Chapter 07 - Tersakiti

2079 Words
Weekend telah tiba, dan Rosa, dengan sengaja membuat rencana agar menyatukan anaknya bersama dengan Sri. Dia merencanakan dengan berpura - pura sakit agar putranya mau menggantikan dia diacara seminar yang diadakan oleh perusahaan milik Mamahnya. "Rom, bagaimana? Kamu bisa kan, gantikan Mamah ke acara seminar itu? Mamah tidak enak menolak karena sakit, lebih baik Mamah wakilkan saja dengan kamu..." "Mah, tapi Romeo harus pergi-" "Nggak ada tapi - tapian, seminar itu sangat bagus dibandingkan kegiatan kamu dengan model kurang bahan itu." Tok tok! Pintu dibuka dan menampilkan wanita kucel dengan kaos oblong tentu dengan rok kotak - kotak selututnya. "Misi Bu, mau nganterin bubur. Katanya Mbok, Ibu sakit ya, Sri buatin bubur biar Ibu cepet sembuh." Lalu, Sri meletakan buburnya dimeja. Kemudian pamit untuk pulang, "Kalau begitu Sri kembali kebawah, semoga lepas sembuh Bu..." Saat Sri akan pergi, Rosa malah menahannya dengan suara, "Sri, tunggu!" Sri yang dipanggil lalu kembali berbalik dan hanya mengerjapkan mata, "Njeh Bu, ada apa?" Rosa diam - diam tersenyum, dia melambaikan tangannya kepada Sri, agar wanita itu mengode supaya Sri lebih mendekat kearahnya. Sri menurut dan dia mendekat kearah Rosa, "Ada apa Bu?" tanya Sri. "Kamu temani Romeo untuk pergi ke seminar ya..." "S-Seminar Bu?" tanya Sri dengan sekilas melihat wajah Romeo yang marah. "Mah! Mamah apa - apaan sih, ngapain ngajak dia segala," gerutunya. Rosa menghela nafas, lalu menatap putranya, "Kamu apa tidak kasihan dengan Sri? Dia itu baru di Jakarta, jadi perluh diberi pengalaman, itu semua juga bermanfaat juga jika Sri tau tentang dunia bisnis." "Manfaat apa Mah? Orang dia pasti bisanya ngebabu, mana bisa kumpul sama orang penting, nggak akan masuk dan nggak akan selevel," ucap Romeo sarkas. Sri yang mendengarnya menatap sengit Romeo dan memajukan bibirnya. Rosa, kemudian menghela nafasnya, "Mamah memintanya dengan kamu bukan? Jadi, permintaan Mamah itu kamu datang ke seminar bersama dengan Sri." "Tapi Mah..." Rosa menggelengkan kepalanya, dia menatap putranya tajam, "Hanya sehari, bukan seabad lamanya. Ayolah Rom, jika Mamah tidak sakit, maka Mamah yang akan pergi disana." Romeo memejamkan matanya, dia menghela panjang nafasnya, "Baiklah, Romeo akan mengikuti ucapan dari Mamah. Tapi ingat, untuk Mamah, bukan untuk Sri." Setelah mengatakannya Romeo pergi dari kamar Rosa. Rosa tersenyum senang, dia menatap kearah wanita yang berdiri didepan ranjangnya, "Sri, cepat berganti pakaian. Kamu temani Romeo ke seminar, kamu mendengarnya tadi bukan perkataan saya?" Sri mengangguk, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Tapi, gimana Bu Rosa? Nanti nggak ada yang jagain Ibu, kan Ibu lagi sakit." "Saya kan sudah dewasa, bukan seperti anak kecil. Sudah jangan banyak bicara, ganti pakaian kamu dan temani Romeo seminar sana!" Sri mengangguk kepala, "Baik Bu, kalau begitu saya keluar dulu." Sri keluar dari kamar Rosa, dan kemudian dia menuju ke kamarnya. Sampai dikamar, Sri melambaikan tangan untuk membuka lemari dengan sensor tangannya. Setelah sensor ter-verifikasi, lemari terbuka otomatis. Kemudian Sri mengerutkan keningnya dan berkacak pinggang, "Owalah, aku ndak pernah pergi ke seminar. Baju ku cuma baju beginian, pie iki ya?" tanya Sri dengan bingungnya. Dia kemudian mengambil kemeja pink terang polkadot merah, dengan rok selutut berwarna kuning, lalu mengganti pakaiannya. Setelah menggunakan pakaian tadi, Sri mengaca di cermin bentuk dirinya. Tak lupa, dia menguncir rambutnya menjadi dua dibawah. Lalu, dia menyemprotkan parfum banyak agar wangi. Dia kemudian membawa tas cangklong yang biasanya dia pakai dan kemudian keluar dari kamarnya. Saat dia keluar dari kamarnya, ternyata, Romeo dengan waktu yang bersamaan, sehingga mereka saling tatap menatap. Romeo menatap Sri keatas dan kebawah, lalu bersedekap. Tatapan pria itu menjudge Sri, dan kemudia membuka suaranya, "Kamu mau bikin saya malu dengan bergaya seperti badut?" Sri melihat tubuhnya sendiri, lalu mengerjapkan mata. Dia menatap Romeo dengan kesal, "Apa to Mas, memang pakaian Sri seperti ini. Biasanya kalau kondangan pakaiannya begini kok." Romeo memijat keningnya, kemudian pergi begitu saja. Sri, menjadi bingung, "Memang ada yang salah sama dandanan aku to? Ndak to? Mas Romeo saja yang katrok, ini setail namanya setail," kata Sri dengan sok - sokan bicara bahasa inggris. Dia turun, dan kemudian melihat Rose beserta Romeo disana. Romeo langsung berdecih, "Lihat saja Mah! Dia bakal bikin Romeo malu, Romeo nggak mau pergi sama badut pinggir jalan!" Rosa menatap anaknya tidak suka, "Rom, semua bisa dirubah. Jika memang Sri tidak bisa, biar Mamah yang merubahnya." Romeo memutar bola matanya, "What ever!" Dia pergi begitu saja meninggalkan Sri dan juga Rose. Sri, yang tidak enak mendekati wanita itu sambil meremas kemejanya, "Emang dandanan Sri salah ya Bu? Ndak cocok?" Rosa menghela nafas, "Ikuti saya!" Sri mengikuti Rosa menuju je kamarnya. Lalu, Sri hanya berdiam sambil melihat Rosa yang mengobrak - abrik lemarinya. Dia kemudian memberikan beberapa baju kepada Sri, dan kemudian tersenyum, "Coba kamu pakai." Sri, yang menerima banyak baju, dia mengangguk dan berjalan kr walk closet. Dia menanggalkan baju dan mencoba menggunakan pakaian sesuai dengan perintah wanita itu. Sri, keluar dengan menutupi dadanya, dengan menyilangkan kedua tangannya. Dia mendadak malu, "Bu, Sri emoh pakai baju kayak begini to..." Rosa mendekat, dan kemudian membawa tangan Sri untuk tak menutupi dadanya. Lalu, dia membawa Sri duduk didepan cermin dan memoles wanita itu. Sentuhan akhir Rose berakhir dengan lipstik soft pink, yang dia olesi dibibir wanita muda itu. "Sangat sempurna!" kata Rose terperangah. ***** Romeo, yang dibawah melihat jam yang melingkar ditangannya menggerutu. Dia sangat kesal, sebelumnya melihat penampilan dari wanita kampung itu yang sangat norak sekali. Hera yang melihat dari jauh, Kakaknya menekuk wajah, kemudian menghampiri dan menyenggol bahu sang Kakak. "Kak!" Romeo yang disenggol oleh wanita muda itu menoleh kesal, "Kenapa?" "Cie yang mau pergi sama upik abu, udah siap malu belum?" kata Hera dengan tertawa mengejek sang Kakak. Romeo yang diejek menjadi kesal, dia menatap tajam adiknya, "Sekali lagi kamu seperti ini, Kakak pastikan uang atm kamu saldonya kosong." "Lah, emang bener kan? Kak Romeo mau ngedate sama si upik abu?" "Bukan upik abu sayang..." Suara Rosa, membuat Romeo dan juga Hera berbalik dan menatap ke belakang. Tepat ditangga, wanita dengan dress berwarna putih dengan belahan d**a sedikit terlihat turun, dengan sepatu heelsnya yang mungkin tingginya hanya tiga sampai empat centi meter. Rosa, membawanya turun dengan perlahan dan menghampiri kedua anaknya. Hera, maupun Romeo membuka mulutnya melihat apa yang dia lihat. "Upik abu! Kok lo cantik sih jadinya?" Rosa tersenyum simpul, dia melepaskan rangkulan pada bahu Sri, kemudian menatap sang anak, "Gimana? Sri udah nggak malu - malu in kamu kan Rom? Sekarang kalian bisa pergi." Romeo yang sedikit terkejut dengan penampilan Sri, dia berdehem. Dia kemudian memalingkan wajahnya bersikap untuk normal, "Romeo pamit dulu Mah. Ayo!" katanya ketus. Sri, yang terdiam dengan tersipu malu, dia mengikuti Romeo yang terlebih dahulu meninggalkannya. Dia, membuka mobil Romeo dan masuk kedalam. Romeo diam, tak mau berbicara sama sekali didalam mobil. Dia sekali melirik Sri dan kemudian berdehem. Sri, yang sadar, dia menoleh ke arah Romeo dan mengerjapkan matanya, "Mas Romeo mau nyampaikan sesuatu sama Sri?" Romeo, yang tadi diam menatap ke depan, kemudian dia menoleh sekilas, "Seatbelt." Sri melongo mendengarnya, "Opo Mas? Helebelet belet? Opo iku Mas? Sri nggak paham." Romeo menghela nafasnya dan menoleh kesal kearah Sri, "Sabuk pengaman kamu. Kita udah terlambat, jangan menunggu saya memasangkannya karena saya tidak akan sudi paham??" ketusnya. Sri memajukan bibirnya, kemudian dia memasangkan sabun pengamannya. Clik! Dia menatap kesal Romeo, "Udah to? Ndak mau juga dipasangin situ hih!" Romeo tak peduli dengan ucapan wanita itu, dia lalu melajukan mobilnya ketempat dimana yang harus dia datangi. Didalam perjalanan, Sri merasa bosan. Dia melihat Radio dan kemudian menghidupkannya. Saat dia akan menghidupkannya, tangannya ditepis Romeo kasar, "Jangan sentuh mobil saya, saya tidak suka orang asing untuk menyentuhnya!" Sri kesal dan memundurkan tangannya, "Oalah, medit banget jadi orang. Dasar orang kaya!" gerutu Sri. Mereka, akhirnya sampai ditempat tujuan mereka. Romeo turun, tanpa membuka pintu untuk Sri seperti di film - film romantis. Sri, dengan kesulitan berjalan, dia menjadi terlambat berjalan karena mengenakan high heels. Romeo yang tak sabar, memegang tangan Sri dan menatapnya tajam, "Bahkan siput, lebih cepat dari pada kamu." Sri berdecih, "Yo sabar to Mas... Sri kan nggak pernah pakai sepatu tinggi gini to." Romeo lalu menggandeng Sri masuk kedalam. Bukan menggandeng, tepatnya menyeret wanita itu untuk segera masuk. Lalu, sampai didepan pintu masuk, Romeo berjalan lembut dengan membawa tangan Sri mengalungkan ke lengannya. Sri, sudah berdebar - debar dibuatnya. Romeo lagi - lagi seolah tau, dia menatap Sri dan membisikan sesuatu, "Saya melakukan ini untuk menjaga citra saya. Jangan bicara sesuatu disana nanti yang membuat saya malu. Kamu paham? Cukup jadi figura saja yang diam dan menjadi pajangan saja." Ucapan dari Romeo, entah mengapa membuat hati dari Sri tercubit. Dia menggigit bibirnya karena ucapan pria itu. Mereka, sampai ke dalam dan bertemu dengan para investor dan pengusaha - pengusaha terkenal yang sukses. Romeo dan Sri, disambut oleh pria berambut pirang dengan senyuman manis diwajahnya. "Selamat datang Mr. Romeo!" Romeo menjabat tangannya, dan tersenyum hangat, "Terimakasih atas undangannya Mr. Counstin. Kehormatan bisa datang dijamuan anda saat ini." Pria itu tertawa kecil, "Tidak benar! Kedatangan Mr. Romeo itu sangat membuat saya tersanjung." Sri yang menuruti ucapan Romeo, hanya diam sambil sesekali tersenyum. Pria dihadapan Romeo, menatap Sri, kemudian bertanya dengan Romeo, "Siapa wanita cantik disebelah anda Mr. Romeo? Apakah dia kekasih anda?" tanyanya. Romeo sekilas melirik Sri, dia kemudian kembali menatap kedepan, "Anda salah paham, dia hanya asisten pribadi saya." Sri merasa dongkol sekali, tetapi dia harus menjaga senyumnya agar sopan dihadapan pria berambut pirang tersebut. "Baiklah jika begitu, silahkan nikmati jamuan yang saya adakan. Saya akan menjamu tamu yang lain." "Terimakasih Mr. Coustin!" Romeo kemudian menepi dan menatap Sri tajam, "Kamu jangan pergi kemana - mana, saya ada urusan sebentar. Jangan membuat saya malu!" "Iyo Mas iyo...." Romeo lalu pergi meninggalkan Sri berdiri didekat stan makanan. Dia pergi menemui kekasihnya Nindy. Sri melihatnya, dia menjadi berdecih, "Nasib... Nasib... Punya nasib kok gini amat yo, ditinggal mulu." Sri memutuskan untuk mengambil makanan saja. Dia merasa lapar, dan memakan apa saja yang menurut dirinya bisa makan dan layak dimakan. Karena makan dengan cepat, dia tersedak. Sri memukul dadanya karena tersedak. "Uhuk! Uhuk!" Dia terus memukul dadanya, lalu, seseorang menyodorkan minuman. Dia lalu meminumnya, dan merasakan lega. Dia baru sadar, melihat gelas kosong yang ada ditangannya. Dia kemudian menatapnya, dan membulatkan mata, "M-Mbak Nindy?" Wanita dengan dress cantik berwarna hitam elegan tersenyum sambil menatap Sri, "Hi Sri, gimana perasaan kamu menjadi seorang cinderela saat ini? Berdampingan dengan seorang pangeran dan datang disebuah pesta megah dengan baju cantik yang kamu pakai sekarang." "Maksud Mbak Nindy apa ya? Sri ndak tau." Nindy malah tertawa, dia kemudian menatap tajam wanita itu dan kemudian menunjuk bahu Sri, "Asal kamu tau, aku disini untuk menyadarkan kamu. Posisi kamu tidak akan bisa setara dengan aku atau pun Romeo. Lihat disana!" Nindy menunjuk Romeo yang sedang berbicara dengan dengan para pengusaha - pengusaha yang memiliki aura berbeda. Lalu, Nindy merangkul bahu Sri, dan berbisik ditelinganya. "Setelah melihatnya, apa kamu masih mau mendekati Romeo? Upik abu seperti kamu, mencoba mendekati pangeran... Ck ck ck." Nindy melambaikan tangannya didepan wajah Sri, kemudian, dia menjentikan tangannya tiga kali. Ctik! Ctik! Ctik! "Sadar sayang... Upik abu nggak akan bisa jadi cinderela, jangan bermimpi haha. Mending kamu balik ke kampung, bantuin keluarga kamu mungut sampah, atau mengemis maybe dari pada jadi penghalang hubungan kami. Karena wajah - wajah gembel seperti kamu itu nggak boleh dibiarin begitu aja, spesies seperti kamu ini parasit. Go away!" Sri yang dari tadi diam kemudian menyentak tangan Nindy kasar sehingga Nindy terkejut. Sri, menunjuk wajah Nindy dengan kasar, dan menatapnya tajam, "Bapak Sri, meski orang miskin dia bukan pengemis. Meski hanya jualan saja Mbak! Jangan hina Bapak Sri!" Nindy yang ditepis kasar tidak terima mendorong Sri kasar, "Jangan sentuh seenaknya gembel!" Sri yang marah membalas Nindy, dan terjadi hal yang tak diduga. Brak!! Pyar!! Semua stan makanan hancur dengan Nindy yang jatuh bersama dengan stan - stan itu. Sri, yang tidak tau, dia menutup mulutnya terkejut. Semua, pandangan tertuju kepada Sri dan juga Nindy. Romeo berlari panik dan melihat kondisi kekasihnya, "Nindy, kamu tidak papa sayang?" Nindy, memanfaatkan situasi, dia terisak dan menggelengkan kepala, "Aku hanya menyapa Sri, dan dia marah dan mendorongku..." Romeo mengangkat tubuh Nindy dan menatap Sri tajam, "Cukup, apa yang kamu lakukan sungguh membuat saya muak!" Semua orang berbisik dan menatap kearah ketiganya. Sri, menangis karena dibentak, dia berusaha menjelaskannya, "Mas Romeo, t-tadi Sri..." "Cukup! Tutup mulut kamu karena saya tidak akan pernah mendengarnya. Cukup kamu membuat saya malu dengan hal kekanakan seperti ini. Selain miskin, kamu sungguh tidak tau malu dan licik!" Sri menutup mulutnya dan terisak. Dia akan menjelaskan kembali, tapi, Romeo sudah pergi dengan menggendong Nindy. "Hiks - hiks, Ya Allah, Mas Romeo salah paham sama Sri. Sri harus bagaimana ini...." ------------------------------------------ Yang benci sama Nindy, boleh koment dibawah :))
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD