60~BC

1423 Words

“Ke mana mamamu?” tanya Altaf sambil menutup pintu kamar inap tempat Ciara dirawat. Ia berjalan menghampiri ranjang pasien, lalu menyentuh dahi adiknya yang duduk bersandar pada bantal. “Pulang,” jawab Ciara lesu, “Farhan diare dari semalam. Dia nggak mau diajak ke dokter sama papa.” Altaf mengangguk. Menduduki kursi yang berada di samping ranjang pasien. “Cia, apa kamu masih menghubungi Bias?” tanya Altaf memperhatikan ekspresi Ciara dengan seksama. Sejak Kiano membawa Ciara dan Briana ke rumah, gadis itu tidak pernah sekali pun membuat masalah. Ciara cenderung terlihat menjadi korban dan lebih banyak tersakit. Namun, apa benar seperti itu kenyataannya? “Aku …” Ciara menunduk, mengangguk pelan. Ia tidak bisa berbohong, karena Altaf pasti punya alasan kuat saat tiba-tiba melontarkan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD