atasanku. Dan akan jadi masalah kalau kau tahu kita bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Pikir Cass enggan. “Vion tidak akan mengizinkanku bekerja dibawah orang lain kalau sampai dia tahu hal ini.” Gumam Cass pelan dan pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian dan memilih membaringkan tubuhnya di ranjang.   ''Dad?'' Nic mengalihkan perhatiannya dari tumpukan kertas di hadapannya pada anak perempuannya yang entah sejak kapan sudah berada di ambang pintu ruang kerjanya, ''Ada apa, Arianne? Kenapa kau belum tidur, koritsaki mou?'' Tanya Nic lembut pada putrinya. Arianne mendorong kursi rodanya masuk ke ruang kerja Nic di rumah dan mendekati ayahnya itu, ''Apakah wanita yang tadi siang akan menjadi perawatku? Aku menyukainya. Dia cantik dan baik. Tidak seperti yang lainnya.'' Nic menggeleng enggan, tidak suka mematahkan semangat putrinya seperti saat ini. Tidak seperti itu, Sayang. Dia hanya sekretaris baruku, dan aku akan mencarikan perawat baru untukmu. Dia sama sekali tidak punya catatan tentang keperawatan dan tidak memiliki pengalaman tentang itu. Dan aku tidak pernah mewawancarai perawat di kantor, Sayang.'' ''Tapi dia juga pernah sama sepertiku, Dad. Dia pasti bisa menjadi perawat yang bagus.'' ''Hanya katanya, koritsaki mou. Aku tidak pernah mempercayai seseorang begitu saja. Dan sekarang aku akan mengantarmu ke kamar. Sudah pukul 11 dan aku tidak mau gadis kecilku menjadi jelek karena kurang tidur saat bangun besok.'' Ujar Nic penuh kasih sayang sambil bangkit dari kursinya dan menghampiri Arianne untuk mendorong kursi roda putrinya itu kembali ke kamar Arianne di dekat tangga. “Dad?” “Ya, sayangku?” “Aku…” “Ada apa?” Tidak ada jawaban dari putrinya selama satu menit penuh dan membuat Nic berhenti mendorong kursi roda dan melangkah ke hadapan putrinya sebelum berlutut dan menatap Arianne. “Ada apa? Apa yang kau pikirkan?” “Lupakan saja.” Bisik Arianne pelan. Nic mengulurkan tangan untuk mengusap lembut pipi putrinya, “Hei… Ada apa, koritsaki mou? Kau tahu kalau Daddy tidak suka kau menyimpan sesuatu seperti ini, bukan?” “Ya, aku tahu.” “Jadi?” Arianne menggeleng pelan, “Tadinya aku ingin meminta untuk tidur di kamarmu. Tapi aku lupa kalau masih banyak pekerjaanmu yang belum selesai. Jadi, lupakan saja. Aku akan tidur di kamarku sendiri malam ini.” Senyum lembut penuh kasih sayang tersungging di bibir Nic saat tangannya beralih untuk mengusap kepala putrinya. “Kau, putriku yang cantik, selalu lebih penting dari semua pekerjaan itu. Kau boleh meminta apapun padaku. Jadi, malam ini kau akan tidur denganku.” Ujar Nic dan kemudian kembali mendorong kursi roda Arianne menuju kamarnya di sisi lain dari tangga. Nic sama sekali tidak tahu kalau putrinya saat ini tersenyum penuh kemenangan. Ya, Arianne selalu tahu kalau ayahnya akan mengabulkan apapun permintaannya selama dia meminta dengan cara yang benar. *** Cass memulai harinya dengan suasana hati yang sangat baik. Tadi malam dia berkunjung ke rumah Clara dan untuk pertama kalinya sejak kehamilannya, Clara berhenti menyuruh Cass untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan Cass dan wanita itu juga berhenti mengurusi kehidupan pribadi kakaknya. Cass bersyukur atas perubahan yang dialami adiknya itu. Ruangan yang ditempati Cass jauh lebih baik dan mewah daripada ruangannya saat bekerja dengan James. Meja dan kursinya cukup mewah untuk standar sekretaris. Pemandangan langsung ke pusat kota London. Dan yang paling penting Cass memiliki coffee makernya sendiri di dalam ruangan. Tentu saja. Andromeda Grup dengan perusahaan kecil James tidak bisa disamakan. Pikir Cass cepat. Cass langsung memulai pekerjaannya mengatur jadwal rapat atasannya hari ini saat pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Belum lagi Cass sempat mengatakan sesuatu, si pengetuk sudah membuka pintu ruangan Cass begitu saja. Walaupun bekerja sebagai sekretaris Nic, Cass tidak pernah berharap akan bertemu dengan atasannya itu bahkan sebelum jam kantor dimulai. Nic berdiri di belakang anaknya. “Selamat pagi, Ms. Carrington. Arianne memaksa untuk bertemu dengan anda sebelum ke rumah sakit. Senang mengetahui kau memulai kerja lebih awal.” Jelas Nic datar dan kelihatan tidak suka dengan permintaan anaknya yang terkesan terlalu egois dan memuja Cass walaupun mereka baru bertemu sekali. Mau tidak mau Cass tersenyum, atasannya yang sangat kaku dan dingin ini bersedia memenuhi permintaan sepele dari anak perempuannya. Selalu ada kelemahan pada setiap laki-laki, bukan? Bahkan kalau laki-laki itu adalah atasannya yang menyebalkan ini. “Hallo, cantik. Apa kabar? Apa hari ini jadwalmu periksa ke rumah sakit?” Tanya Cass ramah. “Ya. Aku senang Dad menerimamu bekerja disini. Apa aku boleh mampir setelah pulang dari rumah sakit nanti?” Tanya Arianne. “Tidak, Sayang. Sepulang dari rumah sakit kau harus langsung pulang ke rumah. Perawatmu yang baru akan datang hari ini, begitu juga dengan gurumu.” Sela Nic lembut. “Tapi, Dad, ada banyak yang ingin kutanyakan pada Ms. Carrington.” Cass maju beberapa langkah dan berlutut di depan Arianne, ”Kau bisa memanggilku, Cass, dan aku akan memanggilmu Ari. Bagaimana? Aku rasa aku bisa menyelesaikan pekerjaan sebelum kalian kembali lagi kesini.” Sahut Cass cepat sambil mengedip pelan pada Arianne, “Jadi, kenapa tidak biarkan saja dia disini? Saya yakin kalau dia tidak akan merepotkan. Selain itu, saya juga bisa mengajarinya beberapa hal yang bisa dia lakukan dan cukup bermanfaat selama berada di kursi roda.” Nic menarik kursi Arianne, ”Aku membayarmu untuk menjadi sekretarisku, bukan pengasuh Arianne. Dan jangan memanjakan anakku, Ms. Carrington. Dia harus tetap belajar walaupun tidak dapat bersekolah seperti biasanya. Aku tidak ingin Ari ketinggalan banyak pelajaran.” “Anda terlalu keras padanya, Mr. Leandro. Arianne berhak mendapatkan kehidupan sosial yang lebih baik selama dia sakit, dan dia membutuhkan itu untuk semangat. Jangan mengurungnya di rumah sementara anda tidak bisa berada disisinya untuk menemaninya. Hal yang paling dia butuhkan adalah berada di dekat anda dan memastikan kalau anda memperhatikannya, bukan kesepian.” Balas Cass cepat. Nic menarik sudut-sudut mulutnya dan berusaha tersenyum, tapi apapun hasil dari perbuatan Nic itu malah membuatnya terlihat seram. ”Apa anda ingin dipecat di hari pertama anda bekerja, Ms. Carrington?” Tanya Nic dingin_walau sebenarnya Nic tahu kalau ancamannya itu tidak berguna. Keluarga Carrington tidak pernah kekurangan uang atau pun pekerjaan. Kalau mengingat apa yang pernah Nic dengar tentang Cassidy Carrington, maka gadis itu akan dengan senang hati dipecat tanpa ketakutan kekurangan uang. Dengan dana perwalian yang diterimanya begitu dia menginjak usia dewasa dan dengan semua kemampuannya yang luar biasa, Cassidy Carrington tetap bisa hidup mewah walaupun tanpa bekerja hingga bertahun-tahun. Apalagi dengan adik dan ipar yang begitu menyayanginya, wanita itu bisa makan tidur bertahun-tahun. “Anda memang tidak pernah mendengarkan pendapat orang lain, bukan? Jadi apapun yang saya katakan untuk menjawab pertanyaan anda, tidak akan ada bedanya. Anda boleh memecat saya kalau menurut anda hasil kerja saya tidak sesuai dengan standar anda. Tapi sebelum itu terjadi, anda harus punya alasan kuat lain untuk memecat saya. Sementara anda mencari alasan lain, izinkan Arianne menghabiskan siangnya bersama saya sampai waktu anda pulang. Saya berjanji tidak akan terlambat menyelesaikan pekerjaan saya.” Balas Cass ringan.   Nic sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Karyawan barunya berani menentang sekaligus menantangnya! Tidak ada yang berani menentang keputusan atau bahkan menantang Nic dalam hal apapun sejak dia pertama kali ikut mengurus perusahaan keluarganya yang berarti lebih dari 20 tahun lalu. Ucapan Nic adalah hukum, baik di rumah maupun di perusahaan. Tapi bagaimana mungkin seorang wanita yang baru saja diterimanya bekerja berani melakukan kedua hal itu? Bahkan yang paling Nic tidak percaya adalah anaknya sendirilah yang dipermasalahkan kali ini. ''Dad?'' Panggil Arianne pelan, ''Aku berjanji akan bersikap baik dan menjalani terapi hari ini dengan patuh.'' Ucap Arianne nyaris berupa bisikan. “Dan masalah belajar, hari ini aku hanya akan mengulang pelajaran kemarin karena besok akan mulai bab yang baru.” ''Baiklah. Kalian berdua tidak menginginkan kata tidak, bukan? Aku akan mengizinkannya, kalau...'' Ucapan Nic terhenti, ''Pertama, kamu menjalani terapi dengan baik dan patuh. Kedua, anda, Ms. Carrington, menyelesaikan pekerjaan anda dengan baik sehingga saya tidak mendapatkan alasan untuk memecat anda tepat seperti yang anda katakan tadi. Kalian bisa melakukannya bukan?'' Tanya Nic kemudian. Nic melihat Cass tersenyum penuh percaya diri. Nic menyukai cara wanita itu mengekspresikan perasaannya, walaupun Nic tahu senyuman itu untuk Arianne. Tapi tetap saja Nic terpesona pada senyum penuh percaya diri itu. “Tentu saja, Mr. Leandro. Saya akan memastikan kalau anda tidak akan punya alasan untuk memecat saya karena masalah pekerjaan.” Ujar Cass yakin. “Pastikan anda memang melakukannya, Ms. Carrington. Jangan beri saya alasan untuk membuka kembali lowongan kerja untuk posisi anda.” Ujar Nic tenang, ”Sekarang, ayo kita pergi, Arianne. Doktermu sudah menunggu dari tadi.” Setelah kepergian Nic dan anaknya, Cass langsung memulai pekerjaannya. Dia benar-benar ingin menunjukan kalau dia memang pantas dipertahankan. Tapi sesibuk apapun Cass, hati kecilnya terus bertanya kenapa dia begitu memperhatikan Arianne padahal Cass tidak begitu suka melihat sikap Nic? Kenapa melihat Arianne membuat Cass berubah dari wanita eksekutif yang tenang menjadi wanita penuh belas kasihan? Karena dia mirip denganmu, Cassy. Jawab hati kecil Cass. Cass tersenyum geli saat jawaban itu muncul, dia dan Arianne memang mirip, sangat mirip malah. Mereka berdua sama-sama kesepian, terlalu banyak limpahan kekayaan namun sedikit sekali mendapat perhatian dari orangtua. Mungkin memang itu alasan yang membuat Cass merasa sama dengan gadis kecil itu dalam beberapa hal. Tapi, jauh didalam diri Cass, dia ingin melakukan sesuatu untuk gadis kecil itu.   Baru kali ini Nic melihat Arianne tertawa dengan sangat bahagia seperti ini seolah sedang bersama dengan ibunya. Sama sekali tidak terpikir oleh Nic kalau yang bisa membuat anaknya tertawa adalah seorang sekretaris_sekretaris baru Nic yang suka melawan. Nic juga tidak sadar jika dia merindukan tawa gadisnya. Tawa yang sejak kecelakaan sudah tidak pernah lagi didengar Nic. Begitu menyelesaikan terapinya, Arianne bahkan memaksa agar segera kembali ke kantor agar dia bisa mengobrol bersama Cass. Padahal selama ini Arianne tidak akan menginjakkan kakinya ke gedung Andromeda Grup kalau tidak terpaksa menemui ayahnya. Melihat Arianne bercanda dengan riang bersama Cass membuat beban rasa bersalah Nic sedikit berkurang. Nic sangat menyayangi Arianne, karena itu dia akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anak tunggalnya itu. Arianne tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu selama 6 tahun hidupnya. Tapi putrinya itu bahkan tidak pernah bertanya dimana ibunya. Di usianya yang masih sangat muda, Arianne sudah sangat dewasa. Tidak sekalipun Arianne mempertanyakan dimana atau siapa ibunya. Nic sudah bersiap mengkritik Cass mengenai pekerjaannya saat mendapati ternyata semua pekerjaan wanita itu nyaris sempurna. Semua jadwal rapat Nic sudah siap di atas meja beserta semua dokumen yang harus ditandatangani hari ini. Cass melakukan semua pekerjaannya tanpa cela, dan itu membuat Nic harus menepati janjinya pada Cass dan Arianne. Dengan enggan akhirnya Nic duduk dengan tenang dibalik meja kerjanya dan membiarkan putrinya menghabiskan waktu bersama sekretaris barunya. Setidaknya setelah berbulan-bulan, Nic bisa melihat keceriaan kembali dalam diri Arianne. Nic baru hendak membaca laporan lainnya saat ponselnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar smartphone miliknya. Nama yang selama seminggu ini selalu di beritakan sebagai kekasihnya. “Ada apa, Valeria?” “Sayang… Kenapa kau tidak pernah menghubungiku lagi?” “Aku sibuk.” “Sayang… Kau tahu kalau aku bersedia datang menemanimu bekerja kapanpun supaya kau tidak bosan dan terlalu lelah.” “Aku tidak bercinta di kantorku, Valeria. Katakan saja apa maumu. Ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.” Balas Nic terdengar kesal. “Aku ingin bertemu denganmu. Apa malam ini kau bisa datang ke apartemenku?” “Tidak. Arianne bersamaku saat ini. Hari ini miliknya.” “Lalu kapan kita bisa bertemu? Aku merindukanmu.” “Aku akan menghubungimu nanti.” Ujar Nic datar dan tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, dia langsung memutuskan sambungan dan menonaktifkan ponselnya. Arianne disini. Al dan Kal bisa menghubungi Cass kalau butuh bicara denganku. Pikirnya tenang dan kembali larut dalam pekerjaannya. *** “Cass sepertinya nyaman bekerja bersama Nic, honey.” Gumam Aldrich saat sedang menemani Clara menunggu di ruang tunggu dokter kandungannya untuk memeriksakan kehamilan Clara yang sudah menginjak usia 30 minggu. Clara tersenyum puas menatap suaminya. “Aku sempat ragu, tapi Nic ternyata juga puas dengan kerja Cass, bukan?” “Nic tidak akan menerima Cass bahkan jika aku berlutut di depannya, kalau dia tidak melihat kemampuan Cass menghadapi krisis. Aku bahkan jarang menerima telepon dari Nic seminggu ini. Biasanya dia selalu mendapatkan sesuatu untuk membuatku frustasi dengan segala keluhannya. Nic harus bersyukur mendapatkan seorang sekretaris dengan gelas master hukum internasional.” “Apa sebaiknya Cass juga meminta bayaran untuk setiap jam konsultasi yang didapat Nic?” Tanya Clara yang disambut kekehan pelan dari Aldrich. “Aku tidak percaya kalau Cass akan melakukannya bahkan saat dia kesal sekalipun. Kita sama-sama tahu kalau Cass mendapatkan gelar itu hanya demi orangtua kalian.” Clara mengangguk setuju, “Cass selalu menjadi kesayangan mereka, Al, dan juga kesayanganku. Bahkan saat sedang keras kepala sekalipun, Cass tidak pernah mengecewakan kami. Walau aku cukup kecewa karena kehidupan percintaan Cass sepertinya tidak berjalan lancar setelah dia putus dengan kekasihnya 4 tahun lalu.” “Ngomong-ngomong soal itu, apa kau sudah tahu siapa kekasihnya itu?” “Tidak. Cass tidak mau mengatakan apapun tentang laki-laki itu. Cass hanya bilang kalau mereka berpisah secara damai tanpa ribut sedikitpun, dan Cass tidak ingin kehidupan laki-laki itu menjadi sulit karena Cass. Aku pikir Cass mencintai laki-laki itu. Cass jarang mengalah dan tidak akan memikirkan orang lain selain keluarganya.” “Dan kalau Cass bisa sangat perhatian pada orang lain?” “Itu tandanya Cass menyayangi orang itu.” Sahut Clara cepat, “Kenapa kita bisa membahas masalah ini? Aku pikir kita tadi membicarakan pekerjaan baru Cass.” Sekali lagi Aldrich tertawa mendengar gerutuan istri mungilnya. Dia mencintai Clara dan bayi dalam kandungan wanita itu, serta menyayangi semua orang yang disayangi istrinya. Karena itulah Aldrich meminta tolong pada Nic untuk memberikan kesempatan pada Cass agar bisa bekerja disana demi mengurangi beban pikiran Clara. Rasanya tidak ada hal yang tidak akan Aldrich lakukan untuk Clara. “Mrs. Ivander?” Panggil seorang perawat yang memberitahukan kalau giliran Clara untuk memeriksakan kondisi kehamilannya sudah tiba. “Ayo kita masuk.” Ucap Clara sambil menggandeng suaminya mesra, membuat ibu-ibu hamil lain yang datang sendirian mendesah iri melihat kemesraan keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD