Chapter 06 - Hujan

1269 Words
David dan Sri berjalan ke luar cafe, setelah mereka menyelesaikan makanannya. Mereka keluar untuk pulang, tetapi, hujan turun lebat membuat mereka menghentikan langkahnya. Sri, wanita muda itu mengusap lengannya dengan kasar, karena dia tak mengenakan baju panjang. Udara hujan lebat seperti ini sangat dingin menembus lengannya. "Hujan kok deres banget ya Mas..." David, melihat hujan yang deras menyetujui ucapan dari wanita itu, "Benar Sri hujannya lebat. Kita mau tidak mau harus meneduh disini, sampai hujan reda, jika tidak mau masuk angin." Sri menatap pria jakung disampingnya itu, "Mas David kalau kena cipratan air hujan lah kok ganteng tenan to iki... Rasanya jantung Sri udah goyang loncat - loncat." Wanita itu tersenyum malu, dia terpesona dengan ketampanan dari pria disampingnya. Dia tak ingin merasakan debaran terus, kemudian, memalingkan wajah, dan mengusap lengannya agar tak kedinginan. David, dia melirik ke arah wanita itu. Dia lalu inisiatif melepas jas yang digunakan, dan memasangkan dibahu wanita itu, membuat dia terkejut dan membulatkan mata. "M-mas David, loh kok saya jadi yang dipakein to? Mas David nanti kedinginan lo..." David tersenyum sambil mengusap puncak kepala wanita itu, "Jangan fikirkan saya, saya pria kuat. Sekarang, kamu masukan tangan kamu di jas saya supaya tidak kedinginan." Sri mengangguk malu, dia kemudian memakai jas milik David dan menjadi lebih hangat dari sebelumnya. David senang, wanita itu tak menggigil seperti sebelumnya. Meski dia kedinginan, tetapi entah mengapa, melihat wanita itu tak kedinginan membuat tubuhnya menjadi hangat dengan sendirinya. Sri, diam - diam senyum dan mencium wangi tubuh khas dari jas David. Dia menggelengkan kepalanya, "Sri... Sri... Kamu kok edan tenan to. Orangnya disebelah kamu lo itu Mas David..." batin Sri heran. Tangan David terulur ke depan, dia merasakan air hujannya tak sederas tadi, kini berubah menjadi rintik - rintik saja. Pria itu lalu menepuk bahu wanita disampingnya, "Sri!" Sri menoleh ke arah David, dan mengerjapkan matanya, "Ada apa Mas?" "Sepertinya hujan sudah sedikit reda. Ayo kita pulang." Sri terdiam, dia hanya mengerjapkan matanya melihat David. Membuat pria itu kebingungan. "Ada yang salah dengan ucapan saya Sri?" "Tadi lo, Mas David bilang kami..." David tertawa, dia menggelengkan kepalanya, "Maksud saya, saya akan antar kamu ke rumah. Jadi, kita ke mobil sekarang, nanti saya antar kamu menggunakan mobil saya. Taksi tidak akan ada saat hujan - hujan seperti ini..." Sri jadi malu, dia langsung memerah mendengar jawaban dari David. Dia terus saja salah paham, dan menjadi salah tingkah sendirian. "Ah, itu to... Iya juga ya Mas, taksi hujan - hujan nggak ada yang nge-tem ini mah. Yasudah ayo Mas!" David lalu menggenggam wanita itu, dan menariknya perlahan menerobos rintikan hujan bersamaan. Sri, tangannya yang digenggam oleh tangan David rasanya mau pingsan. Mereka menerobos rintikan hujan bersama hingga sampai disebuah mobil hitam mewah milik dari David pastinya. David lalu membuka kunci mobil, dan membukakan pintu untuk wanita itu. Tangan David satunya membuka pintu dan satunya berada diatas kepala dari Sri, agar rintikan hujan tak menembus kulit kepala wanita itu. "Masuk Sri, hujan akan semakin lebat." Sri mengangguk, lalu masuk. Setelah menutup pintu, David membuka pintu di balik kemudi dan duduk disana. Dia melihat Sri yang belum menggunakan sabuk pengaman, lalu, mendekat. Sri, yang melihat David semakin mendekat memundurkan wajahnya hingga mentok dengan jendela. Dia membulatkan matanya hingga melebar. Sri bahkan kesusahan untuk meneguk salivanya, dia memutuskan untuk terpejam saat David begitu dekat diwajahnya. "Yaallah Sri, kamu lupa buat pake wangian mulut. Bau mulut kamu bau pete. Mas David juga mendadak banget mau cium cium segala..." pikiran Sri yang sangat kacau. David yang melihat wanita itu memejamkan matanya tertawa kecil. Wanita itu sangat polos sekali. Klik! Suara itu membuat Sri tersadar dan membuka matanya. David tersenyum dan memukul kening wanita itu, "Tidak ada apa yang ada di pikiran kamu itu. Saya hanya membantu memakaikan sabuk pengaman saja." David lalu memundurkan tubuhnya, membuat Sri malu saja. Lalu, pria itu memasangkan sabuk pengamannya dan menjalankan mobilnya. **** Romeo, pulang dengan keadaan yang basah. Dia masuk ke dalam kamarnya dan membuka kemejanya yang basah dan menanggalkannya. Dia masih belum mengenakan pakaian, Rosa masuk dengan bersedekap menatap Romeo tajam. Romeo berbalik dan terkejut dengan kedatangan sang Mamah. Pria itu memutar bola matanya dan menghela nafas, "Mamah ngapain sih liat Romeo kayak gitu. Nggak ada kesibukan lain apa Mah? Selain gangguin hidup Romeo?" Rosa berdecih, dia kemudian mendekat, "Kamu kenapa pulang sendirian? Mana Sri?" Pria itu mengenakan kaosnya dan lalu menatap sang Mamah, "Cewek kampung itu? Mana Romeo tau, emang Romeo ibunya dia apa." "Rom! Mamah serius tanya ke kamu lo ini. Mana Sri..." Romeo dengan malas menatap sang Mamah, "Romeo juga serius Mah, Romeo tidak tau dimana cewek kampung itu." Setelah mengatakannya, Romeo pergi. Dia turun kebawah dari pada harus mendengarkan ocehan sang Mamah mengenai cewek kampungan yang dia benci. Rosa mengejar putranya kebawah, dia lalu menarik tangan putranya, "Romeo! Sri itu tidak tau jalanan di Jakarta. Seharusnya kamu tau itu, kenapa kamu malah tidak pulang bersama dengan dia? Bagaimana jika dia nyasar? Kamu mau tanggung jawab?" "Mah, dari pada Romeo mengambil tanggung jawab dari cewek kampung itu, mending Romeo dikantor. Karena Romeo lebih milih ambil tanggung jawab ribuan karyawan Romeo, dari pada harus tanggung jawab sama dia!" "Romeo! Mamah serius, kamu beneran tidak pulang sama Sri?" "Dua rius Mamah, Romeo tidak tau dimana cewek kampung itu. Dan jangan tanya Romeo tentang dia, karena Romeo tidak mau menau mengenai dia." Romeo berjalan hendak kedapur, tetapi, suara dari beberapa orang membuat dia berhenti dan menoleh. "Terimakasih yo Mas! Udah diantar..." "Ah iya, sama - sama. Saya juga nggak tau kamu tinggal dirumah Romeo. Tau gitu saya langsung antar kamu kesini tanpa harus muter - muter seperti tadi." "Hehe, iya makasih buat tumpangannya Mas..." "Saya pulang dulu ya Sri..." Sri masuk setelah orang yang mengantarnya pulang. Lalu, dia tertegun saat mata tajam Romeo menatapnya seolah mengintrogasi. "Mas Romeo?" Romeo malah pergi begitu saja tanpa mau menjawab ucapan dari wanita itu. Dia seolah anti sekali dengan Sri, dan merasa Sri adalah kuman untuknya. Sri manaikan bahunya dan masuk kedalam. Dia sempat berpapasan dengan Rosa yang menatap dirinya khawatir. "Kamu kemana saja? Saya kira kamu kesasar tadi..." "Tadi, saya diantar sama temennya Mas Romeo. La habisnya saya diusir sama Mas Romeo, jadinya gimana saya lupa alamat pulangnya hehe." "Kamu sudah pulang, itu artinya bukan masalah besar lagi. Kita masih bisa buat Romeo mencintai kamu dan meninggalkan pacarnya itu. Kamu tenang saja..." Sri mengerjapkan matanya, "Bagaimana bisa Bu? Orang susah yo... Mbak Nindy saja cantik sekali, ndak kayak saya lo Bu..." Rose menatap tajam Sri, dan memegang bahunya, "Percaya sama saya, dalam sebulan, Romeo pasti akan berpaling dari pacarnya dan akan tertarik dengan kamu. Kamu jangan menyerah mendekati anak saya Sri..." Sri meringis, "Saya ndak menyerah kok Bu. Kebal saya sama Mas Romeo hehe." Rosa mengangguk dan tersenyum, "Bagus... Yang saya butuhkan wanita yang semangat seperti ini. Bukan wanita gila harta seperti pacar Romeo itu. Makanya, saya sangat setuju sekali kamu dengan Romeo." Sri tersipu malu, dan membenarkan rambutnya ke belakang telinga, "Ah, Bu Rosa bisa saja... Sri jadi malu lo ini hehe." Rosa berdehem, dan kembali merubah wajahnya menjadi datar, "Sekarang kamu bersihkan diri kamu, Romeo tidak suka wanita yang kotor, dia suka kebersihan. Sekarang naik dan bersihkan diri kamu, baru kita makan malam." Sri mengangguk, "Njeh Bu, terimakasih..." Sri lalu naik keatas, dia masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintu dan langsung merebahkan dirinya. Dia menghela nafas dan menatap langit - langit kamarnya, meski dia diusir dengan tak wajar dikantor Romeo, tapi, itu tidak membuat dia gentar. Dia malah rejeki nomplok ketemu David dan menghabiskan waktu dengan pria itu. Sri menendang - nendang kakinya gemas mengingat dia saat bersama dengan David tadi. "Mas David Mas David... Pahlawan sejuta umat, bikin jantungku berjoget ria saja kalau begini terus hehe..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD