Chapter 05 - Sushi

1022 Words
Dia berhasil keluar dari kantor milik Romeo. Begitu juga dengan genggaman tangan sang pria tampan yang tak ada lagi. Tangan yang tadi pria tampan itu pegang, Sri masih saja melihatinya. Dia seolah terpaku pada rasa pegangan yang diberikan pria itu kepadanya, membuat dia tersenyum sendiri dengan aneh. David, yang melihat Sri senyum sendiri, lalu menegur dengan cara menepuk pundak wanita itu lembut. Sri menjadi tekejut dan membenarkan posisi kacamatanya, "A-ada apa Mas David?" tanya Sri gugup. David malah tertawa, membuat wanita yang baru saja melempar ekspresi bingungnya menjadi menggaruk tengkuknya aneh, "Walah, Mas David kenapa ketawa begitu? Sri jadi takut ih." "Seharusnya saya yang takut sama kamu Sri, dari tadi kamu senyum - senyum sendiri. Ngelihatin apa kamu?" tanya David dengan senyum manisnya. Sri yang tak sengaja melihat senyuman itu serasa terhipnotis. "Tangan," jawab Sri asal. David tertawa sambil mengerutkan keningnya, "Tangan?" Sri yang tersadar, dia menggelengkan kepala. Dia lalu memukul mulutnya yang sering keceplosan seperti ini, "Ah ndak, anu Mas... Sri senyum - senyum itu ngelihat anu..." Sri memikirkan alibi apa yang dia berikan kepada David. Dia takut malu ketauan baper saat David memegang tangannya tadi, untuk keluar dari kantor Romeo. Mata Sri tak sengaja melihat satpam yang sedang memakan gorengan. "Gorengan!" kata Sri tiba - tiba. David lagi - lagi tertawa, "Ah, jadi kamu senyum - senyum karena lapar sedari tadi, iya Sri?" "Ha? I-iya, lapar! Sri lapar banget Mas..." "Sebelum kamu pulang, kita mampir ke kantin kantor. Ayo!" David berjalan duluan, dan kemudian Sri menyusulnya. Mereka mengambil tempat duduk yang pojok, dekat dengan pemandangan luar kantor. David, pria itu membuka menu makanan, sementara Sri ikut membukanya, mengikuti apa yang David lakukan. Mata Sri membelakan, dia benar - benar merasa asing dengan menu yang dipajang di daftar menu yang dia pegang. Dia menatap David sekilas, lalu kembali menatap buku daftar menunya. "Pie iki, aku kenalnya cuma nasi jengkol. Selebihnya kok nggak tau. Mana sebutinnya susah - susah lagi," gumam Sri. David menatap Sri dan tersenyum, "Kamu pesan apa Sri? Pesan aja, saya yang traktir kok." Sri menyengir kuda, dia benar - benar bingung, "Di traktir pun, kalau nggak ngerti makanannya apa sama saja to walah..." batinnya. "Sri..." panggil David. David dari tadi melihat Sri terdiam saja. Dia lalu menegurnya, bahkan menegurnya berkali - kali. Melihat dari gestur tubuhya, David mungkin tau permasalahan dari wanita itu. "Mau saya jelaskan menu makanannya Sri?" tawar David. Sri menggelengkan kepala, "Ndak usah Mas Davis, Sri yang ini aja," tunjuk Sri random. David melihat menu yang ditunjuk Sri tertawa, "Yakin kamu?" "Yakin Mas hehe..." David menoleh ke pelayan, "Catat pesanan yang dia minta. Jangan ada kekurangan sedikitpun," peringati David. Pelayan itu pergi membawa catatan makanan David dan juga Sri. Menunggu makanan untuk datang, mereka saling terdiam. Meski terkadang tatapan mereka bertemu satu sama lain, dan berkahir dengan saling ketawa dengan canggung. Akhirnya, karena tak tahan dengan kecanggungan ini. David memutuskan untuk melontarkan beberapa pertanyaan untuk wanita dihadapannya. Dia memanggil namanya lembut, "Sri..." Sri yang merasa dipanggil, lalu menatap lawan bicaranya, dia mengerjapkan mata, "Iya Mas David?" "Saya fikir saya belum pernah melihat kamu sama sekali di kantornya Romeo. Kamu, pegawai baru atau bagaimana?" Sri menggelengkan kepalanya, "Sri bukan pegawai kok Mas. Sri itu datang ke kantor buat mastiin calon suami baik - baik saja, dan tidak ditemplokin sama cewek genit." David nampak mengerinyitkan keningnya, "Kamu calon istri Romeo?" Sri mengangguk semangat, "Iya to Mas. Memang ada apa to? Kok kayak ndak percaya gitu wajahnya." David tertawa, dia menggelengkan kepalanya, "Bukan tidak percaya Sri. Saya juga tidak terlalu mengurusi percintaan Romeo. Tapi, saya hanya aneh. Meski kamu calon istri, seharunya dunia mengenal kamu. Bukan malah Nindy." Sri memutar bola matanya jengah, "Sebut saja ta a'ruf gitu lo Mas. Jadi kenalnya pas nikah saja nanti hehe." David tertawa melihat tingkah wanita itu, tanpa sadar bahkan pria itu memujinya, "Kamu itu lucu Sri." Sri jadi berdebar dan mengerjapkan mata, "Opo Mas? Tadi Masnya bilang Sri opo?" David menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak ada yang saya bicarakan. Nah, itu pelayan datang." Wanita itu mengerjapkan makanan saat melihat banyak makanan dihadapannya yang sangat asing untuknya. Dia yang sudah terlanjur lapar mencocol nasi dengan sesuatu yang dirasa sambal cabe ijo. David hendak menyetop aksi Sri. Namun terlambat, wanita itu sudah mengerutkan kening dan memutahkan makanannya dengan heboh, "Ya Allah, apa to iki?! Kok pahit pedes banget!" David memberikan minuman untuk Sri, lalu tertawa, "Yang kamu kira sambel itu adalah wasabi. Memang begitu rasanya Sri." Sri menjulurkan lidahnya dengan raut yang menunjukan ketidaksukaan dirinya dengan wasabi. Lalu, wanita itu menggelengkan kepalanya, "Ya Allah Mas, saya ndak mau lagi ah makan kayak begini. Ndak enak tenan iki Mas. Suer ndak bohong." David tersenyum, "Cara makan kamu tidak tepat. Makannya tidak enak seperti, caranya seperti ini." David memperlihatkan cara makan dia dengan mengambil sebuah gulungan nasi isi digulung dengan sebuah nori. Dia mengambilnya dengan sumpit, dan langsung menyelupkan ke dalam wasabi. Setelah itu, dia langsung memakannya. Sri yang melihatnya menganggukan kepala paham. Dia mencoba mengulang apa yang dia lihat dari David tetapi langsung menggunakan tangannya. Dia menyelupkan di wasabi dan memasukan ke dalam mulutnya dengan ragu. Dia mengunyah makanan tersebut dengab ragu. Tetapi, saat makanan yang dia masukan ke dalam mulut itu ditelan, dia merasakan jauh lebih enak dengan cara David ini. Dia menganggukan kepala dan menatap David dengan kagum, "Wah iya to Mas, enakan seperti ini. Mas David ini lo, kenapa nggak bilang dari awal ada cara makannya," kata Sri dengan tertawa. David tertawa, "Kamu tidak tanya dengan saya Sri. Mana tau jika kamu ternyata tidak bisa memakan sushi." Sri mendelik matanya, "Opo Mas? Sosi?" tanya Sri untuk meyakinkan. "Sushi Sri, sushi..." jelas David. "Oalah, sushi to Mas. Sri maaf nggak pernah denger makanan gini di kampung, baru ini pas di kota hehe." "Nggak papa Sri, namanya menambah wawasan untuk kamu. Tadinya kamu tidak tau, sekarang jadi tau makanan sushi dan cara memakannya." "Hooh ya Mas, waduh nggak sia - sia ke kota. Nanti Sri bisa bilang ke orang - orang kampung kalau ada makanan namanya sushi ini Mas!" kata Sri dengan girangnya. David tersenyum mendengarnya, baru kali ini dia melihat wanita sepolos Sri. Meskipun tampilannya aneh dan norak, tetapi wanita ini sangat seru sekali untuk diajak ngobrol. "Dia wanita yang lucu," batin David.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD